
Hari telah beralih, waktu-waktu telah merenggut setiap kesempatan atau pun mempersembahkan peluang. Untuk itulah, hari ini hari yang cerah di kota Barata, tepatnya di kediaman Ketua Kehormatan Hamenka.
Rumah yang cukup besar nan mewah, terbuat dari berlian yang bertatahkan permata, rumah indah itu memiliki tiga lantai, dan lantainya terbuat dari intan.
Di ruang keluarga yang luas, terdapat beberapa gumpalan awan yang melayang, dan itu adalah tempat duduk.
Tak ada lemari, tak ada patung, tak ada hiasan apa pun dan kebanyakan rumah ras Peri memang demikian.
Hamenka serta istrinya tengah berada di ruang keluarga tersebut.
Istrinya sibuk dengan 'sarung tangan pintarnya' yang menampilkan pancaran hologram dalam permainan judi. Hanya semacam permainan judi kartu dan lain-lain.
Hamenka sibuk bersemadi di awan itu. Dia duduk di awan yang berbeda dengan istrinya, namun bersebelahan.
Kedamaian untuk saat ini mengisi momentum mereka, memberikan sedikit peluang demi merealisasikan kesibukan masing-masing.
Istri dari Hamenka selalu bermain judi di rumah, kecuali kalau ada beberapa kejadian yang mengharuskannya keluar rumah.
Rumah tangga mereka sebenarnya harmonis, kendati sang istri Hamenka adalah pejudi berat, itu tak membuat adanya pertikaian hanya karena istrinya kadang berjudi atau kadang bertengkar dengan orang lain.
Akan hal itu, perjuadian bagi istri Hamenka hanyalah sebatas kesenangan semata, yang tentunya baginya berjudi itu tidaklah buruk, sebab, bila dinikmati hanya sebatas kesenangan semata tentu tak akan jadi masalah. Begitulah yang dipersepsikan istri Hamenka.
Kendati begitu, Hamenka yang dekat dengan ras Malaikat, sering mengingatkan agar tak menggunkan hasil perjudian untuk kebutuhan hidup, atau jangan sampai kebutuhan hidup malah diperjudikan.
Bukannya apa-apa, takut-takut kalau selalu menanggung kalah, bisa habis nanti semua yang sudah dimiliki.
Cukup fokus istri Hamenka pada permainannya, dia bahkan tak berkedip dalam perkara ini. Berjudi adalah sesuatu yang sebenarnya menyenangkan dan menguatkan daya ingat serta meningkatkan kecerdasan, itu yang dirasakan istri Hamenka.
Sedangkan Hamenka, untuk saat ini di rumah dikarenakan akademi yang diliburkan satu tahun. Dan itu memang jadwalnya demikian. Sehingga hari ini atau beberapa hari ke depan dirinya akan berusaha menikmati momentum ini untuk berkumpul bersama keluarganya.
Faktanya, Ketua Kehormatan Hamenka belum membicarakan sidang Ketetapan pada keluarganya, kalau dirinya diberikan dua kesempatan yang cukup getir.
Hingga secara tiba-tiba, Nerta datang dari sebuah ruangan, ikut mengisi realitas yang tersaji, dia berjalan menghampiri orang tuanya. Dirinya nampak kebingungan, seperti mencari sesuatu yang hilang.
Nerta telah sembuh berkat pemulihan cepat dari para medis. Tak lupa juga tangan kirinya memegang sekotak permen, sebagai memenuhi janji pada teman-temannya.
“Ayah ... ayah ...,” panggil Nerta dengan lantang dan agak tergesa-gesa.
“.... Hacim ....”
Panggilan anak tercintanya itu membuat Hamenka tersadar dari semadinya.
“Ada apa?” tanya Hamenka dengan nada suara tegas.
Mula-mula Nerta yang berdiri dalam jarak 4 meteran dengan ayahnya itu menampilkan kesan bingung dengan raut muka masam.
“Apakah ayah mengambil lagi tongkat kujang itu?” selidik Nerta agak malu dan gengsi juga meminta pada ayahnya. Namun mau bagaimana lagi, ini demi kepentingan umum; melindungi dirinya dan teman-temannya.
Hamenka yang hanya terdiam langsung dimanfaatkan oleh istrinya untuk bicara.
“He ... kau itu sudah sering bolos sekolah bukannya mikir!” tegur ibu Nerta, namun tetap fokus pada permainan judinya. Dirinya tak mau anak ke duanya malah melakukan hal yang tidak bermanfaat.
“Iya ... nanti aku rajin sekolah ...,” balas Nerta dengan singkat dan malas juga menjadikan bolos sekolah sebagai topik pembicaraan.
“... hacim ....”
“Nanti? Jadi kamu mau tinggal kelas?” sindiri ibu Nerta dengan nada suara tinggi kemarahan. Tentu sang ibu marah, karena dirinya nanti yang akan menanggung malu gegara anaknya sering bolos sekolah.
Nerta tak punya banyak waktu dalam perkara ini, teman-temannya telah menanti, jadi dirinya beralih pada ayahnya dengan mendesak, “Ayah cepatlah ... temanku sudah menunggu ....”
