Nurvati

Nurvati
Episode 188: Digelap Malam Kesendirian.



Malam tak berbintang.


Provinsi Utara ini telah basah diguyur hujan deras. Hari di mana Nurvati telah melalui usaha dan kerja keras yang melelahkan.


Kadang Marn datang dan mengajak Nurvati makan bersama, kadang juga mereka berdua bersama-sama mengusir para siluman.


Atau kelima remaja yang datang. Bersama mereka Nurvati pun ikut pula berpetualang serta menyelamatkan anak-anak yang diculik. Kebersamaan itu pula yang menimbulkan keakraban semakin erat.


Kendati demikian, Nurvati terus menjelajahi kota-kota diberbagai provinsi bangsa Barat. Dirinya yang dalam tugas mencapai Diri Asli secara konsisten membantu seluruh kerja masyarakat.


Membantu ibu rumah tangga, membantu organisasi kota, hingga membantu para panitia lomba.


Dirinya bertemu dengan para petualang, dirinya bertemu dengan para pendekar, hingga bertemu dengan para pejabat kota.


Dalam tempo yang terbilang cukup lama, Nurvati mendapatkan banyak pengalaman berharga, mulai dari pengkhianatan, penyesalan, impian, persahabatan, cinta, hingga keluarga.


Kelaparan atau sekarat seakan sudah lazim dirasakan. Bonusnya adalah dirinya berhasil mempelajari ilmu Energi serta memperbaiki lagi penggunaan pintu teleportasinya.


Kini di kota Linlin, Nurvati telah dua jam bermeditasi di bawah tanah halaman rumah.


Berdiri dalam konsentrasi penuh bermeditasi. Atas banyaknya ujian hidup dalam kewajibannya. Nurvati lambat laun mulai dapat melihat jauh ke dalam dirinya.


Tapi satu hal yang tak disadari Nurvati, harapannya untuk dapat seperti Ketua Hamenka, yaitu mencapai Diri Roh Suci agaknya pupus.


Ada sebuah damai yang belum pernah Nurvati rasakan. Di kedalaman alam bawah sadarnya, terdapat seberkas sinar cerah. Nurvati bahkan melihat jauh ke dalam lagi.


Sinar itu meluas semakin benderang dan secara mengagetkan dimensi pun terkupas.


Di sana, dalam kerlip bintang-bintang, telah muncul diri Nurvati dalam wujud sang Diri Asli. Di angkasa luar ini Nurvati seakan-akan tengah bercermin.


Di depan Nurvati, sang Diri Asli telah berdiri memandangnya. Diri Asli itu memiliki kesamaan wujud seperti Nurvati, hanya saja, seluruh tubuh-Nya berpancar putih benderang, begitu tinggi nan besar, sampai-sampai Nurvati hanya seukuran jari telunjuk-Nya saja, wajah-Nya mirip seperti Nurvati, namun lebih cerah lagi dengan senyuman menawan.


Dapat Nurvati lihat kalau dirinya tengah berdiri di atas telapak tangan kanan-Nya, ini seperti mimpi, tetapi dengan kesadaran penuh.


Tepat di sisi punggung kanan sang Diri Asli, secara ajaib mendadak muncul sayap-sayap yang nampak terang benderang, pertama sayap kanan bernunansa merah benderang, lalu sayap itu ditimpa lagi oleh sayap yang agak besar bernuansa hijau benderang, kemudian muncul lagi sayap yang lebih besar menimpanya bernuansa hitam pekat dan terakhir sayap yang paling besar menimpa sayap sebelumnya bernuansa putih benderang.


Empat sayap kanan telah mengembang, menampilkan empat kegemilangan rahasia.


Tidak hanya itu, di sisi kiri punggung-Nya pun muncul tiga sayap terang benderang, pertama sayap kiri itu mengembang bernuansa pingai benderang, lalu sayap itu ditimpa lagi oleh sayap yang agak besar bernuansa biru benderang dan terakhir sayap yang lebih besar menimpa sayap sebelumnya bening tak berwarna laksana kaca.


Tiga sayap kiri pun telah mengembang, menampilkan tiga rahasia.


Belum sampai di situ saja, terjadi komunikasi batin antara Nurvati dengan Diri Asli.


“Nurvati, kamu belum sempurna mencapai-Ku ... saat ini kamu hanyalah baru bertemu dengan-Ku dan berkomunikasi dengan-Ku ... untuk sempurna mencapai-Ku banyak tugas penting yang mesti kamu kerjakan ....”


