Nurvati

Nurvati
Episode 88: Menggapai Impian Surgawi.



Sungguh lelap Haro dalam mimpi surgawinya, perasaan antusiasnya mengiringi serpihan masa lampaunya yang menyusun membentuk visual layaknya do'a-do'a untuk arwah penasaran.


* * * * *


Ketika tangisan tak bersuara, tak berair mata, menyertai dalam diamnya Haro, beberapa ribu tahun ke belakang menanggung cecaran makian, hanya karena dirinya memang tak dapat mengingat mantra atau bahkan mengingat nama teman-temannya sendiri.


Jiwanya memang telah dikutuk sejak kecil, itu gegara orang tuanya melanggar sumpah dan malah menghabisi lawannya dengan sihir terlarang. Seorang lawan yang memang adalah seorang yang dianugrahi oleh Dewa.


Haro terpaksa menanggung segala sesal dan derita dari kelakuan orang tuanya, untung baginya, kutukan itu tak serta merta membuatnya benar-benar menghapus ingatannya, Haro hanya pelupa yang artinya segala hal bisa kembali teringat karena memori otaknya tetap menyimpan peristiwa kehidupan.


Merendahkannya, tak memercayai Haro sebagai penyihir yang andal, sifat pelupanya adalah yang menjadi hal yang tak disukai teman-temannya, atau bahkan dibenci hanya karena sifat pelupanya, sampai-sampai tunangannya harus berpaling dari hidupnya.


Haro lebih tua dari rekan-rekannya, sempat dirinya tak naik kelas yang akhirnya oleh tekad serta perjuangan kerasnya, bersama tim 12 Putri Kerisia, dia bisa sampai hingga ujian menuju kemiliteran bangsa Barat.


Tapi dalam arti hidup yang ambigu, kalau dirinya memang terasa menjadi penghalang bagi kemajuan timnya, pemberat kemenangan rekan-rekannya, menjadi beban pikiran mereka.


“Tak ada hal yang dapat dibanggakan pada Haro, dia menyusahkan.”


“Haro tak pantas menjadi penyihir.”


“Dia itu memang selalu menyusahkan.”


Mereka begitu mudah membicarakan Haro, merendahkan di depan atau di belakangnya, memang Haro pelupa, tetapi yang namanya rasa sakit selalu melekat dalam hati. Tak penting lagi itu candaan atau bukan, karena memang itu kalimat kebencian.


Mereka tak memahami, betapa sulitnya hidup menanggung derita sejak kecil, keluarga yang bertengkar, keluarga yang menganggap dendam adalah keadilan, atau doktrin kalau membunuh itu bukanlah dosa. Ya, Haro harus menanggung semuanya, harus tetap kuat agar ucapan payah orang-orang yang tak memahami itu, tidak menjadi penghalang kemajuan hidupnya, atau setidaknya tetap menutup aib keluarganya dan akan terus menjaga kehormatan keluarganya.


Tak lain, hanya senyuman indah baik-baik saja yang mereka tahu, tetapi secara kerahasiaan, siksa batin dalam warisan takdir yang sebenarnya enggan diterima terus menggerogoti mentalnya yang kadang kala aura kelam keputusasaan acap kali mengekangnya, kadang menggoda jiwa untuk mengakhiri derita; bunuh diri.


Bunuh diri bukanlah obat, Haro memang menderita oleh hidupnya, kutukan, atau bahkan keluarganya, akan tetapi, Itu justru memacu angannya untuk mencapai pembuktian, mempertunjukkan kalau dirinya layak disanjung, mempertontonkan akan dirinya yang pantas dianggap penyihir andal.


Sebuah pembuktian, kalau untuk saat ini dan seterusnya, akan bertekad melekukan senyuman kemenangan, tidak akan lagi tersenyum kepura-puraan!


* * * * *


Hari ini, tiga rekannya akan menjadi saksi kalau dirinya adalah penyihir yang andal dan bukan penyihir yang menyusahkan timnya.


'Ceter' suara mengisi kenyataan kehidupan dalam siksa kematian, cemeti telah memberikan lagi siksa dalam jiwa siluman raksasa itu. Bukan hanya satu kali cemeti mencambuk, namun saat ini berkali-kali cemeti dari jari telunjuk Haro mencambuk mengiringi berlalunya waktu.


'Ceter' 'Ceter' 'Ceter' 'Ceter' 'Ceter'.


Di sana Logia hingga masih menutupi kuping dengan ke dua tangannya seakan suara mematikan hendak melenyapkan telinganya. Jiwanya serta pendengarannya telah tuli, selain tak dapat mendengar suara hatinya, dia tak mampu mendengar suara rintihan siksanya.


Bangkit, Logia mulai memaksakan dirinya untuk bangkit berdiri.


Dia juga punya mimpi dan mimpi itu juga yang menuntunnya hingga berada di sini, memang terlihat egois, tapi mengingat impian atau cita-cita adalah termasuk arti kehidupan. Maka layak dirinya menyingkirkan orang-orang yang hendak menghalangi impiannya!


