
Masih di malam yang sama, di jauh tempat yang berbeda.
Di hamparan rerumputan dalam remang-remang cahaya bulan dan gemintang. Pertarungan sengit antara murid serta guru masih nyata berlangsung.
Pertarungan yang cukup lama terjadi, hingga mesti melewati lebih dari dua hari. Bekas-bekas pertarungan pun cukup jelas tertampak, mulai dari lubang cekung hingga daratan rumput yang gundul.
Kali ini Nurvati tak lagi menggunakan katananya, Ketua Hamenka yang tentunya hebat, telah membuat Nurvati tercengang oleh ilmu Energi-nya, Ketua Hamenka memang menguasai empat energi utama; Merah, Hitam, Kuning dan Hijau. Jadi wajar dia seperti tak mungkin terkalahkan.
Lebih-lebih, saat ini Nurvati kebingungan mencari kelemahan Ketua Hamenka, di sanalah, iya, dalam jarak 13 meteran itu dalam sorot sinar rembulan, dia tetap berdiri santai dengan menyelipkan ke dua tangan ke saku jubah putihnya.
Sementara Nurvati harus terus tetap siaga menilik baik-baik segala situasi.
Angin tetaplah dingin, waktu tetap tak mungkin mundur berputar dan bersama segala unsur kenyataan itu, Nurvati mulai berlari menghampiri Ketua Hamenka. Terlebih dirinya mesti berteriak sebagai luapan semangatnya yang tak pudar. “HYAAAAAAAAA ...!”
Satu meter, dua meter, tiga meter, empat meter dan lima meter jarak lari yang ditempuh Nurvati, sebab di situlah Ketua Hamenka bergerak!
Dia menembakkan bola energi nuansa hijau yang tepat mengenai kaki kiri Nurvati dan 'Bruk' membuatnya terjatuh gegara energi itu berubah menjadi unsur padat; batu safir. Belum selesai, energi nuansa merah kemudian tertembak pada bagian kiri tubuh Nurvati, yang mana dirinya masih terbaring di rerumputan. Energi itu bermanifestasi menjadi batu merah delima yang menyelimputi setengah tubuh Nurvati. Mengakibatkan dirinya terperangkap di sana.
Lalu 'Buuff' energi nuansa pingai tertembak dari tendangan Ketua Hamenka menuju tubuh kanan Nurvati dan lagi-lagi energi itu bermanifestasi menjadi unsur yang lebih padat; emas. Emas kini telah menyelimuti bagian tubuh kanan Nurvati, akibatnya seluruh tubuhnya terkunci di sana.
Namun dengan sekuat tenaga, menggunakan seluruh kemampuan energi hijau yang dimilikinya, Nurvati menghancurkan semua bebatuan mulia yang menyelimuti tubuhnya.
Membuatnya kembali berdiri dengan selamat.
Sayangnya itu hanya berlangsung sesaat, sebab sedetik selepasnya, 'Buaf' energi hitam telah meluncur padanya dan bermanifestasi menjadi baja yang menyelimuti tubuhnya, membuat berat dari baja tersebut mulai melemahkan diri Nurvati yang seketika dirinya langsung jatuh berlutut dengan dua lutut di rerumputan.
Dengan cepat Ketua Hamenka telah melompat dan mendarat tepat di depan Nurvati menyisakan jarak satu meteran. Bukan itu saja, tangan kanannya yang terulur ke depan pada wajah Nurvati, telah membidik pula lima energi utama dari setiap jemari Ketua Hamenka pada kepala Nurvati.
Jempol pada energi putih, jari telunjuk pada energi hijau, jari tengah pada energi hitam, jari manis pada energi merah dan jari kelingking pada energi pingai, dan sambil mengarahkan jemari berlimbur lima energi itu, Ketua Hamenka melontarkan penuturan taklangsung. “Nurvati, mau menyerah atau ... ke lima energi ini menghancurkan kepalamu?”
Terdiam sejenak Nurvati di sana, untuk pertama kalinya dalam sejarah kehidupannya, baru kali ini ia disuguhkan lima energi yang dapat dikendalikan lewat lima jemari. Akan hal itu, dia kagum pada kemampuan luar biasa Ketua Hamenka.
