Nurvati

Nurvati
Episode 176: Seni Kewajiban (Part 4.)



Selama berlangsungnya koordinasi antara Sary serta wali kota, Siluman Dewa Mistik nampak memakukan diri tanpa merasa masalah.


Perundingan lewat telepati antara Sary serta wali kota begitu alot, Sary yang ngotot menginginkan para penyihir mengetahui siapa sosok pemanggil Siluman Dewa Mistik dan wali kota yang keras kepala menginginkan Siluman Dewa Mistik dibinasakan saja langsung oleh seorang berkemampuan Diri Asli.


“Tidak ada waktu untuk mencari! Kita mesti membinasakannya!”


“Tidak! Kita mesti mencari info lagi supaya tak ada kesalahan dan dendam!”


Di lapangan itu, mereka malah beradu argumentasi, saling kukuh agar usulannya yang lebih dikedepankan.


Sementara penyihir tua, kini di depan segel akuarium itulah, dirinya begitu intensif menatap tajam pada Siluman Dewa Mistik dengan berjuang menggali lagi informasi. Selebihnya tiga orang terhormat lainnya yaitu jenderal, ketua perumahan serta seorang kesatria, tetap berdiri santai pada batas aman.


Bersama berlalunya waktu, Sary malah mendadak menghentikan perundingan alotnya dengan wali kota, dirinya malah beralih pada perundingan dengan putrinya; Quin.


Perdebatan alot kini melanda ibu dan anak itu. Sary yang ingin anaknya tidak ikut campur, sekaligus bersembunyi di tempat yang aman dan Quin yang ngotot karena ini adalah kewajibannya sebagai pahlawan. Mereka tetap enggan untuk mengikuti tuntutan satu sama lainnya.


Benar, mereka telah tiba di area ini, berada di luar dinding gaib, namun beberapa anggota militer hendak mengevakuasinya.


“Orang tua temanku ada pada si makhluk aneh itu!” cetus Quin begitu cemas dengan memberi info kedatangannya.


Sontak atas dasar kalimat itulah, Sary sadar kalau dengan ini kemungkinannya Siluman Dewa Mistik dapat dikalahkan, sebab individu yang bertalian darah dengan sang pemanggil besar kemungkinannya adalah anak itu. Maka kelima anak diperkenankan untuk bergabung ke lapangan penangkapan. Mereka terbang tergesa-gesa dalam kekhawatiran.


Kelima anak kini telah berdiri dengan raut muka serius memandang sang entitas.


Bukan itu saja, Nerta yang memang merasa kalau ibunya ada di sini; di dalam tubuh entitas. Dirinya mulai berteriak dengan resah memanggil ibunya. “IBU SADARLAH! IBU SADARLAH!"


"IBU AKU YAKIN KAU ADA DI SANA ... DI DALAM TUBUH MAKHLUK ANEH INI ...! JADI SADARLAH!”


Kendati teriakan hingga batas suara maksimal telah Nerta lakukan, ibunya atau sang entitas sama sekali tak menunjukkan kesan mendengar; tetap diam mematung.


Bukan itu saja, seluruh teman-teman Nerta pun mendadak meneriakan ibu Nerta untuk tersadar.


“IBU NERTA SADARLAH!” teriak Quin.


“IBU NERTA SADARLAH!” teriak Gorah.


“IBU NERTA SADAAAAAAR!” sambung Darko.


“SADAR DONG IBU NERTAAAA!” timpal Arista.


Kejadian itu membentuk momentum impresif dalam perspektif Nerta, tersentuh oleh kesolidan serta bantuan teman-temannya.


Akan tetapi, momentum itu segera disela oleh sebuah titah dari Sary. Komando ditujukan bagi empat penyihir segel untuk bergegas membuat pengekang yang lebih efisien agar mampu membinasakan Siluman Dewa Mistik dengan mudah.


Mantra sihir kembali dilafalkan, komando segera diimplementasikan.


Hanya saja, secara mengejutkan, entitas berwujud transparan tersebut mulai bergerak, ke dua tangannya mendepang dengan energi kelabu yang membalut tangannya. Lantas 'BOOMMM' 'BOOMM' diledakan dua sisi segel akuarium tersebut, dia mulai berontak dan berusaha meloloskan diri.


Sempat berefek guncangan pada tanah akibat usahanya tersebut. Terlebih seluruh pribadi yang hadir mulai melangkah mundur mengambil jarak aman. Raut muka mereka semakin resah seiring perjuangan sang entitas yang berulang kali meledakan tempat tersebut.


