
Strategi saat itu terbentuk, prioritasnya adalah semua anak yang diculik dapat diselamatkan dan saat pulang nanti semua selamat dalam keadaan hidup.
Para siluman tengah sibuk pada kegiatannya masing-masing, ada yang berbincang-bincang ada pula yang bersemadi.
Tapi tiba-tiba segalanya hancur, karena telah terjadi ledakan besar. Dan bukan sekali ledakan terjadi, tapi hingga dua kali!
'DHUAAAARRRRRS'.
'DHUAAAARRRRRS'.
Tanah berguncang, pepohonan rusak, dedaunan berguguran, angin bertiup kencang, beberapa siluman tewas dan kebanyakan terluka, sisanya keheranan dalam keseriusan penuh waspada.
'DHUUAAARS'.
'DHUUAAARS'.
Ledakan-ledakan dahsyat masih mengguncang dan menghancurkan lingkungan sekitar.
Zui berhasil menaruh beberapa bom di tempat yang terbilang strategis dan langsung mampu membunuh banyak siluman.
Bom itu didapat dari temannya yang mana temannya adalah seorang ilmuan. Semuanya sudah dirancang seperti ini; strategi terdesak.
Daya ledak satu bom mampu merobohkan dua pohon sekaligus, dan mampu membunuh 9 siluman biasa.
'DHUUAAAR'.
'DHUUAAAR'.
Pepohonan mulai roboh dan hancur. 'BOOMM'.
'DHUUUAAARS'.
'DHUUUAAARS'.
Para siluman terhempas dan terbunuh.
“Gyaaaah ...!”
“Ghwaaah ...!”
'Bruk' 'Brug' siluman terkapar terluka dan tewas.
Untungnya sel tahanan para anak-anak yang diculik tahan akan ledakan bom ini, daya ledaknya memang besar, tetapi masih belum sanggup menghancurkan sel tersebut.
Berkat beberapa pohon yang hancur, sinar baskara di siang yang cerah ini berhasil melesak menyinari ruang yang terbuka, kepul debu, kepul tanah, membuat materi sekitarnya terhalangi bentuknya. Namun suasana yang semula damai kini seketika berubah menegangkan, memicu detak jantung berpacu kencang, membentuk kesan bahaya.
Terdapat 10 bom yang dimiliki Zui dan baru 6 bom yang diaktifkan, kini dia terbang mengitari lokasi ledakan bersiap pada rencana selanjutnya.
Siluman serigala bertubuh besar bangkit dari terbaring, tapi itu tak lama, sebilah pedang berhasil menebas leher dari siluman tersebut, membuatnya tewas seketika.
Quin berhasil membunuh satu siluman yang kini berlari lagi pada siluman lainnya, dirinya penuh antusias menerjang kenyataan demi sebuah mimpi.
Dia melompati akar pohon lalu meluncur dari atas menuju seekor siluman serigala yang lagi-lagi baru saja bangkit dan langsung tewas saat Quin berhasil menebas lagi leher siluman tersebut.
'Swoosh' dari arah Timur dalam gelapnya bayang pohon, Nerta melesat dengan sebilah pedang yang langsung berhasil menebas kepala siluman kera. Lalu berlari kembali ke dalam hutan dengan tiga siluman kera yang mengejarnya.
Tapi sayangnya dari kegelapan hutan, Darko, Gorah serta Arista berhasil menebas leher masing-masing siluman itu hingga tewas. Dan mereka berempat berlari bersama menuju lima siluman kera yang berdiri di atas dahan pohon yang tumbang.
Jelas lima siluman kera itu jingkrak-jingkrak dengan energi nuansa merah yang meliputi dua tangan mereka, bersiap menyerang keempat bocah.
'DRAP-DRAP-DRAP-DRAP' keempat anak berlari cepat, dan begitu pun dengan kelima kera.
Tapi ketika tujuh meter lagi saling berbenturan, 'Swoosh' Zui meluncur dan 'Bruk-Bruk' ke lima siluman kera tewas tertebas oleh pedang dari Zui.
Belum selesai dan keempat anak melompat tinggi dengan mendarat di atas batang pohon, secara mendadak belasan siluman kera berbulu nuansa hijau muncul berlari dengan pedang mereka, menyerang keempat anak.
'Trang' 'Trang' 'Trang' bilah pedang saling beradu, berusaha saling membunuh. Seperti semut-semut yang mengerubungi gula. Dan suara berdentang dari pedang yang beradu membentuk irama perang kecil.
'Slash' Zui dari atas menebas kepala para siluman kera yang dapat dijangkaunya.
'Trang' pedang Nerta beradu dengan pedang siluman kera, lalu 'Buuff' siluman itu menembakkan bola energi nuansa merah pada Nerta.