Dan bukannya menetapkan pertanyaan Ketua Hamenka, Nurvati malah mencetuskan kalimat tanya penuh penyelidikan. “Ketua ... bagaimana caranya agar aku juga dapat menguasai kelima energi seperti itu?”
Dengan santai tetap pada posisinya, Ketua Hamenka tanpa sungkan menjawab, “Kau harus dominan pada energi putih dan hanya mereka yang memiliki energi putih yang bisa menguasai keempat energi utama ....”
Nurvati sengap dengan mengangguk-angguk memahami maksud ucapan Ketua Hamenka, kalau Nurvati tak mungkin mampu sanggup menguasai keempat energi utama.
Setelahnya, Nurvati pun menyatakan kekalahannya yang langsung baja ditubuhnya dilelehkan oleh kemampuan spesial energi dari Ketua Hamenka. Nurvati semakin meneguhkan kalau memang sangat cocok Ketua Hamenka dijadikan guru, lebih-lebih ucapan Ketua Hamenka kali ini semakin yakin untuk Nurvati perasat.
Meski Nurvati hanya sanggup memotong sayap kanan Ketua Hamenka, sanjungan dari sang guru sempat terlontar sebagai bukti apresiasinya.
Semua pertarungan itu sudah berakhir. Kini Nurvati berdiri bersama angsa putih menghadap Ketua Hamenka.
Di malam yang dingin ini, mereka tetap akan melanjutkan pada kegiatan penting selanjutnya.
“Ngok ngok ngok ....”
“Nah ... Nurvati, sebelum kita masuk pada tahap pelatihan selanjutnya, buanglah terlebih dulu ilmu Hikmah-mu itu ... temui lagi Malaikat Rahmat dan barulah kamu mempelajari ilmu Pengenal Diri ...,” papar Ketua Hamenka dengan sungguh-sungguh.
Nurvati mengangguk tanda sepakat. Maka seiring berjalannya waktu, Nurvati sedikit penasaran mengenai ilmu Pengenal Diri, membuatnya berani bertanya, “Ketua, memangnya untuk berhasil mencapai ilmu Pengenal Diri butuh berapa lama dan berapa tahap yang mesti dihadapi?”
“Untuk waktu, itu tidak menentu ... tergantung potensi dan keberuntungan peserta, biasanya sih pasti lama ... karena bagaimana pun ada empat tahap yang mesti dilampaui ...,” jawab Ketua Hamenka dengan serius.
“... tahap pertama ... peserta wajib menguasai Diri Asli, tahap ke dua peserta mesti menguasai Diri Sempurna tahap ke tiga, peserta mesti menguasai Diri Sejati ... dan puncak atau katakanlah kesuksesan dari ilmu Pengenal Diri adalah bila peserta sudah bisa mencapai Diri Rahasia ...,” imbuhnya dengan lugas nan jelas.
“Haah ... banyak amat diri yang harus dikuasai, kenapa tidak jadi diri sendiri saja?” heran Nurvati.
“Itu hanya pelebelan dari keberhasilan saja agar mudah dipahami,” jelas Ketua Hamenka.
“Lantas ... apa bedanya diri yang banyak itu? Apa mungkin kalau aku berhasil mencapai Diri Asli seperti ketua, di dalam diriku nanti terdapat alam semesta?” selidik Nurvati dengan serius.
Namun entah bagaimana, sekonyong-konyongnya Ketua Hamenka malah tergelak berdekah. “Hahahaha ....”
Dia merasa tergelitik oleh pertanyaan Nurvati yang terkesan polos, oleh sebab itu, Ketua Hamenka menuturkan, “Nurvati ... di dalam dirimu, ya hanya ada jantung dan organ-organ tubuh lainnya, tidak ada alam semesta ....”
“... yang kamu lihat dari Diri Asli ketua adalah, manifestasi dari ilmu Pengenal Diri yang telah dianugrahi oleh alam semesta, sehingga yang kamu lihat di dalam Diri Asli ketua adalah alam semesta, yang berarti ilmu ketua sudah dilegalisasi oleh seluruh alam, bukan berarti ketua adalah alam semesta ... atau dalam diri ketua terdapat alam semesta, bukan itu ....” lanjutnya dengan terus terang.
