Nurvati

Nurvati
Episode 38: Bersama Dendam Muncul Keadilan.



Bersama sepi yang melanda hati, Nurvati yang masih memiliki dendam hanya dapat pasrah menerima nasib, ia biarkan diri terjerat oleh kesepian tempat ini, tapi pikiran berkutat menimbang-nimbang kegiatan apalagi yang sekarang harus dilakukan.


Tiga detik kemudian, telah diputuskan! Nurvati akan duduk beristirahat di bawah pohon Salju tempat masa kecilnya menikmati kesendirian.


Nurvati memutar tubuh ke belakang, bersinergi dengan dendamnya yang jadi beban pikiran, dia bahkan melangkah dan mencari jalan keluar dari jeratan dendamnya.


Orang tuanya dibunuh oleh pasukan ras Barqo, itu yang dilihatnya, Nurvati menyayangkan bahwa ras Barqo tak menyelidiki lebih dulu siapa yang menyerang bangsa mereka, dan karena tindakan gegabah ras Barqo itulah yang membuat Nurvati jengkel. Bangsa Siluman memang dalangnya, tapi yang membunuh orang tuanya tetap saja ras Barqo.


Iya, dendam itu muncul dan semakin kuat seiring ilmu Hikmah yang dimilikinya. Tanpa sadar, ilmu yang bersinergi bersama hasrat dendam itu memang muncul seperti yang dikatakan Ketua Hamenka; sifat Iblis.


Sesalnya lagi adalah, jiwa Nurvati tak kuat menerima ilmu ke-Tuhan-an dari Langit, padahal itulah satu-satunya cara untuk mampu terbang ke Langit, —mengetahui ilmu alam Baka— tujuannya untuk melihat arwah orang tuanya, dan berkonsiderans pada mereka perihal dendam Nurvati. Syukur-syukur mereka hidup damai di sana sehingga Nurvati tak perlu balas dendam.


Tak ada waktu lagi, meski belum sempat ia duduk di bawah pohon masa kecilnya, ia malah melangkah pergi menghindari nostalgianya dengan pohon Salju. Niatnya berubah haluan.


Berjalan ke rerumputan warna biru, Nurvati melangkah bersama jeratan dendam yang menghalangi akal sehat dan malah mengendalikan diri menuju tuntutan keadilan hidup.


Hidup itu adil, bila yang membunuh dibunuh lagi, dan keadilan itu hukum, maka wajib bagi Nurvati untuk menegakkan keadilan karena itu hukum. Begitulah pikirnya.


Mulailah ke dua tangannya dijulurkan ke depan, dibentuknya pintu teleportasi antar alam Jin, dibentuk oleh kekuatan cahaya ilmu Hikmah.


Faktanya, untuk mampu membuat pintu teleportasi antar alam membutuhkan kekuatan Cahaya ilmu Hikmah, ilmu Cahaya yang diajarkan di sekolah hanya mampu membuat pintu teleportasi antar kota atau antar pulau di satu alam. Dan tak dapat ke alam gaib seperti Langit atau alam baka.


Untuk terhubung pada alam Barqo harus pernah berkunjung ke suatu tempat di sana dan membayangkan tempat tersebut, hanya saja karena Nurvati tak sekali pun pernah berkunjung, maka dengan ilmu ke-Tuhan-an lapisan Bumi, Nurvati mengambil suatu tempat di alam Barqo. Dia menggunakan penglihatan ilmu Hikmahnya yang dipadukan dengan pengetahuan lapisan Bumi.


Sebuah tempat di hamparan tanah berwana abu-abu, langitnya nuansa pingai, dan struktur rumah yang mirip seperti di alam Peri, namun semua rumah terbuat dari bahan logam, seperti baja dan emas. Mengambang di atas tanah setinggi tiga meteran. Sebuah desa. Sekaligus dicarinya keluarga yang memiliki kesamaan hidup seperti Nurvati; memiliki orang tua lengkap. Itulah yang menjadi destinasi Nurvati.


Setelah mendapat gambarannya, pintu teleportasi terbentuk, pintu yang berbahan emas dan pintu itu buru-buru didedah oleh Nurvati.


