Nurvati

Nurvati
Episode 109: Dibalik Kegelapan Dalam Napas Pertarungan.



Udara berembus pelan, mengirim aroma pering semakin menyengat, suasana tak berubah, tetap tegang penuh bahaya.


Dua bocah mulai melompat dengan memegang palu besar yang diarahkan pada siluman ular itu, 'Swoosh' lalu 'Bledaar' akar pohon retak dan rusak terhantam palu itu.


Siluman kobra berhasil melompat menghindar ke arah kanannya.


'Bouff' 'Bouff' dua bola energi nuansa hitam tertembak pada Gorah, lantas 'Buafs' 'Buafs' berhasil mengenai badannya, membuatnya melepas gagang palu dengan terdorong ke belakang hingga jatuh terluka.


Belum usai, siluman ular kembali membuka mulutnya dengan mengeluarkan ular-ular terbang yang mengarah pada Darko.


'Tssis' 'Tssis'.


Darko membentuk dua bilah bisau yang lantas membunuh puluhan ular-ular terbang yang mengarah padanya itu.


'Tsrat' 'Crat' 'Tsrat' 'Crat'.


Meski berhasil banyak ular-ular yang dihabisi Darko, semua ular itu tak lagi muncul, gegara Quin berhasil maju melesat menuju siluman ular kobra itu.


'Shwring' tebasan pedang dari Quin meleset karena target telah melompat mundur.


'Swring' 'Shring' 'Swring' 'Shring' ayunan pedang dari kiri dari kanan atau dari atas masih belum mampu melukai siluman ular yang terus melompat mundur menghindari sayatan pedang.


Di sana, tak jauh dari pertarungan sengit itu, Arista tengah berusaha mengobati tubuh Nerta yang sekarat dalam getir, kalau tidak cepat-cepat disembuhkan tentulah Nerta sudah tewas.


Darah emas telah membasahi wajah Nerta yang sulit untuk dikenali lagi, terlebih tubuh yang dibalut jubahnya pun telah dibasahi darah keemasannya, terlebih jubahnya telah bolong-bolong.


“Ayolah ... Nerta kau harus bertahan ...,” gumam Arista dalam do'a dan kedua tangannya memancarkan energi nuansa biru langit; energi pemulihan. Yang mana energi itu disalurkan pada bagian tubuh Nerta yang terluka dengan nantinya mampu memulihkan kembali kondisi tubuh kekeadaan semula, itu pun bila Arista cukup andal menguasai energi pemulihan.


'Woush' siluman melompat dan mendarat pada akar pohon yang batangnya telah patah gegara bom diawal rencana.


Lalu 'Syuw' Quin berusaha menusukkan pedang pada dada siluman ular itu, lalu siluman melompat ke depan pada Quin dengan memutar tubuh menghindari tusukan pedang itu, tapi dengan mengejutkannya, kedua tangan sang siluman kobra meraih sayap kiri Quin. 'Taf'.


Lalu dalam gaya tarik sekuat tenaga dengan otot tangannya yang mengencang, siluman menarik Quin dengan menghempaskannya pada akar pohon.


'BLEDAAR' benturan keras tak dapat lagi dihindari, Quin terhunjam pada akar pohon menanggung luka berat.


Lebih dari itu, saat telah mendarat di atas samping tubuh Quin, tangan kanan siluman ular telah berbalut energi hitam yang hendak mendaratkan satu tinjuan keras-keras pada wajah Quin, dengan kemungkinan besarnya Quin akan tewas atau tak sadarkan diri bila tulang wajahnya diremukan.


Namun 'Buak' wajah ngeri sang siluman kobra ditendang oleh Gorah dengan kakinya yang memancar energi nuansa merah, membuat siluman ular gagal meninju wajah Quin dan terseret di akar pohon 'Shrrreek' terdorong oleh tendangan tadi.


Belum selesai.


'BUAK' tendangan vertikal dari atas ke bawah berhasil mengenai kepala siluman kobra itu.


“JANGAN ...!” kata Darko yang tadi menendang.


Lalu 'BUAK' satu tendangan lagi berhasil mendarat di pipi kanannya.


“... MELUKAI ...!” lanjut Darko dengan tendangannya tadi.


Lantas dengan satu kata penuntup yang mantap dari Darko. “TEMANKUUUU ...!”


