
Segalanya harus dicapai karena setiap napas yang terbuang, tak boleh percuma. Begitulah sedikit lantunan pola pikir Pangeran Azer.
Di sini, di planet lain, dirinya tengah duduk bersila di atas sebuah batu. Air biru dengan udara lebih sejuk ketimbang di bumi. Langit biru dengan beberapa planet yang terpampang kentara dan awan-awan di planet ini terlihat seperti kabut. Inilah planet yang cukup mirip dengan bumi.
Dia berada di tengah-tengah lautan, tetap bangga mengenakan jubah emas yang memiliki ukiran ular naga di jubahnya, yang nampak seperti batik dan serasi di badan bedegapnya, dirinya tengah menanti seseorang.
Tak lama berselang, di depannyalah air mulai berputar cepat, yang lantas membumbung ke atas cukup tinggi dan besar, berputar-putar beberapa saat dengan berdekah.
“GUAHAHAHAHA ....”
“Aku datang ... iya ... aku sudah datang, pangeran ...,” ujar air yang berputar tersebut.
Hanya raut muka datar yang terlukis di wajah tampan Pangeran Azer, namun tatapannya tajam, menelusup pada putaran air yang perlahan mulai mengekspos wujudnya.
Sesosok jin laki-laki klan Mared dengan kulit berwarna kebiruan, tubuh berotot, bertelanjang dada, hanya mengenakan celana khas kerajaan, dengan banyak aksesoris gelang serta kalung dari intan dan emas, telah berdiri di atas air dengan bernamaskara penuh hormat pada Pangeran Azer.
Sosok laki-laki berotot itu memiliki rambut hitam pekat yang mencuar dengan bergoyang-goyang seperti gelombang ombak, netranya putih bak rembulan purnama dengan hidung nan sangat mancung, ujung telinganya runcing dan dia adalah anak buah Pangeran Azer. Salah satu klan rivalitas dari klan Ifret; klan Mared.
Klan Mared juga termasuk ras Maan yang kini sang ketua klan sendiri hadir memenuhi panggilan Pangeran Azer.
Sebelum bicara, sang ketua klan itu tergelak tawa, “Guahahahaha ....”
Perlu digaris bawahi, tawanya bukanlah karena merasa adanya humor, justru tawanya berasal karena dirinya merasa hebat.
“... ada apa, Pangeran Azer?” tanyanya dalam suaranya yang besar dan agak berat.
Pangeran Azer bersedekap tangan, netra merah darahnya tersorot ke bawah pada air dalam renungan, lantas menjawab, “Aku hendak membangun istana megah, di sini ....”
Pernyataan itu ditanggapi dengan dekah khas ketua klan Mared. “GUAHAHAHA ....”
“... silakan ... tak perlu sungkan ....”
Tetapi netra merah darah Pangeran Azer kini beralih pada wajah biru laut ketua klan. “Aku minta, engkau serta orang-orangmu membuatkan istana yang megah di sini ... dan imbalannya ... adalah kuberikan budak dari ras Manusia untukmu ....”
Sebuah titah yang bagi ketua klan Mared sangat mudah, tetapi tak begitu interesan pada imbalan yang ditawarkan Pangeran Azer, sehingga ketua klan berani membalas, “Tidak perlu repot-repot Pangeran Azer ... aku ... akan membuatkan istana megah itu hanya untuk pangeran ... karena bagaimana pun ... kami berutang nyawa pada pangeran ....”
Membuat Pangeran Azer sangat senang mendengar itu, netra merahnya bahkan kembali memandang ke bawah pada air laut. “Kalau begitu ....”
“... tolong buatkan istana paling megah, canggih serta berteknologi tinggi ... sebuah istana yang belum pernah dibuat oleh bangsa mana pun, istana yang belum pernah atau bahkan tak mungkin dibuat ras Manusia sekali pun, istana yang tak dapat dilihat oleh jin mana pun ... bahkan istana yang tak dapat dilihat oleh ras Neznaz dan ras Manusia ...,” lanjutnya dengan lantang nan dinamis.
Ketua klan Mared hanya sengap mendengarkan dengan saksama.
“Aku ingin ... istana yang hanya dapat dilihat olehku, oleh istriku dan oleh keturunanku ...,” tandas Pangeran Azer hingga netra merah darahnya rela bergerak demi memandang wajah ketua klan Mared, guna mengirimkan kesan sangat serius dan tak sudi main-main.
“Perintah pangeran adalah tanggung jawabku ... akan kami buat ...,” balas ketua klan Mared dengan namaskara menyanggupinya.
Mungkin agak aneh juga kalau sang arsiteknya tak dapat melihat bangunan itu, sehingga bagi ketua klan tentulah selain Pangeran Azer dan istrinya atau keturunannya yang dapat melihat istana tersebut, sang arsitek yaitu ketua klan Mared pun mampu melihatnya.
Lantas berputar badan ketua klan Mared itu dan berdiri ke samping kanan Pangeran Azer.
“Hadirlah pasukanku ... hadirlah!” seru ketua klan Mared dengan suaranya yang besar nan berat.
Tak butuk banyak waktu. 500 pasukan klan Mared yang memiliki wujud mirip seperti ketuanya telah hadir dan berbaris di hadapan Pangeran Azer. Semua jin adalah dari kalangan pria dewasa.
