Nurvati

Nurvati
Episode 92: Kepahlawan Yang Berarti Dalam Kehidupan.



Ambisi dan impian telah membantu jiwa mereka untuk berkembang hingga di titik ini, harapan agar warga kota menganggap mereka pahlawan senantiasa mengiringi kebersamaan mereka, seolah-olah menjadi arti hidup yang paling bermakna.


Ketika itu, Nerta terus terbang bersama kawan-kawannya, canda tawa menyertai perjalanan mereka, terlebih imbalan permen Kembangapi mau tidak mau harus Nerta berikan pada keempat temannya. Mereka semua berhasil menyentuh sayapnya.


Walau awal niatnya permen hanya untuk Arista semata, terpaksa beban memberikan pada empat temannya menjadi utang Nerta, yang berjanji akan diberikan permen itu kalau sudah pulang ke bangsa Barat.


Telah cukup jauh mereka meninggalkan bangsa Barat, bahkan kini mereka telah berada di wilayah netral. Udara sangat segar dengan pemandangan rimbunnya pepohonan warna-warni, kadang juga melewati perbukitan nuansa jingga, semua begitu asri.


Hingga pada akhirnya, tepat di saat petang, kala langit oranye nan indah membentang dengan sedikit gumpalan awan seputih kapas disertai gemerisik dedaunan pohon yang bertabrakan.


Nerta serta keempat temannya telah tiba tepat di depan hutan Kematian, lengkap dengan pohon-pohon setinggi 100 meter lebih yang seolah hendak menggapai langit, aura suram, hawa kelam dan aroma bangkai, begitu pekat menyambut kedatangan mereka.


Hutan yang seakan menunjukkan kalau di sini eksistensi jalan kematian sangat digandrungi, hutan yang luas, yang dari ujung Utara hingga ke ujung Selatan berderet pohon-pohon nuansa abu-abu nan besar, akar-akar kokohnya seperti berlumut bernuansa kuning lemon, kegelapan nan misterius nampak kentara menyelimuti seluruh batang pohon, tanahnya pun nampak begitu hitam tanpa tersorot sinar baskara.


Sedangkan di depan hutan Kematian adalah hamparan rerumputan nuansa kuning yang dikelilingi bukit-bukit.


“Waaaaaah ... ayo kita lanjutkan ...,” ungkap Arista dengan mulut menganga terkesima.


Di langkah setengahnya harus tertahan gegara tangan kanan Nerta yang menggenggam tangan kirinya seraya berujar, “Tunggu, jangan gegabah, Arista.”


Konyolnya Arista mematung dengan menoleh ke kiri memandang Nerta. Benar-benar mematung melongo.


Seorang anak laki-laki berambut merah tengah membelakangi hutan, berdiri dengan berkacak pinggang memandang serius pada langit jingga.


“Hari akan malam, apakah kita harus menunggu di sini sampai pagi datang, atau bagaimana?” tanyanya memastikan.


Seorang anak perempuan berambut pingai panjang tengah duduk di atas akar pohon, dengan berujar, “Kita tak bisa istirahat hanya karena kegelapan malam ... bagaimana nasibnya anak-anak yang diculik itu?”


Sebuah pernyataan yang nyatanya membuka pemikiran teman-temannya yang memang itu benar juga.


“Hem, itu benar, kita tak mungkin membuang waktu ...,” timpal anak laki-laki berambut hitam panjang yang bertelanjang dada hanya mengenakan celana panjang nuansa hitam, dan setuju atas pernyataan Quin.


Mendengar itu semua anak nampak setuju, karena beristirahat di sini sama saja membuang waktu.


Keputusan diambil, melanjutkan perjalanan adalah ketetapannya. Iya, mereka mulai lekas untuk masuk ke hutan belantara nan misterius ini; hutan Kematian.


Sikap patung Arista lenyap dan melangkah mengikuti teman-temannya.


Bersama langit petang yang oranye, mereka menerjang aura kelam menelusuri hutan Kematian. Tak ada ketakutan, tak ada yang mengeluh, dilakukan demi menyelamatkan dalam bersenang-senang.


Mereka terbang di ketinggian 50 meteran, terbang pelan dengan celingak-celinguk penuh waspada. Mereka mencari markas siluman penculik anak-anak.


Menurut informasi terpercaya, yang didapat dari anak perempuan berambut pingai alias Quin, kebanyakan siluman yang menculik anak-anak di provinsi Barat berasal dari hutan Kematian, para penegak hukum terlalu repot mengurus perang sehingga mengurus anak-anak yang diculik terkadang diserahkan kembali pada orang tua masing-masing. Info ini didapat dari ayah Qiun yang memang ayahnya seorang inspektur dalam penegak hukum.