Nurvati tak bicara, mendengarnya, dia mengangguk paham.


“Untuk mencapai ilmu rahasia tiga sayap kiri-Ku ... mengenai roh, nyawa dan tubuh ... datangilah kota Ertia, di sana ada tiga pribadi yang terpengaruh oleh hawa Iblis ... carilah mereka serta sadarkan mereka, namun jangan sampai membunuh mereka.”


Selepas Nurvati mampu melihat Diri Asli-nya dan langsung mendapatkan tugas. Di malam itu Nurvati seketika tersadar kembali, terjaga kembali pada siklus hidupnya.


Hari ini sangat cerah, pagi yang membentang seolah memberikan harapan baru.


Beberapa warga nampak hilir mudik di udara. Syukurnya Marn dengan berbaik hati beberapa kali membelikan Nurvati sayap robotik baru dan kemungkinannya kalau sayapnya hancur lagi, Marn tanpa sungkan membelikannya lagi.


Nurvati sendiri tak pernah tahu keberadaan tiga orang yang terpengaruh hawa Iblis.


Dirinya sebisa mungkin terus mencari. Setiap meternya, setiap tempat, setiap pribadi, hingga setiap waktu yang habis pun dimanfaatkannya dalam pencarian.


Satu jam, dua jam, hingga tujuh jam yang dilalui belum menampilkan hasil baik.


Nurvati kini telah terbang di salah satu perumahan lain dan masih dalam pencarian penting.


Namun Nurvati mendapati sebuah hunian yang begitu mencurigakan. Adanya aura suram yang tak sengaja batinnya rasakan.


Dia mendapati seorang peri tengah bertengkar dengan tiga kawannya.


Bukannya semakin mereda, pertengkaran itu malah semakin lama kian menjadi.


Hingga entah mantra apa yang dirapalnya, wanita tersebut menembakkan gelumbung-gelembung kehitaman dari mulutnya. Dia mendadak menyerang tiga temannya.


Satu pribadi langsung terkapar tak berdaya dengan kepala yang tertutupi gelembung hitam.


Seorang pribadi lain terbang menghindar dan satu pribadi lainnya dibawa pergi dengan menggunakan pintu teleportasi oleh sang wanita.


Nurvati yang mulai tersadar kalau hal ini tidak beres, bergegas mendekati lelaki tersebut. Mencoba untuk membantunya.


Telah diketahui, bahwasanya sang wanita menyerang teman-temannya adalah demi memanggil entitas Iblis berkepala sepuluh. Tujuannya adalah demi membalaskan dendam pada kemiliteran kota Ertia yang telah membunuh adik sang wanita.


Nurvati dengan lelaki itu pun bergegas menjemput sang wanita. Mereka pergi dengan pintu teleportasi ke suatu tempat.


Bersama embusan angin dari Utara, setibanya Nurvati dan sang lelaki di tempat tujuan. Mereka telah disuguhkan langsung oleh sang wanita yang meminum darah temannya sendiri. Temannya tewas mengenaskan di rerumputan nunasa jingga.


Di hamparan rumput inilah, sempat terjadi lagi percekcokan antara sang wanita dengan lelaki temannya.


“Adikku dibunuh hanya gegara dia berkata perang dunia ini adalah aib bagi kemiliteran yang bobrok! Dan aku ... sebagai kakaknya akan menuntut keadilan dengan caraku sendiri!” sergah sang wanita dengan air mata yang menetes.


Dalam adu argumentasi itu pun pada dasarnya sang wanita telah melaporkan pada militer penegak hukum, namun sayangnya tak ada respons berarti dari pihak berwajib, malah pihak berwajib meminta 10 paket pil Energi demi penanganan kasusnya.


Oleh sebab itu, sang wanita yang telah larut dalam kekecewaan, berusaha sendiri menegakkan keadilannya.


Dia membutuhkan tiga nyawa orang-orang terkasihnya demi memanggil Iblis berkepala sepuluh. Baru dua orang yang berhasil ditumbalkan dan satu pribadi lagi tengah diincar.


Lelaki di samping kanan Nurvati inilah calon tumbal selanjutnya.


Maka gelembung-gelembung hitam tertembak kembali dari mulut sang wanita. Terarah tepat pada Nurvati dan sang lelaki.


'Syut' 'Syut' 'Syut'.


Otomatis ketegangan pun terbentuk dan pertarungan pada hamparan rerumputan jingga itu pun tak dapat terelakan lagi.