Nurvati

Nurvati
Episode 79: Praduga Menentang Kenyataan.



Masih dalam langit luas yang violet berhiaskan bintang-bintang lengkap dengan tiga planet merah muda serta udara yang hangat. Tempat ini memang agak gelap, namun karena adanya kilauan dari kulit senantan mereka —tim 12— itu memberikan sedikit penerangan.


Tim 12 tengah terbang dalam pandangan penuh waspada pada hamparan bebatuan, mereka terbang sejajar bersama kepakan sayap seiring berlalunya jarak.


Terus melepaskan kepakan demi kepakan dan jarak dari tenda semakin jauh, belum terlihat tanda-tanda kehidupan jin klan Ifret itu, namun untuk saat ini mereka masih dalam sengap tanpa adanya embel-embel keluhan karena tak adanya target.


Ketika waktu yang lama menimbulkan kejenuhan, seorang dari mereka tiba-tiba nyeletuk, “Eh ... maaf teman-teman, kita ini mau ke mana?”


Tentu saja Haro bertanya, 'lupanya' kumat lagi.


“KITA INI LAGI UJIAN DASAR PAYAH! GEGARA KAU KITA TAK SEKALI PUN MENDAPAT NILAI BAGUS!” sergah Logia yang malah dalam mengingatkan Haro sampai membentak dan mengungkit-ungkit kegagalan tahap sebelumnya.


Tapi dalam raut muka santai dengan mengangguk-angguk tanpa merasa bersalah, Haro hanya berkata, “Oooh.”


Logia hanya berdecak kesal melihat sikap apatis rekan-rekannya, dia yang terbang di samping kiri Putri Kerisia malah mengerling untuk sejenak mengintip diri Putri Kerisia, dan dalam kecemuburuan sosial, dalam sinis, dalam batin bergumam. “Huh ... si wanita bodoh ini ... sebagai ketua tim sama sekali tak berguna.”


Sikap dingin dan kalem memang kali ini lebih menonjol pada sikap Putri Kerisia, mengingat biasanya selalu ada senyum yang menghias wajahnya dan ketika semua hilang dari ekspektasi, Logia semakin tedas mengikhtisarkan kalau-kalau Putri Kerisia sangat bongak.


Kendati tim 12 memang agak bermasalah, kebersamaan mereka tetap terjalin, sejak berada di akademi pun mereka akan selalu bersama, seperti bersahabat padahal nyatanya itu hanya formalitas.


Entah sudah berapa waktu yang habis untuk mencari ras Syin itu, jin klan Ifret yang dicari sepertinya bukanlah kalangan dari sembarang orang. Pasalnya klan mereka termasuk klan terkuat dari ras Syin, apalagi berhubung saat ini ujian kelulusan, akan sangat memungkinkan kalau yang segera dihadapi tim penyihir adalah kalangan terkuat.


Putri Kerisia dalam hal ini tak begitu waswas dalam ujian, baik nanti mau pun sekarang, kelulusan tak begitu penting, atau bisa dikatakan, saat ini dia hanya tengah 'mencari muka'.


Pemandangan pada hamparan bebatuan kini telah beralih menjadi tanah nuansa hitam dengan kilauan emas, wilayah kali ini berbeda dari wilayah sebelumnya, di sini oksigen sangat tipis dan tingkat gravitasi sangat rendah, sedangkan jauh dalam radius satu kilometer, telah dipertunjukan akan gunung berapi dengan asap hitam yang seolah membentuk awan hendak menghalangi keindahan langit luar angkasa. Dalam wilayah ini hanya tim 12 yang eksistensinya kentara.


Sempat bertanya Arkta pada Putri Kerisia, akan ke mana sang putri mengomando rekan-rekannya.


“Aku punya firasat, kalau mereka di area panas,” jawab Putri Kerisia dengan singkat dan tetap menampilkan raut muka datar.


“Wah ... kau memang punya bakat ya, Putri Kerisia,” sanjung Arkta yang terbang di samping kanan Putri Kerisia yang mana ucapannya memang mengandung untuk menyenangkan hati Putri Kerisia.


“Loh ... kok malah firasat sih ... harusnya kita pakai data atau kemampuan melacak,” sindir Logia yang memang protes karena tak suka saja pada Putri Kerisia.


Bukannya Putri Kerisia yang membalas, alih-alih Arkta yang malah membalas, “Seharusnya kau bersyukur, karena kita dipimpin oleh seorang putri kerajaan bukannya malah nyinyir.”


