
Hutan diliputi bayang kegelapan awan, mentari yang harusnya terik, terhalang oleh awan kelabu yang bertengger karena perang, petir dan listrik berpadu seirama menyambar pada lawan yang terus datang, angin ikut mengalun membentuk kesan mengerikan, disertai langit ungu yang merefleksikan karena petir dan prajurit Barqo selaras membentuk kekuatan. Seakan-akan langit menunjukkan entitas kehidupannya.
“Bisa dikatakan, aku teman Putri Kerisia, dan aku tahu sedikit tentangmu darinya,” ungkap anak laki-laki itu begitu santai, terlalu santai disaat situasi perang begini.
Nurvati tercenung atas pengakuannya, air matanya telah berhenti, tetapi berkat realita yang baru diketahuinya, keningnya mengernyit kaget, artinya, bisa saja ini menjadi rencana kedua Putri Kerisia untuk memanfaatkan Nurvati, sehingga tak serta merta Nurvati percaya sepenuhnya, namun buru-buru Nurvati mengangguk, tak mau prasangka buruknya malah menuntun pada kejahatan.
Sekonyong-konyongnya anak laki-laki itu mengulurkan tangan kanannya, seraya berujar, “Kenalkan, aku Falas, dan punya cita-cita menjadi seorang malaikat.”
Tiga detik Nurvati bergeming, masih terlarut dalam ambang perasaan kedukaan. Syukurnya, ia menjabat tangan kanan Falas. Malu juga rasanya kalau tak menyambut baik sang pahlawan, meski faktanya, Nurvati tetap bingung dengan bentuk perasaannya sendiri.
Ia ingin mati, karena hidupnya hanya menjadi bahan rundungan saja, tetapi juga ingin hidup, karena masih berhasrat mengenali identitas kediriannya.
Dan ada kalimat penting yang agak menggelitik pendengaran Nurvati, tentang cita-cita Falas, yang hendak menjadi malaikat. Itu memang telah menjadi hal lumrah dikalangan ras Peri, hanya saja, anak laki-laki bernama Falas itu mengumumkan impiannya di depan Nurvati, dan disaat situasi seperti ini, entah hanya untuk diketahui saja atau justru ada maksud lain yang tersembunyi.
Selepas itu, Nurvati melamun, mengingat perlakuan durjana Putri Kerisia padanya; memanfaatkan pertemanan demi hasrat sang putri, dan Nurvati enggan masa lalu buruk itu terulang lagi. Ia telah belajar akan hal itu.
Falas adalah anak laki-laki seusia Nurvati, kulitnya senantan begitu cerah, sebagaimana ras Peri adanya, rambutnya hijau muda pendek nan klimis, mengenakan jubah nuansa putih. Fakta yang paling berkesan pada hati Nurvati adalah, suaranya yang memancarkan kesan energik, gairah penuh semangat dan terdengar renyah, bonusnya auranya yang positif nan pekat. Tapi tetap dia kalem.
Falas kembali celingak-celinguk penuh waspada, ia tak mungkin juga melupakan situasi berbahaya ini, sekalipun telah berada di tempat yang cukup aman.
Hingga suara Nurvati membuat Falas kembali menatap Nurvati.
“Apa kau datang atas perintah putri? Kenapa kau malah menolongku? Kenapa?” selidik Nurvati dengan serius dan menatap Falas begitu intens.
“Tidak, aku juga tak terlalu dekat dengan Putri Kerisia ... aku datang karena berusaha melindungi diri,” balas Falas dengan serius.
Keraguan masih meliputi jiwa Nurvati, bukan berprasangka buruk, lebih menjurus pada berhati-hati, ditambah penjelasan Falas yang masih taksa, dan malah masih menimbulkan tanya dalam benak Nurvati.
“Kenapa melindungi diri ke sini? Ke mana orang tuamu?” usut Nurvati yang tak sudi dijebak lagi oleh Putri Kerisia.
Pertanyaan Nurvati membuat Falas tercenung beberapa saat. Dan dalam tatapannya yang tajam penuh kewaspadaan, Falas berucap, “Panti asuhan diserang secara mendadak, orang-orang terbebar mencari perlindungan, aku pun berlari ke hutan karena dikejar prajurit Barqo, saat sudah aman, aku terus berlari mencari perlindungan, hingga tak sengaja melihatmu, dan saat kutilik baik-baik, aku mengenalmu, tapi aku butuh waktu untuk menolongmu dan ... di sinilah kita.”
