Nurvati

Nurvati
Episode 135: Memadamkan Tingginya Langit Senja.



Beberapa hal saat bersama-sama mengembalikan memori yang sempat terkesampingkan, meski semuanya tak sama tetapi cukup berarti pada hari ini. Arenda memahami itu baik-baik, sedangkan Apan hadir demi satu tujuan penting.


Kini mereka berdua telah berada di tempat makan, di sebuah perumahan, tempat makan yang menghadirkan pemandangan matahari terbenam. Mereka duduk di awan nuansa putih dalam ketinggian 130 meter.


Tak hanya mereka, beberapa pengunjung tempat makan ini pun didapati duduk pula di atas awan menikmati hari yang mulai senja.


Awan-awan khusus di tempat ini terbang dengan ketingian yang beragam, dari hanya 5 meter hingga 1000 meter dari permukaan tanah. Para pelayan akan datang dari sebuah bangunan berbentuk bola dari berlian, di bangunan itulah para juru masak atau kasir berada.


Di arah Barat adalah hutan yang memiliki dedaunan dari bermacam warna serta pegunungan yang terpancang kokoh di sana. Cakrawala mulai terlihat agak jingga tanpa ada awan yang menghias, namun titik-titik bintang nampak bias berkelip.


Apan serta Arenda duduk saling bersebelahan, di antara mereka telah tersaji dua kaleng air Energi. Duduk menghadap pada Barat yang segera akan mempertunjukkan semburat senjanya.


Penampilan Arenda berbeda, ia menutupi dirinya dengan jubah nuansa putih, guna tak ada warga yang mengenalinya.


Waktu terenggut oleh diam mereka, membiarkan damai menginvasi suasana, perasaan yang dimiliki mereka mengalun halus karena memandang pemandangan yang sedari kecil mereka sering singgah ke tempat ini. Dan sekarang seperti terulang dalam kenyataan, walau tidak sama persis, mereka tetap bersyukur untuk persembahan kenyataan ini.


Atau ketika visual kenangan menjadi eksis dalam kepala Arenda, dia memulai pembicaraan, mengiri kedamaian yang tersuguhkan, buka suara, “Aku jadi ingat ... dulu kau sangat suka bercerita sebelum matahari terbenam ... begitu seru dan mengasyikan ....”


Ucapan itu mulanya mengisi realitas untuk sesaat, Apan tersenyum tenang dan memang cerita Arenda adalah fakta. Hingga Apan berkomentar lewat tenggilingnya. “Iya ... masa kecil yang sangat mengasyikan.”


Wajah Arenda dihiasi senyuman yang menyiratkan senang dan syukur, tatapannya nampak jauh menerawang, seperti ditarik kembali untuk bercerita perihal masa lampau. “Kalau tidak bercerita ... biasanya kita lomba terbang dari sini ke sebuah pohon ....”


Apan diam mendengar sungguh-sungguh penuturan Arenda.


“... tapi, pohon untuk lomba itu sudah tidak ada ...,” imbuh Arenda dengan memandang jauh pada beberapa pohon di bawah, mengungkapkan fakta.


“Iya ... semua sudah berubah ...,” respons Apan lewat tenggilingnya tetap santai.


Dan diam kembali mengisi suasana, mereka berdua tak begitu banyak bicara. Mereka menikmati momentum ini dalam rasa syukur yang dalam, sangat senang bisa sejenak duduk berdua lagi.


Sekitar 2 menit sengap mereka lakukan, hingga Arenda kembali buka suara, “Apan ... apakah kamu punya cerita lagi, mungkin tentang pengalamanmu selama menjadi penyihir?”


Kalimat permintaan itu mulanya ditanggapi tanpa senyuman, mulanya Apan serius. Hingga sang tenggilingnya bicara, “Ahk ... aku hanya selalu mendapat misi yang menyenangkan ... seperti membantu juru masak atau ... membantu di perbatasan dalam menjaga wilayah dari siluman ....”


Penuturan yang singkat, tak begitu eksplisit hanya benar-benar terlalu taksa, membuat Arenda menoleh ke kiri pada Apan demi memandang wajah karismatiknya.


“Jadi, itu cukup menyenangkan, ya ...?” tanya Arenda memastikan.