Nyatanya kalimat itu mampu membuat Logia meradang kesal dan menyahut, “TIDAK ADA HUBUNGANNYA SAMA KASTA DASAR PAYAH! KITA DI SINI SEDANG MENENTUKAN MASA DEPAN!”


Lagi-lagi teriakan gemas dari Logia menghiasi kebersamaan tim 12 ini, dan tiba-tiba bersama ocehan Arkta yang membela diri, Putri Kerisia mendadak memberikan perintahnya untuk menghentikan perjalanan.


“Berhenti semuanya!”


Serempak tim 12 terhenti dalam kernyit kebingungan, melayang di atas tanah setinggi 100 meteran.


“Loh ... ada apa, putri?” heran Arkta hingga menatap wajah mulus Putri Kerisia.


“GWAAAAAAAHHH ....”


Seekor siluman raksasa berkepala singa mencuat dari dalam tanah, meraung dalam suasana sunyi yang mulai menimbulkan hawa ketegangan.


“Sialan! Kita mencari Ifret yang muncul malah siluman!” umpat Arkta dengan berbuntang pada sang siluman raksasa mengeluhkan nasib.


Siluman raksasa itu memiliki tinggi 20 meter badan berotot dengan bulu-bulu lebat yang menyelimuti sekujur tubuhnya.


Tanpa basa-basi tanpa tahu tujuannya apa, dari netra hitam legam sang siluman raksasa berkepala singa itu menembakkan sinar-sinar energi yang melesat cepat, beberapa sinar hitam menuju tim 12.


'Buufs' 'Buufs' 'Buufs' suara tepisan yang berhasil dilakukan Arkta, Logia, Haro serta Putri Kerisia. Tapi sekejap mata siluman itu melompat menerjang angin, melompat setinggi 100 meteran, gravitasi di sini rendah sehingga bila melompat mampu jauh lebih tinggi, ia —siluman— mengarahkan tinjuan tangan kanannya yang rupanya berhasil mengenai Arkta, 'Buk' terpukul dengan terhempas ke langit, jauh terlempar.


Tetapi secara bersamaan, siluman itu juga memutar tubuh di udara dengan membuat tendangan dari kaki kanannya, yang hebatnya berhasil mengenai langsung Putri Kerisia, Haro serta Logia.


Mereka bertiga serempak terlempar sejauh 120 meter lantas meluncur ke tanah.


Tanah berdebam gegara mereka jatuh melesak pada tanah, membentuk kepulan menutupi ruang di sekitarnya.


Dan sedetik kemudian, tanah kembali berdebam sekaligus bergetar kala siluman raksasa itu mendarat sempurna di darat, menyisakan jarak 19 meteran dari jatuhnya Logia.


Belum puas dan bahkan belum siap-siap Haro, Logia dan Putri Kerisia di sana.


Sang siluman menembakkan laser hijau dari mulutnya, menghanguskan tanah yang mengenai laser hijau tersebut, berjuang membinasakan tiga anggota tim 12, namun ketika laser hampir mengenai Logia, secara mendadak, suara tanah berdebam dengan kepulannya dan retakannya menjadi tanda kalau siluman raksasa itu telah tumbang ke tanah dengan laser yang terpaksa hilang.


Arkta dengan cepat berhasil menendang kepala sang siluman tanpa dapat diterka.


“GWAH ...!”


Dan bersama panggilan khawatirnya, Arkta menghampiri rekan-rekannya. “Teman-teman!”


Di sana Haro, Logia serta Putri Kerisia mulai bangkit, namun sayap mereka patah semua. Dan suara debam tanah membuktikan kalau sang siluman raksasa belum kalah, dia kembali bangkit berdiri.


Arkta mendarat dengan resah di depan teman-temannya yang kini mereka tengah merapal mantra Kesehatan demi menyembuhkan diri.


'ZRASSSSH' suara laser dari mulut raksasa kembali menghanguskan tanah, mengarah untuk membunuh Arkta.


Logia melihat bahaya itu, dia melesat cepat mendekap Arkta dengan melemparkan diri menghindari laser mematikan itu.


Penggunaan laser dari siluman tersebut sangat lamban, dan terlihat berat namun, cukup mematikan, itu terlihat dari tanah yang terkena laser tersebut hingga merah lalu menghitam berasap seperti arang.


Laser tertuju pada Putri Kerisia hingga tepat mengenainya!


Namun syukurnya dia masih mampu menggunakan perisai pelindung nuansa merah seperti cangkang telur yang melindungi seluruh anggota tubuhnya. Tetapi laser itu tak menghilang atau berpindah barang sekejap saja, terus dan terus menyorot Putri Kerisia. Sebisa mungkin membunuh Putri Kerisia.