Nurvati

Nurvati
Episode 57: Dalam Cerita Yang Mengukir Pilu.



Selama berlalunya waktu, selama hari-hari yang dihadapi sebagai perjuangan, Falas masih selalu dan selalu asyik bepergian berpetualang ke berbagai tempat yang jauh, sangat jauh sampai tak pulang selama tiga hari, lebih dari itu, Falas bisa pulang seminggu sekali, kadang pun sekolah hanya datang tiga hari sekali.


Itu pula yang menyebabkan ibu Sasvaty membuat sebuah taman di awan, taman awan yang pernah dikunjungi Nurvati. Hari ini adalah kedatangan Falas, dan ibu Sasvaty tak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk bersama anaknya itu. Di siang hari yang cerah, mereka terbang bersama dan sampai di tempat tujuan.


Sebuah hamparan awan putih yang luas, namun dihiasi oleh awan-awan berwarna-warni dengan puluhan gelembung yang mencuat dari awan warna-warni ini.


Falas sangat senang melihat hadiah yang diberikan ibunya padanya, rasa senang itu bukan karena Falas suka pada sebuah taman, bukan itu, rasa senangnya adalah karena ibunya rela menghabiskan waktu demi membuat anaknya senang, dia sempat berterima kasih, dan bahkan sempat bertanya bagaimana bisa ibunya membuat taman yang cukup luas ini. Namun kerumitan penjelasan ibunya hanya mampu diterima Falas oleh mengangguk-angguk.


Bersama semilir angin yang berkesiuran, ibu dan anak itu duduk di tepi awan, menikmati kedamaian dan melarutkan perasaan pada suasana. Di bawah mereka 10.000 meter adalah lautan, biru dan misterius, selain itu pegunungan serta lembah pun nampak kentara di depan sana.


Mereka duduk berdua saling bicara, tetapi justru Falas yang begitu intensif menceritakan kisah petualangannya, sedangkan ibunya hanya menjadi pendengar yang baik bagi anaknya itu.


Cerita bagaimana Falas bertemu dengan teman baru, cerita bagaimana perjuangan seorang ibu yang mengurus anaknya, atau bahkan seorang ibu yang membuang anaknya, tentang pengalaman kepahlawanan dan kriminalitas. Seluruh cerita itu diterima baik-baik oleh pendengaran ibunya, bahkan sempat menyanjung Falas karena dibeberapa cerita, Falas sempat membantu masyarakat yang kewalahan dalam bekerja mau pun dalam mencari penghidupan.


“Dan ... aku hampir meraih cita-citaku!” seru Falas dalam kebanggaan.


“Iya ... baguslah ... ibu ikut senang ...,” sahut ibu Sasvaty dengan mengangguk dalam senyum tenang.


Namun, sedikit angan merasuk pada kepala Falas, dan melahirkan kalimat tanya dari mulutnya. “Ibu ... apa ibu punya cita-cita? Selain mengurus anak-anak panti ....”


Sasvaty seketika merenungi perkataan anaknya itu, dia memikirkan perihal masa mudanya dulu, masa muda yang mungkin sempat diagungkannya, sebuah masa di mana memiliki cita-cita itu terasa mengasyikan.


“Ibu ... ya ... dulu ibu punya cita-cita ... cita-cita itu karena dulu kakak ibu, saat itu, ibu masih kecil, ibu melihat beliau, memudar menjadi cahaya, uakmu diangkat sebagai malaikat, jadi ... ya, ibu juga ingin menjadi sesosok malaikat,” jawab ibu Sasvaty dengan dua tangan bertumpu di awan dan pandangan lurus ke depan mengenang kejadian paling menyentuh itu.


“Lalu ... kenapa ibu tidak menjadi malaikat?” heran Falas penasaran dengan menoleh ke kiri pada ibunya.


“Hemmmmm ... karena sulit ... dan ibu sudah menikah ... terlebih, ada beberapa hal di dunia ini yang membutuhkan bantuan ibu,” jelas ibu Sasvaty dengan santai.


Tak ada kata-kata yang terlontar dari mulut Falas, diam dengan mengangguk-angguk, itulah yang kini dilakukannya.


Meski hari itu dilalui dengan kebersamaan, anak dan ibu itu tetaplah memiliki dunianya masing-masing, melalui waktu demi mengorbankan diri pada impiannya masing-masing. Hari-hari terpaksa harus kembali berganti, dan Falas kesenangan dalam petualangannya, hingga tak menyadari adanya lara yang begitu pekat dalam panti asuhan, lara itu terendam rapi dalam canda tawa anak-anak panti.