Para penyihir yang semula hendak merealisasikan sihir selanjutnya pun terpaksa menundanya. Mereka kini menyalurkan energi ungu demi memperkuat segel kubus tersebut.


Kendati nyatanya itu tetap gagal, kemampuan sang Dewa sedikit lebih unggul ketimbang para penyihir. 'Krakh' 'Trakh' lambat laun segel tersebut mulai retak. Hingga 'BOOMM' 'BOOMM' ledakan kuat kembali terjadi. Lantas 'Crang' segel itu pecah!


Secara impulsif seluruh remaja mengambil ancang-ancang, kelima pribadi terhormat pun bersiaga, semua pribadi yang ada meningkatkan lagi kewaspadaan.


Empat penyihir yang hendak merealisasikan lagi sihir segel akuarium, mendadak terperangkap oleh awan kelabu dari ilmu sang entitas. Mereka tak dapat menggunakan sihir, efek dari awan kelabu ternyata memiliki taraf untuk melumpuhkan mantra sihir.


Lebih dari itu, sang penyihir tua yang telah berdiri paling depan di antara pribadi lainnya, ikut terperangkap oleh awan kelabu itu. Awan kelabu tersebut termanifestasi dari asap ledakan yang sempat mengepul ke sekitar tempat.


Seluruh pribadi kini mengandalkan ketinggian demi menghindari awan mengerikan itu. Mereka terbang. Tetapi bersamaan dengan itu, jenderal, ketua perumahan hingga kesatria, mereka semua mulai berjibaku bertarung dengan sang entitas tersebut.


'BOUFF'.


'KRZZZRRT'.


'BHRRUFFFF'.


Belasan tembakan energi, semburan api hingga sengatan listrik menyerang habis-habisan sang entitas tanpa kenal ampun. Pertempuran itu nampak tak seimbang bila dihitung dari jumlah, kendati begitu, sang entitas justru sanggup mengungguli pertempuran.


Dia melesat ke sana kemari dengan menembakan bola-bola energinya yang dapat meledak. Dia bahkan sanggup menghancurkan prisai pelindung sang jenderal dan tanpa malu-malu dia mampu membunuh sang jenderal menggunakan bola energi peledaknya.


Segala efek serangan yang mencecar Siluman Dewa Mistik sampai detik ini, begitu jelas tak berdampak sedikit pun padanya. Dia masih lihai meliuk-liuk menyerang ke sana kemari tanpa terlihat kewalahan.


Keadaan ini jelas sangat genting, sehingga Sary berani meminta kelima remaja untuk buru-buru bersembunyi.


Hanya saja, seperti biasanya, tak satu pun remaja yang rela meninggalkan medan pertempuran sebelum musuh berhasil ditaklukan.


Nerta yang sedari tadi telah menggenggam tongkat kujangnya begitu erat, laksana memegang tekadnya sendiri, tiba-tiba saja mulai melesat maju, 'Siuw'.


Bahkan untuk itu, semua anak meneriaki namanya, teriakan kekhawatiran dan ketakutan. “NERTAAAAAAAAA ...!”


Lalu 'BOOMMM' sang entitas mendadak mengeluarkan kepul awan kelabu dari sekujur tubuhnya, awan-awan mendung itu merebak ke seluruh penjuru arah mata angin, menyebar luas, memerangkap sang kesatria, memerangkap sang ketua perumahan hingga kala menyebar tanpa henti, memerangkap Nerta. Maka lapangan pun telah terselimuti awan kelabu dari ilmu sang entitas.


Kemudian 'Siuw' Siluman Dewa Mistik kembali terbang menuju langit. Terbang cepat hendak mengakhiri semuanya.


Untuk keempat teman Nerta, syukurnya mereka semua terlindungi, telah berteleportasi oleh Sary pada tempat yang aman, di ruangan sepetak tanpa ventilasi yang terbuat dari batu berlian. Mereka semua diungsikan di sini.


Walau terjadi sedikit ketegangan antara Quin dengan Sary yang berdebat mengenai keadaan Nerta serta kukuh untuk melawan Siluman Dewa Mistik, mereka mau tidak mau mesti memasrahkan diri pada takdir dan negara.


Iya, mereka berempat tak dapat lagi pergi ke mana-mana. Di ruang bersuhu normal —23 derajat Celsius— itu mereka berdiri pasrah saling memasang muka masam dan tegang. Berharap-harap cemas kalau Nerta akan baik-baik saja.


Keadaan di kota Barat telah mencapai taraf kehancuran, kemunculan ribuan siluman macan membuat kerusakan semakin cepat meluas. Mereka sukar dihentikan dan terus bermunculan secara tak terbatas.