
Aura kematian tetap melingkupi suasana, Logia terpaksa harus terbaring tak berdaya dengan memegang bahu kanannya, bergigit kesakitan malah semakin tersiksa.
Kembali terbang Haro menuju siluman raksasa, impiannya itu seakan menerangi jalan kehidupannya, seperti memberi arti hidup yang lebih bermakna, memikat angannya lebih indah lagi.
Ketika kembali tiba, siluman raksasa itu kembali didera kepalanya, 'Ceter' dan 'Ceter'.
“GHWAAAAAH ...!”
Telah begitu menderita siluman itu, tujuannya nampak telah buntu, dilihat secara situasi, siluman itu telah terpojok; kalah.
“A-ampun ... ampun ... a-aku mengaku kalah,” ungkap siluman raksasa dengan suaranya yang serak dan menyerah telah tak berdaya.
Meski pada akhirnya siluman raksasa itu mengaku kalah, tapi tak sedikit pun Haro berhenti. 'Ceter' 'Ceter' 'Ceter' cambuk terus mendera kepala siluman raksasa itu, memaksanya harus menikmati siksa yang dahsyat itu, kebutaannya mulai menakutkan, cambuknya mulai mengerikan dan jiwanya terasa buta permanen.
“Ampun ... ampun ... ampun,” rengek siluman raksasa yang telah benar-benar tak berdaya lagi.
'Ceter' 'Ceter' 'Ceter' masa bodoh dengan rengekan siluman raksasa itu, cemeti telunjuk Haro terus mencambuk kepala siluman itu.
Putri Kerisia melihat ini sudah cukup, walau tidak terdengar rengekan siluman tetapi melihat kondisi takutnya menjadi makin buruk, sehingga dia mengepak sayap terbang menghampiri Haro. Diikuti oleh Arkta yang agak terkejut karena tanpa aba-aba.
Terbaring pasrah Logia, menikmati udara yang keluar masuk hidungnya dalam kehampaan yang terasa menyakitkan, sulit rasanya untuk bangkit berdiri, dia butuh waktu.
“Ketua, bagaimana caranya menghentikan Haro?” tanya Arkta dengan serius terbang di belakang Putri Kerisia.
“Itu menjadi urusanku, kau bantu Logia saja,” jawab Putri Kerisia dengan tegas nan santai.
Maka tanpa ada kata-kata lagi Arkta berbelok ke kanan, menuju lokasi Logia sementara Putri Kerisia terbang menuju Haro di depan.
'Ceter' 'Ceter' 'Ceter' suara cambukan masih mengisi suasana tegang dengan diiringi rengekan memohon ampun dari siluman raksasa, tapi tak diacuhkan oleh Haro, aura kematian serta impiannya masih mengalun mesra di jiwanya, membuatnya terlena untuk membuat siluman itu tersiksa tiada henti.
5 meter dari samping kirinya, Putri Kerisia telah tiba, terbang dengan raut muka datarnya, seraya berseru, “Haro, cukup ... sudah cukup.”
'Ceter' 'Ceter' siluman raksasa terus didera, seakan Haro tak mendengar perintah dari ketua timnya.
“Ampuuuuuun ... aku, aku mengaku kalah ... ampun ...,” rengek siluman raksasa dengan terus menangis darah.
“Aku Putri Kerisia ... ketua tim duabelas, keturunan para raja, memintamu untuk berhenti! Berhenti sekarang juga!” titah Putri Kerisia bahkan dengan menegaskan status sosialnya.
Syukurnya, mendengar nama serta suara Putri Kerisia, Haro mulai menoleh pada Putri Kerisia memandangnya, demi memastikan kebenaran pengakuan itu.
Netra hitam nan berdarah Haro, sempat memandang diri Putri Kerisia beberapa detik. Putri Kerisia pun memandang Haro dalam raut muka datarnya, melayang di ketinggian 50 meteran sejajar dengan Haro.
Hanya butuh waktu 5 detik sebelum akhirnya, api Pingai di kepala Haro berubah warna menjadi putih, lengkap bersama dua sayap putihnya yang memudar seperti debu yang tertiup angin. Dan butuh waktu 3 detik sebelum akhirnya api putih pada kepala Haro berubah menjadi rambut hitam pendeknya.
Perlahan namun pasti, tubuh Malaikat Satu mulai memudar, sekujur tubuh Haro mulai kembali sedia kala.
Arkta telah berada di samping kiri Logia berlutut dengan satu lutut memandang serius padanya.