Meski penjelasannya begitu eksplisit, itu bukan berarti menjawab seluruh pertanyaan Nurvati, tentang orang tuanya, namun perlu digaris bawahi, kalimat 'panti asuhan' yang dibeberkannya, menjadi hipotesis atau kesimpulan, bahwa, Falas, anak yatim, dan pastinya tak memiliki orang tua.
“Artinya ... orang tuamu ...?” Bahkan untuk bertanya lebih detil tentang orang tua Falas, Nurvati takut dan malu, karena bagaimana pun, mengingat orang yang telah wafat dan dicintai, mampu menimbulkan rasa sedih, sehingga Nurvati tak mau bertindak kurang ajar.
“Ya, orang tuaku ada di rumah,” jelas Falas tanpa tahu anggapan awal Nurvati.
”Eh?“ Nurvati terkejut, dan hipotesisnya tadi hanya jadi omong kosong belaka.
Nurvati sengap dalam hati senak, seraya mengangguk mengiakan, dan pandangannya pun tertumpah pada rerumputan warna putih di sekitarnya. Berkontemplasi pada takdir saat ini, atau mungkin ini memang nasib.
Suasana hutan masih didominasi oleh ketenangan, angin mengalun kencang di rimbunnya daun pepohonan, tetapi berembus pelan di tempat Nurvati berada, membelai kulit terasa dingin, gemerisik dedaunan pun beriringan bersama gemuruh awan yang membahana; perang masih cukup santer.
Ribuan prajurit terbebar ke langit, situasi perlahan mulai sanggup dikendalikan oleh ras Peri, jumlah serta fasilitas dari ras Peri lebih mumpuni untuk mengalahkan lawannya, kendati demikian, korban jiwa tetap saja berjatuhan.
Masih belum dapat dipastikan, apa yang menjadi faktor penyerangan ras Barqo yang tiba-tiba, mereka membunuh tanpa pandang bulu, anak-anak maupun orang yang lanjut usia, mereka habisi juga.
Padahal diingat-ingat ras Peri belum melancarkan satu serangan pun pada alam ras Barqo, sehingga spekulasi lebih menunjuk bahwa ini penyerangan membabi buta atau dengan kata lain, ini adalah pelanggaran perang.
Falas duduk bersila di rerumputan, ia begitu santai tanpa terlihat ketakutan, sedangkan Nurvati masih berdiri cemas dan berduka, gelisah dan putus asa.
”Duduklah dulu, bantuan akan segera datang, aku sudah bertelepati dengan beberapa tentara Peri, dan perang pasti akan usai,“ pinta Falas dengan suara renyah dalam senyuman penuh kedamaian.
Atas ucapannya yang bagi Nurvati agak lancang dan bodoh, membuat Nurvati menarik napas kuat-kuat berusaha tegar dengan kenyataan menyedihkan yang kini menimpanya.
”Apa kau gila? Orang tuaku tewas, dan, aku ... masih di sini?“ sindir Nurvati dalam pikiran yang kalut.
”Eh ...? Maksudmu ... apa yang mau kau lakukan?“ heran Falas dan agak mendongak untuk memandang wajah mulus Nurvati.
”Aku, aku ....“ Konyol untuk disadari Nurvati, kenyataannya Nurvati pun kebingungan.
Dan Falas paham pada guncangan moril yang menimpa Nurvati, sehingga Falas berani berkata, ”Kamu sedang syok, kita tak bisa berbuat apa pun, kekuatan kita tak sebanding dengan anggota militer lawan, itu bisa menyebabkan mati konyol nantinya.“
”Berdo'a saja dulu ...,“ lanjut Falas dan menjeda ucapannya.
”Tapi, aku, aku ... seharusnya, kau membiarkan ....“ Perkataan Nurvati belum rampung, sebab disela oleh Falas.
”Sudah! Jangan berpikir gila, setelah ini kita akan kembali pada orang tuamu,“ sela Falas bersungguh-sungguh dan berusaha menutupi keputusasaan Nurvati.
Tak ada kata penyesalan lagi yang lahir dari mulut Nurvati, terdiam dalam berduka penuh kebimbangan adalah yang dapat dilakukannya, napasnya telah normal kembali, air matanya telah sirna.
Dan di antara rata-rata pohon setinggi 15 meter di sini, dua anak Peri itu, menanti waktu menuntaskan perang, bersama gemuruh perang yang bersahutan, mereka setia untuk tetap di sana.
Mentari masih tersembunyi di belakang awan, puluhan ledakan cahaya bak memecah awan-awan kelabu, angin kadang kencang, kadang pula lembut, seirama dengan gerak para prajurit perang, melesat dan bertahan demi darah di badan.