Belum satu menit merasakan hawa di desa ini, tiba-tiba dari belakang Nurvati telah melesat prajurit Barqo, itu dari titik buta Nurvati, namun angin di sekitar memberi sein peringatan.


Dan 'Boom' suara hantaman karena tubuh prajurit ras Barqo terhantam pada tanah; Nurvati berhasil membalikan keadaan. Kecepatan kilatnya membuatnya unggul.


Lebih-lebih ketika Nurvati berdiri dengan kaki kanan yang menginjak punggung prajurit Barqo, Nurvati membentuk katana lewat tangan kanannya, lalu dia tusukkan katana itu pada punggung prajurit Barqo yang tak dibungkus sehelai benang pun, ditusuknya hingga menembus jantung penjaga tersebut, lantas melanjutkan perjalanannya tanpa rasa bersalah, membiarkan prajurit Barqo tewas oleh katana yang tertusuk di punggungnya dengan darah biru mulai mengalir dari tusukkan itu.


Nurvati berjalan mengamati lingkungan sekitar yang nampak sepi, pohon-pohon rindang, rumah-rumah yang berjauhan, mencari hal yang sekiranya mampu memusnahkan kobaran dendam yang semakin bergejolak.


Sebuah rumah yang mengambang di atas tanah nuansa abu menyembulkan interesan pada Nurvati. Di jarak lima meteran, seorang bocah laki-laki memandang Nurvati ketakutan. Bocah laki-laki itu sudah menyaksikan keganasan Nurvati yang diperbuat pada prajurit penjaga di desa ini. Perang dunia ke-18 membuat penjagaan di seluruh alam diperketat, itulah buktinya tadi Nurvati diserang.


Berbarengan dengan Nurvati yang diam mematung, memandang bocah ketakutan, telah berlari seorang wanita yang diduga ibu sang bocah laki-laki, menghampiri bocah itu, hebatnya, sang ibu berusaha melindungi anaknya.


”Tepat sekali,“ gumam Nurvati yang merasa keinginannya akan terpenuhi; menegakkan keadilan. Adil bagi Nurvati.


Perlu digaris bawahi, wujud ras Barqo berbeda dengan ras Peri, bagi kaum pria yang cukup umur, memiliki satu atau dua tanduk di kepala, sedangkan kaum wanitanya yang cukup umur dagu mereka akan mencuat cula kecil sekitar 5 cm, wajah mereka rata, tak punya hidung; tak bernapas, seluruh ras Barqo memiliki kulit warna ungu, namun agak kebiruan bagi kaum wanita, memiliki rambut sebagaimana mestinya, telinga seperti kerbau, gigi yang runcing dan netra seperti kucing. Pakaian yang paling senang mereka kenakan terbuat dari bahan emas atau tembaga.


”Kau mau apa?“ tanya sang ibu dalam getir, menatap penuh kewaspadaan.


Nurvati tahu, ibu itu ketakutan melihat wujud Nurvati yang bercahaya serta telah mengalahkan prajurit Barqo. Rambut merah dan berpakaian seperti pakaian wanita romawi kuno yang terbuat dari tembaga, demikianlah penampilan sang ibu bersama keberaniannya yang muncul hanya karena sifat alami sebagai 'ibu' demi melindungi buah hatinya; terpaksa berani.


Empat detik Nurvati mengamati sikap dari dorongan psikologis seorang ibu, tapi belum ada hal yang interesan darinya, barulah Nurvati menjawab, ”Aku ingin keadilan, aku butuh sepasang suami istri yang memiliki seorang anak perempuan, dan pasutri itu siap aku bunuh, itu demi menegakkan keadilan hidup.“


Sebuah kalimat yang taksa namun terdengar begitu mengerikan, berhasil menyentak hati ibu-ibu berusia sekitar 42.043 tahun itu, terbukti dari kedua tangannya yang mengepal tinjuan sampai memasang sikap siaga untuk melawan. Dia merasa dirinya terancam dan cukup impresif perbuatannya.


"Jika memang Anda tertarik untuk membantuku, Anda bisa mengorbankan diri Anda sendiri, atau kalau terlalu takut ... tolong jangan halangi aku ...," beber Nurvati memberikan pesan yang lagi-lagi terkesan ambigu tetapi mengandung makna yang cukup mengerikan.