“... dan ... untuk masalah identitasmu ... kamu pun akan melihat Diri Asli-mu dari keberuntunganmu ... sesuai takdirmu sendiri ... nah ... sementara perbedaan dari tiap-tiap tahap diri yaitu ... Diri Asli lebih mengutamakan ilmu bawaannya, seperti Dewi Penunjuk Neraka atau sang Bertanduk Empat, ilmu bawaannya ialah sihir, maka kamu dapat menguasai seluruh ilmu sihir di dunia ini dengan bantuannya ....”
“... kemudian Malaikat Rahasia atau sang Sayap Tujuh Cahaya, yaitu Dia yang mengetahui setiap ilmu dalam rahasia, artinya kamu dapat menggagalkan ilmu sihir terkuat sekalipun hanya dengan membuat kelemahan pada lawan ....”
“... lalu Dewa Dimensi, atau sang Mata Tiga, yaitu Dia dapat membawamu menguasai ilmu Waktu, Materi atau Ruang ....”
“... dan Dewa Alam, atau sang Empat Tangan, yaitu Dia dapat membuatmu menguasai empat elemen ....”
“... nah terakhir ... Diri Sempurna, itu hanyalah legalisasi tugas yang sudah kamu rampungkan dari Diri Asli dan kamu dapat izin untuk naik turun menuju Langit ke Satu hingga ke Tiga ....”
“... begitu pula dengan Diri Sejati, hanya sebatas lebel atau legalisasi dari tugas yang sudah kamu rampungkan dari Diri Asli, kemudian kamu sudah mendapat izin untuk berkunjung ke alam Neraka hingga alam Nirwana, syukur-syukur kamu dapat berjumpa dengan Para Pencipta atau bersua pada para pribadi terpilih ....”
“... dan segala perjuangan hidupmu akan berakhir pada legalisasi Diri Rahasia ... di sinilah kamu mencapai identitas aslimu, semua jawaban yang dicari-cari dan semua kunci alam semesta ada di sini ... tetapi perlu diingat, untuk mencapainya jauh lebih sulit, sebab mandat yang akan diberikan Diri Asli dapat membuatmu gila hingga bisa saja kamu bunuh diri ...,” imbuh Ketua Hamenka dengan panjang lebar nan tegas.
Namun konyol saat disadari, kalau Nurvati malah terkantuk-kantuk dengan kepalanya yang manggut-manggut hendak tidur.
“He Nurvati!” seru Ketua Hamenka keras-keras.
Maka terhenyaklah Nurvati, mendadak tersadar dari kantuknya dan terjaga hingga membalas, “Iya ketua! Siap ....”
“Apa kamu paham apa yang barusan diterangkan ...?” tanya Ketua Hamenka dengan serius.
Mendengarnya Nurvati malah membisu. Bukannya menjawab, Nurvati sekonyong-konyongnya malah berpamitan untuk pergi.
“Yaaaa ... sudah, aku akan menghapus dulu ilmu Hikmah-ku ... nanti kita bahas lagi ...,” ungkap Nurvati dengan melayang terbang.
Ketua Hamenka hanya terdiam pasrah, dan membiarkan Nurvati terbang pergi entah ke mana. Tentu sang angsa putih mengintil dengan terbang di sampingnya.
“Dadah ketua, aku pergi dulu ....” pamit Nurvati dengan terbang sembari melambai-lambaikan tangannya.
Akan hal tersebut, Ketua Hamenka hanya memandangi kepergian Nurvati dan bergumam menyanjung sikap Nurvati yang mulai terlihat lebih baik. “Anak itu sudah mulai berubah ...."
_______________________________________________
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
✅Demi mendukung /menghargai kinerja Author, cukup memberikan Like/Vote poin/koin.
(Bila ada kritik/kesan enggak perlu sungkan untuk menuliskannya dalam kolom komentar. Terima kasih.)