
3 Januari tahun 662 alam Manusia. Tepatnya di tanah atau bumi bagian Asia Barat Daya, di dataran pasir nan tandus, di sebuah desa dengan rumah-rumahnya yang terbuat dari tanah liat. Adofo telah terbang dengan mengitari rumah-rumah itu, dia memindai siapa yang sekiranya layak untuk diadu domba.
Manusia-manusia nampak tengah berlalu-lalang tetapi mereka pun telah diikuti oleh beberapa kalangan jin dari ras yang lain.
Bersamaan dengan itu, Adofo merasakan aura yang kelam, adanya aura kemurkaan yang begitu hebat. Buru-buru dia melesat menuju sumber aura.
Seluruh jin telah tertutup oleh suatu dinding, atau bisa dikatakan seluruh jin bersembunyi di balik angin, sehingga mata zahir manusia tak mungkin melihat umat jin yang begitu dekat dengan mereka.
Di bumi manusia ini, hampir seluruh ras ada di sini, hanya saja kebanyakan dari mereka berwujud aneh, kebanyakan mereka antara kawin silang atau justru seorang manusia yang dulunya memiliki sebuah ilmu kemudian saat mati malah menjadi jin.
Tetapi masa bodoh dengan itu, Adofo telah tiba di depan rumah sumber dari aura kemurkaan, di sini tengah terjadi pertengkaran hebat, tiga orang bertubuh besar tengah memarahi seorang pria muda. Ini pertengkaran masalah biaya sewa yang belum dibayar pemuda itu.
Beberapa ras jin lain sebenarnya juga ada di sini, di antara mereka ada yang menertawai kejadian ini, namun ada pula yang terdiam karena masa bodoh. Dan melihat kalau hanya pria muda itu yang tak diikuti jin, ini memberinya kesempatan bagi Adofo.
Maka angan pun memacu jiwa untuk mengambil kesempatan ini, Adofo masuk ke dalam jasad kasar pria muda itu, membisikkan jiwa pemuda itu untuk marah, karena sedari tadi pemuda ini hanya tumungkul memohon untuk diberi waktu.
Adofo tak ambil pusing, ia mulai menyalurkan aura marah agar bersinergi pada aura manusia ini, yang nantinya mampu memacu kejiwaan untuk balas melawan.
Tak butuh waktu lama, pria muda ini mengamuk, dan di antara jin yang melihatnya mulai bergosip.
“Lihat sibodoh itu, dia hendak membantu pemuda itu.”
Beberapa jin malah berasumsi kalau Adofo hendak membantu ras Manusia, padahal tidak!
Kebanyakan yang hadir di sini adalah jin ras Syin, mereka jin yang tercipta dari api, dan memang mereka yang paling dekat dengan ras Manusia. Tentu saja dekat, mereka memang suka berbuat onar di alam Manusia. Kadang menyesatkan, kadang memberi petunjuk, bahkan kadang-kadang menjadi teman bagi ras Manusia. Wujud ras Syin memang mirip seperti manusia dua tangan dan dua kaki, tetapi tak ada pori-pori.
Saat hasrat melebur bersama tujuan, Adofo berhasil membuat laki-laki ini mengambil sebuah batu besar yang lantas dilempar pada seorang pria berbadan kekar.
Tapi gagal, pria berbadan kekar itu malah bisa mengelak, dan merebut batu itu, terlebih dia langsung membalikkan keadaan. Pria kekar itu menendang pria muda dan langsung membuat pria muda tersebut terkapar di tanah. Tak sempat sang pria muda bangkit, lelaki kekar itu malah menghantam kepala sang pemuda dengan batu tadi.
'Buk' suara yang membuktikan kalau sang pemuda langsung tak bergerak, di pasir itu darah merah mengucur, dan inilah kematian bagi sang pemuda, namun tentunya adalah kemenangan yang mudah bagi Adofo.
Keadilan akan segera diraihnya.
“LIHAT ROHNYA! LIHAT ROHNYA!”
Jelas seluruh jin mulai berteriak, terkadang ini menjadi kesenangan tersendiri bagi mereka. Bahkan tak jarang dari kalangan ras Syin sering mampu menarik arwah manusia dan menjadikannya budak.
