Nurvati

Nurvati
Episode 39: Keadilan Pemicu Perang.



Masih larut dalam dendam yang dirasa wajib disalurkan, sebab dendam akan menuntun pada keadilan, dan keadilan itu adalah hukum. Nurvati tak melihat siapa-siapa lagi di desa ini, hanya sang bocah yang diam dalam getir dan sang ibu yang cukup impresif berusaha melindungi anaknya.


“Kau ras Peri 'kan, hendak apa yang kau lakukan di sini?”


Untung bagi Nurvati, bahasa ras Barqo mampu Nurvati pahami dengan ilmunya, sehingga Nurvati menjawab, “Haruskah aku mengatakan sekali lagi ...? Aku hendak menegakkan keadilan.”


Dan untungnya ibu itu paham bahasa Peri, sehingga dalam gejolak kewaspadaan sang ibu kembali berujar, “Pergi dari sini! Ras Peri sudah melenceng dari kebenaran! Merasa diri paling suci! Pergi!”


Dia, sang ibu hanyalah seorang wanita biasa yang berusaha membuat keadaan tetap damai, tapi dia sang ibu, malah mengkritik ras Peri, sampai memicu suasana menjadi tegang, dan sang bocah laki-laki hanya bersembunyi dibalik perlindungan ibunya, netra hijau itu, raut muka getir itu dan genggaman tangannya pada baju ibunya dalam kelesah itu adalah pemicu hati Nurvati untuk menetapkan, benar, menetapkan kalau mereka cocok sebagai bahan penegakkan keadilan.


Jelas, tangan kanan Nurvati langsung terulur ke depan pada sang ibu. Ini adalah jalan terbaik bagi Nurvati, tapi bahaya bagi sang ibu. Menyadari itu, netra hijau sang ibu berbuntang, kedua kepalan tangan mengerat, dan tiba-tiba, ketika hening malah menjadi kenyataan pahit, pahit bagi sang bocah laki-laki, tetapi manis menurut perspektif Nurvati.


Sang ibu telah melesat maju menghampiri Nurvati, niatnya hendak menghentikan Nurvati, tapi justru, ibu itulah yang terhenti, pupus niatnya, karena tangan kanan Nurvati telah melesatkan satu tembakan laser nuansa hijau —ilmu Hikmah Cahaya— tepat ke arah leher sang ibu. Dan suara 'bruk' menjadi isyarat kalau tubuh wanita itu jatuh ke tanah, terbaring tak berdaya, lalu tewas begitu saja.


Kejadian dramatis nan memilukan itu memicu sang anak menjerit kesedihan.


“MAMAAAAAAAA ...!”


Nurvati bak tak punya hati —bukan— Nurvati telah menutup hatinya oleh dendam. Ini baginya adalah keadilan. Dan berlarilah sang bocah terdorong psikologisnya dalam kejadian yang menyayat hatinya itu, tak lupa juga netra yang mulai berkaca-kaca itu menyertai kepiluannya, tanda sebagai hatinya yang memang terluka oleh kejadian ini.


Di depan Nurvati, dalam satu meteran, bocah laki-laki berpakaian sederhana itu; kaus dan celana pendek dari bahan emas, mendeprok di tanah menggoyang-goyangkan tangan kanan sang ibu, berharap senyum sang ibu masih terlukis, atau setidaknya ibunya masih sanggup berdiri sebagai wanita yang diagungkannya sebagai seorang ibu.


Suasana tegang menjadi hawa kesedihan, tapi itu bagi anak itu, tidak bagi sang Peri; Nurvati, dia tetap santai dan hati-hati.


Angannya terus meninggi tentang keadilan yang mulai berhasil dicapai, namun Lewat pemandangan impresif itulah, kesadaran Nurvati terasa mulai terhenyak, sedikit, hanya sedikit terhenyak, akan apa itu keadilan, mengapa mencapai keadilan dihidupnya kini terlihat menyedihkan. Tapi masa bodoh dengan itu, sebab mencapai segala sesuatu memang terkadang melelahkan.


Maka dengan bangga nan percaya diri, Nurvati bicara, “Lihatlah bocah, ini adalah keadilan, karena engkau merasakan apa yang aku rasakan!”


“Kamu ngomong apa?! Kamu ngomong apa?! Aku nggak ngerti!”


Ternyata anak itu tak mengerti ucapan Nurvati, dan membuat suasana agak kacau, namun dengan kejadian ini apa yang tak dapat disampaikan lewat kata-kata, akan dicapai lewat pengalaman, atau perasaan.


Ruang hening di sekitar mereka telah padam, terpenuhi oleh rengekan sang bocah pada ibunya. Ya, air mata yang tadi sempat berbinar di netra hijaunya, kini telah jatuh melimbur pipi keunguannya, jatuh menyedihkan.


“Kenapa kamu membunuh mamaku? Kenapa mamaku dibunuh? Apa salahnya?”


