Nurvati

Nurvati
Episode 75: Tangisan Untuk Hari Yang Cerah.



Di alam Manusia di hamparan padang pasir yang panas, Adofo terpaksa risau dikeadaan terpojok. Dirinya harus mencari arwah lainnya.


Dan bersama kata, “Baiklah.” Adofo memasrahkan diri melepaskan arwah miliknya, dia tak mungkin mengalahkan malaikat.


Arwah itu pun ikut bersama manusia istimewa itu, lalu hilang ditelan kenyataan. Adofo melesat pergi, berdecak kesal dengan mencari lagi manusia yang bisa dibawa.


Adofo kembali lagi mencari kesempatan, dan saat kesempatan datang ia kembali berhasil mengambil lagi arwah manusia, tetapi sayangnya, lagi-lagi adanya manusia istimewa yang kembali memaksanya untuk arwahnya dibawa pergi.


Dia kehilangan lagi, tapi dia mencari lagi dan saat mendapatkannya lagi, dia harus kehilangan lagi, jadi dia mencari lagi, tapi ujungnya dia kehilangan lagi.


Tidak menyerah!


Adofo mencari lagi, hingga terus mencari, mendapatkan, kemudian kehilangan lagi dan ini terjadi berkali-kali, lebih dari 60 kali, dan lagi-lagi manusia istimewa itu kembali mengambilnya dengan kawalan para Malaikat, sampai mengaku kalau arwah milik Adofo adalah cucunya. Dan segala usaha akan percuma karena yang dilawan adalah malaikat.


Dan kini di arwah yang ke-70 di tanggal 20 bulan Februari, di area padang pasir, pada akhirnya Adofo berhasil membawa satu arwah wanita dan kali ini dia kembali pada alam Peri, dia kembali dan akan segera mendapatkan keadilannya.


Di alam Peri di siang hari yang cerah, di depan lift kerajaan awan bangsa Barat, Adofo meminta izin untuk menemui Putri Kerisia, syukurnya ia diizinkan karena memang telah dinanti, bahkan langsung di antarkan pada Putri Kerisia.


Tepatnya di taman kebanggaan Putri Kerisia, taman Kupu-Kupu yang dulu Nurvati dan Putri Kerisia selalu berada, taman yang berada di balik dinding-dinding istana Awan yang megah nan mewah, taman yang beraroma Mawar dan bersih.


Dan kini hanya Putri Kerisia, Adofo serta arwah seorang wanita dari ras Manusia yang kini tengah berada di taman ini, Putri Kerisia duduk di kursi emas buatannya sendiri menggunakan energinya. Mereka kini saling berhadapan.


Masih datar tak berperasaan raut muka Putri Kerisia, di sana duduk tegak dengan pandangan tajam pada arwah wanita. Sedangkan Adofo berdiri di samping kiri arwah wanita itu dengan raut muka serius, menatap penuh harap pada Putri Kerisia. Berharap Putri Kerisia tak menyalahi janji.


“Sekarang, Anda harus menepati janji,” pinta Adofo.


Netra merah lembayung Putri Kerisia masih menatap intens pada arwah wanita itu, seraya mengeluarkan energi nuansa merah dari tangan kanannya, lantas ditembakkan pada arwah itu, tertembak pada kepalanya.


Maka secara ajaib, arwah wanita itu berubah wujud menjadi anak Satan sang Putri Kerisia, bertubuh kecil berkulit merah magma dengan kepala yang seakan terbakar api, mulut lebar hingga ke pipi, dan dalam sekejap mata, sang anak Satan itu lenyap dari realitas, hilang begitu saja. Kosong.


Agak terkejut Adofo menyadari hal itu, sampai dia mundur ke belakang dengan raut muka keheranan, menatap bingung pada tempat kosong yang tadi arwah wanita itu tempati, bahkan sampai mengeluarkan kalimat tanya.


“A-apa yang Anda lakukan, Putri Kerisia?”


Tak menjawab, Putri Kerisia hanya membisu dengan pandangan lurus ke depan pada kupu-kupu Peri.


Karena tak mendapat jawaban, Adofo menoleh pada Putri Kerisia, menghilangkan pula segala keheranannya, dia harus fokus, fokus untuk meraih keadilan keluarganya, lantas berkatalah dia. “Sekarang Anda harus mati.”