Agak rapuh saat ke dua kakinya berjuang menopang tubuhnya. Tangannya terjuntai ke bawah, agak membungkuk dengan wajah pucat menyiratkan kemurkaan.


Logia mengenakan jubah nuansa biru, dengan bertatahkan permata, dengan rok selutut dan bentuk wajah agak lonjong, cukup cantik bagi kalangan ras Peri, namun tak secantik Putri Kerisia.


“Aku ... harus lulus payah ...,” gumam Logia, yang bahkan diucapkan keinginannya hanya agar dunia tahu, kalau kelulusan ini sangat berharga. Tapi tak sedikit pun dia mendengar suaranya sendiri.


'Tap' ke dua telapak tangannya dipersatukan, seraya membaca mantra Kesehatan.


Tapi gagal! Level Haro sudah berada di atas Logia, kecuali dirinya memang sama-sama menggunakan sihir terlarang, dia bisa menyembuhkan dirinya.


Sekonyong-konyongnya Logia malah berusaha berjalan dengan mengepak sayap berusaha terbang, bagaimana pun caranya dia harus menghentikan gegabahnya Haro.


Perlahan namun pasti, dengan lompatan tinggi dia berjuang menghampiri Haro, lebih-lebih dirinya merapal mantra Ilusi, hanya untuk melumpuhkan Haro.


“....” Mantra dirapal bersama tangan kanan yang berbalur energi ungu sihir.


Energi pun ditembakkan pada Haro. Entah sadar atau tidak, Haro yang begitu asyik mencambuk siluman raksasa, secara mendadak tertembak energi ungu sihir Ilusi dari Logia.


Kendati nyatanya, sama sekali itu tak berdampak, hanya seperti angin lalu. Haro tetap asyik mencambuk siluman raksasa.


'Ceter' 'Ceter' 'Ceter' 'Ceter'.


Ketakutan pada Haro yang mati yang bisa menyebabkan ujian gagal, terus memikat kejiwaan Logia untuk terus bergerak sebisa mungkin menghentikan Haro.


Sihir Ilusinya sudah gagal, itu sudah bisa ditebak, karena awalnya memang hanya mencoba.


Mulanya hanya lompat-lompat menahan siksa, tetapi Logia langsung terbang menerjang angin mengerahkan segenap kekuatannya untuk membuat Haro sadar. Dilakukan demi impiannya.


“SADAR PAYAAAAAAAAAAAH ...!” teriakan yang meski tak didengarnya sendiri sampai bergaung meliputi suasana tegang.


'Woush' lalu 'Buak' 'Buk' Logia berhasil menghajar Haro, membuat cambukannya terhenti, dirinya malah pasrah terdorong pukulan-pukulan dari kemarahan Logia. Yang sebenarnya Haro memang menahan pukulan-pukulan itu.


Seiring pukulan demi pukulan yang menghantam tubuh Haro, teriakan yang Logia sendiri tak mendengarnya terus dilahirkan dari mulutnya.


“SADAR PAYAH!”


“SADAR PAYAH!


”SADAR PAYAH!“


'Buak' 'Buk' 'Buak' 'Buk' 'Buak' bertubi-tubi pukulan terjadi tapi belum sadar Haro dalam sihir terlarangnya. Memasrahkan diri dihajar oleh rekannya sendiri.


”SADAR PAYAH! JANGAN KACAUKAN IMPIANKU!“


”SADAR PAYAH! JANGAN MENGACAUKAN IMPIANKU!“


Kalimat yang sebenarnya berhasil menyentuh kejiwaan Haro di dalam sana.


Impian, iya, tujuan yang membuat seorang yang pemalas rela bekerja keras hanya demi impiannya, kata-kata Logia telah menyentuh pikiran Haro, tersentuh hanya oleh kata 'impian'.


'Buak' 'Buk' dipukulan ke 39, Logia berhenti, atau tepatnya, telah dihentikan tinjuan tangan kanannya karena telah disekat oleh perisai nuansa abu-abu milik Haro yang melindungi tubuhnya.


Satu hal yang pasti, Haro pun memiliki impian.


Maka suara 'Ceter' telah menjadi tanda kalau Logia terkena cambukan dari jari telunjuk Haro.


Lebih dari itu, cambukan itu membuat Logia terhempas sejauh 30 meter ke tanah, tergerus dan terkapar dalam kesakitan yang teramat sakit. Dia seketika kembali menanggung siksa.


Dia —Logia— tak tahu, kalau apa yang dilakukan Haro, pun adalah demi sebuah impian.


----------------------------------------------------------------------------------------------------------


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


✅Untuk mendukung /menghargai kinerja Author, cukup memberikan Like/Vote poin/koin.


(Bila ada saran/kesan tak perlu sungkan untuk menuliskannya dalam kolom komentar.)