
Suasana pagi dalam hutan ini masih kelam, kini hawa dingin terganti akan hawa kehangatan baskara, udara bersiur menggiring aroma pering jadi lebih kental menusuk penciuman semua orang.
Dan bersama dedaunan yang bergemerisik dalam angin kencang, wanita misterius ini kembali bertanya, “Apa kalian anak-anak yang diculik para siluman?”
Ke lima anak-anak masih terdiam dan malah masih saling menatap satu sama lain, seperti ada hal yang lebih penting ketimbang menjawab pertanyaan wanita misterius itu.
Maka salah seorang anak laki-laki berambut merah maju dua langkah ke depan, dengan raut muka penuh tanya, dan pandangan memindai, seraya bertanya, “Sepertinya Anda bukanlah orang yang asing, apakah Anda seorang pendekar?”
Belum dijawab pertanyaan yang terkesan menyelidiki itu, beberapa detik pertanyaan itu diambang tak terjawab.
Nerta yang nampak memindai dari ujung kaki, dan jubah yang menutupi bagian kakinya hingga tas yang sepertinya dipenuhi pil-pil kekuatan, lalu ke dua tangan yang dibungkus sarung tangan bertatahkan permata ungu, hingga wajah mulus yang tak asing, dagu melancip, hidung mancung, bibir tipis berwarna hitam, iris biru yang tajam, alis hitam yang tegas, benar, wanita ini memang sudah tak asing.
“Kakak adalah pendekar Pemecah Waktu! Iya sang legenda itu! Seorang wanita yang mampu mempermainkan relativitas waktu!” beber Nerta dengan sungguh-sungguh nan antusias.
Sontak pernyataan Nerta langsung membuat seluruh anak berwajah semringah.
“Kenapa kalian bisa ada di sini?” tanya wanita alias pendekar Pemecah Waktu. Dan tak menghiraukan pernyataan Nerta; masa bodoh.
“Tuh 'kan ... dia pahlawan itu, yang mampu membuat seekor siluman naga terjebak dalam alam paradoks!” kata anak laki-laki berambut merah.
Jelas seluruh anak langsung berseri-seri dan berkomentar mengenai wanita itu. Hanya komentar-komentar positif mengenai betapa bersyukur dan betapa mereka mengagumi pendekar ini.
“Kakak bisa masuk tabir waktu dan mengulang waktu, bagaimana caranya?” tanya Quin dengan antusias nan penasaran.
”Ya, kakak bagaimana caranya? Aku ingin melihat kembali ke masa lalu,“ sambung anak laki-laki berambut merah.
“Kakak bagaimana caranya bisa memutar waktu?” timpal anak laki-laki berambut hitam panjang.
“Kak, ajarin aku dong, biar hebat kayak kakak!” pinta Arista yang malah melayangkan permintaan dan malah ingin belajar.
Tapi bersama kesunyian hutan yang merebak, yang tetap mengantar aroma pering, wanita ini pun berkata, ”Kalian adalah para bocah yang masih terikat akan dongeng-dongeng ... aku tidaklah seperti yang kalian interpretasikan, dan anggapan kalian salah terhadapku.“
Mendengar itu kembali lagi ke lima anak malah saling menoleh menatap satu sama lain, seakan memang salah orang atau entahlah.
Tapi mereka yakin, kalau yang ditemui adalah pendekar Pemecah Waktu; sesuai dengan di cermin Pintar.
”Kalian tidak mengenalku, dan jawablah ... bagaimana bisa anak-anak seperti kalian berada di sini?“ tanya lagi wanita itu dengan khawatir. Bukannya apa-apa, siapa pun yang berada di hutan Kematian ini kemungkinan besarnya adalah anak-anak yang diculik.
“Kakak, aku merasakan dejavu, apakah kakak telah memutar waktu?” tanya balik Quin yang masih begitu antusias dan penasaran.
Bukannya menjawab pertanyaan Quin, wanita misterius itu secara mendadak malah memutar badan ke belakang, merasakan adanya bahaya dan dalam genting berseru, “Berlindung di belakangku! Ada siluman mendekat!”
Jelas mendengarnya bukan menjadi takut, justru ke lima anak-anak itu malah girang, pastinya sangat girang, sudah berjam-jam mencari siluman tanpa hasil dan saat inilah semuanya akan terbayar.
'Drap' 'Drap' 'Drap' 'Drap' 'Drap'.
Sekonyong-konyongnya ke lima anak malah berdiri di sekeliling sang wanita yang justru wanita itulah yang kesannya dilindungi anak-anak itu.
“APA YANG KALIAN LAKUKAN?!” sentak wanita itu dalam getir dan cemas.
“Kami yakin, kakak adalah pendekar Pemecah Waktu! Jadi buktikanlah sekarang!” balas Quin dengan lantang nan tegas.
