Nurvati

Nurvati
Episode 53: Pertemuan Dengan Yang Dirindukan.



Seluruh waktu bersinergi dalam realitas, melepas hari petang beralih pada malam hari. Ini adalah malam hari, langit agak hitam dengan kilau bintang-bintang yang nampak gemilang memudarkan hitamnya langit seolah bernuansa ungu dan biru.


Angin meniup lembut, hawa sejuk pun meliputi tempat favorit Nurvati, di sini, di bawah pohon salju, dia tengah duduk berselonjor dengan bersandar pada akar pohon, kilau sinar wajah keilmuannya menjadikan penerang pada tempat sekitar, membuat kentara segala apa yang ada di dekatnya.


Dia menikmati waktu melepaskan lelah, secara fisik memang tidak lelah, tetapi secara mental, setelah hari-hari yang berat dilalui, baik hari mencapai ilmu Hikmah-nya, sampai harinya dihakimi, maka cukup membentuk beban moril, itu melelahkannya.


Angannya masih berpacu pada mimpinya yang tinggi, iya, mimpi sementara. Karena hingga seluruh kesempatan yang dikorbankan pada waktu, dirinya tak sekali pun memiliki cita-cita, mungkin itu memang tidak penting, makanya tak ada impian yang dimiliki Nurvati, kecuali hanya menuntut pada keadilan.


Walau ada secercah kesadaran yang menjerat dirinya, akan rakyat yang pada dasarnya ditipu Putri Kerisia, menciptakan kebingungan, perihal keadilannya, sebab kala tatapannya mencari arti, saat air mata korban jatuh, atau ketika kata-kata mereka adalah pengharapan, mungkin saja Nurvati telah salah langkah.


Tidak! Pikirannya membantah itu, dirinya sudah adil, dan saat ini, waktu lebih bagus benar-benar dimanfaatkan untuk mengistirahatkan mental, menemani waktu yang berlalu, duduk santai melewati malam berbintang. Tak tidur, hanya saja harus mengonsumsi udara agar dijadikannya energi tubuh dan memang dilakukan acap kali tubuh terasa lemas.


Sejuk nan sunyi, kadang sunyi terlepas dalam suasana terganti oleh siur angin yang membelai tubuh, meniup daun hingga bergoyang-goyang seirama dalam embusan angin, malam yang damai untuk rehat sekalian membiarkan diri tenggelam di suasana damai malam ini. Seluruh keheningan ditangkap pendengaran Nurvati yang terkesan merdu, telah membentuk kenyamanan untuk mental beristirahat.


Terus bersama realitas waktu melayani hari, menit demi menit dan jam demi jam terlintasi, terlarut melepas letihnya mental menghadapi kenyataan, malam berbintang bertukar pada subuh yang diterangi rembulan, angin kini berembus ke Utara, Nurvati mulai bersiap diri menghadapi kenyataan baru, terkesiap akan hal yang mungkin terjadi, seperti tentara militer yang datang atau para korban yang tiba-tiba datang kemari.


Seiring kesiur angin yang mengalun meliputi suasana, Nurvati perlahan bangkit dari duduk, ia mulai menggunakan ilmu Hikmah-nya —Melacak Aura— sebisa mungkin mengetahui posisi keberadaan Falas. Dia —Falas— rupanya telah berada di kolam bunga Teratai.


Namun tak langsung pergi, Nurvati menyempatkan mematung di tempatnya, dia menanti sinar baskara melenyapkan bayang kegelapan, selain itu, ia memupuk kembali mentalnya untuk menghadapi hari, dalam penantiannya, Nurvati hanya diam memandang rembulan pada kaki langit, hanya memandangnya dalam rasa terkesima oleh sinar dan keberadaannya.


Saat itu, pada akhirnya, penantian sejamnya, menghasilkan harapan yang mewujud, sang sinar baskara memecah bayang-bayang gelap, mencurahkan kehangatan pada bangsa Barat, hamparan rumput yang tadi hitam gelap, mulai nampak warna biru cerahnya, awan-awan di langit mulai terlihat abu-abunya, burung-burung yang berkelompok terbebar mencari penghidupan, hari ini mendung, dan kemungkinan besarnya hujan.


Maka melesatlah Nurvati melepaskan segala penantiannya, yang kini ia terbang jauh, menerjang embusan angin pagi, terbawa perasaan semringahnya dan saat ini jika tak ada lingkup cahaya pada wajahnya, senyuman senang penuh semangat tengah terukir di wajahnya. Dia akan bertemu dengan Falas, teman yang telah menyelamatkan hidupnya. Teman satu-satunya yang untuk saat ini dimiliki. Bahkan teman yang dikatakan menerima kondisi Nurvati apa adanya.


Hari ini, akan menjadi awal kebersamaannya kembali, melanjutkan menghadapi hari-hari kenyataan.


Dan setelah melintasi jarak jauh, Nurvati mendarat di dalam hutan bambu ungu, langsung di dalam hutan. Kakinya melangkah buru-buru ke depan, mencari keberadaan Falas, menyelinap di antara bambu-bambu ungu, dan akhirnya kedua kakinya sukses menapak di atas tanah area kolam bunga Teratai.


Di atas batu hijau tengah kolam, telah duduk bersila seorang pria, dengan tubuh tegap yang diliputi jubah putih kesukaannya, dengan rambut hijau pendek nan klimis yang membingkai dengan mantap di wajah adak perseginya, kulitnya nampak senantan cerah, dua sayap putih yang dilipat dan netra yang terpejam seolah tidur pulas, dia duduk bersila bersedekap menyilang tangan.