Pertanyaan polos dari bocah laki-laki itu malah seperti menampar kesadaran Nurvati, seperti menyentuh kejiwaan Nurvati, bahwa ada yang salah dalam menegakkan keadilannya. Namun demikian, ini tetap adalah keadilan bagi Nurvati, sebab sang bocah merasakan apa yang Nurvati rasakan.


Walau tak mengerti bahasa Nurvati, tetap saja Nurvati berkata, “Keadilan adalah membuatmu merasakan apa yang kurasakan.”


”Kamu ngomong apa, aku nggak ngerti!“


Terdengar aneh perkataan sang bocah kali ini, dia tak mengerti, tetapi dia tadi malah bertanya.


Maka 'Duar' sang pria dewasa itu terpental tujuh meter ke Tenggara, merobohkan satu pohon yang terkena tubuhnya. Itu adalah pria ras Barqo, pria bertanduk dengan pakaian dari emas yang menghias tubuhnya dan statusnya di sini diperkuat oleh teriakan sang bocah, bahwasanya pria dewasa itu ternyata adalah ayahnya.


”AYAAAAAAAH ...!“


Sontak, suasana tegang kembali menjerat, itu berkat kehadiran ayah bocah yang bersangkutan.


Nurvati bergeming menghadap ke arah sang ayah yang berjuang bangkit, dan kembali lagi sang ayah melesat menuju Nurvati, ayah bocah itu bahkan menggunakan kekuatan Petir-nya dari jemari tangan kanannya yang menyambar menuju Nurvati, 'ZRRRZZZRT', sayangnya, secepat yang dia bisa, Nurvati melompat ke atas, terhindar dari sambaran petir, lantas dalam sekedipan mata, ia turun kembali ke tanah, hingga telah berada di belakang sang ayah.


Maka suara 'Duar' menjadi bukti sang ayah berhasil ditendang Nurvati dari belakang, balik menyerang, dan terhempas pada sebuah rumah, menabrak tanah halaman rumah yang mengambang itu, lalu jatuh dan tersungkur di tanah. Terluka.


Nurvati bersyukur, bahwa dia berhasil menemukan orang tua yang memiliki seorang anak, ya, walau pun anak itu bukan seorang bocah perempuan, tetapi itu cukup demi menjunjung keadilan, bocah itu tetaplah bocah.


”BERHENTI ...!“


Sentak sang bocah yang telah berdiri di depan Nurvati, berdiri dengan mendepang tangan, sebagai sein melindungi dan mengharapkan terhentinya perbuatan Nurvati, dia juga berdiri membelakangi ayahnya yang sedang mencoba bangkit.


”AKU MEMANG ENGGAK MENGERTI BAHASA KAKAK! TAPI AKU YAKIN KAKAK MENGERTI BAHASAKU!“


Pernyataan lantang nan dinamis itu diiringi derai air mata seorang anak kecil yang tak ingin orang tuanya menderita, dia berusaha melindungi ayahnya meski dia tahu, bahwa tak mungkin mengalahkan wanita Peri itu; Nurvati.


Nurvati sengap, dia bergembing sebagai wujud apresiasinya atas keberanian bocah laki-laki yang menghalanginya atau tepatnya berani melindungi orang tuanya sendiri.


”JANGAN BUNUH AYAHKU! AKU NGGAK MAU HIDUP SENDIRIAN! JANGAN ... AKU MOHON ....“


Setelah merengek memohon, bocah itu akhirnya menangis sesenggukan, itu memperkuat argumennya yang terkesan wajib dilaksanakan, hatinya telah teluka, dan tetap berdiri dalam jarak dua meteran di depan Nurvati sambil mendepang.


”Hiks ... hiks ... hiks ....“


Angin yang mengalun lembut bersama tangisan kesedihan sang bocah, menerpa Nurvati, mengiringi sengapnya Nurvati; tak memberikan komentar apa pun, karena pandangannya masih tertuju pada ayah sang bocah yang didapati telah bangkit berdiri, bersiap melawan Nurvati.


Tak peduli pada air mata yang jatuh, tak peduli yang dilawan kaum lemah, sebab dendam itu menutupi hati dan pikiran Nurvati, menggiring perbuatan yang dirasa benar, maka tangan kanannya terulur ke depan, dan bersama sang ayah yang mulai melesat maju, laser nuansa hijau, tertembak dari telapak tangan kanan Nurvati, menerjang angin, dan mengenai leher ayah bocah itu.


”JANGAAAAAAAN ...!“ teriak sang bocah sambil memutar tubuh ke belakang, berusaha memeriksa keadaan ayahnya, atau kalau bisa melindunginya.


Dan sudah terlambat. Ayah bocah itu telah tewas terkapar, dan membuat sang bocah menanggung yatim. Entah mereka itu siapa, tapi Nurvati bisa pastikan kalau mereka adalah petani, bisa dilihat dari lahan tanaman yang terhampar di samping rumah, mungkin rumah mereka.


”Ayah ... hiks hiks, hiks ...,“ rengek sang bocah mendeprok pasrah tepat di samping jasad ayahnya, menangisi kepergian ayahnya, menangisi kepergian selamanya.


Dan kematian itu telah mengiringi keberhasilan Nurvati menegakkan keadilan.