Bibir tipis Apan mengembangkan senyuman penuh syukur dengan netra cokelatnya yang menerawang pada kaki langit, lantas dia berujar, “Iya ... bukankah tak ada yang lebih menyenangkan ketimbang menjalankan kewajiban ....”


Perkataan yang tak diekspektasikan oleh Arenda, perkataan yang secara tersirat telah menyatakan Apan berubah, membuatnya memasang muka merenung dengan manggut-manggut.


Derasnya hidup memang telah mampu memadamkan segala mimpi yang tinggi. Begitu pikir Arenda.


“Apan ... sekarang kau tampak berbeda ... kau tidak lagi membanggakan impianmu seperti dulu ...,” ucap Arenda yang berani mengomentari sikap baru Apan. Dan kembali memandang kaki langit.


Ada momen kala Apan memasang raut muka renungan, dan akhirnya tenggilingnya berkata, “Iya ... kita bukan anak-anak lagi ... impianku dulu karena aku masih anak-anak ... tapi, itu tak salah juga ... karena impian itulah yang telah membentukku yang sekarang ....”


Pengakuan yang membuat Arenda hanya mengangguk-angguk dalam raut muka renungan. Memang ada benarnya juga ucapan Apan.


Arenda hanya tak tahu apa yang telah terjadi pada perasaannya. Dia senang bersua lagi pada Apan, namun semua tak sama lagi, dan perasaan itulah yang membuatnya merasa seperti ada yang hilang.


“Sekarang kau tinggal di mana?” tanya Arenda penasaran dan sepertinya memang perlu tahu tempat tinggalnya.


“Masih di rumah kakekku ... tetapi begitulah ... aku harus selalu berada di mes setiap hari ...,” jawab Apan lewat tenggilingnya dengan muka santai tanpa ada senyuman.


“Jadi ... berapa lama kau cuti? Apa aku boleh berkunjung ke tempatmu?” tanya lagi Arenda yang dalam benaknya begitu penasaran akan apa yang selama ini dialami Apan.


“Entahlah ... bisa saja masa liburku diperpanjang ... mengingat aku tak bisa bicara lagi ... dan ... kalau kau ingin menemuiku ... datang saja pada rumah kakekku ... sekarang aku di sana ...,” balas Apan lewat tenggilingnya tetap santai memandang kaki langit.


Arenda mengangguk-angguk mencerna baik-baik perkataan Apan.


“Kenapa kalau tidak bisa bicara liburmu diperpanjang?” usut Arenda tetap memandang cakrawala. Dan memang tak begitu mengerti tentang militer penyihir. Itu bukan bidangnya.


“Entahlah ... itu peraraturannya ... dimiliter memang membutuhkan sosok sempurna bukan cacat ...,” papar Apan lewat tenggilingnya.


Selepasnya Arenda tak banyak bicara, ragu juga untuk meminta Apan menceritakan pengalaman hidupnya, takut-takut kalau ada pengalaman menyedihkan yang tak ingin diceritakannya dan malah membuat suasana tak nyaman.


Telah berubah, inilah yang agak canggung untuk Arenda, bahkan sikap wanita terhormatnya harus dialihkan sejenak demi kenyamanan interaksi dengan Apan.


Tetapi demikian, walau Apan telah berubah, telah tak lagi bercita-cita seperti dulu, Arenda saat ini justru ingin keluar dari segala tekanan lingkungan hidupnya, ingin bebas dan mulai membentuk impian baru.


Asa untuk menjadi ketua klan Daun memang masih merekah dan bisa saja dirinya meraih impian masa kecilnya itu, mengingat menjadi ketua klan Daun masih sedikit berhubungan dengan politik, sehingga dirinya berkesempatan untuk meraihnya.


Kendati demikian, dirinya pun perlu memikirkan konsekuensi terburuknya, bahwasanya keluarganya dapat membencinya.


Terlepas dari itu, setidaknya untuk momentum ini Arenda dapat bersua lagi dengan sahabatnya dulu yang sempat membangkitkan harapannya.


Apan, bocah laki-laki yang percaya kalau ibunya akan hadir bila bunga-bunga tumbuh subur, telah jadi pria dewasa dan semuanya benar-benar tidak akan sama seperti dulu lagi.