
Kembali direalitas saat ini, ketika segalanya telah ditampakan pada wanita yang termasuk beruntung itu. Nurvati sengap tertunduk termenung.
“Itulah hari kehancuran ...,” ungkap Malaikat Abriel dengan nada datar.
Wajah bercahaya Nurvati kembali menengadah, kebingungannya mendorongnya untuk bertanya, “Apa maksud dari hari kehancuran?”
Masih dengan tatapan tajam ke depan pada kehampaan, dalam mimik wajah tak berperasaan, tanpa tahu apakah senang atau tidak, Malaikat Abriel menjawab, “Jangan keliru dalam menginterpretasikannya ... hari kehancuran adalah ketika kejahatan terbiaskan oleh hasrat, ambisi, mimpi serta harapan yang lalu membentuk kesan kalau perbuatannya itu adalah indah dan mengagumkan ... dengan kata lain, hari kehancuran adalah ketika yang jahat terlihat indah dan segala yang baik terlihat salah ....”
Penjabaran eksplisit itu dicerna baik-baik oleh Nurvati, dua detik selepasnya, dirinya mengangguk-angguk mengiakan, tetapi belum terlalu memahami. Jelasnya; pikiran liar Nurvati menafsirkan hari kehancurkan sebagai kiamat.
Malaikat Abriel yang tahu kalau Nurvati malah menyimpulkan hari kehancuran dengan pikirannya sendiri, walau telah diberi tahu, Malaikat Abriel tetap diam, karena aturannya memang demikian.
Sehingga Nurvati yang menginterpretasikan hari kehancuran sebagai kiamat, kembali bertanya, “Apakah alam semesta akan kembali didaur ulang?”
“Nurvati ... aku hanya menyampaikan apa yang harus disampaikan ... dan jangan keliru dalam menginterpretasikan berita dariku,” balas Malaikat Abriel dengan santai tanpa mengoreksi kekeliruan interpretasi Nurvati.
Nurvati justru semakin penasaran dan penasaran itu kembali membentuk kalimat tanya, yang langsung diucapkan. “Kalau memang demikian ... kenapa kau dan malaikat lainnya tak menghentikannya? Bukankah kalian menguasai dimensi satu hingga dimensi sebelas?”
“Ketahuilah Nurvati ... ada beberapa hal yang begitu rumit untuk dijabarkan oleh bahasa kata-kata ... dan ketahuilah ... aku sebatas penyampai semata ... dan apa yang tadi terjadi adalah sebab akibat dari perbuatanmu sendiri ...,” balas Malaikat Abriel yang terdengar taksa.
Oleh sebab itulah, Nurvati sejenak tumungkul dalam renungan. Lalu tercetus sebuah harapan yang menggugah hati dan pikirannya, meredam sejenak rasa menyerah hingga menginding untuk meraih pencerahan. “Jika benar engkau Malaikat Abriel yang agung ... tunjukanlah wujud aslimu padaku ... agar sekiranya ... aku dapat meneguhkan lagi hati dan pikiranku ....”
Tetap tanpa senyuman, tanpa ekspresi, kecuali ekspresi datar. Malaikat Abriel berkata, “Sungguh, Nurvati, engkau adalah wanita yang paling beruntung di antara wanita-wanita lainnya ... jadi dengarlah ini baik-baik, dengarlah sedikit kegemilangan-Ku dengan hati terbuka dan pikiran yang terpusat ....”
Nurvati diam dalam segenap pikiran dan hatinya terpusat pada Malaikat Abriel, dengan wajah bercahayanya yang masih menengadahkan penuh harap.
“Aku tidak pernah turun ke alam semesta, sehingga apa yang kamu lihat hari ini adalah bagian daripada kecemerlangan-Ku saja, tak ada yang sanggup melihat wujud asli-Ku kecuali dengan mata keilahian, tentulah bila Aku turun dalam wujud asli-Ku ... seribu matahari akan padam cahayanya oleh cahaya-Ku dan alam semesta akan sirna ... sungguh ... baik di alam ras Manusia atau ras Jin atau ras lainnya ... Aku tidak pernah turun ke bumi, kecuali sedikit kecemerlangan-Ku ... oleh sebab itu ... jika engkau ingin melihat diri transenden-Ku maka engkau harus melihat dengan diri transendenmu ... Nurvati ... sekali lagi jangan keliru dalam menginterpretasikan apa yang aku sampaikan ...,” tutur Malaikat Abriel enggan menunjukkan diri transendentalnya.
Tentu Nurvati tidak puas, padahal dirinya mengira Malaikat Abriel akan menunjukkan diri transendennya, sehingga karena sedikit kekecewaan itu, dirinya kembali menuntut, “Lalu untuk apa engkau menunjukkan kejadian konyol tadi, sedangkan aku tidak dapat melihat diri transendenmu, bagaimana aku bisa meneguhkan hati kalau engkau memang menyampaikan kebenaran?”
“Semuanya kembali padamu ... aku datang tidak memintamu untuk menyelamatkan bangsamu, aku hanya menyampaikan saja dan selebihnya petunjuk ini hanyalah untukmu ...,” balas Malaikat Abriel tanpa menatap wajah Nurvati.
“Yaaa sudah ... biarkan saja bangsa ini hancur ... toh itu adalah masa depan bangsa ini, mereka yang menanam mereka yang menuai ...,” ketus Nurvati dengan bersedekap tangan dan kecewa.