Dirinya salto dan menendang wajah siluman kobra dengan dua kakinya sekaligus, 'BUAK'.


'Cleb-Cleb' dua bilah pedang dari atas berhasil menancap mesra pada setengah ekor siluman ular kobra itu, dan kali ini, kembali wajahnya meringis kesakitan.


Bersamaan dengan itu, sebilah katana meluncur deras pada tangan kiri siluman ular, 'Slash'.


“GYAAAAAAAAHHH ...!” teriak siluman yang kesakitan.


Karena secara tepat, tangan kiri sang siluman dipotong oleh Darko, dan tangannya tergeletak di sana begitu saja.


Kembali lagi katana dari Darko meluncur pada tangan kanan sang siluman.


Akan tetapi, sangat disayangkan, Darko serta Gorah harus terbang menjauh gegara sang siluman mengembuskan asap berdebu hitam yang panas dari mulutnya.


'BRUUUUFFFH'.


Selepas berlalu, asap berdebu hitam yang mengenai sekitarnya membentuk kobaran api yang menyala, api yang membara di sekeliling sang siluman.


“Gh ....” Sang siluman menatap tajam pada Darko serta Gorah yang terbang di depannya dalam jarak 19 meteran.


“Harusnya kau potong lebih dulu tangan yang tersemat cincin itu,” sindir Gorah dengan bersedekap menyilang tangan.


“Cincin itu berpindah! Tadi aku melihatnya di jari tangan kirinya!” balas Darko memberitakan sebuah kenyataan dengan membuang katananya ke sembarang tempat.


“Ha?” heran Gorah hingga menoleh ke kiri pada Darko, dirinya tak sadar akan hal itu.


Bersama waktu yang berlalu, siluman ular yang terpaksa menanggung cacat tidak menyerah, tangan kanannya mulai membentuk sebilah pedang, lalu 'Siuw' melompat menerjang angin pada dua bocah di depannya itu.


'Dhap' pedang tertancap pada akar pohon, lantas 'Swoosh' siluman salto ke depan sembari memutar badan ke belakang, tepat menghadap pada dua bocah Peri yang menyerangnya. Menyerang dengan pedang.


'Trang' 'Klang' 'Trang' dentang pedang yang beradu, mengalun di atas akar pohon itu, pertarungan dengan pedang kembali terjadi.


Tapi hebatnya, pertarungan itu bisa menjadi begitu sengit hanya gegara kecepatan tangan siluman yang tak sesuai spekulasi, begitu cepat hanya dengan satu tangan.


'Trang-Trang' pedang yang beradu itu telah menunjukkan kalau liukan dari tangannya yang hanya satu, tak mampu membuat Gorah serta Darko melukai sang siluman sedikit saja.


Sayatan dari kiri serta dari kanan dengan cepat mampu dihalau oleh pedang sang siluman 'Trang-Trang'.


'Wush' tusukan dari pedang Gorah mampu dihindari olehnya, lantas 'Klang' tebasan dari Darko mampu ditahan pula oleh pedang sang siluman.


Kini siluman bergerak gesit mampu melawan dua bocah itu, dan 'Trang' 'Klang' pertarungan antara pedang dengan pedang terus terjadi.


Di atas pohon itu, siluman ular melompat, berguling, salto, menahan dan menyerang dapat dilakukannya tanpa terluka sekali pun, tarung pedang itu terjadi begitu lama nan sengit.


'Trang-Trang' 'Klang'.


“Sialan ... kenapa dia malah jadi begitu cepat?!” keluh Darko dengan berjuang menebas leher siluman tetap dalam melayang terbang.


'Trang' 'Trang' terus dan terus mampu ditahan oleh siluman kobra.


“Serang terus ... dia sudah cacat dan terluka! Kita harus membuat Arista punya waktu banyak untuk menyembuhkan teman-teman yang lainnya!” imbau Gorah dengan serius dalam getir, tetap melayang terbang penuh perjuangan.


'Trang' 'Trang' dan begitu cepat sang siluman bergeser ke kiri dan ke kanan, menghindar dan bertahan, 'Klang' 'Trang' seluruh tebasan pedang Gorah serta Darko masih belum mampu melukai sang siluman. Terlihat sia-sia belaka. Namun demikian, pertarungan pedang di atas akar pohon itu tak dapat lagi dielakan, suara dentang pedang yang beradu menjadi teman kesenyapan hutan.