Nurvati

Nurvati
Episode 161: Merdunya Petikan Harpa Di Suram Malam.



Di malam hari yang dingin.


Waktu telah sampai di tengah malam, pesta nan meriah yang digelar di salah satu gedung berarsitektur unik ini masih berlangsung ramai.


Acara pertemuan para bangsawan atau para pejabat yang diselenggarakan di pusat kota ini telah banyak menampung ribuan pribadi-pribadi terhormat. Ada yang telah menyelesaikan jadwalnya, hingga ada pula yang masih belum datang dikarenakan menunggu jadwal.


Aula luas nan mewah ini masih dihiasi oleh tamu-tamu yang berdansa di udara dengan pasangannya masing-masing. Senandung petikan merdu dari harpa tak hentinya melantunkan musik indah yang selaras dengan gerakan-gerakan dansa para tamu.


Hari ini Putri Kerisia tetap duduk pada dipannya menanti kehadiran pria bertopeng atau dipanggil juga Kaca.


Tentulah lelaki misterius itu dinantinya, bukan sebatas lelaki itu bertopeng dan misterius, bukan pula karena Putri Kerisia kesepian. Tetapi bukan lain karena Kaca seolah telah menggugah rasa interesan Putri Kerisia, membangkitkan perasaan dinginnya untuk sejenak hangat demi menyambut pria itu. Toh memang Putri Kerisia memang sudah mengetahui siapa pemuda itu.


Penantian lamanya itu syukurnya terbayarkan, kala seorang lelaki dengan wajah yang ditutupi topeng cermin dalam balutan setelan jas nuansa hitamnya telah terbang di hadapan Putri Kerisia, sembari bernamaskara penuh hormat, Kaca kembali membawa Putri Kerisia berdansa bersamanya.


Dan faktanya sejauh pesta digelar, hanya Kaca laki-laki yang baru berdansa bersama putri bangsa Barat itu. Yang tentunya itu adalah sesuatu yang menarik bagi para tamu di sini.


Tangan Kaca kembali menempel mesra di pinggang Putri Kerisia dan sebaliknya, Putri Kerisia pun menempelkan tangannya pada bahu Kaca. Sehingga seiring gerakan-gerakan dansa yang direalisasikan, wacana dua individu itu berlangsung.


“Apa Anda datang untuk membuat saya tersenyum?” tanya Putri Kerisia dengan serius sambil menatap topeng cermin Kaca yang merefleksikan wajahnya.


“Saya akan selalu datang, saya akan selalu berusaha membuat Anda tersenyum ...,” jawab Kaca dengan terdengar begitu sungguh-sungguh dan afektif.


Putri Kerisia tetap dengan raut muka datarnya, kemudian dalam suara tegas dia membalas, “Itu artinya ... Anda rela menjadi teman saya tanpa memandang status saya ...?”


Sempat terdiam Kaca dalam waktu yang bekerja, dirinya membiarkan ucapan Putri Kerisia meresap pada sukmanya, hingga segenap perasaan dari reaksi ucapan itu menerbitkan kata-kata nan afektif. “Semua akan saya lakukan demi senyuman dapat terlukis lagi di wajah cantik Anda ... saya akan sedia tanpa tergugah oleh status Anda dan mudah-mudahan dapat menyembuhkan luka Anda ....”


Mendengarnya, Putri Kerisia hanya sengap menghanyutkan perasaannya pada pengharapan sang pria bertopeng ini, yang semoga saja kata-katanya bukan sebatas omong kosong semata. Dan akan hal itulah, mereka menikmati lagi sisa malam dengan berdansa.


Hingga secara terjadwal, Kaca kembali mesti pergi karena 'waktunya telah tiba'.


Seluruh kegiatan malam itu diakhiri oleh rasa menggantung di hati Putri Kerisia, cukup penasaran bila mungkinkah Kaca benar-benar sedia dengan tulus menjadi seorang sahabat dan berkorban demi kesembuhan sang putri. Walau begitu, mungkin memang itu adalah jadwalnya.


Tetapi di hari esok, di malam hari yang dingin mereka kembali bertemu, dan kembali berdansa. Para tamu pun seiring jam bergerak berangsur-angsur bergantian yang hadir.


Dansa nan lembut serta terstruktur itu menghiasi lagi realitas di aula besar dan megah ini.


Pencarian arti kehadiran pria bertopeng itu kembali mengalun lembut di kepala Putri Kerisia, mungkin saja memang takdir akan mempersembahkan kesembuhan bagi sang putri bangsa Barat itu.


Tapi sekali lagi, dalam waktu yang tak lelahnya bekerja, Kaca harus pamit, karena 'waktunya telah tiba'.


Meninggalkan lagi Putri Kerisia untuk menanggung kesepian tanpa teman.


Namun demikian, di hari keempat acara berlangsung, Kaca kembali lagi hadir dan tentunya kembali mengisi waktu untuk berdansa bersama Putri Kerisia.


