Nurvati

Nurvati
Episode 50: Kenangan Dalam Rencana.



Suasana dalam persidangan tengah hening dalam keseriusan, para saksi masih diam menyaksikan momen langka ini, yang secara tidak langsung mereka kembali menjadi saksi dalam perkara ini, sang bocah laki-laki pun masih diam, terkesima oleh kehadiran Putri kerajaan secara langsung, terkesima akan keanggunan wanita terhormat. Sedangkan Nurvati, tetap bergeming dalam kebenciannya pada Putri Kerisia, menebak-nebak perihal alasan apa dia datang kemari.


Ketika itu, renungan Pak Hakim dihentikan, lalu bertanya pada para korban, ”Apa kalian yakin, memaafkan terdakwa? Tanpa adanya hasutan dari pihak lain, langsung dari keinginan hati kalian?“


Sebuah pertanyaan yang menuntut kepastian itu telah diterima oleh pendengaran para korban, 3 diantara mereka hanya bungkam, 4 orang mengangguk setuju, dan satu orang yang bukan lain wanita berambut merah, menjawab, ”Iya! Kami semua sudah berunding, kami memaafkan Nurvati, dengan syarat, dihukum lewat kerajaan langsung, karena bagaimana pun, wanita itu sudah membunuh abdi negara.“


Pak Hakim terdiam sejenak, kemudian bertanya sekali lagi untuk memastikan. “Sekali lagi saya tanya, apa kalian yakin dengan keputusan kalian?”


“Sangat yakin Pak Hakim!” tegas wanita berambut merah tanpa basa-basi yang memang menginginkan keadilan yang sama berat dan tidak memihak.


Dengan menghela napas dan kemantapan hati, Pak Hakim akhirnya langsung memutuskan, “Dengan ini, saya putuskan, terdakwa akan dipindahkan penghukumannya, pada kerajaan! Sekali lagi, bahwa terdakwa, akan dipindahkan pada hukum kerajaan!”


Lalu suara 'TOK' 'TOK' 'TOK', ketukan palu tiga kali dari Pak Hakim menjadi tanda keputusannya yang absolut. Bergema dalam ruangan, dan merasuk pada alam kesadaran, hakim telah memutuskan, yang mana, bila palu telah diketuk, semua wajib mematuhi.


“Sidang ditutup!” imbaunya dengan mengetuk palu satu kali, hingga berbunyi 'TOK', lantas, menaruh palunya di atas meja.


“Haah ... dasar anak-anak, menyusahkan saja,” keluh Pak Hakim sembari bangkit dari duduk lalu beranjak untuk pergi.


Semua orang di sini dipandang bodoh bagi Putri Kerisia, meski tak ada senyuman, hatinya lega mengetahui ambisi pada rencananya sebentar lagi akan tercapai, dan lamunan penuh syukurnya buyar kala mendengar suara serak Pak Hakim.


“Putri Kerisia, Putri Kerisia.”


Seketika netra merah lembayung Putri Kerisia tertuju pada Pak Hakim yang telah berdiri di dekat pintu.


“Ikutlah dengan saya, dimohon untuk mengisi surat keputusan terlebih dulu, agar begitu terdakwa bisa dipindahkan,” tutur Pak Hakim. Lalu melangkah keluar ruangan.


Dan akhirnya, persidangan telah mencapai ketetapan, yang bagi para keluarga korban itu serasa mendapatkan keadilan yang impas, dalam hasutan penguasa; Putri Kerisia.


Para korban yang esensinya tetaplah rakyat jelata, tetaplah makhluk biasa, telah mentandatangani perpindahan hukuman pada kerajaan, mereka hanya tak sadar, permainan oportunis dari Putri Kerisia telah menggiring pola pikir yang nampak begitu indah, tetapi itu hanyalah manipulatif semata, agar sang Putri mampu mendapatkan kekuasaan menghukum Nurvati, tanpa diganggu gugat lagi oleh siapa pun.


Mereka juga tak sadar, terjebak pada ambisi dan dendam, itulah beberapa yang terjadi pada korban, meski terdapat para korban yang terasa enggan, yang menginginkan tetap dihukum sesuai hukum negara, namun arus muslihat dari mereka yang tergerus hasutan dan dendam, ditambah penderitaan yang terpaksa dijalani, menjadikan mereka harus mengikuti keputusan itu, yang nyatanya hanya menguntungkan sang penguasa; Putri Kerisia.


Para korban kembali pulang begitu pun para saksi, walau ada sedikit kenakalan sang bocah yaitu meronta-ronta inginnya mengecup tangan Putri Kerisia, mereka untungnya bisa pulang dengan damai.


Dalam angan Nurvati yang tetap tinggi, kesadaran akan arti pada perbuatannya ternyata membentuk perspektif baru, realita baru, pada akhirnya, beberapa masyarakat tetap menginginkan keadilan yang sama berat, penderitaan mampu menggiring mereka pada hasutan jahat Putri Kerisia, penderitaan membuat mereka tak berdaya, dan malah menjadikan celah keuntungan bagi Putri penguasa untuk menggunakan nama baik kerajaan.


Hati Nurvati saat itu entah mengapa tersentuh, tersentuh oleh kepolosan rakyat yang diiming-imingi oleh hukuman kerajaan yang dirasa mereka adil, tetapi Nurvati tahu, ini sekali lagi adalah tipu muslihat Putri Kerisia, yang entah tujuannya apa, namun dalam kenyataannya dia juga yang menang.


Ya, Nurvati sudah melihat, bagaimana esensi dari sifat kemakhlukan mereka, sama saja seperti Nurvati; ingin keadilan yang diinginkan.


