Nurvati

Nurvati
Episode 121: Menginterpretasikan Berlalunya Waktu.



Di istana Awan yang megah, yang melayang dengan alas awan putih yang dikhususkan.


Untuk saat ini, nona Arenda tengah duduk di kursi 'awan' dengan mendengarkan petikan-petikan harpa yang membentuk alunan merdu.


Ini ruangan paling mewah nan megah, ruangan yang berhiaskan bebatuan permata berwarna-warni, langit biru dengan planet-planet menjadi pemandangannya di luar ruangan.


Tempat indah demi melipur sendu, ruangan yang memiliki air mancur dengan madu yang mengalir di dekat bunga-bunga 'Bintang'. Ruangan yang memiliki patung-patung dari batu zamrud yang menyerupai para malaikat, aroma ruangan setengah terbuka ini sangat harum mewangi, dan lantainya yang terbuat dari kaca dengan kolam ikan warna-warni di bawahnya. Inilah ruangan keluarga, ruangan yang menjadi favorit semenjak Arenda serta Pangeran Azer selalu duduk berdua di sini, terlebih saat masa-masa sebelum menikah, dirinya dan Pangeran Azer memang selalu bercerita di tempat ini.


Arenda yang tengah duduk sendiri menikmati suasana damai di kursi awan itu nampak berkontemplasi pada hidupnya yang sekarang.


Memang hanya duduk bersandar dalam diam Arenda di sana, tapi ada gejolak perasaan dan pikiran yang membentuk kelesah pada jiwanya.


Ini bukan semata-mata tentang cinta, bukan juga soal kebencian pada musuh, semua ini sulit dijabarkan oleh kata-kata, tapi secara spesifik gejolak perasaan ini saling berkaitan.


Maka atas dorongan aneh dari dalam jiwanya, Arenda memanggil seorang budak wanita dengan menepuk tangan dua kali, 'Prok' 'Prok'.


Budak itu muncul menembus dinding berlian ruangan, dinding yang memang hanya sebatas 'hologram' yang menipu pandangan mata siapa pun.


Di atas lantai kaca itulah budak wanita berdiri di dekat Arenda, hingga dalam sopan dengan lembut bertanya, “Ada apa nona Arenda?”


Iris biru laut Arenda yang sayu perlahan dalam raut muka renungannya mulai tergerak pada wajah mulus sang budak wanita itu seraya dengan lembut tetapi tetap tegas menjawab, “Tolong pijat kakiku ....”


Perintah itu langsung dilaksanakan tanpa ada pertanyaan atau keluhan, sang budak memijat kaki Arenda dengan rasa patuh yang dalam.


Terlebih budak wanita itu mengambil madu di dekat pancuran air yang dituangkan pada wadah dari intan, dia membalur ke dua kaki mulus Arenda.


Mungkin saja dengan pijatan rileks di kaki bisa meredakan rasa kelesah dalam hati, begitu pikir Arenda.


Untuk itu waktu bergulir dalam harapan agar semua baik-baik saja.


Dia akan menjadi seorang ratu, menjadi istri dari sang penguasa, melayani segala kenyataan demi rakyat dan suami. Iya, Arenda paham betul menjadi bagian dari orang-orang terhormat, sebab ayahnya hingga neneknya adalah keturunan orang-orang terhormat, yang mau tidak mau dia harus bisa selalu bersikap elegan dan terlihat bermartabat.


Masalahnya adalah Arenda tak pernah menyukai segala hal berpolitik.


Dia mencintai Pangeran Azer karena memang mencintainya tanpa memandang status sosial, atau rakyat yang budiman menyebutnya sebagai cinta yang tulus.


Di luar sana, kaum wanita tak sedikit yang menyukai Pangeran Azer, tak sedikit pula yang hanya mencintai gelar pangeran yang tersemat pada Azer, bahkan Arenda sadar kalau ada beberapa wanita yang berusaha mendapatkan Pangeran Azer. Bukan itu saja, beberapa laki-laki pun ada saja yang berusaha mendapatkan Arenda, iya, di luar sana pun sebenarnya terdapat laki-laki yang mencintai Arenda sampai-sampai pria itu berkelahi dengan Pangeran Azer, berjuang mendapatkan pengakuan cinta yang berharap disambut lagi oleh perasaan cinta.


Meski demikian, satu hal yang pasti, Arenda bukanlah wanita seperti itu, dirinya memang terlihat kuat dan tegas di luar, tetapi dalam jiwanya, dalam dirinya, gejolak ingin berontak menentang hidup yang rumit ini selalu berkantaran.


