Nurvati

Nurvati
Episode 52: Rencana Dalam Perang.



Suasana telah kental dalam keseriusan dan kebimbangan, Nurvati mencari cara agar keadilannya bisa dituntaskan, hingga alam pikirnya mulai menyusun siasat licik pada Putri Kerisia, benar, dia berusaha untuk menipu Putri Kerisia.


Detik pun berlalu dibelakang realitas yang mereka jalani, raut muka datar dan tatapan tajam masih terpampang dalam wajah mulus sang Putri, dan bahkan dia pun memiliki rencananya sendiri.


Ketika secara kenyataan waktu melampaui dua menit lebih dalam keseriusan penuh kebimbangan, keputusan telah diambil Nurvati, dia punya rencana.


Alih-alih Nurvati justru malah mengatakan, “Putri Kerisia ... kau sendiri yang berkata kalau kita terikat oleh hukum ... Putri Kerisia, asal kau tahu, saat aku melihat rakyat terhasut olehmu, aku sudah memahami, bahwa para korban tetap saja ingin aku mati ... dan lagi ... Putri Kerisia, bakat menghasutmu itu tidak lagi berguna buatku, jangan bodoh, tak ada yang menghakimi kalau tak ada pelakunya ....”


”... justru kaulah yang harus diadili!“ lanjutnya dengan melayang terbang mengulurkan tangan kanan ke depan, dan telapak tangan terarah pada Putri Kerisia.


Nurvati hendak mengakhiri hidup Putri Kerisia, kematian Putri Kerisia akan jauh lebih bermakna ketimbang semua orang yang dulu menindas Nurvati, karena seorang penguasa yang menipu rakyat, lebih pantas diadili, begitulah pikir Nurvati.


Laser hijau tertembak menuju ubun-ubun Putri Kerisia, cepat seperti kilat, dan berhasil mengenai kepala Putri Kerisia, lalu suara 'Bruk' adalah isyarat terkaparnya sang Putri di lantai marmer nuansa cokelat muda.


Dalam bangga, melayang di ketinggian 10 meter, Nurvati berkacak pinggang, memandang lega kalau akhirnya sang makhluk licik telah diadili dengan cepat.


Sampai ketika baru tiga detik menikmati kemenangan, kenyataan itu tiba-tiba dipecahkan oleh hal yang paling mustahil bagi Nurvati, bahkan hal mustahil bagi seluruh makhluk bernyawa. Sebab alih-alih tewas, Putri Kerisia malah hidup kembali, benar, Putri Kerisia mampu hidup kembali, lebih-lebih kepalanya nampak normal.


”Ba-bagaimana bisa kau hidup lagi ...?“ heran Nurvati nampak tercengang, tak percaya.


Masih dalam raut muka tak berperasaan, Putri Kerisia telah bangkit dari terbaring, dan duduk berselonjor, seperti tanpa masalah, dan sembari menengadahkan wajah memandang Nurvati, maka Putri Kerisia berujar, ”Nurvati ... kau adalah wanita bodoh ... tetapi ... jika saja kau sudah mengenal identitas aslimu ... haah ....“


Tak diteruskan ucapannya, karena merasa percuma bicara dengan orang bodoh seperti Nurvati.


Tapi tak menyerah!


Nurvati kembali menembakkan laser hijau tepat pada kepala Putri Kerisia, membuat sang Putri kembali terkapar tewas. Namun lagi-lagi itu tak berhasil, Putri Kerisia kembali hidup, duduk berselonjor dan menengadahkan wajah datarnya pada Nurvati.


”AKU BELUM MENYERAH!“ teriak Nurvati dengan penuh semangat dan marah.


Laser kembali tertembak, Putri kembali tewas dan kembali hidup, namun laser kembali ditembakkan, pun Putri tewas lalu hidup lagi, tembak, mati, hidup lagi, tembak, mati, hidup lagi, tembak mati lantas hidup lagi, terus menerus seperti itu secara konyol berkali-kali, sampai 30 kali, hidup lagi.


”CUKUP NURVATI, CUKUP ...!“ sentak Putri Kerisia sampai mengacungkan tangan kanan dan muka tertunduk lelah.


Tak digubris, laser kembali tertembak tepat pada kepala Putri Kerisia. Dan tewas terbaring, namun ketika kembali hidup, buru-buru Putri Kerisia melesat terbang, tepat menuju Nurvati, sayangnya karena kecepatan sang Putri tak sepadan dengan Nurvati, membuat suara berdebam pada tanah tanaman bunga Mawar, menjadi bukti gagalnya serangan Putri Kerisia yang justru terhempas oleh tendangan kaki kanan Nurvati.


* * *


”Kau sudah mengotori tubuhku,“ keluh Putri Kerisia terbaring di atas bunga Mawar yang berduri.


Maka kedua telapak tangan Nurvati kini diarahkan pada Putri Kerisia, dan ditembakkan kembali laser hijau pada sang Putri, namun kali ini dengan dua laser.


Di sisi lain perspektif, Putri Kerisia paham betul pada kekuatan Nurvati, percuma belaka jika berlindung dengan perisai dari kekuatan Cahaya, sebab Nurvati telah sampai pada ilmu Hikmah. Tidak juga menggunakan sihirnya, karena semua ini adalah bagian dari rencana.


Faktanya, Putri Kerisia tahu betul, kalau dirinya tak mampu membunuh Nurvati, dikarenakan ada sesuatu dalam diri Nurvati, yang sama sekali belum dipahami Putri Kerisia, dan itulah yang menghalanginya, bahkan sekali pun dengan ke-Dewi-annya itu tetap mustahil, terkecuali, apa bila Nurvati bunuh diri, atau dengan kata lain, Nurvati telah pasrah untuk menanggung mati.


