Nurvati

Nurvati
Episode 182: Basa-Basi Perasaan.



Siur angin seakan mentransfer dinginnya tempat berpasir ini, ini adalah padang pasir provinsi Selatan.


Butuh semenit penuh untuk dapat berunding dengan Apan. Berdiri di sana saling mementingkan prinsip serta pemahamannya masing-masing.


“Apan ... aku memang sahabatmu ... iya, aku memang sahabatmu sedari kecil ... aku mencintaimu dan menyayangimu sebagai sahabat ... tetapi ingatlah, tak ada yang dapat melindungi kita dari hukum, bahkan ras Malaikat sekalipun tak pernah sanggup ...,” ujar Ratu Arenda mengisyaratkan tak akan sanggup membantunya.


“Aku tahu ... aku siap dan aku akan turun ke bumi manusia,” balas —tenggiling— Apan, namun malah terdengar begitu pasrah.


Argumentasi dungu kembali Ratu Arenda dengar tepat dari mulut sahabatnya sendiri. Untuk itulah Ratu Arenda yang memahami hukum, berani berkata, “Kenapa kau jadi dungu gegara cinta ...? Dan aku tidak sebodoh itu ....”


“... ingat perjanjian pasukan militer para penyihir. Konstitusi perserikatan sihir, Divisi Penyidik, mengenai penugasan dan kewajiban, pasal Tiga serta ayat 3 dan pasal Tujuh ayat Sembilan ... di situ sudah tercantum hukum, kalau intinya, kau tak dapat undur diri dari serikat penyihir secara sepihak, alasan apa pun itu tak dapat membuatmu lepas dari serikat penyihir, kecuali kau dihukum mati ... atau harus aku ingatkan juga perihal hukum dalam kitab Keutamaan Tiga, mengenai hukum menikah? Kalau tak berhak menikahi makhluk yang berbeda alam?” imbuh Ratu Arenda dengan tegas dan memang paham perihal hukum di alam ras Peri.


Apan tertunduk merenung, ucapan Ratu Arenda memang benar, tetapi, perasaannya pada Hiri pun benar, bagi Apan tak ada yang salah dengan pilihannya, karena bagaimana pun perbedaan itu wajar.


“Arenda, aku memahami hukum itu ...,” ucap —tenggiling— Apan. Dirinya tahu, tetapi seakan berkilah.


”Lalu apa yang membuatmu begitu degil? Apa karena cinta omong kosongmu itu?“ insinuasi Ratu Arenda.


”Tidak! Aku mencintai Hiri dengan tulus! Bukan omong kosong!“ sergah —tenggiling— Apan, membela perasaan yang menjadi bagian harga dirinya.


“Kenapa ... kenapa saat misi meledakan ruang kelompok kudeta kau nampak perhatian pada anak-anak yatim dari hasil kawin silang itu ... bukankah mereka pun sama saja tak berhak hidup di sini?!” tanyanya menyelidiki sejauh apa akal sehat Ratu Arenda bekerja dan mencari celah untuk tak menjadikan ini masalah besar.


“Iya, mereka memang tak berhak hidup di sini ... aku mengasihani mereka dan hendak mengirim mereka ke alam Siluman atau alam Manusia ... jadi jangan kira aku bertoleransi pada hal yang melenceng dari hukum!” balas Ratu Arenda tanpa kompromi.


”Jadi ... jika aku memiliki buah hati ... anakku ...,“ gumam —tenggiling— Apan, menerka-nerka baik buruknya.


”Iya, anakmu akan aku pastikan untuk tidak tinggal di bangsaku! Dan demi kenyamanan masyarakat ... kemungkinannya ... kau pun mesti dipisahkan dari istrimu ...,“ sahut Ratu Arenda sungguh-sungguh.


Apan tumungkul berkontemplasi, dirinya kurang atau tidak terima atas pernyataan Ratu Arenda. Maka dengan percaya diri dan lantang —tenggiling— Apan bertutur, ”Tidak ... aku akan ikut ke mana pun istriku berada, aku telah siap menerima risikonya, sekalipun mesti mati!“


Ratu Arenda memang paham, cinta buta itu membuat Apan menjadi terlihat bodoh. Untuk itu bersama tiup angin, Ratu Arenda sejenak mencermati lagi apa yang tengah terjadi dalam kejiwaan sahabatnya itu. Mencari celah untuk menarik kejiwaan Apan, kalau menikahi siluman adalah tindakan durjana!


Tentu hal wajar bila sebagai sahabat, menolong serta mengingatkan selalu dilakukan dan Ratu Arenda sebisanya demikian.


“Apan ... sahabatku, sadarilah ... cintamu hanyalah cinta buta ... kejahatan pun nampak terlihat indah saat hatimu terkekang oleh kobaran cinta buta ... tapi sayangnya, itu justru meracunimu lalu perlahan membunuhmu ...,” papar Ratu Arenda berusaha mencerahkan pikiran keliru Apan.


