Nurvati

Nurvati
Episode 177: Dalam Tiga Kata Kewajiban Berakhir.



Malam yang hangat oleh perang semakin menghangat seiring jam berganti jam. Di atas langit tengah malam, langit tanpa bintang, Siluman Dewa Mistik tengah berputar-putar seperti membentuk cincin awan dengan kemampuannya. Dirinya bersiap meratakan kota Barata.


Selain kegetiran serta kengerian, keputusasaan pun mulai terasa merebak sejak banyaknya kematian dalam realita saat ini. Masyarakat sedikitnya lebih banyak berlindung pada tempat yang aman.


Kendati masih banyak pertempuran dahsyat terjadi, atau masih adanya perlawanan dari ras Peri, namun tak bisa dipungkiri, kalau siluman macan telah mendominasi kota Barata, seakan mereka berhasil menguasai kota ini.


Di sana, iya di langit malam, awan kelabu mulai terbentuk begitu luas dan bergulung-gulung, bergemuruh penuh kengerian. Siluman Dewa Mistik terus terbang berputar-putar searah jarum jam, membuat awan tersebut kian lama kian meluas.


Tapi, ketika semestinya dia berhasil membumihanguskan kota Barata, segala rencana itu sayangnya dalam sekejap sirna.


Seorang pria dewasa dengan teknik bola energinya tengah terbang dan menembakkan bola-bola energi nuansa hijau tua pada kepala Siluman Dewa Mistik, mengganggu kerja sang entitas, menghentikannya menjadi fokus pada pria dewasa tersebut.


Belum sampai di situ saja, secara tiba-tiba, telah muncul pula empat penyihir yang terbang pada posisi arah mata angin.


Pria dewasa yang telah mengetahuinya sebagai suatu strategi, atau tugas yang diberikan padanya serta pada empat penyihir itu, hanya sanggup menjauh memberi ruang pada mereka.


Mereka merafal mantra, membuat lingkaran bercahaya yang menudungi kepala sang entitas. Membuat sang entitas mendadak memegang kepalanya sendiri dengan kesakitan. Dia nampak meronta-ronta, tetapi seolah tak sanggup bergerak menghindar.


Lebih dari itu, tangan kanan sang pria dewasa diulur ke depan, terbidik pada sang entitas. Hingga entah mantra apa yang dirafalkan, namun membuat entitas tersebut seketika terdiam mematung.


“....”


Pria dewasa itu begitu konsentrasi pada tindakannya ini dan akan hal itulah, sang entitas bertubuh transparan mulai terlihat lemah. Iya, Siluman Dewa Mistik mulai terlihat lemah hanya karena mantra yang dirafal sang pria dewasa. Seakan-akan segala kekuatan yang tadi dipertontonkan lenyap hanya karena hadirnya para pribadi asing ini.


Maka 'BOOMMM' ledakan cahaya terjadi pada punggung sang entitas. Membuatnya membungkuk dengan saraf-saraf motoriknya yang mulai hilang cahayanya.


Siluman Dewa Mistik itu telah tak sadarkan diri.


Hanya saja, sedetik setelah itu, dari samping sang pria dewasa secara mendadak muncul Sary serta Nerta yang terbang nampak baik-baik saja. Tentu saja Nerta baik-baik saja, dia memiliki tongkat kujang yang mampu melindunginya.


Percakapan pada detik-detik krusial itu menyimpulkan satu alasan kuat mengapa Sary serta Nerta berada di sini. Bahwasanya Nerta harus membunuh Siluman Dewa Mistik.


Terlebih, tidak lain dan tidak bukan, pria dewasa tersebut adalah Perdana Menteri Fizo.


Lelaki yang memiliki wajah tirus serta netra hitam tajam dengan rambut tebal yang tergerai panjang hingga ke punggung itu, langsung memberikan instruksi pada Nerta.


“Nerta ... penggallah kepala Siluman Dewa Mistik itu olehmu! Dia hanya dapat dibunuh orang yang memiliki ikatan darah dengan sosok sang pemanggil!” titah Perdana Menteri Fizo tak punya banyak waktu dan sudah mengetahui sepak terjang Nerta semenjak Nerta mengalahkan Dewi Karunia.


Tanpa ada pertanyaan, Nerta kembali memunculkan tongkat kujangnya. Dia genggam erat tongkat tersebut. Lantas 'Siuw' meluncur cepat pada Siluman Dewa Mistik.


'Tsrat' 'Srep' 'Tsrat' tiga kali tebasan dari tongkat kujang milik Nerta berhasil mengenai leher sang entitas. Kemudian pada tebasan yang keempat kepala sang entitas pun berhasil terpenggal. Mengakibatkan tubuhnya berasap dan memudar. Sedangkan kepalanya yang meluncur menuju kota Barata sekonyong-konyongnya menghilang, lenyap begitu saja tak berbekas.


Selang lima detik berlalu, tubuh sang entitas pun mulai memudar, laksana pudarnya cahaya mentari yang perlahan dihalangi awan mendung.