Putri Kerisia memasrahkan diri untuk tewas, hanya saja, Nurvati enggan kehilangan momentum ini; menghancurkan tubuh Putri Kerisia. Dan otomatis laser hijau terus dipancarkan terus tak berkesudahan, hingga seluruh tubuh Putri Kerisia mulai berubah warna kulit menjadi putih kesi, abu-abu, sampai hitam arang lantas hancur seperti serbuk kopi.


Seiringan dengan kejadian unik itu, secara mendadak angin berembus kencang meniup abu jenazah itu, terbebar oleh angin, hilang laksana menyatu dalam angin. Kini kesunyian meliputi waktu, senja masih berlangsung, Nurvati masih melayang di ke tinggian 10 meter, telah menghentikan tembakkan lasernya, dan merasa kalau dirinya telah menang.


Waktu pun terus berlalu dalam kenyataan, keadilan untuk Putri Kerisia telah ditegakkan, tak ada lagi yang bisa dilakukan di sini. Namun Nurvati enggan untuk terkecoh, ilmu ke-Tuhan-an Bumi-nya digunakan.


Ilmunya ini hanya sekadar melihat-lihat makhluk atau rahasia apa yang tersembunyi di dalam atau di atas bumi.


Syukurnya Nurvati tak melihat apa-apa lagi di sini, roh Putri Kerisia pun tak nampak, yang artinya dia sudah pergi ke alam baka; benar-benar tewas. Teman yang ternyata musuh dalam selimut itu kini sudah dihabisi, tak perlu berbelas asih, karena itu omong kosong.


Dalam rasa syukur, Nurvati akhirnya menang, dan tak peduli juga dengan konsekuensi yang akan terjadi, karena mengadili seorang anak penguasa yang menyalahgunakan kekuasaannya patut diapresiasi. Maka tanpa berlama-lama lagi, dia membuat pintu teleportasi, lalu pergi dari tempat menyedihkan ini.


Malam ini, dirinya hendak rehat sejenak dibawah pohon Salju kebanggaannya, mengistirahatkan mentalnya, selain kabur dari hukum, dia ingin tahu bagaimana kondisi Falas, karena secara realitas, secara pengalaman waktu yang dilaluinya, Nurvati sudah sangat lama tak berjumpa dengan teman yang benar-benar sangat baik itu.


Faktanya, pintu atau gerbang gaib menuju ke berbagai alam, sebenarnya dijaga oleh ras Peri, mereka bisa saja menutup akses seluruh pintu antar alam itu, namun kekuatan makhluk-makhluk gaib mampu menembus pintu gaib tersebut, atau dengan kata lain mampu membuat sendiri pintu teleportasi dengan kemampuan mereka tanpa adanya gangguan 'koneksi'.


Sangat-sangat disayangkan, ketika sudah sepuluh detik berlalu, ketika Nurvati telah berpindah tempat, abu dari jasad Putri Kerisia tiba-tiba berkerumun di belakang kursi taman, berputar-putar bersama angin, lantas perlahan membentuk sesosok wanita terhormat, berambut jingga panjang bergelombang, lengkap dengan dua sayap putih menawannya, dan bergaun nuansa merah dari batu Ruby. Putri Kerisia, masih hidup, dan ini tak disadari Nurvati.


Dirinya sebenarnya berada pada alam Dewi-nya; kantornya. Sehingga untuk mampu mengetahuinya butuh ilmu Ke-Tuhan-an Langit.


Ingin rasanya tersenyum, tapi keinginan hanyalah keinginan, kutukan ini begitu betah menjerat sang Putri bangsa Barat, entah mesti berapa lama ditanggungnya, sebab kini hanyalah waktu yang mungkin menjawabnya atau terpaksa raut muka datarnya tetap terpajang, selamanya. Dia bisa menangis, bisa cemberut, namun tak dapat tersenyum atau pun tertawa.


Langkah anggunnya, gestur tubuh wanita terhormatnya, pandangan tajamnya, kepalan tangan kegigihan sang 'wanitanya', sosok keindahan Putri Kerajaan tetap dilaksanakan tanpa paksaan, tanpa merasa lelah. Bahkan langkah mantapnya kini menuju pintu masuk istana, sekaligus dinding gaib istana akan diaktifkan lagi.


Putri Kerisia, tak merasa kalah dan tetap berteguh hati untuk mewujudkan mimpinya. Iya, dia punya mimpi; tujuan. Tapi sangat tak elok jika dunia harus tahu saat ini.


Tentu saja Putri Kerisia tak gegabah dalam kekalahannya ini, dia hanya menguji atau mencari tahu sejauh apa ilmu Hikmah yang dikuasai Nurvati, dan dugaannya benar. Nurvati telah sampai pada puncak ilmu Hikmah alam ke-30, pastinya ini menjadikannya harus menjalankan rencana kedua; memfitnah dan menjadikan Nurvati sebagai buronan.


Benar-benar sangat menyenangkan jika dia —Nurvati— disiksa terlebih dahulu sebelum mati, syukur-syukur siksaan itu adalah siksaan batin yang berakhir pada bunuh diri.


Sayangnya, Putri Kerisia pun harus rehat sejenak, karena bangsa Barat akan mengadakan festival pelepasan kunang-kunang, dan lagi, seminggu dari sekarang kakak sulungnya akan segera menikah dengan anak seorang pejabat, sehingga dia terpaksa bersandiwara demi sebuah moralitas, yang disebut adat kesopanan.