Tak ada tanggapan apapun dari Malaikat Abriel, dirinya tetap berdiri tegap dengan pandangan lurus ke depan pada kekosongan.
Akan tetapi, karena adanya waktu yang berkutat, membuat Nurvati memikirkan sesuatu yang cukup penting, yang semoga saja Malaikat Abriel mau menjawabnya. Sehingga Nurvati kembali bertanya, “Kalau begitu ... apakah benar temanku Falas menjadi sesosok malaikat?”
Mendengar pertanyaan itu, Malaikat Abriel hanya menjawab, “Malaikat? Sesungguhnya malaikat itu suci dan murni, sehingga sudah jelas, itu hanyalah dimalaikatkan bukan menjadi malaikat ....”
“Lalu dimalaikatkan seperti apakah temanku, Falas?” tanya lagi Nurvati penasaran.
“Aku tidak boleh memberi tahunya ... karena itu termasuk perkara roh, sehingga cukup rumit bila dijabarkan ...,” balas Malaikat Abriel dengan nada datar, tetap dalam komitmen tanpa kompromi.
Nurvati mengangguk-angguk, namun pikiran liarnya kini malah memunculkan banyak pertanyaan, sehingga kembali lagi dirinya bertanya, “Malaikat Abriel, siapakah para Pencipta itu, apakah mereka malaikat juga? Apakah setelah aku mati akan menghilang? Dan apakah benar alam Neraka itu ada?”
Mendengar cecaran pertanyaan dari wanita yang jiwanya belum matang itu, Malaikat Abriel hanya menjawab, “Pertama ... segalanya terbentuk oleh keyakinan, tekad, perbuatan dan ilmu, jadi untuk masalah itu, aku tidak boleh menjawabnya dengan bahasa kata-kata ... artinya, kamu harus mencari jawabannya dengan pengalamanmu sendiri ... dan terakhir ... hati-hati dalam menginterpretasikan beritaku ini ....”
Mendengarnya, justru ribuan pertanyaan bergumul dalam pikiran Nurvati, hingga waktu yang terus memacu pikirannya, membuatnya kembali bertanya, “Lalu ... bagaimana caranya agar aku dapat mengalaminya?"
Pertanyaan yang cukup berat, terlalu berat bila diucapkan apalagi oleh seorang wanita seperti Nurvati yang memiliki pikiran liar, maka Malaikat Abriel hanya membalas, “Jika aku jawab, akan muncul banyak pertanyaan lagi ... oleh sebab itu, tidaklah seseorang yang berhasil mengenal Kami, kecuali dirinya sendiri telah dikenali ....”
Jawaban itu malah mengarah pada konklusi lain, seakan Nurvati digiring untuk menimba ilmu Pengenal Diri.
“Maksudmu aku harus menguasai ilmu Pengenal Diri ...? Hmmmm ... dengar-dengar ilmu itu cukup berbahaya ... dan ... bukankah ilmu itu sangat tidak dianjurkan, bagaimana kalau ujungnya aku berakhir seperti Ketua Razael?” heran Nurvati agak was-was.
Dengan tetap menampilkan sikap tegas, tanpa kompromi, tanpa ada raut muka semringah atau senyuman, Malaikat Abriel berujar, "Identitas diri kita harus dikuak, agar sekiranya, kita bisa mendapatkan jawaban yang tak dapat dijawab oleh bahasa kata-kata ... seperti diawal ... jika engkau ingin melihat diri transendenku maka engkau pun harus dalam wujud transenden ...."
“... dengarkan ini ... Kami telah memberikan anugrah pada seorang pria dikalanganmu sendiri ... mintalah bantuan kepadanya ... sedikit ilmu dari Kami telah dianugrahkan padanya ...,” beber Malaikat Abriel.
”Siapakah pria itu?“ tanya Nurvati memastikan.
”Yang mengajarkanmu untuk menjadi Malaikat,“ jawab Malaikat Abriel malah terdengar samar dan ambigu.
Tak menjawab, Malaikat Abriel hanya mengangguk sebagai isyarat mengiakan.
Nurvati agak kaget mendengarnya, bukannya apa-apa dirinya agak ragu pada Ketua Hamenka. Nurvati tak sudi juga dibimbing oleh laki-laki itu. Pria dewasa yang tak dapat memahaminya, lelaki dewasa yang sempat berseteru dengannya. Jadi, agaknya tidak mungkin Nurvati berguru padanya. Dan lagi pula, untuk apa juga berguru padanya kalau hanya untuk sebatas mendapat pengalaman baru.
”Waktuku telah tiba ... aku pamit ...,“ ujar Malaikat Abriel yang perlahan memudar.
Nurvati memandangi kepergian Malaikat Abriel, bahkan dalam pudarnya itu, Malaikat Abriel tak sedikit pun tersenyum atau menatap Nurvati, tidak sama sekali!
Dia —Malaikat Abriel— memudar seolah ditelan kenyataan, hilang tak berbekas seakan tak pernah ada di sana. Entah hilang ke mana, namun kini hanya tinggal Nurvati serta seekor angsa yang tinggal di tempat ini. Meninggalkan Nurvati dalam kemelut pertanyaan-pertanyaannya sendiri.
Bukannya mendapat jawaban, Nurvati malah memikul beban tanya.
_______________________________________________
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
✅Demi mendukung /menghargai kinerja Author, cukup memberikan Like/Vote poin/koin.
(Bila ada kritik/kesan enggak perlu sungkan untuk menuliskannya dalam kolom komentar. Terima kasih.)