Maka saat waktunya tiba, iya, saat penderitaan itu telah menunjukkan akan kematian yang indah bagaikan obat, saat sebuah hari yang cerah menyimpan rasa sakit, ketika itu, ketika Falas telah datang kembali pada panti asuhan, setelah satu bulan tak datang, dia datang menemui lima rekannya di atas atap panti asuhan area Selatan.


Suasana sebenarnya cerah nan menyenangkan, itu pun kalau mereka mau bermain. Tapi jadi berubah oleh ekspresi lima anak panti asuhan.


“Ada apa teman-teman? Mengapa wajah kalian nampak masam?”


Pertanyaan yang muncul dalam ketidaktahuan Falas akan rahasia besar yang tersembunyi. Seorang anak laki-laki bertubuh seperti kelelawar, mulai membeberkan rahasia yang telah lama tersembunyi.


Perihal ibu Sasvaty yang sering terkena hukuman, dan beberapa masyarakat yang resah dengan adanya panti asuhan para anak-anak 'aneh', perihal ibu Sasvaty yang kalah dalam pengadilan untuk mengajukan agar anak-anak tetap di sekolah formal, dan kalah dalam pengajuan untuk membentuk sekolah di panti asuhan, atau bahkan tak adanya pengajar yang mau menjadi guru.


Seluruh masyarakat sepakat, bahwa apa yang dilakukan ibu Sasvaty adalah pelanggaran hukum. Sebab Sasvaty secara tidak langsung telah mendukung adanya kawin silang antar ras lain.


Tapi yang paling menyakitkan buat Falas adalah ibunya yang menutupi semua penyiksaan itu darinya. Menyimpannya sendiri, menanggungnya seakan sanggup membawa semua pada baik-baik saja, padahal sangat buruk.


Seluruh cerita itu memicu rasa kesal dan menyesal menyatu dalam jiwanya, membentuk kernyit kening, membuat napasnya terasa berat, atau bahkan jantungnya berpacu tak stabil.


Sesalnya bahwa dirinya tak mampu menyadari kesulitan mental ibunya, padahal dirinya adalah anaknya. Kesalnya adalah dia mengetahui rahasia ini setelah diujung kehancuran, atau kalimat yang lebih tepatnya adalah kesal karena dirinya sibuk pada mimpinya yang membutakannya.


“Seharusnya ... kalian beri tahu aku lebih dulu ...,” komplain Falas dengan tertunduk menanggung lara dan mengepal tangan penyesalan.


“Maafkan kami, ada hal yang tak dapat diungkap oleh kata-kata ... terkadang hanya dapat dijawab oleh pengalaman dan waktu,” balas anak laki-laki bertubuh kelelawar.


Falas bergigit menahan beban emosi yang rasanya ingin dilampiaskan. Hanya dalam sekejap, seluruh cerita dalam realitas, kini menjadi beban moral.


“Dan sekaranglah waktu yang tepat ... kami ... akan merenggut keadilan itu,” beber anak bertubuh kelelawar dengan tegas dan mantap tetapi masih samar berazamnya.


Falas masih tertunduk dalam geram, bersama lima temannya yang kini tiba-tiba melangkah pergi menuju ke dalam gedung. Tak ada kecurigaan kala teman-temannya pergi. Entah akan pergi ke mana, yang jelas mereka tak mengajak Falas.


Namun demikian, selang tujuh detik berlalu, Falas mengepak sayap terbang menuju ibunya. Iya, Falas ingin tahu kebenaran dari teman-temannya. Untung baginya bahwa ibunya tengah berada di taman awan buatannya, lebih dari itu, ibu Sasvaty tengah bersama suaminya —ayah Falas— yang memang suaminya memiliki kelainan mental.


Falas mendarat di atas awan, memanggil ibunya dengan lantang dalam rasa iba. Ayah dan ibunya sontak mengalihkan perhatiannya pada Falas dan kini mereka saling berhadapan.


“Falas datang ... Falas datang, waktunya main ...,” ungkap sang ayah sambil bertepuk tangan hingga menimbulkan suara 'prok' 'prok' 'prok'. Dan pandangan netranya nampak ke mana-mana.


“Nah ... kamu datang, tadi ayahmu membantu ibu untuk membangun taman ini lebih baik lagi ... supaya kamu ...,” penjelasan ibu Sasvaty terpotong.


“Ibu, jelaskan padaku! Mengapa ibu menerima hukuman warga?” desak Falas tanpa basa-basi dan memasang raut muka serius.