
Di pusat kota, tak disangka-sangka telah banyak warga yang berkerumun di lapangan gedung administratif, bahkan tempat yang seluas stadion sepak bola ini melayang di ketinggian 3 meter dari tanah.
Ribuan orang telah memenuhi lapangan, berdiri menghadap panggung yang bertatahkan intan.
Gedung administratif sendiri berada di belakang panggung, bangunan dari berlian serta safir itu membelakangi lapangan, sehingga Nerta serta teman-temannya masuk lewat pintu depan gedung.
Gedung mewah nan megah, di dalam gedung telah diramaikan oleh ratusan pribadi. Mulai dari penyihir hingga pendekar. Tak ayal kelima bocah mendapati beberapa orang membawa siluman, entah itu siluman berwujud kadal atau siluman berwujud serigala, semua siluman itu diserahkan pada pihak berwajib dan langsung diinventarisasi oleh beberapa fungsionaris.
Sedangkan kelima bocah mendatangi seorang kerani di meja dari batu safir.
Suasana di sini sangat ramai, beberapa orang terlihat menyelia 'layar cermin pintar' yang membentang di atas meja para kerani, layar cermin pintar itu menunjukkan peringkat teratas dalam kurun waktu setiap 30 tahun.
Darko ikut menyelia pula layar cermin pintar demi mengetahui adakah namanya tertera di sana.
Dia jadi girang saat menyadari kalau namanya serta nama teman-temannya memang ada di sana dan itu berada diperingkat teratas; satu.
“Yeaah ... kita memang diperingkat satu!” seru Darko dengan girangnya hingga memandang Gorah.
Seorang kerani laki-laki pun meminta kelima bocah menyalurkan energi mereka pada alat di samping meja; Cermin Pintar.
Dimulai dari Quin, yang melimbur tangannya dengan energi nuansa merahnya, lalu menempelkan telapak tangannya pada cermin pintar di samping meja. Maka cermin pintar itu menampilkan identitas Quin dilayar cermin; dirinya terdaftar.
Identitas yang sekaligus menampilkan status keberhasilan mengalahkan banyak siluman, cermin pintar itu mampu membaca kejadian selama Quin memulai pertarungannya dengan siluman.
“Silakan ... masuk ke ruang Persiapan ...,” pinta kerani laki-laki dengan menunjuk sebuah pintu dari emas.
“Akhirnya ... aku jadi pahlawan ...!” seru Quin dengan energik dan berjalan menuju ruang Persiapan.
Maka diikuti oleh teman-teman Quin lainnya, mereka semua pun terdaftar. Mereka terdaftar sebagai tim, bukan perorangan, sebab peraturannya anak dibawah umur wajib membentuk tim.
Kegembiraan terlukis pada wajah dan aura setiap anak. Impian mereka sudah berada dekat di depan mata.
Mereka pun masuk ke ruang Persiapan.
Sebuah ruang nan luas dari berlian, dan kristal beragam warna adalah penghiasnya.
Di sana mereka dikejutkan oleh seorang pria dewasa yang meminta kelima anak langsung menuju panggung.
“Tempelkan tangan kalian pada pintu itu, nanti kalau terbuka, naik saja langsung ke panggung dan nanti kita sapa para warga yang datang ...,” ungkap pria dewasa ini sambil menunjuk pintu dari batu Ruby.
Kelima anak saling menatap satu sama lain, isyarat kalau mereka telah berhasil sampai di sini bersama-sama.
“Ayo anak-anak ... waktu terus berjalan ...,” pinta pria dewasa itu meminta kelima bocah bergegas dengan sedikit mengarahkan jalannya.
“Ha-ha ... kita jadi pahlawan kota ...!” seru Darko benar-benar sangat gembira.
Oleh itulah, Quin menempelkan telapak tangannya pada pintu, membuat pintu otomatis terdedah, ini sama saja seperti pemeriksaan diawal datang.
Sehingga setelah semua anak berhasil mendedah pintu, langkah-langkah penuh pasti dan percaya diri membawa mereka menaiki panggung, tak ada yang gugup, bahkan bibir mereka tak kuasa menahan senyum lebar untuk mengembang.
Di panggung inilah, kelima anak telah berada di atas panggung para pahlawan. Di panggung itu pula sorak-sorai kembiraan para warga menyambut kelima pahlawan baru di kota Barata.
Netra setiap anak saat itu memandang takjub pada para hadirin yang datang. Tentulah para hadirin itu datang demi menyambut lima bocah pahlawan. Sehingga ketika kelima bocah telah berjajar, riuh gemuruh warga kota semakin keras bergaung dalam realitas saat ini.
Mereka bersiul, berteriak, hingga bertepuk tangan. Sambutan luar biasa dari masyarakat tersuguh hanya demi kelima pahlawan kota.
