
Pertempuran mengerikan terus terjadi, dari detik yang beralih jam sampai dari senja yang berganti malam, serbuan ras Siluman belum dapat diatasi, banyak rakyat mulai menanggung mati dan tak sedikit yang masih berjuang mempertahankan diri.
Tiga kota yang berbatasan langsung dengan kota Barata dilindungi oleh dinding gaib, sementara kota Barata diisolasi.
30 kompi Sayap Merah telah sama-sama menerima kekalahan telak, pasukan itu kini terjebak dalam awan kelabu di ketinggian 200 meteran. Ratusan hunian warga terduga milik anggota militer telah porak-poranda dan semua ini belumlah selesai.
Di setiap jalanan perbatasan kota, beberapa kompi militer Sayap Kuning dengan level ilmu Hikmah dari 1-7 sudah bersiap siaga. Bahkan telah menerima pula mandat untuk siap maju menyerang.
Warga sipil serta beberapa anggota militer tetap berjibaku dalam pertempuran dengan para siluman macan.
Sementara mereka bertarung mati-matian, kelima anak masih betah terbang stagnan di tempatnya semula. Kebingungan dan ketidakberdayaan mengekang pikiran dan jiwa mereka.
Bingung, apa harus melawan atau menolong rakyat dan untuk itulah mereka merasa tidak berdaya.
Sempat juga perdebatan terjadi seiring waktu menuju malam, namun, masih tak ada titik cerah apa yang mesti dilakukan, atau tepatnya, mereka menanti keajaiban.
Nerta yang memang tipikal seorang pemimpin, menyadari adanya kekeliruan dalam tindakan semua rekannya saat ini. Iya, dia tahu pasti tentang itu!
“Aku sudah melihat kematian seorang ibu yang melindungi anaknya!” kata Nerta dengan lantang berusaha membuat semua teman-temannya tercerahkan.
Menoleh seluruh temannya, menjadikan Nerta sebagai pusat perhatian.
Maka Nerta terbang ke depan keempat sahabatnya, roman tampannya telah mengguratkan keseriusan penuh dalam pancaran aura kepemimpinan.
“Iya, aku melihat bagaimana seorang anak yang mati demi melindungi orang tuanya ... aku melihat kakak yang tewas, seorang paman, sanak saudara, hingga para abdi negara ... mereka tewas dalam perjuangan dan mati dalam kewajiban!” ujar Nerta sekeras-kerasnya dan kalau bisa menyentak pikiran teman-temannya untuk tersadar.
Seluruh teman Nerta mulai tercerahkan dan memahami arah tujuannya.
“Jadi ... apa kalian ingin mati dalam penantian ini? Membiarkan gelar pahlawan pada identitas kita hanya sebatas omong kosong ... atau mati dalam perjuangan kepahlawanan ...?” sindir Nerta mencecar teman-temannya agar mau maju.
”Kita tidak tahu lawan seperti apa?!“ sela Darko agak ragu dan merasa tidak mau gegabah.
”Kalau begitu kita cari tahu! Bukankah kita datang ke setiap pertempuran sudah siap mati? Lalu untuk apa kita datang kemari kalau hanya menanti keajaiban? Yang nyatanya itu hanya ada diangan-angan?“ balas Nerta secara tegas nan lugas.
“Ih ... aku tuh nggak mau kita gegabah,” keluh Arista dengan raut muka bimbang.
Mendengarnya, Nerta mulai berbalik badan, dan dengan lantang bicara, “Kita akan jauh lebih gegabah kalau hanya menanti keajaiban datang! Nah ... jadi ... apakah pahlawan seperti kita harus takut untuk berusaha?”
“Tidak perlu banyak pidato ... berikan aku perintah yang diskursif ... maka aku akan maju ...,” sahut Gorah dengan raut muka datar dan suaranya yang tanpa ritme; datar juga.
Lalu tergugahlah semua teman-temannya untuk siap melaksanakan perintah dari Nerta, alasan mereka untuk menanti waktu menunjukkan keajaiban sirna, sebab mereka mulai merasa kalau keajaiban itu telah ada pada sikap serta pemahaman Nerta.
Tiba-tiba cahaya putih benderang muncul dari tangan kanan Nerta, selang tiga detik terlewati, jemarinya telah menggenggam erat tongkat kujang yang kini sudah diwariskan padanya.
Nerta dengan tatapan tajam ke depan, bersama hangatnya udara malam pertempuran, dalam mimik wajah serius berkata, “Lakukan saja kewajiban kalian ... jadilah seorang pahlawan yang justru memberikan keajaiban!”
Maka 'Wush' Nerta melesat maju menerjang terpaan angin malam. Kemudian 'Woush' 'Wush' seluruh teman-teman Nerta pun terpacu mengikuti Nerta.
Momentum itu bahkan disertai oleh semangat yang melonjak kembali lengkap bersama keberanian yang bergelora.
“Ayo kita kalahkan makhluk aneh itu!” seru Quin dengan mengepal erat jemarinya penuh antusias.
Akan hal itulah, setelah tercerahkan mereka terbang menuju Siluman Dewa Mistik. Kembali meniti jalan hidup dan kembali meneguhkan arti hidup.
Asap-asap hitam peperangan telah banyak membumbung tinggi menuju langit, ledakan-ledakan pun santer terjadi, mengisi ruang gelap malam dan menyingkirkan sepinya. Setiap sudut perumahan hingga pusat perumahan kegetiran semakin pekat natural, bunyi-bunyi dari setiap aksi dan reaksi pertarungan bukannya mereda malah menjadi menggila.
'DHUUAAAR'.
'BOOMM'.
'BLEDAAR'.