Alasan kuat mengapa Arenda mengambil pendidikan di luar negaranya hanyalah agar dirinya tak berkaitan dengan politik, tapi di satu sisi, dorongan yang halus, yang menghimpun segala pikiran serta impiannya untuk menjauhi politik, justru malah menuntunnya untuk dapat hidup bersama Pangeran Azer yang notabene Pangeran Azer pasti atau dekat dengan politik.


Orang tuanya tak pernah ingin Arenda menjadi pendekar atau anggota militer, desakan untuk bergabung dalam fraksi-fraksi pada bangsa Barat atau mengikuti jejak mereka sebagai aktor dalam panggung politik, selalu menjerat Arenda.


Saat itu, pelayanan pada kaki Arenda sama sekali tak membantunya menenangkan jiwa kelesahnya. Tapi tetap sekeras mungkin bisa tenang, hingga entah emosi apa yang membuatnya malah tiba-tiba berkata, “Tolong berhenti memetik harpa!”


Lantunan harpa yang merdu tak mampu menentramkan jiwanya yang kelesah, Arenda kembali memandang lurus ke depan pada kehampaan. Dan keheningan melengkapi suasana.


Dirinya merasa kalau ada yang salah selama meniti kehidupannya, itu mulai terasa hari ini.


Dirinya tak menyukai politik bernegara, dirinya melakukan segalanya demi orang lain, demi impian orang tuanya dan demi kebahagiaan suaminya, ia tak pernah tahu rasanya bisa mencapai segala apa yang diinginkan dari hatinya, ia bahkan tidak paham apakah selama ini dirinya melakukan semuanya berasal dari hatinya, atau justru dirinya memadamkan suara hatinya.


Arenda tak pernah punya tujuan hidup, dia hanya mengikuti arus hidup yang memaksanya harus menerima segala impian dan alasan-alasan orang lain sebagai jati dirinya.


Kendati begitu, semakin waktu berlanjut, dirinya semakin menyadari, kalau dia adalah bentuk dari yang mereka inginkan, membungkam segala suara hatinya demi menjadi seperti yang mereka mau.


Beratus-ratus tahun dilalui, kesadaran itu terasa benderang hari ini.


Akan kebimbangannya itu, Arenda memutuskan bertanya pada budak wanita yang memijat kakinya, dirinya ingin tahu, apa yang telah membuat seorang wanita rela menjadi budak di istana Awan ini.


“Pelayan, kenapa Anda menjadi pelayan di istana ini?” tanya Arenda tanpa memandang sang pelayan.


Mulanya budak wanita itu hanya terdiam, dia agak terkejut mendengar pertanyaan itu.


“Sa-saya ... saya menjadi pelayan ... saya ...,” ucap budak wanita itu dengan gugup dan penuh pertimbangan.


Jelas Arenda pun menenangkan budak itu agar tak perlu sungkan dengan berujar, “Katakan dengan jujur, ini perintah.”


Membuat budak wanita tersebut berani menjawab, “Saya tidak tahu lagi harus jadi apa ... tapi, saat itu saya punya keinginan ingin tinggal di istana Awan, lalu mendaftarkan diri sebagai apa pun di sini, hanya agar bisa tinggal di istana awan.”


Arenda belum puas mendengarnya, sehingga dirinya kembali bertanya, “Jadi, Anda tak mau menjadi pelayan? Anda memaksakan diri sebagai pelayan agar bisa tinggal di sini?”


“Eh, bukan begitu,” sanggah budak wanita agak takut kalau Arenda berprasangka buruk.


“Saya juga senang menjadi pelayan di istana ini, karena ... saya bisa menyentuh kulit nona Arenda dan menjadi bagian penting dari seorang raja ...,” ralatnya tanpa melepaskan pijatannya.


Sontak pernyataannya itu sanggup membuat iris biru Arenda langsung beralih pada budak wanita tersebut, seraya bergumam, “Menjadi bagian penting raja?”


“Apakah kamu berkata demikian agar dapat dipuji seperti para penjilat?” usut Arenda dengan serius.


Sontak sang budak wanita itu duduk melipat kedua kaki dengan tertunduk penuh hormat dan takut, seraya menjawab, “Mohon ampun Nona Arenda, saya tidak mau 'cari muka' saya hanya berkata apa yang ada dalam hati saya.”


Pandangan Arenda terkunci sesaat pada budak itu, menilik segala kemungkinan yang bisa ditangkap dari perasaan budak wanita itu, hanya untuk tahu tentang pola pikir serta tingkat kebahagiaan hidupnya. Lantas kembali memandang ke depan pada planet yang nampak putih di langit biru.


Tak ada lagi ucapan, sang budak wanita kembali memijat kaki Arenda, sedangkan Arenda merenungi pengalamannya sampai saat ini.


Dan memacu pikirannya membentuk kesimpulan, bahwasanya segala hidupnya yang dipaksakan ini telah membentuk dirinya yang sekarang.