“Yeaaaah ... hebat! Hebat!”
“Hebat bocah! Hebat!”
'Prok' 'Prok' 'Prok'.
Quin pun maju tiga langkah ke depan, dengan mendepang dan menyenguk udara kemenangannya, seraya berujar, ”Rasakan sensasi kemenangan ini teman-teman!“
Sampailah suara pria dewasa bicara cukup keras, ”INILAH LIMA PAHLAWAN KOTA YANG BARU, MARI BERIKAN MEREKA TEPUK TANGAN YANG MERIAH!“
Mendadak secara serempak nan meriah ribuan warga yang hadir memecah suasana dengan bertepuk tangan.
'PROK' 'PROK' 'PROK' 'PROK' 'PROK'.
”YEAH ...!“
"Bagus anak muda!"
"Selamat dan terima kasih!"
Suara tepuk tangan, sanjungan, semua isyarat-isyarat kemenangan itu mengisi suasana ramai di sini.
Dan pria dewasa berambut hitam cepak pun maju ke atas panggung, dirinya mendekati kelima anak, dengan berkata, ”Anak-anak ... lambaikan tangan kalian ....“
Serempak semua anak melambaikan ke dua tangan dengan raut wajah semringah, mereka puas dengan hasil hari ini.
Pria dewasa sang pewara itu pun mengajak kelima anak ke tengah panggung demi menyampaikan kesan dan pesannya.
Sang pewara mempersilakan siapa saja untuk maju bicara.
Quin saat itu yang pertama maju dan mengungkapkan kesannya atau pun perasaannya. Lalu disusul oleh Darko, Gorah, Arista serta Nerta.
Mereka hanya mengungkapkan kalau mereka siap sedia untuk selalu menolong masyarakat dan sangat senang bisa membantu warga.
Maka sorak-sorai kegembiraan kembali mengisi suasana, semua sanjungan itu melambungkan setiap angan kelima anak. Meninggikan perasaan mereka dalam kebahagiaan. Mereka telah dianggap pahlawan.
Arista tersenyum dengan terenyuh, netranya berkaca-kaca karena bahagia. Dia bahkan berbisik, ”Kak Zui ... kita berhasil ...."
Quin tetap berdiri paling depan dengan mendepang tangan merasa bangga. Menikmati momen kemenangannya.
Gorah menundukkan kepalanya dengan mengepal tangan, bersyukur untuk kesuksesan awalnya.
Darko melambai-lambaikan ke dua tangan dalam sensasi gembira yang meletup-letup.
Nerta tetap menyelipkan ke dua tangan ke saku jubahnya dengan tersenyum lebar hingga gigi ratanya kentara.
Dan sang pewara memandang kelima anak dengan tepuk tangan apresiasi.
Ribuan warga terus melantunkan sanjungan-sanjungannya demi menghargai perjuangan kelima bocah.
Di hari yang cerah itu, di momentum itu, di setiap perasaan yang mengalir, mereka mendapatkan apa yang mereka dambakan, arti hidup dan impian yang telah bersinergi dalam kepahlawanan.
Mereka telah mencapai apa yang mereka cita-citakan.
Iya, sejak hari itu, mereka mulai populer, sejak berhasilnya menyelamatkan banyak anak-anak yang diculik, sejak saat itulah gelar pahlawan telah terpatri pada mereka.
Hadiah berupa makanan melimpah selama 1000 tahun mereka dapatkan, patung sebagai pahlawan berhasil menjadi bonus hadiahnya.
Lima patung bocah itu langsung dipajang di pusat kota, tepatnya disandingkan dengan seorang patung pendekar.
Sejak hari itu pula, kelima bocah banyak menjadi perbincangan warga kota, menyanjung mereka meninggikan nama mereka.
Sampai-sampai kelima bocah memiliki penggemarnya masing-masing, dari anak-anak seusia mereka hingga pribadi dewasa, tak lepas untuk menggemari perjuangan kelima anak.
Akan hal itulah, keluarga mereka mengetahui perbuatan kelima bocah itu. Kendati keluarga mereka tak menyukai apa yang telah mereka dapatkan, tak menyukai perbuatan mereka yang berbahaya. Kelima bocah tetap bangga dan bahagia.
Mereka —Arista, Quin, Gorah, Darko serta Nerta— tak akan berhenti di situ saja, sejak keberhasilan itulah, justru mereka semakin bertekad untuk mempersembahkan jiwa mereka demi membantu masyarakat, tak peduli apapun rintangannya, tekad serta impian itu membentuk mereka untuk menerjang segalanya.
Demi arti hidup, demi jalan hidup dan demi identitas mereka, kini pada akhirnya mereka dapat meniti kehidupan sebagai sang pahlawan.