
Di alam yang membentang aroma wangi alam Peri, kini terliputi aura ketegangan perang dunia ke-18, masih setia dalam sutuasi aman, mereka ras Peri tetap bekerja sebagaimana niatnya.
Kelompok perdamaian atau bahkan para kaum utopis terus menyebarkan paham-paham demi menguasai rakyat atau bahkan mengendalikan pemerintahan.
Kaum utopis memiliki beberapa organisasi baik dari ras Peri hingga ras Manusia, secara terang-terangan mereka menjunjung tinggi ideologi mereka, terkadang organisasi mereka meresahkan warga, kadang pula membantu warga.
Organisasi, sekte atau bahkan kelompok-kelompok telah terbentuk demi sebuah impian yang begitu sangat-sangat tinggi, cita-cita luhur yang setiap anggota memujanya hingga rela mati demi cita-cita itu.
Kelompok Perdamaian, organisasi Surgawi atau bahkan sekte Persatuan dan lain-lain semua itu dibentuk demi menghimpun segenap pemikiran-pemikiran akan tujuan yang sama; kehidupan berbahagia penuh damai. Kejayaan yang sempurna dan abadi, itulah tujuan mereka.
Terdengar indah bagi mereka yang hidup dalam penjara dan terdengar 'wow' bagi mereka yang telah hidup di istana.
Kursi parlemen pun sebenarnya telah dikuasai sebagian dari anggota mereka, dan sebagian lainnya hanya sekadar memiliki kredibilitas semata, atau mungkin tepatnya, kebanyakan wakil rakyat lebih mementingkan nama serta golongannya, dan itu dilandasi atas dasar nama rakyat.
Bagi mereka wakil rakyat yang benar-benar jujur, bekerja demi kebahagiaan rakyat dan bangsa terpaksa harus sedikit ternodai oleh mereka-mereka yang bersikap demi ego.
Memang terkesan timpang tindih, kebatilan serta kebenaran bercampur tak keruan. Masalahnya itu pula yang kadang menjadi awal perpecahan dalam bermasyarakat, atau bahkan membentuk perang sesama saudara sendiri hanya disebabkan adanya pemahaman yang kontradiktif.
Pola pikir membentuk individu dan individu pun mampu membentuk pola pikir baru, segala macam paham telah merasuk pada pemerintahan, terutama bangsa Barat, dari yang ekstremisme hingga moderat membaur dalam setiap individu yang membentuk kebingungan. Dan dari situlah para pemimpin terutama seluruh lapisan masyarakat menjadi hilang arah.
Arah itu mulanya ideologi persatuan, yang setiap individu akan mendapat keadilan, lalu muncul sebuah paham yang terkesan menakjubkan, yaitu ideologi itu keadilan yang dengan keadilan barulah muncul persatuan, bahkan muncul pemahaman yang cukup ekstrem, yang bila dijabarkan adalah ideologi itu ialah kematian, siapa yang enggan menegakkan keadilan, maka mati adalah jalan keadilan.
Seluruhnya, segenap ideologi dan pemahaman baru atau tepatnya, ideologi pematangan muncul dan itu pun demi yang namanya hidup berbahagia penuh damai.
Tujuan indah itu pada dasarnya tentu sangat didambakan oleh seluruh ras, seluruh sekte atau pun seluruh aliran kepercayaan, namun fakta dilapangan, untuk membentuk suatu tatanan dunia yang memiliki kemerdekaan serta perdamaian tentulah tidak semudah mengucapkan kata-kata.
Bukan tidak mungkin cita-cita luhur kaum utopis bisa saja terbentuk, karena bagaimana pun tak ada yang salah pada cita-cita mereka.
Sehubungan dengan cita-cita luhur, telah termaktub, dalam kitab Risalah Para Raja yang menerangkan adanya peradaban kejayaan, yang artinya impian luhur kaum utopis mungkin tercapai.
Risalah ke-3 kitab Para Raja tertulis; akan terbentuk peradaban baru, dari Barat, yang kemuliaannya menyerupai malaikat, sebuah peradaban yang sampai-sampai ras Manusia menyangka kalau peradaban itu adalah dibentuk para Malaikat, semua orang berbahagia, semua orang bersinar gemilang, keadilan dan kemerdekan telah sampai pada zaman itu.
Risalah ke-4; suatu zaman keadilan akan terbentuk, yang mulanya akan datang sesosok malaikat yang dari tangannya hidup dalam genggamannya, dan yang mati pun dalam genggamannya, keturunan para raja dan keturunan dari yang dimalaikatkan, seorang yang akan membawa pada zaman kejayaan.
Tentu komentar dari masyarakat menyertai risalah tersebut, komentar negatif mau pun positif bersinergi menyemarakan risalah tersebut.
“Isapan jempol semata!”
"Itu janji para Malaikat."
“Itu adalah dongeng untuk bocah!"
Tak seorang pun mengetahui siapa sosok itu, dari sang cendekiawan hingga sang pertapa ulung, tak seorang pun tahu!