'Siuw' Adofo langsung menusuk Putri Kerisia, dan itu memang berhasil, dua pedang telah menembus perut Putri Kerisia. Tak melawan dan tak ada rengekan kesakitan.


Tapi di sana, Adofo terheran, Putri Kerisia memang telah terpejam dengan kepala mendongak pada langit. Tak ada darah yang keluar, bahkan hingga lima detik dilalui, pedang masih bersih tanpa dibasahi darah keemasan, itulah yang membuat kening Adofo mengernyit kebingungan.


Dan segala kebingungan itu ternyata terjawab, dua pedang itu tiba-tiba terdorong terlepas dari perut Putri Kerisia, lantas jatuh di atas marmer, membuat Adofo bergeming tak menyangka, lebih dari itu, kepala Putri Kerisia kembali tegak dengan netra merah lembayungnya yang kembali lurus ke depan, gaun merah indahnya sama sekali nampak tak menampilkan bekas robekan dari pedang. Putri Kerisia hidup kembali tanpa merasakan sakit atau rugi.


Dua meter di depannya Adofo yang kini malah berdiri penuh tanya dan sama sekali tak mengira. Sampai-sampai netra hitamnya berbuntang memandang dengan aneh pada Putri Kerisia.


“Janji sudah ditepati ... sekarang engkau boleh pergi,” ungkap Putri Kerisia dengan santai tanpa memandang Adofo.


Tapi Adofo malah memasang raut muka marah, dia seperti dihina, direndahkan, karena secara tidak langsung Adofo dibohongi.


“INI TIDAK ADIL!” bentak Adofo tak terima.


“Kau sudah berjanji akan mati dan seharusnya kau tidak hidup lagi,” protes Adofo dengan menyalang marah pada Putri Kerisia.


Sudah lepas janji itu, telah terbayar jika dipikir lagi, begitu pikir Putri Kerisia, maka membalas, “Keadilan adalah milik para penguasa ... ini salahmu menjadi rakyat jelata, engkau sudah mendapatkan apa yang ingin engkau dapatkan, aku sudah kalah olehmu, aku mengaku kalah, tetapi engkau malah meminta lebih.”


“He, rakyat jelata, bersyukurlah aku hidup kembali ... sekarang coba kau bayangkan, bila aku tidak ada ... piramida sosial akan runtuh dan engkau akan jauh lebih sengsara,” imbuh Putri Kerisia yang walau pun hidup kembali dan duduk di kursi, keanggunan seorang wanita terhormatnya tetap terjaga.


”JANGAN SEBUT AKU RAKYAT JELATA!“ sergah Adofo membela diri.


”Tak ada seorang raja tanpa adanya rakyat, semua ucapanmu itu tadi omong kosong!“ sentaknya yang merasa perkataan Putri Kerisia salah dan tak berharga.


Berkat marah dan rasa sakit hatinya, dua energi hijau memancar dari ke dua tangan Adofo, berniat untuk kembali menyerang penguasa ini. Terlihat bodoh dan percuma, karena bagaimana pun Putri Kerisia tak dapat mati.


Dalam suasana damai di taman Kupu-Kupu ini, telunjuk tangan kiri Putri Kerisia kini terarah pada Adofo, sebuah isyarat yang sederhana tetapi mengandung penderitaan.


Maka lenyaplah kedua energi hijau di tangan Adofo, bahkan terpaksa berlutut gegara hal diluar nalar, dan semakin menderitalah Adofo di sana.


“Kenapa? Kenapa denganku ini?” keluh Adofo yang memandang ke dua tangannya karena ada hal yang janggal.


Penderitaannya kini jauh lebih sempurna, sebab seluruh kekecewaan, seluruh luka, seluruh derita dan seluh rasa sakit, kini bersinergi dalam keputusasaan, membentuk sisi psikologis untuk menerima dirinya yang baru, menerima segala cerita dalam perseptif sang Dewi, seluruhnya di hari yang cerah ini pemuda itu telah mati; mati jiwanya dan lepas akalnya.


“Berputusasalah pemuda, tak ada gunanya menggapai mimpi yang tinggi, engkau menjadi dungu dan tak mengenal siapa aku sebenarnya, ingatlah ... akhir yang bahagia hanya milik para penguasa,” tutur Putri Kerisia yang tenang dan penuh hasutan.