Nurvati

Nurvati
Episode 124: Instruksi Demi Meloloskan Dari Kehancuran.



Suasana semakin memanas, selain panas oleh radiasi ledakan, panas pula oleh emosi yang mengalir dalam laju darah setiap anak.


Hanya tetap tenang Dewi Karunia di sana, hanya saja, bola sinar kelabu kembali dibentuk, lalu 'Wengg' melesat menuju kelima anak.


Kesadaran akan bahaya itu membuat kelima anak panik.


“Berlindung padaku!” titah Nerta dengan serius.


'Syut' sinar bola kelabu meluncur tepat pada kelima anak.


'DHUUUUAAAAAAAARR'.


Ledakan dahsyat kembali terjadi, kembali memecah sunyi, ruang di ketinggian 30 meteran itu diisi oleh ledakan besar, membentuk gelombang angin, membentuk radiasi panas, meluluhkan segala materi di sekitarnya, membakar rimbunnya pohon, menumbangkan satu pohon, menghanguskan tanah, membakar akar serta batang pohon dan hawa memanas.


Di kejauhan, di ruang kosong di ketinggian 200 meter dari tanah, tubuh Zui meluncur ke bawah menuju hutan Kematian, setengah tubuhnya hangus, sayap kirinya telah hancur, jubahnya rusak setengah bagian. Dia sempat menggunakan perisai pelindung, akan tetapi daya ledakan terlalu besar untuk dibendung, menghancurkan perisai itu dan melukai cukup parah pada tubuh kiri Zui.


Zui kini terhunjam dengan melesak pada rimbunnya dedaunan pohon hutan Kematian yang lalu terbaring lemah di atas dahan pohon, terluka parah di sana, memejamkan mata tak banyak bergerak.


Telah dapat lawan sepadan dengan kekuatannya, Zui yang terbaring lesa telah menyadarinya. Masa depan yang dilihatnya ternyata memanglah takdir dan takdir ini sejalan dengan rencananya.


“Khk ... gah ... haah-haah-haah ....” Zui sang Pendekar Pemecah Waktu terpaksa berusaha mengatur napas serta kestabilan tubuhnya.


Sementara itu, di area markas siluman, tepat di ketinggian 30 meteran, perisai nuansa merah berbentuk kotak berhasil melindugi kelima anak, terbungkus oleh perisai yang dibuat dari tongkat kujang Nerta.


Selepas situasi dimungkinkan aman, perisai pelindung itu lenyap, kelima anak kembali pada posisi terbang sebelumnya, khawatir serta bingung itu yang kini menjerat perasaan mereka.


Lingkungan sekitar nampak rusak, tanah menjadi cekung, akar pohon hancur, rimbunnya dedaunan pohon telah jadi abu dan berguguran, remukan kayu jadi arang, tanah hangus berasap, hawa menjadi panas dan semakin panas saat sadar baskara tengah putih benderang.


Di sana Dewi Karunia tak lagi menggunakan kekuatan sinarnya, itu terlalu membuang banyak energi kekuatannya.


Momentum terbentuk, menggerakkan tubuh Dewi Karunia untuk melesat terbang, lantas maju menuju kelima anak, dengan dua tangan yang telah membentuk katana, 'Swoosh'. Lebih dari itu, ke dua katana itu telah diliputi energi nuansa putih.


Tak tinggal diam, kelima anak mulai menembakkan bola-bola energi tepat pada Dewi Karunia.


'Bouff' 'Bouff' 'Bouff' 'Bouff' 'Bouff' belasan bahkan puluhan bola energi meluncur pada Dewi Karunia.


'Srassh' 'Srassh' 'Swringg' 'Bwaf' 'Buaf' tebasan-tebasan dari dua katana Dewi Karunia berhasil menghancurkan setiap bola-bola energi yang mendekat.


'Swoosh' sebuah putaran 360 derajat dilakukan dengan sukses melenyapkan setiap bola-bola energi yang tertembak dan terus terbang semakin dekat dengan kelima anak.


Hingga suara 'Trang' tanda beradunya tongkat kujang Nerta dengan bilah katana energi Dewi Karunia terjadi.


Keempat anak lainnya mundur menjauh, mencari celah untuk menyerang.


'Trang' 'Tang' 'Sraash' seluruh ketegangan kembali diisi oleh pertarungan Nerta dengan tongkat kujangnya yang beradu dengan katana Dewi Karunia.