Kotak sel tahanan Nurvati mulai bergerak ke atas, tetapi Nurvati yang berdiri tenggelam dalam kontemplasi, sebuah kontemplasi yang belum pernah dilakukan. Bukan pada keadilannya, bukan pula pada dendamnya. Akan tetapi, terhadap Putri Kerisia yang memanfaatkan penderitaan rakyat demi rencana sang Putri, sungguh, Putri Kerisia menghasut begitu halus.


* * *


Waktu dalam realitas hidup kembali berputar tak peduli, sejarah baru terbentuk kembali, angin dari Utara bergerak ke Timur, siang mulai berganti menuju petang, cuaca tetap cerah, tetap berputar seperti seharusnya.


Pada hari ini, Nurvati akan dipindahkan, tepatnya dibawa menuju penjara kerajaan Barat. Dia bawa dengan penjagaan ketat bahkan dikawal pula oleh Putri Kerisia, ingin rasanya kabur, namun rasa penasaran pada rencana Putri Kerisia membuat niat untuk kabur ditunda, Nurvati merasa yakin kalau ilmu Hikmah-nya mampu mengalahkan Putri Kerisia, sehingga perasaan berani untuk mengikuti siasat atau pun sandiwara Putri Kerisia tetap berlanjut.


Faktanya, dalam alam ras Peri tak ada sampah, baik seluruh penjara mau pun rumah-rumah warga selalu tampil bersih nan wangi, mereka biasa mengonsumsi energi atau sari dari makanan, lalu sisanya akan dimusnahkan oleh kekuatan cahaya mereka, atau pun dijadikan pupuk bagi tanaman, meski mereka mampu membuat benda-benda mati dengan cahaya, mereka tetap tak mampu membuat makanan atau pun makhluk bernyawa.


Mereka —Putri Kerisia serta Nurvati— masuk pada pintu teleportasi yang dibuat Putri Kerisia, masuk dari depan gedung Militer area Timur, dan berakhir pada taman Kupu-Kupu kerajaan Barat. Meninggalkan para pengawal sang Putri di depan gedung, membiarkan mereka kembali pada tempatnya.


Dan di sinilah taman Kupu-kupu yang dulu Nurvati dan Putri Kerisia selalu berada, taman yang cantik nan elegan, yang berada di balik dinding-dinding istana Awan yang megah nan mewah, taman yang beraroma Mawar dan bersih.


Taman ini dipenuhi kupu-kupu Peri, mereka terlihat terbang bebas seperti menari-nari di atas bunga-bunga Mawar, semua mawar di sini berwarna merah, terhimpun pada tanahnya yang garis lurus, merujuk pada kolam madu di tengah taman, madu yang muncul dari pancurannya, tanpa ada semut yang mengerubunginya, yang mana madu itu bersumber dari alam Surgawi, yang setetes diambil lalu ditaruh di atas kolam oleh sang Dewi Awan.


Hal pertama yang dipandang oleh Nurvati ialah kursi panjang di dekat kolam, itu mengingatkannya pada perjumpaan pertama dengan Putri Kerisia. Iya, Nurvati masih mengingatnya.


* * *


Saat itu, saat pertama kali datang pada taman ini, seorang gadis kecil tengah loncat-loncat di kursi taman, dia tengah bermain bersama kupu-kupu, dan kala pandangan gadis kecil bermata merah lembayung itu tertuju pada Nurvati, aktivitasnya terhenti, dan dalam antusias penuh ceria, dia beranjak dari kursi lalu berlari dengan tersenyum senang pada Nurvati.


Gadis berbalut gaun nuansa merah kerajaannya itu berdiri begitu dekat dengan Nurvati, berdiri dalam jarak lima jengkal, menatap Nurvati dengan tersenyum hingga gigi putih nan ratanya nampak kentara.


“Nah, Putri Kerisia, ajaklah dia main,” pinta Raja negeri Barat dalam suaranya yang dalam. Yang berdiri di samping kiri Nurvati.


Nurvati menyembunyikan setengah tubuhnya dibalik pinggang kiri sang ayah, sembunyi dengan malu dan canggung, dan sesekali menundukan pandangan jengahnya.


“Hai ... aku Putri Kerisia, kamu boleh memanggilku ... Kerisia, ya, Kerisia,” ungkap gadis bermata merah lembayung itu alias Kerisia, dan itu sampai mengulur tangan kanannya bermaksud berjabat tangan dengan Nurvati.


Tapi Nurvati yang agak malu, dengan ragu ia mulai beringsut dari balik pinggang kiri ayahnya, dan dalam canggung tangan kanannya menyambut baik tangan kanan Putri Kerisia, mereka saling berjabat tangan. Dan Nurvati pun memberi tahu namanya.


Maka sang Putri menarik dengan lembut Nurvati, dituntun untuk menikmati keindahan taman bersama-sama.


* * *


Ingatan itu, benar, ingatan yang dulu membawanya pada arti keakraban, arti ikatan kepercayaan. Tentang awalnya seorang yang mau menerima Nurvati apa adanya. Meski itu hanyalah tipu muslihat Putri Kerisia, namun dalam kenyataannya, pertemuannya dengannya adalah yang memberi kesan dari puluhan kesan bersama anak-anak di luar sana, entah mungkin karena Kerisia seorang Putri, atau memang, ikatan batin antara teman sejati itu memang ada, yang pasti, Nurvati masih mengenangnya.


Dan lamunan pecah, saat seekor kupu-kupu melintas di depan wajahnya, lalu terbang menuju bunga Mawar. Tak ada kata yang muncul dari Nurvati, justru kini pandangannya jatuh pada sayap putih Putri Kerisia, dia berdiri di samping kursi panjang taman, memunggungi Nurvati, membuat kaki Nurvati mulai melangkah dengan mantap mendekatinya.