
Udara bersiur menerbangkan dedaunan yang berguguran, suasana mencekam dalam kritis masih menyeruak, pasalnya buntut siluman ular kobra telah sembuh, seperti sedia kala. Terlebih wajah mengerikannya tetap memampang raut muka datar tak berekspresinya.
Dalam jarak 13 meteran itu, siluman ular kobra serta Nerta berdiri berhadapan.
Energi api nuansa merah dan kuning yang bersinergi pada tubuh Nerta telah utuh, membuatnya melompat maju pada siluman ular, 'Swoosh'.
“HYAAAAAAAT ....”
'Srashh' tongkat ditebaskan secara horizontal, tapi siluman itu malah tiarap menghindari pedang. Ini sudah dapat ditebak Nerta.
'BUAK' dengan kecepatan dua kali lipat daripada siluman ular, kaki kanan Nerta berhasil menendang wajah sang siluman.
Cukup keras tendangan itu hingga siluman terhempas satu meter ke belakang, 'Srreksh'.
Baru saja siluman hendak menyerang dengan sepakan buntutnya, Nerta telah melompat cepat menghindar, 'Whomp'.
Begitu cepat sampai-sampai sudah berada di belakang siluman ular.
'BAK' tendangan dua kaki dari Nerta sukses mendarat di punggung siluman ular, lantas 'Woush' dia terhempas 5 meter ke depan.
'Bruk' jatuh di akar pohon, telungkup.
'Swoosh' Nerta melompat dengan tongkat kujang yang dihunjamkan pada posisi sang siluman ular, maka 'Bledaar' hancurlah akar pohon yang tadi sempat disinggahi sang siluman, namun dia berhasil berguling menghindar.
Dan tiba-tiba, 'BRUUUFFFFH'.
Asap berdebu hitam yang panas menyembur dari mulut sang siluman ular, tepat pada Nerta.
'BRUUUUFFFFFFFH'.
Cukup lama semburan asap berdebu hitam itu disemburkan hingga menutupi seluruh tubuh Nerta dengan api yang telah membara di sekitarnya.
Panik dan memicu kekhawatiran pada seluruh teman-temannya.
Darko, Quin serta Arista serentak memanggil sahabatnya sebagai ekspresi keterkejutan. “Nerta!”
Tapi jauh lebih terkejut saat Nerta malah melompat dengan selamat dan menebaskan tongkat kujangnya pada siluman ular kobra, 'Srassh'.
'Woush' siluman ular kobra berhasil menghindar berguling ke kiri.
'Boomm' Nerta menghunjamkan tongkatnya pada sang siluman kobra, tetapi hebatnya sang siluman mampu berguling terus ke kiri, membuat tongkat kujang tersebut malah menghajar akar pohon.
'Boomm' kembali lagi akar pohon yang malah dihantam tongkat kujang Nerta.
Tak menyerah, Nerta terus mengentakkan tongkat kujangnya pada siluman ular kobra, dan sang siluman ular kobra terus berguling menghindar.
'Boomm'.
'Boomm'.
'Boomm'.
'Boomm'.
'Boomm'.
Telah banyak serangan dilakukan, tapi semuanya sanggup dihindari sang siluman kobra.
'Boomm'.
'Boomm'.
'Boomm'.
Lagi dan lagi tongkat kujang hanya mampu menghajar akar pohon yang berbekas dalam cekungan tak beraturan.
Dan 'Boomm' kembali menanggung gagal Nerta di sana, sang siluman kobra cukup cepat menghindari serangan.
'Woush' siluman itu melompat ke belakang dengan membuka mulut.
'Syut' 'Syut' 'Syut', puluhan ular terbang warna abu-abu kembali terbebar menyerang Nerta.
Tapi 'Srassh' satu tebasan kuat dari tongkat kujang dengan membentuk gelombang sayatan energi kuning, mampu menghancurkan puluhan ular yang membuat sang siluman ular terpaksa melompat ke samping kanan, 'Swoosh' menghentikan serangnnya sekaligus menghindari gelombang tebasan itu, 'Boomm'.
'Dhrasssh' baru saja mendarat dengan terseret, 'Whup' Nerta sangat cepat telah berada di depan sang siluman dengan tongkat kujang yang berhasil menusuk tepat di perut berotot siluman ular kobra itu, 'Chreelb'.
“Gah ...!” Membuat wajah datar sang siluman kobra meringis kesakitan.
Tapi saat itulah, rencana sang siluman dilaksanakan. Iya, dia punya rencana dan dengan itulah, dia membiarkan perutnya ditusuk, karena kini tangan kanannya menggenggam erat tongkat kujang itu; dia berusaha merebutnya.
'Gheerp' saat tangannya mengerat, saat itulah buntutnya menyepak sangat keras pada Nerta, 'Buak'.
'Woush' Nerta terhempas dua meter ke arah pohon, dan 'Bug' menabrak pohon hingga duduk terjatuh.
Lebih dari itu.
Tubuh Nerta yang diliputi energi api merah dan kuning secara ajaib memudar lantas hilang darinya, kembali pada keadaan biasa.
