Nurvati

Nurvati
Episode 71: Fana Dalam Kemenangan.



Dalam hening hawa yang kelam, seluruh senja kini mulai berubah lebih kelam dan langit telah bernuansa merah darah, air pun berubah hitam pekat, dan secara ajaib sang Diri Asli Kapten Rui berubah menjadi Dewi Bertanduk empat, api yang membara, tanduk-tanduk yang begitu mengerikan bagaikan ular naga laksana menembus 'langit-langit alam semesta' yang nampak menyeramkan.


“Kini kau menjadi milikku,” sabda sang Dewi Tanduk Empat.


Hanya menangis penuh kehampaan Kapten Rui di sana, berlutut dan tumungkul. Hingga sekujur tubuh Kapten Rui mulai berubah kehitaman, laksana kayu yang mulai menjadi arang.


Dan seketika wujud Kapten Rui berubah drastis, dia kini malah menjadi anak Satan hitam. Tak sampai di situ saja, tubuhnya yang menjadi arang lantas terbakar api nuansa merah menyala, terbakar sekujur tubuhnya, tetapi tak sedikit pun Kapten Rui merasakan sakit, hanya diam, terdiam menikmati kehampaan, dan setiap tetesan air matanya, menjadi tetesan darah merah.


17 detik selepasnya, Kapten Rui berubah menjadi asap hitam, lalu hilang begitu saja, lenyap menjadi kosong, seolah ditelan kenyataan.


Bersama kejadian aneh itu, perang saat itu pun berakhir. Hamparan air yang mulai jingga, yang damai, hangat, di lingkupi suasana senja, hanya menyisakan kekosongan semata.


Kembali pada alam Peri bangsa Barat yang kini telah usai menggelar pesta pernikahan, semua kembali pada kegiatan normalnya. Sehari setelah legiun satu menang, berita tersebar pada angkatan militer, khususnya angkatan militer Sayap Putih.


Dan selama waktu berlalu, Pangeran Azer kini langsung berada di markas militer Sayap Putih. Ia terlalu sibuk untuk bulan madu, dan masa bodoh dengan itu. Tingkat harapan ingin menang dalam perang adalah prioritas utama saat ini.


Di dalam markas di ruangan yang sangat luas, yang terbuat dari berlian ungu, para pemimpin masih memantau jalannya perang dari kursi mereka. Menatap lekat-lekat pada layar cermin yang kini kartu Sayap Putih legiun satu tertutup semua.


“Kita menang ... dan legiun dua serta tiga sedang menuju ke sana,” ungkap pria panglima perang ras Peri dengan menatap Pangeran Azer.


Sang Pangeran Azer yang kembali duduk di kursinya menepuk dadanya dengan tersenyum miring penuh bangga, seraya berujar, “Lihat ... rencanaku pasti mulus!”


Beberapa panglima perang tersenyum penuh syukur, tersenyum karena menang dan bukan karena ucapan Pangeran Azer.


Perdana Menteri Fizo masih berdiri di samping kiri Pangeran Azer. Dia menganggap ini bukanlah kemenangan, tetapi seimbang dan enggan mengutarakan pendapat karena pasti hanya jadi omong kosong belaka.


Ketika mereka para pemimpin menikmati kesenangan dalam kemenangan. Jauh dari markas militer Sayap Putih, dalam langkah mantap seorang wanita terhormat, menelusup pada hutan nan gelap penuh misteri.


* * *


Pohon-pohon yang rindang menghalangi cerahnya sinar mentari untuk melenyapkan gelap, memang tak terlalu gelap namun tetap saja jarak pandang terbatas, ditambah rami yang tumbuh dalam lingkup tidak sedikit, itu menghambat langkah sang Putri bangsa Barat. Ini adalah pertama kalinya ia datang kemari.


Semak-semak atau untaian akar pohon cukup membentuk gelapnya jalan, namun demi tujuan pentingnya, Putri Kerisia berjibaku di hutan kelam ini. Bagaimana pun caranya dia harus mampu mengingat caranya tersenyum atau ingat tata cara tertawa.


Cukup malu rasanya saat di pesta pernikahan kakaknya, bahwasanya dirinya malah tak mampu menunjukkan senyum kesopanan, para bangsawan menatapnya aneh, seolah menganggap dirinya angkuh.


Putri Kerisia tak tahu jika hidup tanpa senyuman lumayan merepotkannya, membentuk paradigma pada pesta itu. Ya, orang-orang seperti memandang tak suka padanya. Bagaimana pun dia harus terlihat ramah dan bukan menyebalkan.


