Nurvati

Nurvati
Episode 22: Suatu Kelabilan Jadi Bukti.



Kerlip gemintang masih menerangi langit malam, udara ikut menemani suasana malam diwaktu yang tenang ini, seolah pertarungan dengan siluman macan tadi hanyalah mimpi buruk dalam tidur.


Falas sengap, butuh waktu tiga detik menimbang-nimbang keputusan terbaiknya. Meski Nurvati telah berusaha memaklumi, tetap saja kejiwaan seseorang sulit diterka.


“Ya ... bagaimana ya ... kau cacat ... karena kau tidak sama seperti umumnya ...,” ujar Falas yang akhirnya berpendapat.


Mengangguk menjadi awal ekspresi Nurvati, mau tidak mau dia harus menerima kenyataan pahit ini. Sakit hati, tentu ada secuil perasaan itu, namun keinginan untuk menerimanya membiaskan perasaan sakitnya.


“Tetapi ... kalau perspektif kita balik ... maka ... besar kemungkinannya ... kalau umum itulah yang cacat, karena ... tidak sesuai dengan kebenaranmu,” tambah Falas yang sebisa mungkin mencerahkan pola pikir Nurvati. Sebisa mungkin tidak menyakiti hatinya.


Berkat perkataan kedua Falas, Nurvati merenunginya baik-baik, bungkam beberapa saat kemudian buka suara, “Tapi tetap saja sakit hati ketika tujuan kata-kata itu dilontarkan adalah untuk merendahkan kita.”


“Ya, itu sih wajar ... sudah begini saja, aku masih kurang tahu apa yang terjadi antara kau dengan Putri Kerisia sampai-sampai kau seperti membencinya,” balas Falas yang justru penasaran dengan kehidupan Nurvati bersama Kerisia.


Menanggapi itu, Nurvati merenung beberapa saat, ia agak enggan untuk menceritakan kisahnya, sebuah masa lalu yang pahitnya membekas di hati dan berat untuk kembali dikuak.


Kendati begitu, dalam satu helaan napas, Nurvati yang tarumatik mulai bercerita, tentang awal pertemuan dengan Putri Kerisia, tentang canda tawa seperti anak kecil bersama sang Putri, tentang harapan bersama sang Putri, tentang keseharian mereka yang selalu berdua, ke mana pun pergi berdua, berpetualang di kota selalu berdua, laksana kembar siam yang hidup berdua, namun, semua itu hanyalah tipu daya sang Putri demi tujuan oportunisnya, memanfaatkan ikatan pertemanan agar Nurvati rela menjadi babunya. Cerita pun berakhir dalam deskripsi perpisahan Nurvati yang murka dan menolak ajakan Putri Kerisia.


Menerima sejarah yang dituturkan langsung oleh Nurvati, itu membentuk perenungan yang dalam bagi Falas, mencoba untuk menjadikan sejarah itu sebagai langkah demi mengenal Nurvati lebih baik lagi.


Tentunya, waktu pun berjalan di belakang bercerita Nurvati, hari semakin larut, dan angin terasa semakin dingin.


“Sekalinya seorang yang cacat sepertiku memiliki teman, maka rasa penuh syukur dan harapan besar bergantung pada teman itu, tapi, rasa sakitnya selaras bersama kebenaran yang terkuak, bahwa ternyata, harapan melahirkan kekecewaan dan pertemanan tak selalu menghadirkan kebahagiaan.”


Telinga Falas yang telah menerima kebenaran, peristiwa dari hidup Nurvati langsung diproses oleh kejiwaan Falas, dan memunculkan konklusi penting; Nurvati mudah terbawa suasana dan bisa dikatakan sensitif, atau tepatnya, labil. Itu cukup wajar, karena sebagaimana adanya, Falas serta Nurvati masih memiliki citra remaja.


Menanggapi pengalaman Nurvati, Falas hanya mampu berucap, ”Tak apa Nurvati, namanya juga jin, jadi santai saja, kita nikmati sisa hidup selagi belum mati.“


Nurvati yang merasa hampa dalam dirinya, kini berkat mencurahkan sedikit kegundahannya, mulai merasakan plong di benaknya, apalagi suara renyah Falas; membentuk dukungan moril yang baru kali ini ia dapatkan, khususnya dari seorang anak laki-laki. Tetapi kepalanya tertunduk menatap lutut dalam alam renungan.


”Aku tidak menyangka, kau mau bercerita juga,“ kata Falas dengan kesan menyanjung malah demi melontarkan kalimat ini Falas sampai menoleh demi memandang roman Nurvati. Itu bentuk apresiasi.