Kenyataan yang bagi sebagian perspektif adalah menyedihkan, hingga harus memikul beban kehilangan. Tetes air mata kepedihan telah bersinergi syahdu bersama tetesan darah kematian. Suara-suara merdu orang terkasih telah hilang dan terpaksa jadi kenangan. Pengorbanan yang merenggut setiap nyawa, bagi sebagian individu malah membangkitkan dendam dan penderitaan. Hingga segenap kenyataan kini telah tedas mempersembahkan kesengsaraan.
Ini bukan adanya adu domba, bukan karena perintah dari ras lain, bukan karena adanya ingin perdamaian, bahkan bukan pula karena para siluman lapar. Benar, rakyat cukup cerdas, mereka memahami adanya konteks lain yang terbilang rumit bila dijabarkan, bukti itu dapat dilihat dari hadirnya Siluman Dewa Mistik.
Di lain sisi, tepat di perumahan kota Barata. Wanita berambut hitam panjang telah tiba bersama sang angsa putih. Mereka berdua berada tepat dikerumunan siluman macan, di jalan perumahan, menyelia rumah Ira yang malah memunculkan banyak siluman.
Walau Nurvati sudah sadar kalau para siluman macan ini tidak akan menyerangnya, dirinya masih belum memahami alasan dibalik itu semua dan lebih-lebih untuk sampai ke sini pun dirinya mesti sempat bertarung dengan beberapa siluman.
Netra hijaunya menajam menuju rumah Nerta yang sepertinya tak ada ras Peri di sana.
Hanya saja, selang beberapa detik, seorang ras Peri tengah terbang dari sisi halaman rumah tersebut. Marn tengah terbang dengan dua sayap yang telah pulih, dirinya tengah melemparkan sebuah benda ke sekitar rumahnya.
Nurvati yang menyadarinya mulai memanggilnya, berniat mencari informasi dan syukurnya, berhasil membuat Marn terbang mendekatinya.
Dengan raut muka cemas dan agak panik, Marn terbang cepat seraya berseru, “Nurvati ... Nurvati ....”
Marn serta Nurvati yang notabene bukanlah daftar kewajiban para siluman macan, mereka kali ini cukup beruntung untuk tidak diserang para siluman, kecuali kalau mereka yang menyerang.
Bukan itu saja, dirinya yang kemudian mendarat tepat di depan Nurvati, seketika memegang dua bahu Nurvati begitu khawatir. “Nurvati ... apa kau tidak apa-apa?!”
“Tidak apa-apa ... tenang saja ...,” jawab Nurvati dengan begitu santai namun parasnya menyiratkan pula kecemasan.
“Di mana adikmu!?” lanjutnya.
“Syukurlah ...,” balas Marn dengan tatapan tajam pada netra hijau Nurvati dan tangannya kembali diturunkan dari bahu Nurvati.
“Nerta tengah mengejar ibunya! Dia ke arah Barat!” jawabnya.
”Apa ada orang dewasa yang mendampinginya?!“ resah Nurvati.
”Tidak ada!“ tandas Marn dengan menggelengkan kepala.
Sontak Nurvati tergerak untuk melangkah mengejar Nerta. Tetapi belum sempat dua langkah diambil, tangan kanan Marn mendadak meraih tangan kiri Nurvati, membuatnya berhenti di tempat, mencegahnya untuk mengejar Nerta, seraya berkata, ”Tunggu!“
Jelas Nurvati seketika memandang penuh Heran pada Marn.
Rupanya Marn mengambil sebuah benda dari dalam saku jubahnya, benda itu berbentuk kubus nuansa kelabu, sebesar kepalan tangan.
”Ini sayap robotik yang dibuat oleh seorang ilmuan dan kau bisa menggunakannya dengan menempelkannya di punggungmu ... dan ... anggap saja hadiah dariku,“ beber Marn dengan menyodorkannya pada Nurvati berniat memberikannya.
Marn seakan memahami kondisi Nurvati, tepatnya dia tahu kalau Nurvati mau membantu dan sama sekali Marn tak menghalanginya.
Atau bahkan, Marn memang kembali berusaha menarik interesan Nurvati kalau dirinya cukup perhatian padanya.
Nurvati lantas memutar badan, membiarkan Marn menempelkan kubus tersebut pada punggung Nurvati. Marn tanpa sungkan langsung menempelkan kubus robotik tersebut di punggung Nurvati.
Hingga secara mekanis dan terkesan ajaib, kubus robotik itu mulai berubah menjadi rupa dua sayap Peri nuansa abu, membentang lebar serta dapat Nurvati kendalikan.
”Nah ... sekarang kau bisa terbang ... dan hati-hatilah ...,“ ujar Marn tanpa berniat mengejar adiknya.
Dengan mengangguk mantap, Nurvati melompat ke atas, terbang, tak lupa juga, sang angsa putih yang hingga detik ini terbang, terus mengintilnya.
Kendati Marn juga ikut terbang, di udara itu Nurvati yang mengajak Marn justru ditolak oleh alasan cukup diskursif.
”Pergilah Nurvati, aku mesti meledakan tempat ini sebisa mungkin ....“
Tak banyak bicara, Nurvati pun dengan pertama kalinya memiliki sayap, buru-buru terbang ke arah Barat, dikuti angsa putih dari belakang.
Sementara itu, Marn di sini mesti kembali menabur seluruh peledak ke sekitar rumahnya. Syukur-syukur dinding gaib di sini dapat pula dihancurkan, dan memang itu rencananya.
Kendati demikian, itu artinya Marn mesti bersiap kembali untuk diserang para siluman macan. Lebih dari itu, sejak beberapa menit yang lalu, dia telah berjuang sendirian. Sedangkan ke tiga temannya telah berpisah demi menyelamatkan warga lainnya.