Satu tebasan katana secara vertikal dari atas ke bawah berhasil ditepis oleh tongkat kujang Nerta, 'Tang' lalu 'Syuw' katana yang digenggam tangan kanan Dewi Karunia melayang menebas menuju perut Nerta, akan tetapi 'Bouff' satu bola energi dari Gorah meluncur pada Dewi Karunia, membuat sayap Peri-nya menepis bola energi itu, hingga bunyi 'Tang' menjadi tanda berhasilnya Nerta menepis lagi tebasan katana Dewi Karunia.


Kembali lagi Nerta memutar-mutar tongkat kujangnya begitu cepat demi menghindari sabetan-sabetan dari dua katana Dewi Karunia yang diliputi energi putih itu dan tentunya Dewi Karunia terus berusaha menebas Nerta sekaligus melindungi dirinya dengan ke dua sayapnya dari tembakan-tembakan energi bocah-bocah lainnya.


Membuat irama dentang, embus dan seluruh bunyi-bunyi dari pertarungan sengit itu melingkupi realitas.


'Tang' 'Buaff' 'Tang' 'Tang' 'Buaf' 'Buaf' 'Tang' 'Buaf' puluhan tebasan katana dari Dewi Karunia masih sanggup ditangkis oleh putaran tongkat kujang Nerta dan puluhan bola-bola energi dari Gorah, Quin serta Darko pun masih mampu ditepis oleh ke dua sayap Dewi Karunia, 'Buaf' 'Tang' 'Bwaf' 'Tang' 'Tang' 'Bwaf'.


Di ketinggian 30 meteran itu segala irama pertarungan bersipongang pada hari yang cerah ini, tak dapat lagi dihindari pertarungan tersebut.


Tembakan bola energi terus mencecar deras pada Dewi Karunia, namun Dewi Karunia pun tak luput menepis bola-bola energi itu sekaligus menebaskan dua katananya pada Nerta yang dengan tongkat kujangnyalah Nerta mampu menangkis setiap puluhan sabetan katana, 'Bwaf' 'Bwaf' 'Tang' 'Buaf' 'Buaf' 'Tang' 'Tang' 'Bwaf'.


Meninggalkan kenyataan menyulitkan itu, Arista terus terbang menuju jatuhnya Zui, dirinya terbang di atas rindangnya pepohonan hutan Kematian, melacak aura sang pendekar dengan ilmu Cahaya-nya.


Lalu dengan agak rambang dirinya berhenti di atas pohon sekalian memandang ke bawah dalam kelesah. Kemudian 'Khrosak' menembus rindangnya dedaunan pohon.


Maka betapa bersyukurnya saat melihat Zui masih hidup dengan merebah dalam getir nan terluka parah. Masih selamat di tempat gelap nan misterius ini.


Arista terbang di samping Zui, dengan ke dua tangan yang diarahkan pada tubuh kiri Zui; menyalurkan energi biru Langit pemulihan.


“Haah-haah ... kakak pendekar!” panggil Zui dalam cemas dengan raut muka serius dan terpaksa matanya harus menyorotkan cahaya benderang kembali.


Perlahan kelopak netra Zui terdedah, netra biru langitnya tertuju intens pada Arista, dan mulutnya menganga kepanasan.


Sadar kalau Zui masih bisa diselamatkan membuat bibir tipis Arista menyunggingkan senyuman penuh syukur seraya berkata, “Tenang Kak, aku akan nyembuhin kakak!”


Sempat terdiam sejenak Zui di sana, dirinya yang lemah mulai berusaha bicara dengan gagu.


“Uhuk ... uhuk.” Ketika Zui batuk barulah ia mulai dapat mengungkapkan isi yang ada dalam pikirannya. “Arista ... dengarkan ini baik-baik ....”


Arista diam karena terlalu fokus menyalurkan energi pemulihannya pada tubuh Zui.


“... aku ... mungkin akan mati di sini,” imbuh Zui dengan berat namun kalimatnya begitu terdengar pasrah dan mengerikan.


Tentulah Arista menggeleng-gelengkan kepala menolak ekspektasi itu dengan menyanggah, “Enggak! Kakak nggak akan mati, tenang aja! Aku pasti akan memulihkan kakak!”


Namun dengan berat dan terkesan sebagai pesan-pesan terakhir, Zui berujar, “Aku ... tidak mau memiliki murid ... jadi ... aku akan mengangkatmu sebagai anak angkat ....”


Sebuah kalimat yang terdengar indah dan penuh pengharapan, hanya saja Arista malah membalas, “Nggak, aku nggak mau menjadi anak angkat ....”