“Gawat ... tongkat itu dicuri!” resah Darko.
“Kita harus merebutnya!” timpal Gorah memberikan instruksi.
'Siuw' 'Siuw' 'Siuw' Gorah, Darko serta Quin maju melesat menyerang siluman ular kobra.
'SRAASSSH' satu tebasan kuat-kuat dari tongkat kujang itu berhasil menghempaskan tiga bocah sekaligus, menyayat perut tiga bocah Peri itu, 'Woush'.
'Baamm' dan membuat ke tiga bocah malah jatuh di atas tanah menanggung luka parah.
Di sana Nerta bergigit waswas, memandang penuh bahaya pada siluman ular yang telah mencuri tongkat kujang milik ayahnya itu. Bersama dirinya yang perlahan bangkit, siluman ular mulai memanfaatkan kesempatan bagusnya itu.
Tongkat ditancapkan pada akar pohon, 'Dhap' lalu energi nuansa pingai disalurkan, 'Krrek' 'Trrakh' maka energi itu mulai membekukan akar pohon, membentuk es yang menjalar membeku mengarah pada Nerta, 'Trakh'.
'Swoosh' untung bagi Nerta, dia bisa terbang menghindar, lolos dari serangan cukup maut tadi.
Tapi sangat cepat siluman ular kobra.
Tongkat kujang telah dicabut, sang siluman ular telah melompat sangat tinggi kearah Nerta dan 'Srash' menebas Nerta.
'Bledaar' Nerta terhempas pada batang pohon yang jadi cekung akibat benturan dengan tubuhnya, terlebih di ketinggian 4 meter itu Nerta terkulai lemas di cekungan itu. Sayapnya patah serta darah keemasan menetes dari mulutnya.
'Drap' siluman ular telah mendarat dengan selamat di atas akar pohon, menatap Nerta dengan tongkat kujang yang bersiap ditusukan pada tubuh Nerta.
Bahkan untuk itu, wajah mengerikannya masih datar tanpa ekspresi.
Tapi tunggu dulu!
Sekonyong-konyongnya, bukannya menyerang, sang siluman ular kobra justru malah meringis kesakitan, dia bergigit, dan 'Klontang' menjatuhkan tongkat kujang tersebut.
Tangan kanannya bergetar, sekujur tubuhnya bergetar, netra hitam gelapnya berbuntang, hingga saat melirik pada perutnya yang sempat tertusuk tongkat kujang tadi, perutnya berubah jadi hitam arang!
“HUAHAHAHA ... hacim ....”
Sehabis tertawa puas itu, wajah Nerta terangkat dengan memampang hidungnya yang mengucurkan darah, telah patah dan memandang licik pada siluman ular kobra, seraya berkata, “Aku ... tidak sebodoh yang kau kira, siluman payah ....”
“... MAKA TERIMALAH RACUN ITU!” sentaknya.
Lalu 'Wush' dengan kekuatan yang masih ada Nerta melesat maju, menerjang angin, mengepal jemari tangan kanannya, membentuk energi putih yang menyelimputi kepalan tangan kanannya. Dari jarak enam meteran dengan sang siluman, Nerta melayangkan satu tinjuan kuat-kuat nan mantap, tinjuan yang akan mengakhiri pertarungannya dengan sang siluman ular kobra.
Tak dapat bergerak, racun pada tubuh sang siluman membuatnya lumpuh, bahkan mati rasa, perutnya yang tadi tertusuk mulai melepuh menuju hancur.
Maka 'BUAK' satu tinjuan keras nan telak berhasil mendarat manis pada wajah sang siluman, kemudian 'Bruk' jatuh di akar pohon itu.
Dan 'Drap' Nerta mendarat selamat di akar pohon itu, berdiri menahan sakit dengan kepalan tangan penuh amarah. Lebih dari ini, tangan kanannya meraih kembali tongkat kujang miliknya, kemudian jalan tersendat-sendat mendekat pada kepala siluman ular kobra.
Tak dapat berbuat apa pun, sang siluman ular kobra hanya mampu memandang sosok yang akan menunjukkan ajalnya. “Gah ...!”
Telah berdiri Nerta di dekat leher siluman kobra itu, dengan tongkat kujangnya yang digenggam erat.
Yang pada akhirnya, didetik inilah siluman ular kobra berani buka suara, “Aku ... pasti akan ....”
Belum tuntas kalimat yang sepertinya mengandung keangkuhan itu, karena 'Cleb' tongkat kujang sudah tertancap ngeri dikening sang siluman kobra, menghentikan pertarungan, menewaskan sang siluman seketika, tewas karena racun dan tewas karena tusukan pada kepala.
Hingga angin pun bersiur kencang, Nerta berhasil menang dalam perang —bukan— dia dan kawan-kawannya telah berhasil.
-------------------------------------------------------------------------
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
✅Demi mendukung /menghargai kinerja Author, cukup memberikan Like/Vote poin/koin.
(Bila ada kritik/kesan tak perlu sungkan untuk menuliskannya dalam kolom komentar.)