Kalimat yang berhasil membuat kesal dan muak mulai melonjak dalam jiwa Nerta. Raut mukanya hingga harus menyiratkan kemarahan. Karena nyatanya, ini menguras setiap detik yang berlalu; buang-buang waktu.
“Ibu tidak mengerti! Aku melakukan ini demi masyarakat!” sergah Nerta dengan kesal mencoba membela diri dan mengungkapkan alasannya yang terdengar impresif, baginya cukup untuk dijadikan senjata agar menyentuh hati orang tuanya.
Namun sayang, Nerta salah dalam menggunakan intonasi suaranya yang meninggi, yang ditanggapi oleh ibunya sebagai pembangkangan.
Maka 'Buak' satu tinjuan mendarat indah di pipi kiri Nerta, tinjuan yang hadir dari tangan kanan sang ibu Nerta.
Kini ibunya telah berdiri di depan Nerta, menyingkirkan sejenak perjudian asyiknya demi menegur anak ke duanya itu.
“Anak bodoh! Berani-beraninya kamu membentak orang tuamu, ha!” sentak ibu Nerta dengan menyolot dan berkacak pinggang.
Nerta terpaksa mengusap-usap pipi kirinya demi meredakan sakitnya, tetapi iris hitamnya malah tertuju pada wajah ayahnya yang bercahaya. Masa bodoh dengan ibunya.
Dengan demikian, suasana damai agak tegang berkat kejadian tak terduga itu.
“Jangan berani memberontak kamu ya!” bentak ibu Nerta tak terima dengan sikap lancang anaknya.
“Ayah ... aku pinjam tongkat kujang lagi,” pinta Nerta dengan sungguh-sungguh dan nada suaranya kembali normal.
“Kamu jangan pergi terlalu jauh ... kamu itu hampir tewas ...,” tegur Ketua Kehormatan Hamenka dengan serius dan tak mau dibantah.
“Iya ayah ... tenang saja ...,” balas Nerta dengan santai.
“Tenang? Kami orang tuamu yang jadinya tidak tenang,” singgung ibu Nerta yang kembali duduk di awan.
Bukannya apa-apa, sebagai orang tua, sang ibu atau sang ayah Nerta tak mungkin juga membiarkan anaknya pergi ke tempat berbahaya, tak mungkin juga orang tuanya terus-terusan membiarkan Nerta jadi anak yang seenaknya. Yang bukannya jadi seorang anak berkependidikan malah jadi anak yang beringas.
Menghajar sang anak baginya diperlukan demi isyarat kalau Nerta telah melewati batas dan layak dihukum.
“Aku hanya berusaha menyelamatkan anak-anak dari para siluman yang menculik ...,” ucap Nerta berusaha menjelaskan namun terpotong.
“Cukup Nerta, sekali pun kamu menyelamatkan seorang raja, kamu tetap saja membantah orang tua dan bolos sekolah ...,” tandas Hamenka enggan mendengar pembelaan anaknya. Toh dirinya sudah tahu apa yang selama ini dilakukan anaknya.
Nerta hanya terdiam dengan raut muka kesal masih mengelus pipi kirinya dengan tangan kanannya.
Kendati orang tuanya tegas, atau galak seperti ibunya. Nerta sama sekali tak menyimpan dendam pada sikap orang tuanya. Jika pun marah, itu hanya sebatas diwaktu itu saja, sisanya tak berkelanjutan. Toh, dirinya juga cukup paham kalau perlakuan orang tuanya disebabkan sayangnya mereka pada anak-anaknya, yang melakukan apa pun demi kesuksesan sang anak. Terlepas dari salah atau benarnya perbuatan mereka, Nerta hanya mengambil sisi baiknya saja.
Lantas tangan kanan Hamenka terjulur ke depan dengan cahaya putih yang menyelimutinya.
Dan seketika tongkat kujang berlian telah berada dalam genggamannya.
“Sekolah dulu ... baru main,” pesan Hamenka sebagai seorang ayah yang tak ingin melihat anaknya dalam kebodohan.
Maka tongkat kujang berlian pun dilemparkan pada Nerta yang berhasil ditangkap langsung oleh tangan kanannya.
Dia bahkan langsung berlari dengan girangnya menuju pintu keluar, seraya berpamitan. “Dah ayah ... ibu ... aku main dulu.”
“... hacim ....”
“Sekolah woy! Sekolah ... temui dulu gurumu yang terus menanyakanmu ...!” sergah ibu Nerta dengan keras-keras supaya anaknya paham.
Paham kalau gurunya menegur orang tuanya dan paham kalau yang dilakukan Nerta telah melanggar hukum.
Tapi begitulah, seorang anak yang memiliki pandangan lain terhadap dunia, yang memiliki jalan hidup dan tujuan hidup berbeda.
Nerta berlari tak menggubris ucapan penting dari ibunya. Pergi untuk bertemu rekan-rekannya. Karena hari ini, mereka akan pergi ke makam Zui sang pendekar Pemecah Waktu.