Tak sampai di situ saja, kematian manusia ini memicu hawa dari darahnya, untuk menggiring seekor siluman.
Dan dalam hawa kematian manusia yang begitu pekat, Adofo telah melayang di udara, bersiap membawa roh pemuda itu. Tapi sayangnya tak hanya Adofo yang hadir, seekor siluman berwujud anjing datang, dia menjilat darah yang membanjiri pasir.
Netra Adofo dipasang lekat-lekat agar dia yang pertama mengambil arwah manusia itu.
3 detik kemudian, arwah lelaki itu muncul.
“Haaaaah ... dingin ... tolong dingin ...,” gumam arwah lelaki itu dengan wajah yang pucat. Tubuhnya menggigil kedinginan.
“Wouf ... itu milikku!” sentak seekor siluman anjing.
Dia mengejar Adofo, sang siluman mampu melompat tinggi, tinggi hingga 20 meter, dan Adofo tak dapat terbang lebih tinggi, ada dinding gaib di atasnya.
“Hei berhenti di sana!” sentak siluman anjing itu enggan melepas buruannya.
Adofo harus cepat, dia harus tiba di gerbang teleportasi, karena bagaimana pun tinggal di alam manusia bisa memperpendek umur, dan lagi dikalangan jin lainnya tinggal di bumi manusia adalah hina.
Tak disangka mereka telah berada di padang pasir, terus terbang dan siluman terus mengejar sembari melompat.
Tapi tiba-tiba mereka dikejutkan oleh rantai nuansa putih keemasan, rantai itu membuat mereka jatuh di pasir, dan sang arwah lelaki itu hanya berdiri dengan menahan rasa dinginnya.
Tak disangka-sangka di belakang mereka telah berdiri seorang manusia dengan dua sosok malaikat Penjaga.
Dari tangan malaikat Penjaga itulah rantai putih ini berasal, merantai Adofo serta siluman anjing itu.
Di tengah-tengah malaikat Penjaga telah berdiri seorang pria dengan pakaiannya yang berwarna putih terang, wajahnya nampak bercahaya.
Dan pria itu pun berkata, “Mau dibawa ke mana cucu saya?”
“Sialan!” umpat Adofo. Dia tahu, rupanya pria dewasa itu adalah roh yang ditugasi, Manusia Istimewa yang biasanya memang memiliki kemampuan untuk menyelamatkan arwah-arwah yang ditolak. Dan tentunya Adofo sangat terkejut bisa melihat malaikat secara langsung. Di dunia Peri, khususnya zaman ini sangat sulit melihat wujud malaikat.
Malaikat dapat dibedakan dari wujudnya; bercahaya, sayapnya pun bercahaya, dan nantinya hati yang memberikan isyarat kalau di depan adalah sesosok malaikat.
“Aku tidak ingin ikut-ikutan! Lepaskan aku, aku akan pergi!” sentak siluman serigala yang menyerah. Dirinya tahu, akan kalah bila melawan manusia istimewa ini.
Maka rantai yang mengikat sang siluman dilepaskan, dia pun berbegas melarikan diri. Lari ketakutan dan kecewa.
Kini hanya Adofo yang tersisa, berdiri dengan rantai yang melilitnya, dan angannya untuk membawa arwah manusia itu belum sirna, dia bahkan menatap manusia itu dengan marah.
“Lepaskan aku! Arwah ini sudah tak diterima! Dia milikku!” bentak Adofo enggan kehilangan kesempatan. Dia tak mau banyak membuang waktu.
Namun hanya tersenyum tenang manusia istimewa itu, lantas dengan nada suara yang lembut berujar, “Carilah arwah yang lain, dia cucuku.”
“Tidak! Tidak mau!” sergah Adofo.
“Arwah ini sudah jadi milikku!” sergahnya lagi, terlalu malas untuk mencari arwah yang lain yang belum tentu juga mudah didapat.
Tidak berkata-kata, manusia istimewa itu hanya mengangkat satu jarinya ke atas langit, dan membuat Adofo refleks melihat ke atas.
Ribuan malaikat telah berdiri memandang Adofo, mereka berjubah putih, sayap putih bercahaya, seluruh malaikat nampak memegang cambuk.
“Ke mana pun kamu pergi, ujungnya kamu akan tertangkap lagi,” ancam manusia itu.