Seluruh usahanya menerobos rami serta kekotoran hutan itu terbayar tuntas, dia bisa saja terbang, namun itu artinya destinasinya akan sirna. Dia tak boleh terbang, petunjuk mengatakan; tempat itu hanya dapat dikunjungi bila berjalan kaki ke arah Timur Laut.


Tak ada pintu di sini, dia hanya perlu menempelkan ke dua telapak tangan lembutnya sambil menyalurkan energi merahnya.


Maka secara ajaib dan mengejutkan, Putri Kerisia telah berada di dalam pohon emas yang besar. Ini ruangan yang luas, ada lemari penuh buku sihir, ada kunang-kunang berpendar nuansa merah, dan ada seorang nenek yang duduk bersila dengan pose semadi.


Dia berada di depan sang Putri dalam jarak 3 meteran, mata terpejam, dua sayap putih yang nampak kusam, rambut beruban, kulit keriput, dengan jubah Penyihir nuansa ungu dan itu terbuat dari bebatuan mulia.


Sang nenek sepuh itu mulai mendedah matanya pelan-pelan, dan itulah netra putih yang seketika memindai diri Putri Kerisia, hingga bibir keriput sang nenek sepuh rela mengembangkan senyuman damai yang seakan telah tahu kalau putri bangsa Barat akan hadir di sini.


“Ada apa Cu ...?” tanya sang sepuh dengan suara yang terdengar segar nan energik, suaranya sama sekali tak ikut renta bersama tubuhnya. Aneh.


“Saya mendapat petunjuk, kalau Anda mengetahui cara agar saya dapat tersenyum kembali,” beber Putri Kerisia dengan raut muka datar; tak berperasaan.


Kedua tangan sang nenek sepuh perlahan mulai beralih menuju muka lutututnya, mencengkram lembut seraya berujar, “Ya ... ya ....”


Hanya dua kata yang terbentuk tanpa penjelasan eksplisit, bahkan Putri Kerisia harus saling menatap sepuluh detik pada netra putih sang nenek, bersirobok dalam hening dan di sini beraroma bunga Melati. Lantainya terbuat dari batu Admantite.


Namun uniknya, walau dirinya tengah menghadapkan tubuh pada seorang nenek-nenek, segala gestur tubuhnya tetap menampakkan seorang wanita terhormat, jemari tangan kanannya pun mengepal sebagai isyarat keteguhan hati seorang wanita.


Entah mungkin sang nenek tadi tengah menerawang atau bagaimana, namun yang jelas, dalam tenang beliau berkata, “Ya ... kamu bisa menghilangkan kutukan itu ... tetapi apa kamu yakin ingin menghilangkannya?”


Benar saja, di dalam kata 'kutukan' yang nenek itu ucapkan mengandung arti pengetahuan yang telah diterawang sang nenek, dia sudah tahu.


Pertanyaan yang membuat kening Putri Kerisia mengernyit bingung, sehingga berani menjawab, “Tentu saja saya ingin bisa tersenyum kembali, ini terasa penghinaan buat saya, banyak sekali yang menatap saya seperti menghina.”


“Ahh ... kau memang seperti dugaanku,” ungkap sang nenek dengan santai entah maksudnya apa.


“Tolong, bantu saya ... apa pun yang Anda mau pasti saya kabulkan,” tuntut Putri Kerisia dengan lugas, enggan basa-basi apalagi harus membuang waktunya yang berharga.


Suasana sangat sunyi di sini, semerbak melati begitu menyengat. Sang nenek sepuh itu mengangguk pelan, tapi tanpa senyuman, bahkan netranya memandang tajam pada wajah mulus sang Putri, dia mulai mengalihkan diri untuk menjadi serius, karena sang Putri pun serius.


“Kalau memang apa pun ...,” ucap sang nenek yang dijeda, seakan-akan kalimat selanjutnya sangat berharga, dan isyarat itu langsung membuat raut muka Putri Kerisia jadi serius.


“... sebelum itu, nenek ingin tahu, tolong jawab dari hatimu yang tulus ...,” pinta sang nenek yang nampaknya malah ingin mengajukan pertanyaan.


Itu membuat raut muka Putri Kerisia seketika berubah datar, kembali tak berperasaan. Baginya ini bisa membuang-buang waktunya. Tapi hanya pasrah Putri Kerisia di sana, terkesiap menjawab pertanyaan nenek sepuh ini, toh yang penting senyum kesopanannya bisa direnggut kembali.