Namun ada momen saat semua menjadi hening, sang ketua klan Mared terpejam dalam kontemplasi, dirinya berusaha mendapatkan visual istana yang didambakan oleh Pangeran Azer.
Tak terlalu sulit bagi sang ketua klan, dirinya telah berbakat dalam perkara ini.
Satu menit dibutuhkannya untuk menyimpulkan istana impian itu, kemudian, dia kembali membuka matanya. Telah mendapat visual yang diharapkan. Lantas ketua klan dalam bahasa Mared menyampaikan titahnya kepada seluruh pasukannya.
Maka mengangguk mantap mereka semua setelah memahami yang diperintahkan sang ketua.
Pasukan klan Mared itu mulai bekerja, bekerja sebagai satu kesatuan penuh.
Hanya klan Mared di planet ini yang mengikuti kebenaran yang diagungkan Pangeran Azer, sehingga mereka tak ikut berperang bersama ras mereka sendiri, karena bagaimana pun, ras Maan memang mencintai perdamaian, atau katakanlah mereka mirip seperti beberapa kelompok dalam ras Peri yang tak menginginkan perang. Terlebih, dulu Pangeran Azer sempat membantu klan Mared di planet ini melawan para siluman raksasa.
Akan hal itulah, sebagian ras Maan di sini mengikuti Pangeran Azer, tak penting kebenaran apa yang dimiliki Pangeran Azer, karena yang terpenting, sebagian ras Maan di sini dapat hidup damai tanpa perlu ikut-ikutan perang.
Seluruh pasukan bekerja dengan pandai, mereka membuat pipa dari air, yang di dalam pipa tersebut ditanam mirip seperti gugusan bintang-bintang, hanya saja gugusan bintang itu akan berubah menjadi planet-planet seiring berputarnya pipa air tersebut. Pada dasarnya itu hanyalah manipulasi cahaya yang dipadukan dalam air, termasuk ilmu Pikir dan ilmu Cahaya, sehingga semuanya nampak mungkin terjadi.
Entah istana seperti apa yang hendak dibuat oleh klan Mared ini, namun yang pasti, Pangeran Azer masih duduk bersila menyelia setiap yang dapat dipantau.
Tiga menit setelahnya, Pangeran Azer kembali buka suara, “Karkam ... dalam waktu seratus tahun, aku ingin istana ini telah rampung ... dan engkau harus tahu, bahwa aku melakukan ini bukan hanya untukku, melainkan demi istri tercintaku ....”
Pengakuan yang bagi ketua klan Mared sendiri cukup impresif, sampai ketua klan Mared yaitu Karkam berkata, “Siap Pangeran Azer ....”
“Untuk itu ... selama aku menunggu, aku hendak bertapa di sini, demi berkultivasi sampai mencapai titik sublim ...,” pesan Pangeran Azer dengan tatapan serius ke depan.
Awalnya Karkam tertawa merasa pekerjaan yang mudah. “GUAHAHAHA ....”
Lantas menyahut, “Baiklah ... tenang saja Pangeran Azer ... saat engkau sadar, engkau akan melihat istana yang indah, yang engkau dambakan ....”
Hanya mengangguk dengan kata, 'hem' yang dilakukan Pangeran Azer.
“Kalau begitu ... lakukanlah ...,” imbuh Pangeran Azer dengan memejamkan ke dua matanya.
Pangeran Azer pun melakukan tapa bratanya, dengan duduk bersila, mata terpejam, ke dua tangan bsrsedekap dan segenap pikiran terpusat pada kejiwaannya. Masuk ke alam spiritual, berkultivasi guna mencapai titik sublim.
Sedangkan Karkam fokus menyelia kinerja pasukannya, yang dalam hatinya pun telah bertekad tak akan mengecewakan Pangeran Azer.
Sebuah istana hanya untuk membuktikan kecintaan Pangeran Azer pada istrinya.
Dirinya paham betul, kalau selama berumah tangga ada sikap serta sifat yang berbeda dari Arenda. Sikap yang melambangkang kemurungan. Suatu sikap yang kesannya setelah pernikahan perasaan cinta itu sirna dan ditakutkan, malah membentuk air mata kesengsaraan.
Tapi bagi Pangeran Azer, perasaan cintanya tidak sirna, dirinya sibuk dan juga takut bila tak mengurus bangsanya.
Sikap humorisnya memang telah padam, atau tepatnya tak sempat lagi seperti dulu, karena kesibukan yang melanda, atau mungkin juga, memang sudah tak humoris lagi.
Oleh sebab itulah, demi membuktikan kalau dirinya tidak apatis pada Arenda, dia buatkan istana ini, karena Pangeran Azer pun mengerti, Arenda menyukai kesendirian dan diharapkan istana yang berdiri di tempat sepi ini, akan disukai Arenda.
Syukur-syukur keturunannya nanti dapat berkuasa di sini.
Meski pun pada dasarnya ras Peri adalah ras paling setia, namun tetap saja, Pangeran Azer tak ingin kehilangan ratunya itu.
_______________________________________________
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
✅Demi mendukung /menghargai kinerja Author, cukup memberikan Like/Vote poin/koin.
(Bila ada kritik/kesan enggak perlu sungkan untuk menuliskannya dalam kolom komentar. Terima kasih.)