Tetapi saat ada dua pedang yang hendak menebas Nerta yang masih berlutut, Arista muncul dengan sekuat tenaga menahan pedang itu hingga berbunyi 'Trang'.
Sontak Zui muncul lalu 'Slash' berhasil menebas dua siluman itu yang langsung tewas seketika.
Nerta bangkit kembali dengan suara 'Trang' dari pedangnya yang beradu dengan pedang lawan, dan saat itu terjadi, ke empat anak, mengepak sayap, terbang tinggi ke atas, tak sanggup lagi melawan banyaknya musuh; giliran Zui.
“PERHATIKAN INI!” sentak Zui memberikan petunjuk sekaligus pertunjukan.
'TRANG' 'SLASH' 'TRANG' 'SLASH' irama dentang pedang bersipongang dalam kenyataan, di atas batang pohon yang tumbang itu, Zui bertarung seorang diri melawan belasan siluman kera yang bergerak cepat, tapi hebatnya, Zui lebih cepat; dia seperti menari.
'TRANG' 'SWRING' 'BRUK' 'SLASH' 'BRUK' 'SLASH' 'BRUK' betapa cepat gerakan serta putaran yang dilakukan Zui hingga mampu membuat siapa pun tewas dengan cepat, dia seperti mampu membuat kemenangan oleh dirinya sendiri.
Zui melakukan putaran cepat ke belakang dan dua siluman kera tewas tertebas lehernya, lalu Zui melompat ke udara dan berdiri di atas bahu siluman kera dengan menancapkan pedangnya pada ubun-ubun kepala siluman tersebut. Maka Zui kembali mendarat di atas batang pohon dengan berputar 360 derajat yang mampu menebas leher empat siluman kera sekaligus.
Suatu pertarungan yang nampak mudah tetapi mengandung risiko kematian, empat anak yang terbang di ketinggian 30 meter dari batang pohon hanya mampu melihat Zui dengan terkagum-kagum.
“Siluman kera itu padahal lincah ... sayapku saja sampai bercalar, tapi kakak pendekar bisa menghabisi banyak siluman seorang diri,” ungkap Darko mengutarakan kekagumannya.
“Ya ... karena dia bisa membaca gerakan lawan,” tandas Nerta yang lalu disertai anggukan sepaham dari Gorah serta Arista.
'Bruk' siluman kera tewas tertebas, dan saat siluman lain melayangkan pedang secara horizontal lalu Zui melakukan salto ke udara hingga ketika hendak mendarat kembali, dia menebaskan pedangnya secara vertikal pada siluman itu, sekaligus menusukkan pedang pada leher siluman yang muncul di sisi kirinya.
Belum usai, siluman muncul dari sisi kanan Zui dengan melompat hendak menebas Zui secara vertikal, tapi secara refleks Zui berguling ke belakang dan 'Dhap' pedang siluman menancap pada batang pohon yang lalu dimanfaatkan oleh Zui; menebas kaki siluman tersebut secara horizontal. 'Slash' lalu siluman jatuh di sana 'Bruk' dan menanggung mati saat pedang Zui ditancapkan pada kepala siluman tersebut.
Lebih dari itu, empat siluman melompat dari udara menerjang angin dengan pedang yang siap menghunjam tubuh Zui.
'Wuush' Zui melompat ke depan dengan gaya berguling dan langsung menghadap ke belakang 'Trang-Trang' bunyi empat pedang yang tertahan oleh dua pedang milik Zui.
Bersamaan dengan itu, dua siluman dari arah yang berlawanan melompat mencoba menusuk tubuh Zui.
Maka, Zui kembali melakukan putaran secara 360 derajat secara cepat.
'SLASH'.
'BRUK-BRUK' 'BRUK' semua siluman yang tadi menyerangnya tewas tertebas.
Belum usai, siluman kera kembali berdatangan, dan suara berdentang dari pedang yang terus berirama mengisi suasana senyap hutan. Zui bertarung habis-habisan dengan para siluman najis itu, menebas, salto, menusuk, bertahan, menyayat dan terus sebisa mungkin menghabisi semua siluman yang ada. Seperti menari dalam pertarungan dan bertarung dalam keseriusan.
'TRANG' pedang beradu, lantas 'SLASH' pedang menebas para siluman. 'TRANG' 'SLASH' lalu 'Bruk' kebanyakan siluman gugur dan hebatnya Zui unggul dalam pertarungan ini.
“ANAK-ANAK CEPAT TOLONG QUIN!” sentak Zui memberi perintah penting sembari bertarung dengan para siluman kera.
Serentak semua anak berkata, “Baiklah!”
---------------------------------------------------------------------------
.
.
.
.
.
.
.
.
.
✅Untuk mendukung /menghargai kinerja Author, cukup memberikan Like/Vote poin/koin.
(Bila ada kritik/kesan tak perlu sungkan untuk menuliskannya dalam kolom komentar.)