Arti kehadiran sang pria bertopeng pun tak luput untuk Putri Kerisia kuak.


Kemudian seiring detik terpacu, Kaca harus kembali lagi pergi dari acara, membiarkan lagi Putri Kerisia memantau acaranya berlangsung.


Sedikit demi sedikit setiap kehadiran pria bertopeng itu mulai membuat kesan dalam benak Putri Kerisia, hanya kesan kalau mungkin saja sosok lelaki topeng cermin itu memang sanggup memecahkan kutukan yang otomatis menerbitkan lagi senyum dan tawa dari sang putri bangsa Barat.


“Kamu akan kembali ingat tersenyum dan tertawa, bila ada seseorang yang tulus mati demi membuktikan ikatan persahabatan denganmu ....”


Bahkan kalimat yang sempat digaungkan dari penyihir nenek sepuh itu masih ragu untuk diperasat Putri Kerisia, ragu kalau ada seseorang yang mau mati demi persahabatan dengannya. Pastilah ilmu kesaktian mau pun sihir tak dapat mempermainkan ketulusan seseorang.


Tetapi mengingat Putri Kerisia mengetahui sang pria bertopeng, sehingga untuk saat ini dirinya berani menaruh harapan besar pada lelaki bertopeng itu.


Maka dengan hari yang kembali beralih, tepat di hari terakhir berlangsungnya acara, pria bertopeng kembali hadir dalam balutan setelan jas nuansa hitam kebanggaannya.


Kehadiran kali ini dirinya justru tidak mengajak Putri Kerisia berdansa, malahan Kaca membawa Putri Kerisia untuk sejenak meninggalkan gedung acara.


Dalam malam dingin nan berawan, di pusat kota Kyoku, Kaca membawa terbang Putri Kerisia menuju ke ketinggian 2000 meter di atas tanah. Entah hendak apa mereka di sana yang malah memandangi gedung acara.


Tetapi Putri Kerisia yang mulai memahami adanya kejanggalan hanya mampu berdiri di atas awan khusus yang dibentuk oleh Kaca.


Benar, berdua di malam berawan itu, mereka berdiri memandangi gedung acara, seolah Kaca hendak menunjukkan pemandangan berbeda.


“Jadi ... hal menarik apa yang membuat Anda yakin kalau di sini bisa lebih baik ketimbang di dalam gedung?” tanya Putri Kerisia cukup penasaran dan tak begitu menaruh curiga.


Meski ikatan keakraban belum begitu terjalin, namun cukup terekspos kalau besar kemungkinannya jalin keakraban sebagai teman itu mungkin memang ada.


Pernyataan yang terdengar cukup meyakinkan, tetapi Putri Kerisia sendiri masih belum tahu apa yang seyogianya akan terjadi.


Pendaran lampu gedung acara serta suasana ramai cukup kentara dari atas sini, udara dingin lambat laun menyelimuti tubuh, suara-suara sayup dari ekspresi atau reaksi dari makhluk hidup terdengar tedas. Untuk itu waktu mengiringi malam pesta terakhir ini, detik dan detik dilalui bersama dalam sengap, realitas hiruk pikuk di sekitar gedung acara masih terlihat normal.


Seluruh suasana memang sempat berjalan normal, masih belum terlihat kejadian mencengangkan yang diekspektasikan Putri Kerisia; sesuatu keindahan.


Tetapi nyatanya, ekspektasi kalau ada hal indah yang mungkin tampil itu terbantahkan!


Sebab secara mendadak dan tak diduga-duga, gedung acara diledakan!


'DHUUUUAAAAAAARRRRRRRSSH'.


Ledakan besar yang menghancurkan gedung, memecah suasana yang seketika menjadi tegang nan getir, radiasi ledakan itu syukurnya terhalangi oleh dinding gaib yang melingkupi gedung, sehingga tak berdampak ngeri pada sekitarnya.


Hanya saja, Putri Kerisia berbuntang menyadari kejadian yang tak disadarinya itu. Dan bahkan pendengarannya terisi lagi oleh kalimat tegas dari Kaca.


“Putri Kerisia, kita hanya tahu kalau gedung itu diledakan oleh seorang dari sekte ternama dan kita hanya akan tahu kalau itu serangan dari mereka yang menginginkan perdamaian.”


Kalimat yang cukup membuat pikiran Putri Kerisia mencetuskan sebuah asumsi; ini adalah propaganda. Dan sama sekali dirinya tak menduganya —bukan— Putri Kerisia tak tahu kalau rencana para oportunis adalah meledakan gedung acara di hari kelima agenda.


_______________________________________________


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


✅Demi mendukung /menghargai kinerja Author, cukup memberikan Like/Vote poin/koin.


(Bila ada kritik/kesan enggak perlu sungkan untuk menuliskannya dalam kolom komentar. Terima kasih.)