Hingga seluruh awan-awan bekas ilmu Siluman Dewa Mistik mendadak pudar, seperti asap yang tertiup angin kencang. Hilang semua awan-awan kelabu itu.


Seluruh kompi yang terjebak pada awan kelabu mulai nampak terbebas. Beberapanya tewas sementara sisanya selamat.


Awan mendung yang hampir dibentuk untuk meratakan kota Barata pun perlahan memudar lalu lenyap begitu saja, menampilkan langit dengan awan yang sesungguhnya.


Semua mulai terlihat berakhir baik. Meski para siluman macan masih terus bermunculan, masih berlarian merusak rumah-rumah warga yang berimplikasi dengan kemliteran.


Setelah hilangnya Dewa Mistik, barulah aura kelabu yang menyelimputi ketua koloni siluman macan dan Ira kembali nampak muncul.


Perdana Menteri Fizo menembakkan bola energi ke arah aura kelabu tersebut. Hingga saat mengenainya, 'Bssh' aura kelabu itu sirna sekedipan mata. Menampilkan Ira yang terbang tertunduk serta di belakangnya sang ketua koloni siluman macan tengah berdiri di awan khusus.


Sambil menghilangkan kembali tongkat kujangnya, Nerta memanggil ibunya dan dengan resah serta penuh syukur dia terbang menghampirinya.


“IBU ...!” seru Nerta dengan menggoncang-goncangkan pundak ibunya, berharap ibunya tersadar.


Ketua siluman berkepala rusa itu perlahan terbang menjauh. Hanya saja Perdana Menteri Fizo meluncur terbang menghampirinya, diikuti oleh empat penyihir yang mengepung sang ketua siluman dari empat penjuru mata angin; Timur, Barat, Selatan dan Utara.


“Hendak ke mana kau?!” sergah Perdana Menteri Fizo tak rela membiarkan buronannya kabur.


Walau secara nalar ketua siluman macan nampak gagal dalam melaksanakan misi, tetapi faktanya dia berhasil dalam kewajibannya. Begitu pula Siluman Dewa Mistik yang sama-sama telah sukses menjalankan kewajibannya.


Tapi agak was-was juga saat tangan kanan sang siluman berkepala rusa itu memanifestasikan sebilah pisau. Seluruh netra penyihir sampai menajam menatapnya.


Hanya saja, spekulasi kalau siluman itu hendak menyerang mereka patah oleh realita yang tersuguh.


“Selamat tinggal semuanya ... aku tidak punya dendam, karena kewajibanku telah dijalani ... maka kematian adalah kehormatan bagiku ...,” ujar siluman berkepala rusa begitu tenang dan bangga, terlebih dirinya telah menuntaskan kewajibannya; membantu Ira. Iya, hanya membantu Ira. Ada pun dendam, maka dendam itu hanya ada pada Ira, atau mungkin nafsu dan ambisi, itu pun hanya ada pada para siluman macan, tidak bagi siluman berkepala rusa.


Lantas 'Cleb' pisau perak itu ditusukkan tepat pada lehernya sendiri, membiarkan darah ungu kehitaman mengucur deras dari sana. Dia berlutut dengan dua lutut, karena rasa sakitnya tak dapat dipikul lagi.


Hanya menyelia yang dilakukan para penyihir serta Perdana Menteri Fizo, terdiam tak berniat menolong.


Sedangkan di lain sisi, Nerta melihat ibunya justru mulai memudar, mulai hilang dari kenyataan.


“IBU ...!”


“IBU!”


“IBU!”


Seruan Nerta berkali-kali bahkan tak sekali pun digubris oleh Ira, dirinya masih tertunduk memejamkan mata, tak sadarkan diri.


Ke dua tangan Nerta yang mengguncang bahu Ira pun sama sekali tak berdampak baik. Ira perlahan namun pasti mulai memudar.


Hal itu justru membuat mata Nerta berkaca-kaca kesedihan.


“Ibu ... sadar dan jawablah ...!” lirih Nerta dengan penuh harap.


Hingga beberapa detik berlalu, diakhir momentum impresif itu, sebuah kalimat singkat nan padat tercetus dari mulut Ira.


“Nerta ... maafkan ibu ....”


Lalu Ira pun hilang dari realitas, lenyap begitu saja, seakan tak pernah ada di sana.


Kendati semudah itu menghilang, Nerta kini malah harus kembali menanggung sakitnya kehilangan sosok paling berharga. Kembali bernapas dengan berat dan harus mengelap lagi air mata pilunya. Bahkan hanya tiga penggal kata saja yang dapat didengarnya dan itu tanpa ucapan selamat tinggal.


Sary yang masih terbang di dekat Nerta pun sadar kalau Ira telah lenyap dan mungkin tewas. Dirinya bahkan tahu kalau lenyapnya Ira bukan lain disebabkan karena adanya perjanjian dengan siluman, tepatnya Siluman Dewa Mistik.


_______________________________________________


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


✅Demi mendukung /menghargai kinerja Author, cukup memberikan Like/Vote poin/koin.


(Bila ada kritik/kesan enggak perlu sungkan untuk menuliskannya dalam kolom komentar. Terima kasih.)