Dan kala wajahnya kembali terpusat pada kucuran air dari bambu, Falas berujar, ”Awalnya aku kira kita akan marah-marahan, eh ... ujungnya saat aku sudah sekarat kau baru memahamiku.“


Mendadak, Nurvati yang merasa tersindir lantas mengangkat wajahnya dengan menengok pada Falas, dan membalas, ”Bukan begitu ... aku cuman hati-hati pada orang lain, takutnya dia berbahaya.“


“Hahahaha ... bahaya ya ...?” singgung Falas dengan santai.


“Ya, 'kan namanya hati-hati ... pasti dong harus mencari tahu buktinya,” bela Nurvati dengan tegas nan mantap.


Falas mengangguk-angguk mencerna secermat mungkin pengakuan Nurvati, lalu berucap, ”Ya sudah ... bagaimana kalau besok aku akan menunjukkan keluargaku?“


Sebuah kalimat yang selama bertahun-tahun ditunggu Nurvati akhirnya muncul juga; memberi tahu alamat rumah Falas, itulah yang teramat memendam rasa penasaran.


”Yang benar?“  tanya Nurvati memastikan sampai memutar setengah tubuhnya memandang Falas.


Namun tiba-tiba kepalanya terangkat tepat memandang kucuran air dari bambu, seraya menjawab, ”Iya, lagian aneh banget kau mengotot ingin bertemu dengan orang tuaku, seperti orang yang mau menikah saja.“


Kalimat sindiran yang mengandung kelakar itu langsung Nurvati sanggah, ”Eh? Bukan begitu.“


”Atau jangan-jangan ... cita-citamu memang menikah denganku?“ guyon Falas yang berusaha mengubah suasana menjadi cair.


”Woy jangan bodoh! Aku cuman ingin tahu alamat rumahmu saja! Karena kalau ditanya tentang alamat rumah kau selalu mengelak!“ bantah Nurvati yang serius menanggapi guyonan Falas.


”Hahaha ... ya, 'kan aku takut kau orang berbahaya, makanya aku hati-hati ...,“ seloroh Falas dengan satire.


”Hem,“ balas Nurvati dalam raut muka datar dengan konyol. Diam mematungkan diri karena kalimat itu cukup membalikkan anggapannya.


Bersama waktu yang berjalan dalam malam hari nan sunyi, mereka harus bergegas pulang karena larut malam bisa menimbulkan tindakan kriminal lebih terang. Riak air di kolam membuat Nurvati menoleh pada Falas; Falas bangkit dari duduk, rehat sejenak lengkap dengan kesembuhannya telah tercapai, keputusannya kini ia harus pulang.


”Ayo kita pulang, sebelum ada hantu jail,“ ajak Falas dengan candaan serta keseriusan. Dan kedua telapak tangannya saling menepuk membersihkan.


Tak ada ucapan, namun gerakan Nurvati yang bangkit dari duduk, mengisyaratkan persetujuannya untuk pulang, ia bahkan sempat mengangguk mengiakan.


Falas pun memutar tubuh sekaligus melangkah munuju jalan pulang, diikuti Nurvati dari sampingnya.


“Oh ya ... besok kalau ketemu orang tuaku jangan ajak aku nikah ya ...,” canda Falas.


Nurvati yang enggan, tak tertarik oleh humor Falas hanya berkata, “Ya ya ya.”


Tapi entah bagaimana, Falas malah tertawa dalam senang.


“Hahahaha ....”


“Itu tidak lucu,” tukas Nurvati.


“Bagiku itu lucu, karena kau objeknya ...,” guyon Falas tetap berjuang menceriakan Nurvati.


“Eh, kurang ajar kau.”


Meski tak terbentuk lekuk senyum, hati Nurvati tersentuh oleh Falas yang apapun kejadiannya selalu berusaha menghibur Nurvati.


Syukur bagi mereka dapat pulang bersama menuju rumah, walau malam tetapi aman.


Meski kebersamaan itu karena terdapat yang dikorbankan; diri Falas. Meski tak sepenuhnya perkataan Falas dipercaya. Nurvati yang menaruh iba serta janji harus memberi ruang supaya Falas mampu menginterpretasikan tujuannya dengan baik. Dan pastinya, keputusasaannya dialihkan sementara karena terintang akan sosok Falas yang terkesan misterius.


Tidak lebih bagi Falas, ia tetap menyimpan rahasia. Baginya penting untuk membentuk kedawasaan Nurvati dan hanya insiden ini yang sanggup menginterpretasikan perasaan yang tak terjawab.