“Payah ...,” umpat Logia dengan berusaha membangkitkan tubuh dari terbaring, tetapi dirinya duduk berselonjor dengan menanggung sakit dalam tubuhnya. Sampai-sampai tangan kanannya memegang kepalanya seolah takut pecah.
Melihat Haro telah kembali pada wujudnya, atau dengan kata lain, melihat Putri Kerisia berhasil dengan mudah menyadarkan Haro, Arkta pun berkomentar, “Ketua tim berhasil menyadarkan Haro.”
Komentar itu membuat Logia ikut mengalihkan pandangan pada posisi Haro. Dirinya sudah mampu mendengar kembali. Membuatnya mendeprok di tanah dengan kernyit kening keseriusan, dan dalam kecemburuan sosial, dalam hatinya berujar, “Huh ... si ketua payah itu, seakan-akan ingin aku tersiksa, dia sangat licik mengorbankan teman-temannya sendiri.”
Perkataan itu bukan hanya karena kecemburuan sosial menjadi alasannya, pasalnya kerja keras Logia yang sampai mengorbankan darah malah terkesan menjadi buang-buang waktu untuk kerugian, sedangkan di sisi lain, hanya dengan perintah, Putri Kerisia begitu mudah menyadarkan Haro. Jelas itu membentuk praduga kalau dirinya seolah tak dihormati. Begitu pikir Logia.
Telah kembali bersih wujud Haro, dirinya kini terbang di samping kanan Putri Kerisia dengan menghadap serius pada siluman raksasa itu.
Terlebih, mantra Kesehatan telah dirapal Logia, membuatnya kembali sembuh sedia kala, darah di telinganya telah sirna dan kini dirinya terbang bersama Arkta menghampiri dua rekan lainnya.
“Gah ....” Siluman kini duduk bersila menghadap para Peri yang melayang di depannya. Dirinya kalah dan tak mungkin juga melawan mereka yang mampu menggunakan sihir terlarang. Wujudnya pun telah kembali tanpa ada darah yang mengucur.
“Apa tujuanmu menyerang kami?” selidik Putri Kerisia.
Bersama penyelidikan itu, Arkta telah berada di samping kiri Putri Kerisia bersama Logia yang terbang di samping kiri Arkta.
Tumungkul sang siluman raksasa itu, agak malas juga membicarakan tujuannya. Namun lima detik berselang, mau tidak mau dirinya menjawab, “Aku penghuni tempat ini, sudah ribuan tahun aku mendiami tempat ini, akulah penguasa di sini ... aku memang sedang mencari mangsa untuk menghilangkan laparku, jika aku tak memakan makhluk bernyawa umurku di alam ini akan habis.”
Putri Kerisia hanya terdiam menerima pengakuan itu sebagai fakta. Tapi Logia malah nyeloteh, “Siluman bodoh! Kau membuang-buang waktu kami yang berharga dan setelah kalah kau ... kau ... argh ... sialan kau!”
Semua terdiam dengan suasana yang kembali damai dan agak hangat.
Siluman raksasa tetap tumungkul. Dirinya telah pasrah.
Tak ada lagi yang dapat dilakukan saat ini, kecuali melanjutkan pencarian. Hanya saja sekalian mencari jejak, Arkta sempat melayangkan tanya pada siluman raksasa itu.
“He, siluman, apa kau tahu di mana seorang klan Ifret di sekitar sini?”
Mula-mula siluman raksasa itu membisu seperti memikirkan segala waktu hidupnya di sini, setelah dirasa pikirannya telah buntu, lantas dia menjawab, “Ya, aku sempat bertarung dengannya ... dia sangat kuat dan hebat ... aku sempat melihat kepergiannya ... kalau tidak salah dia pergi ke arah gunung berapi ... iya, dia ke sana ... hanya itu yang aku tahu.”
Mendengar itu, tim 12 sempat berunding sejenak, akan keputusan apa yang paling tepat untuk tindakan selanjutnya.
30 detik setelah perundingan, keputusan telah disepakati, tak ada luka yang parah menjerat mereka, tak ada juga yang lapar, sehingga mereka akan langsung pergi menuju gunung berapi.
“Ayo ... kita lanjutkan perjuangan kita!” kata Arkta dengan begitu bersemangat.
Hanya Arkta yang sempat berpamitan pada siluman raksasa itu, sedangkan lainnya masa bodoh. Meninggalkan siluman raksasa dalam kesendiriannya.
Kemudian berangkatlah mereka —tim 12— menuju arah gunung berapi yang misterius nan menjulang tinggi, kembali melanjutkan perjalanan mereka, melanjutkan ujian ini demi kelulusan.