Perlu digaris bawahi, disetiap pusat kota, telah dipampang sebuah pengumuman, tetapi bisa dikatakan juga sebagai, sayembara: bagi para pendekar, petualang, atau bagi siapa pun yang berhasil menangkap para siluman penculik atau membawa kembali anak-anak yang diculik, akan disediakan hadiah besar, berupa makanan melimpah selama 1000 tahun, serta dinobatkan pahlawan kota dan bila menangkap banyak siluman membawa pulang anak-anak, patung sebagai pahlawan akan menjadi bonus hadiahnya.


Maka pikiran ke lima anak itu malambung tinggi dalam angan pujian serta hadiah makanan, terutama gelar pahlawan kota yang menjadikan itu sebagai misi kehidupan mereka, lebih dari itu, gelar pahlawan kota seketika langsung menjadi arti hidup bagi mereka. Prioritas utama dalam segala keinginan.


Tanpa memberi tahu tujuan mereka pergi ke hutan Kematian pada orang tua mereka, mereka yakin kalau hanya mengandalkan kemampuan Cahaya yang diajarkan di sekolah mampu mengalahkan para siluman, atau setidaknya menyelamatkan anak-anak itu.


Tekad, strategi, serta kesiapan fisik telah dipersiapkan matang-matang, saat ini tak ada alasan bagus untuk kembali. Pahlawan dan pahlawan hanya dua kata itu yang mengalun mesra dalam setiap napas mereka.


Kegelapan masih pekat menyelimuti bahkan semakin pekat seiring waktu terlewati. Untungnya mereka ras Peri, kulit senantan mereka yang bersih sedikit memancarkan kilauannya, dan itu sedikit menyingkap kegelapan.


Jadi tak ada yang mampu para Peri sembunyi dalam kegelapan, kecuali dengan sihir atau bantuan sosok dari kegelapan.


Aroma bangkai yang menusuk dalam hidung nampak tak dihiraukan mereka, aura kelam keputusasaan pun nampak tak memengaruhi mereka; belum.


Terbang masih dilakukan, dan Nerta tepat berada di depan rekan-rekannya, menuntun menuju arah yang diyakini sebagai markas para siluman, bisa juga dikatakan, mereka masuk lebih dalam ke dalam hutan, ke arah Timur.


Sekumpulan kelelawar sempat menghiasi kelamnya kegelapan hutan ini, membuat ke lima anak berkomentar, namun karena tak ada hal yang menarik, mereka kembali melanjutkan perjalanan.


Suara burung hantu, hingga suara-suara aneh nan misterius sering kali menyertai perjalanan mereka. Dan lagi, dari suara hewan yang dikenal hingga suara aneh agak menakutkan itu juga mengisi kemisteriusan hutan.


Tetapi demikian, ke lima anak-anak itu nampak tak ada yang takut, mereka begitu asyik menikmati pencarian.


Bersama waktu berputar, hutan kelam ini mulai memunculkan kabut putih yang semakin menyekat pemandangan. Sudah terlalu gelap, sampai-sampai ke dua netra mereka harus memancarkan cahaya terang, yang mana berfungsi sebagai senter, ini termasuk ilmu Cahaya dalam sekolah.


Jangkauan cahayanya tak begitu jauh, hanya sekitar 5 meteran dan terpaksa harus bergerak pelan-pelan agar tak menabrak batang pohon.


Langit oranye telah beralih menjadi langit hitam dengan semburat kebiruan yang bertabur bintang-bintang. Udara mulai dingin, mulai lebih gelap, mulai lebih mencekam.


Sejauh ini belum ada tanda-tanda keberadaan siluman, bahkan suara-suara aneh semakin banyak terdengar.


Maka Quin yang merasa cara ini tak efisien, mulai berkata, “Teman-teman, sepertinya terbang tidak akan berhasil ... bagaimana kalau kita coba jalan kaki ....”


Kembali lagi pernyataan yang cukup mencerahkan anak-anak lainnya, sehingga beberapa anak mengungkapkan persetujuannya.


“Ya sudah ... ayo semuanya, kita turun dan jalan kaki saja ... hacim,” ajak Nerta dengan memberikan arahan pada teman-temannya.


Serentak mereka pun mulai terbang lebih rendah, lantas mendaratkan kaki di tanah kering, hitam nan gelap.


-----------------------------------------------------------------------------


*


✅Untuk mendukung /menghargai kinerja Author, cukup memberikan Like/Vote poin/koin.


(Bila ada kritik/kesan tak perlu sungkan untuk menuliskannya dalam kolom komentar.)