Zui terdiam sesaat, hingga karena merasa heran dan karena jawaban Arista begitu samar membuat Zui bertanya, “Memangnya kenapa kamu tak mau jadi anak angkatku ... aku akan menurunkan semua ilmu Pemecah Waktu-ku padamu?”


Tiga detik kemudian Arista yang masih memandang lekat-lekat pada lengan kiri Zui, berkata, “A-aku ... aku cuma mau jadi murid kakak ... karena ... aku nggak mau kehilangan seorang ibu dua kali!”


Zui tercenung mendengarnya, pengakuan polos Arista cukup menyentuh sisi psikologis seorang pendekar Pemecah Waktu, sejenak dirinya membisu, meresapi segala pengalaman hidup yang menyertainya.


Untuk kali pertama dalam hidupnya, setelah puluhan anak-anak tewas, setelah puluhan remaja berguguran, setelah banyak pribadi yang gagal menjadi murid seorang pendekar Pemecah Waktu, akhirnya di momen krusial ini, Zui menemukan sesosok perempuan yang mirip dengannya, yang kemungkinan besarnya, menjadi penerusnya. Benar, Zui sudah banyak menemui orang-orang yang ingin menjadi muridnya, tetapi mereka semua tak pernah mampu membuat Zui rela menjadi gurunya.


Oleh sebab itulah, bersama kegetiran dan renungan yang dalam, Zui telah pulih kembali, Arista berhasil menyembuhkannya.


Dengan melompat ke atas, lalu 'Drap' Zui kini kembali sembuh, berdiri di dahan pohon dengan ketetapan yang telah diambilnya dan jubahnya telah utuh menyelimuti lagi sekujur tubuhnya.


“Baiklah ... Arista, muridku ... sekarang waktunya aku akan membimbingmu pada satu hal penting,” tutur Zui dengan menengadah wajah pada rimbunnya dedaunan pohon.


”Eh ... kakak nerima aku jadi murid?“ tanya Arista memastikan.


Tanpa kata, Zui hanya mengangguk tanda mengiakan.


”Yeaaaah ... akhirnya, aku bisa jadi pahlawan seperti kakak!“ seru Arista dengan ceria sangat senang menyadarinya.


”Dengar ini, Arista!“ pinta Zui dengan tegas tanpa menatap Arista.


Membuat Arista langsung menegakkan badan.


”Ya, guru!“ balas Arista penuh antusias.


”Saat nanti aku mati, jangan menangisiku!“ titah Zui dengan lantang nan tegas.


”Loh ... ta-tapi, siapa nanti yang mengajariku?“ heran Arista yang meragu.


”Aku ... hanya saja, jangan dulu kamu pikirkan sekarang, karena sekarang ... kamu punya tugas lain,“ jelas Zui.


”Eh ... aneh ...?“ keluh Arista yang kebingungan.


”Lakukan saja apa yang aku perintahkan ... karena aku gurumu,“ tandas Zui.


Arista terdiam sejenak, lantas bertanya, ”Apa kakak ngelihat masa depan? Apa kakak juga ngelihat masa depanku dan teman-temanku?“


Pertanyaan yang menyelidiki itu sama sekali tak digubris oleh Zui, pandangan dan wajahnya masih tertuju ke atas pada rimbunnya dedaunan pohon.


”Yang perlu kamu cari tahu sekarang adalah cara mengalahkan lawanmu ...,“ tutur Zui berkilah.


”... sekarang terbanglah ... terbanglah dan bantu kawan-kawanmu!“ lanjut Zui memberi instruksi.


”Ta-tapi ...,“ ucapan Arista terpotong.


”Cepat pergi, Arista!“ pungkas Zui hingga menoleh ke kiri pada Arista, memandangnya sebagai tanda kalau kalimatnya wajib dipatuhi.


Melihat keseriusan dan adanya berdalih dari Zui, membuat Arista kembali terbang, dengan berkata, ”Baiklah.“


Arista melesak pada rimbunnya dedaunan pohon, terbang lagi di atas pepohonan hutan Kematian, meninggalkan Zui sendirian. Entah apa yang hendak dilakukan Zui, namun yang pasti Arista pergi dan Zui tengah bersiap diri.


------------------------------------------------------------------------


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


✅Demi mendukung /menghargai kinerja Author, cukup memberikan Like/Vote poin/koin.


(Bila ada kritik/kesan enggak perlu sungkan untuk menuliskannya dalam kolom komentar.Terima kasih.)