Secara mengejutkan, seekor siluman berbulu dengan tubuh dua kali lipat lebih besar dan lebih tinggi dari wanita misterius itu, datang berlari dari gelapnya hutan, siluman seperti Gorila.
“Anak-anak ... kalian salah dalam menginterpretasikanku!” imbau wanita sang pendekar Pemecah Waktu.
'Wush' Quin telah maju, dengan dua tangan berbalut energi merah, tinjuan tangan kanannya diarahkan pada wajah siluman gorila bertaring itu, dan siluman itu pun menggunakan tinjuan tangan kiri yang terarah pada Quin.
Strategi pun dimulai!
'Siuw' Nerta telah maju dan mendorong kaki Quin dengan dua tangannya kuat-kuat, terlebih Quin seketika membentuk perisai energi nuansa merah.
'Buak' siluman berhasil meninju Quin; meninju perisai Quin. Akan tetapi gaya dorong yang dibuat Nerta, mengakibatkan pukulan siluman itu kalah dalam gaya dorong. Kekuatan dorongan Quin lebih kuat ketimbang gaya dorong siluman itu.
'BLEDAAR'.
Terhantam siluman itu pada akar pohon dengan Quin yang masih melindungi diri oleh perisai energi nuansa merah.
Siluman terkapar agak terluka, sedangkan Quin tidak sama sekali.
Perisai pun hilang, Quin yang menginjak perut siluman itu seketika melakukan tinjuan dengan ke dua tangannya yang diliputi energi nuansa merah.
'Buak' 'Buk' 'Buak' beberapa pukulan berhasil mendarat pada dada siluman gorila itu.
Namun tak lama berselang, siluman itu menembakkan energi nuansa merah dari mulutnya pada Quin.
'Buafs' berhasil energi merah itu mengenai Quin, membuatnya terhempas ke belakang.
“Gah ...!” Quin terjatuh ke tanah. 'Bruk'.
Belum selesai. Dari atas siluman telah meluncur anak laki-laki berambut merah dan ini termasuk strategi menyerang mereka.
'Wush' lebih-lebih tangan kanan anak laki-laki itu telah melayangkan tinjuan dengan diliputi energi nuansa merahnya.
'Buak' terpukullah dada siluman itu hingga mengerang kesakitan.
“GHWOOOOAAAH ...!”
Lalu anak laki-laki berambut merah itu melompat membuat salto ke belakang, dan melayang di atas tanah setinggi satu meteran.
Belum selesai juga. Dari samping kanan siluman gorila itu telah berdiri anak laki-laki berambut hitam panjang sembari menembakkan beberapa bola energi nuansa merah tepat pada siluman tersebut.
'Buuff' 'Buuff' 'Buuff' tak dapat dihindari, beberapa bola energi itu langsung mengenai sang siluman, membuatnya mengerang kesakitan.
Hanya saja, mengingat kekuatan energi anak-anak itu masih lemah, sang siluman masih mampu menahannya. Terlebih dia melompat, membangkitkan tubuh berbulunya pada posisi berdiri.
Kendati nampak kuat, secara tak terduga, dua bilah pedang telah menusuk dari pinggangnya hingga tembus pada perutnya yang otomatis memunculkan darah luka.
Nerta telah berhasil secara sembunyi-sembunyi menusuk dari belakang siluman itu.
Lalu anak laki-laki berambut merah serta anak laki-laki berambut hitam panjang telah terbang dari atas, menerjang angin menghunjam menuju siluman tersebut. Dan dengan tangan kanan mereka yang berbalut energi nuansa merah, langsung memukul bahu siluman gorila itu, 'Buak' secara berasamaan ke dua pundak siluman dihajar keras-keras oleh mereka.
'BLEDAAR'.
'Drap' 'Drap' ke dua anak laki-laki yang berhasil menumbangkan siluman itu telah berdiri di samping teman-temannya yang lain bersama Arista yang bertugas sebagai medis. Dia bahakan telah menyembuhkan luka ringan pada Quin.
3 detik menunggu kepastian hidup atau mati siluman gorila itu, selepasnya, sebuah tepuk tangan tiba-tiba saja mengisi suasana senyap.
'PROK' 'PROK' 'PROK'.
Yang bukan lain berasal dari wanita sang pendekar Pemecah Waktu itu, dia berdiri di sisi kiri lima anak tersebut. Serentak seluruh anak memandangnya.
“Sangat terorganisasi, kalian membuatku terkesan, kompak dan tak ada yang terlihat egois ...,” sanjung wanita itu dengan tersenyum miring seolah itu juga bagian dari apresiasinya.
----------------------------------------------------------------------------
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
✅Untuk mendukung /menghargai kinerja Author, cukup memberikan Like/Vote poin/koin.
(Bila ada kritik/kesan tak perlu sungkan untuk menuliskannya dalam kolom komentar.)