”Semua cinta adalah buta! Tak ada yang salah saat kita membicarakan cinta! Aku tak akan meninggalkan istriku ...,“ kukuh Apan dan memang tak ada yang salah, hanya Ratu Arenda yang tak memahami.


”Aku kira ... kau memahamiku ... aku kira ... persahabatan kita tak akan terintangi oleh istriku ...,“ keluh —tenggiling— Apan dengan tumungkul sedikit menyesal, namun dalam pasrah.


“Persahabatan kita tidak akan terintangi oleh apa pun ... tetapi, kau pun mesti tahu, bahwa mencintai itu sederhana ... hanya perlu melihatnya bahagia dan memberikan yang terbaik untuknya ... bukan malah membawa-bawa pada jalan bahaya dan seakan rela mati menjadi persembahan terindah ... itu dungu namanya!” tegur Ratu Arenda dengan tajam dan kalau perlu memang menyentuh hati Apan.


Apan tertunduk merenung, dirinya membisu. Meresapi lagi baik-baik argumentasi sahabatnya itu. Kendati nyatanya, Apan tak melihat celah kalau menikahi Hiri adalah kesalahan, karena bagaimana pun, mencintai bukanlah tindakan durjana!


“Kami sudah memilih ... dan pilihanku serta Hiri adalah yang terbaik ... jadi tak mungkin juga kita mengambil jalan bahaya ... kau salah dalam memahamiku ...,” ucap —tenggiling— Apan berteguh hati.


Raut parasnya, jemarinya, sayapnya hingga seluruh gestur tubuhnya senada menyiratkan dengan perkataan tegasnya, bila Apan tak akan mengubah ketetapannya, karena sekali lagi, memang dirinya tidak salah.


”Terserah kau saja ... aku hanya sebatas sahabatmu yang berusaha menyelamatkanmu dari jurang nestapa ...,“ ungkap Ratu Arenda terus terang.


Lantas Ratu Arenda memanifestasikan pintu teleportasi, terlalu buang-buang waktu juga bicara pada pribadi yang degil oleh cinta buta. Setidaknya Ratu Arenda telah mengingatkan sahabatnya itu.


”Apan ... ingatlah ini ... aku selalu mengakuimu sebagai sahabatku ... tetapi ingat, saat suamiku atau siapapun tahu perihal hubungan durjanamu dengan seekor siluman, lalu hukum ditegakan ... aku tak bisa menolongmu, jadi ... aku sarankan ... bercerailah atau bersembunyi selamanya ...,“ pesan Ratu Arenda tanpa memandang Apan dan sebisanya membantu Apan.


Kemudian Ratu Arenda pergi dengan pintu teleportasinya. Dirinya telah usai berunding. Karena memang hanya itu yang mampu Ratu Arenda lakukan.


Sejenak Apan terdiam. Dirinya juga paham, sekalipun ia serta istrinya pergi ke alam lain, perserikatan penyihir pasti akan mencarinya, menjadikannya buronan karena lalai dari tugas perjanjian.


Atau kalau pun menyembunyikan istrinya, kemungkinannya tetap saja waktu akan menunjukkan kebenarannya juga pada publik, sedangkan tak mungkin dirinya menceraikan istrinya, ketulusan mencintainya, membuat segala usulan untuk berpisah sangat tak mungkin.


Maka Apan kembali ke peraduannya. Membicarakan hal yang terbaik pada Hiri agar kehidupan bisa berlanjut tanpa hambatan perbedaan. Namun besar kemungkinannya kalau mereka akan tetap bersama dalam persembunyiannya. Sebab bagaimana juga, mereka punya prinsip, kalau cinta kasih selalu memiliki jalan keluar menuju kebahagiaan dan tak mungkin menuju bahaya atau kenestapaan.


Semuanya memang terlihat indah oleh cinta, mereka —Apan serta Hiri— percaya dengan perasaan yang memiliki makna begitu luas itu justru mampu mengikat persaudaraan dan menghentikan perang. Benar, mereka sangat percaya, benar-benar percaya pada keajaibannya; cinta.


Waktu berputar dalam kenyataan yang tak peduli. Di satu sisi membahas kemantapan cinta, namun di sisi lain, membahas keegoisan hukum.


Ratu Arenda telah menyadari, kalau sahabatnya dalam bahaya. Siluman atau hawa dari siluman itu sendiri ditakutkan menggiring Apan pada pembelotan hukum; mungkin sudah.


Arenda yang notabene sebagai ratu penyampai suara-suara rakyat, untuk saat ini akan menyimpan masalah tersebut sendirian. Akan tetapi, dia masih tak rela bila sahabatnya menikahi siluman hina.


Untuk itu, sejenak akan membiarkan dulu waktu bekerja, berharap, ada hal baik yang meresap pada akal sehat sahabatnya itu dan membuat semua berakhir manis.