Tak lekang Nurvati memandangi Falas sembari melangkah mendekatinya, menatap wajah Falas lekat-lekat, yang kini dalam sisi kejiwaan wanita dewasa itu, ada energi aneh yang menjalar dari dalam jiwanya lalu memenuhi aliran darahnya, dan membuat perasaannya terasa hangat, ada getaran aneh melihat wajah pria yang diistimewakannya itu. Mungkin masyarakat yang budiman menyebutnya 'berbunga-bunga'.


* * *


Hingga ketika telah berdiri di pinggir kolam, pandangan Nurvati tak lepas menatap wajah Falas, yang mungkin seperti itulah seorang wanita memandang roman pria yang elok, tetapi kali ini, Falas entah bagaimana terlihat berbeda di pandangan Nurvati; nampak tampan.


Dan seiring pandangan kekagumannya seorang wanita yang baru mengetahui sifat ketampanan seorang pria, angin berkesiuran membelai dua Peri yang tengah berhadapan itu.


Waktu tetap melingkupi suasana damai di area kolam itu, sunyi terisi kucurnya air terjun mini dari lubang bambu, air kolam masih jernih dalam biasnya warna-warni pelangi, tempat ini tetap bersih, menawan, elegan, tak berubah sama sekali; indah.


Dan seluruh suasana dan pandangan Nurvati harus terhenyak kaget, oleh renyahnya suara kata-kata dari mulut Falas. “Wah ... sudah datang ....”


Maka dengan perlahan namun pasti, kelopak mata Falas mulai terdedah, mula-mula pandangannya buram, lantas ketika mengerjap hanya satu kali, semuanya mulai jelas. Seorang wanita muda tengah berdiri berkacak pinggang, dengan dibungkus gaunnya yang dibanggakannya, dan wajah wanita itu diliputi sinar keilmuan. “Nurvati.”


“Aku tidak menyangka ... kau sudah di sini ... sejaka kapan kamu di sini?” heran Nurvati dengan ceria, namun malu-malu yang malah terlihat canggung. Karena bagaimana pun, baginya sudah sangat lama tak bertemu dengan temannya ini.


Netra biru Falas yang tajam dan mengilat, menatap begitu teduh pada roman bermandikan cahaya keilmuan Nurvati, seraya menjawab, “Aku ... sudah datang sejak kemarin.”


Bahkan setelah menjawab keheranan Nurvati, Falas lalu tersenyum tenang dalam damai, dan suara renyahnya kembali merasuk telinga Nurvati, membuat dirinya entah bagaimana malah tersenyum jengah, tersenyum dalam liput cahayanya, dan senang bisa bertemu Falas kembali.


Lalu dalam ekspresif dan dinamis Nurvati bercerita, “Aku sudah berhasil menguasai ilmu Hikmah ... kau tahu ... aku berhasil menguasainya sampai alam terakhir, alam ke tiga puluh ...!”


“... hebat bukan?” lanjutnya begitu senang nan bangga dan berharap Falas menyambut baik keberhasilannya.


Tapi tetap tersenyum tenang Falas di sana, menatap Nurvati dalam diam masih bersedakap menyilang tangan.


“Coba lihat ini!” pinta Nurvati dengan antusias.


Dan Nurvati pun mendepang tangan, merapatkan kakinya, lantas perlahan melayang terbang.


“Aku sekarang sudah bisa terbang!” ungkap Nurvati dalam semringah.


Tetapi Falas, di sana masih diam dalam tenang, tersenyum teduh.


Kemudian 'Woush' Nurvati terbang ke atas lebih tinggi, dan berputar-putar di udara seraya berujar, “Sekarang kau tak perlu repot-repot lagi menggendongku ... aku sudah bisa terbang!”


Melihat kebahagiaan Nurvati, Falas tak berkomentar apa pun, dia sengap menyaksikan perkembangan Nurvati.


Dan ketika Nurvati kembali mendarat, dengan rasa senang dan ekspresi riang, dia kembali bercerita perihal Malaikat Rahmat yang baru pertama kali ditemuinya, lalu menceritakan saat-saat perjuangannya di setiap alam ilmu yang disinggahinya, hingga cerita berakhir, pada dirinya yang kembali turun ke bumi.


Hanya itu, hanya cerita yang tak menjabarkan perihal kerusuhan di perumahan area Timur, atau dirinya yang dipenjara lantas berkelahi dengan Putri Kerisia, semuanya masih ragu untuk dibeberkan.


Ceritanya telah dicerna baik-baik oleh Falas, bahkan bibir tipisnya mengembang lagi hingga gigi putihnya kentara, dan dalam pandangan teduh pada Nurvati, Falas pun berujar, ”Lalu ... apakah kamu sudah mampu menjadi sesosok Malaikat?“


Sontak, berkat pertanyaan itu, membuat Nurvati bergeming, seketika diam, bingung dan termenung. ”Hmmmm ....“


”... ahk sudahlah ... itu tidak penting!“ imbuh Nurvati dengan mengibas tangan kanan di dekat wajah, enggan membahas kekonyolannya.


Tak menjawab, Falas hanya mengangguk pelan dengan santai. Namun menyimpan rahasia penting yang hari ini akan dikuaknya.