Untuk sampai pada zaman kegemilangan itu, pastilah tak gampang, butuh pengorbanan, butuh daur ulang, akan jadi perang besar, karena telah terdapat pula kalimat dalam risalah yang tak dituliskan nomor posisi risalah tersebut, namun terkesan mengandung peringatan atau tanda-tanda kemunculannya.
Risalah dalam kitab Para Raja; akan ada pertumpahan darah, pengorbanan jiwa, kematian merajalela, saling bunuh membunuh adalah hal lumrah, para penjahat jadi raja, rakyat akan tertindas, sayap-sayap akan patah, cahaya peri meredup, perang jadi cita-cita, dendam jadi keadilan, laknat melaknat jadi do'a, fitnah jadi senjata, yang mulia diludahi, yang hina dipuji-puji, bangsa-bangsa yang bersatu berpecah belah dan neraka jadi olok-olok.
Meski terdengar begitu merdu namun juga terdengar begitu bohong, itu justru terkesan memberikan harapan, harapan bagi sang pemalas dan harapan bagi sang pekerja keras. Tak masalah memang, akan tetapi hal itu justru memicu perdebatan dan pertanyaan.
Yang tentu untuk mencapainya, akan ada sosok yang menuntun atau pun memimpin, sosok yang digadang-gadang yang disebut sebagai sang Penyelamat. Setidaknya begitu kalangan masyarakat menyebutnya.
Tetapi satu hal yang penting yang tak dapat dipungkiri, sang penyelamat akan dihalangi oleh sesosok iblis demi membentuk alam Neraka.
Di dalam rumah itulah seorang bocah laki-laki cilik tengah duduk bersila di atas karpet emas, duduk menghadap sang ayah; Ketua Hamenka.
Ini ruangan luas, dengan bertatahkan batu berlian, lantai dari permata ungu serta 2 jendela kaca yang menghadap halaman belakang rumah dan keseluruhan ruangan ini nampak berkilau.
”Haaacim ....“
”... nah sekarang kenapa ayah menceritakan dongeng itu padaku?“ tanya bocah laki-laki itu dengan serius.
Ketua Hamenka baru saja memaparkan risalah yang terdapat dalam kitab Para Raja, dia memegangnya, karena memang memilikinya.
”Ayah membicarakannya padamu ... karena, ayah sudah bertanya dengan para Malaikat, yang mana mereka memberi isyarat kalau malaikat penyelamat itu akan bersama kamu, Nerta,“ balas Ketua Hamenka begitu serius.
”Loh ... bukannya malaikat penyelamat itu pasti akan bersama yang lainnya juga 'kan?“ heran anak lelaki itu alias Nerta.
”Hacim ...,“ bersinnya dan memang sudah bawaan lahir demikian.
”Maksudnya, kamu akan turut serta membantu malaikat penyelamat itu, kamu akan membantunya untuk membentuk peradaban baru,“ jelas Ketua Hamenka tanpa ragu.
”Eh ... kalau begitu ... berarti ayah tahu siapa malaikat penyelamat itu?“ usut Nerta.
”Belum tahu, yang ayah tahu kamu akan hidup di zamannya, dan kamu akan membantunya ...,“ sanggah Ketua Hamenka.
”Kenapa harus aku, aku masih mau bermain ... kenapa tidak ayah saja? Atau mungkin kakak?“ keluh Nerta.
”Ayah tidak akan hidup lama dan kakakmu itu jauh dari kebenaran ... untuk itulah ayah membicarakan ini padamu, karena kamu termasuk orang-orang terpilih,“ tutur Ketua Hamenka sungguh-sungguh.
Nerta termenung dengan bersedekap tangan, ia agak terkejut atas pengakuan ayahnya kalau usia ayahnya tak akan lama, sebagai anak yang menyayangi ayahnya, tentu rasa sedih sedikit menyeruak mengetahui itu. Tapi karena gengsi, sikap biasa-biasa saja tetap terpampang.
”Terus ... apakah ayah sudah bicarakan pada para wakil rakyat?“ tanya Nerta penasaran.
”Untuk apa ayah membicarakannya, ini sebenarnya berbahaya ...,“ jawab Ketua Hamenka.
”Berbahaya ...?“
”Dengar ini baik-baik, hampir semua orang meyakini malaikat itu, akan tetapi, justru orang yang diharapkan itu malah diperangi, sang Penyelamat yang dipuja-puja justru saat muncul dan menggegerkan publik akan diludahi, dari sekte minoritas hingga sekte mayoritas, pasti akan memeranginya,“ ujar Ketua Hamenka.
”Loh ... kok bisa, 'kan dia sang Penyelamat itu?“ heran Nerta.
”Ya ... karena kenyataannya dia tak sesuai ekspektasi dan pengharapan diawal, dikiranya keturunan raja-raja ... dikiranya keturunan para yang dimalaikatkan ... padahal bukan begitu,“ tegas Ketua Hamenka.