
Kenyataan diliputi lagi oleh sengap, udara di ketinggian 100 meter hanya bertiup pelan, para pengunjung sibuk dengan kesibukan mereka. Cakrawala masih agak biru dan senja diharapkan membayar dahaga penantian.
Arenda tak mengerti dengan dirinya kini, kelesah masih eksis dalam jiwanya, ia kembali terpikirkan oleh kehidupannya yang kesannya terpaksa, entah baik atau tidak, tetapi ini tak nyaman.
“Apakah kau masih menyimpan cita-citamu?” tanya Apan lewat tenggilingnya.
Arenda terdiam dalam renungan, entah pertanyaan itu penting atau tidak, entah apakah Apan hanya ingin tahu saja atau ada maksud lain, jadi Arenda menjawab, “Tidak, tetapi kalau ada kesempatan baik ... bisa saja aku mencapai cita-cita itu ....”
Menanggapinya, Apan tak bicara, dirinya hanya mengangguk-angguk saja dan sepertinya memang hanya sekadar ingin tahu.
Dan waktu kembali mengiringi diamnya mereka, tak sebentar mereka hanyut dalam diam, setiap detiknya berlalu hingga setiap menitnya menyertai.
Arenda serta Apan tetap duduk dengan menjuntaikan kaki di tepi awan, Apan bahkan sempat menyesap air kaleng Energi pesanannya, yang memang dapat diminum bersama airnya. Uniknya, kaleng tersebut terbuat dari bahan emas.
Tak banyak kegiatan atau pembicaraan yang terjadi, mereka menanti dengan sabar mementum matahari terbenam.
Meski cukup sering matahari terbenam ditonton oleh mereka berdua, terutama Arenda, itu tak lantas menjadikan mereka jemu. Sebab, hal yang paling berharganya adalah, dapat mengulang kembali kebersamaan dengan sahabat.
Kedamaian di sini sempat diisi oleh suara dua bocah di awan bawah, yang dengan bawelnya dua bocah itu meneriakan baskara agar tenggelam menuju malam.
“Ayo malam, malam, ayo ...!” teriak bocah laki-laki dengan jingkrak-jingkrak kegirangan.
“Ayo terbenamlah matahari ...!” sambung bocah perempuan dengan mendepang tangan seakan dirinyalah yang akan menghadirkan malam.
Fokus perhatian Apan serta Arenda sempat beralih pada dua bocah itu, dua bocah yang mengingatkan akan indahnya masa lampau saat anak-anak.
Dua bocah itu terus saja berteriak-teriak ingin baskara terbenam, mereka bisa begitu gembira dengan apa yang akan tersaji di cakrawala, tanpa memikirkan beban keluarga, atau tanpa memikirkan beban negara, atau justru mereka mengalihkan segala beban hidup pada keceriaan hari ini.
Tapi bagi Arenda sendiri, segala kehidupan yang panjang ini akan menjadi jemu kalau mereka tak tahu caranya menghias formalitas dunia.
Netra coklat Apan cukup intens memandangi dua bocah itu, hingga bibir tipisnya menyunggingkan senyuman penuh makna.
“Aku jadi teringat ... dulu saat kita di sini, kita kena omelan nenek-nenek gara-gara bicara kita terlalu berisik ...,” ungkap Apan lewat tenggilingnya dengan kembali memandang cakrawala.
Mendengar itu, Arenda sempatkan tersenyum, karena kenangan unik itu memang benar adanya, lalu membalas, “Iya ... lagian dulu kita 'kan banyak berkhayal juga saat sore-sore di sini ....”
Menanggapinya, Apan tersenyum hingga gigi putih ratanya kentara.
“Waktu masih anak-anak berimajinasi itu terasa nyata dan keren ... tapi saat dewasa ... hmmm ...,” kata Apan lewat tenggilingnya.
“Ya, saat dewasa, kita memikirkan pekerjaan dan kenyataan yang tak semudah berimajinasi ...,” balas Arenda dengan menatap intens cakrawala.
“Saat bocah dulu ... kita ingin sekali cepat-cepat dewasa, hanya agar cepat-cepat mencapai cita-cita ...,” sambung Apan lewat tenggilingnya dengan raut muka renungan.
“Iya, saat kita yakin, kalau cita-cita kita pasti tercapai dan ... kenyataannya tidak ...,” ucap Arenda dengan raut merenung tanpa ada senyuman.
Dan sengap kembali mereka lakukan, menikmati lagi waktu berlalu disertai akan adanya tontonan baskara terbenam.
Hingga pada akhirnya, 3 jam yang direnggut dalam penantian membuahkan hasil yang diinginkan.
Langit oranye, kerlip bintang semakin benderang nan banyak, orang-orang nampak telah konsentrasi menatap lekat-lekat pada langit yang mulai oranye dan agak ultraviolet. Angin mengalun lembut melingkupi suasana senja ini. Aroma di sini wangi, aroma wangi yang tak pernah ada di alam ras Manusia.
Dua bocah yang sempat berisik, kini mereka berdua nampak tenang menikmati momentum impresif ini.
Setengah matahari telah tenggelam di balik pegunungan kokoh itu dan semakin lama semakin tenggelam, sinar oranyenya semakin berubah jadi ungu dan violet, gugusan bintang mulai berkelip semakin benderang, beberapa bintang jatuh sempat melintasi langit, sebelum akhirnya, baskara hilang dari langit, lenyap dari balik pegunungan dan telah berganti, jadi langit malam berbintang.
Detik ini, langit telah dihiasi ratusan gugusan bintang yang membuat langit agak violet dan ungu.
Setiap momentum seperti masa lampau itu, kembali merekah di benak Arenda dan Apan, terlebih mereka masih berdiri di sana, memandang kaki langit yang bertabur bintang.
Bukan karena lamunan atau lupa caranya bergerak, mereka hanya terlarut kembali pada semringahnya masa lampau yang selalu punya cara untuk menyingkir dari beban hidup.
Saat-saat itu cukup lama, mereka stagnan membiarkan siklus kehidupan di sekitar mereka bekerja.
Menjadikan suasana sunyi dan damai melingkupi mereka berdua, visual masa lampau yang paling berkesan, yang terekspos kembali gegara suasana dan pemandangan yang disuguhkan.
Kendati terasa, masih ada hal yang dirasa hilang, ada yang kurang dari sua pertama mereka ini, seperti menceritakan pengalaman hidup, atau seperti menceritakan keluh kesah mereka mengikuti budaya dunia, atau entahlah, yang pasti perasaan aneh itu sempat menyeruak dalam benak.
Hanya saja, pada akhirnya, malam itu Arenda terpaksa pulang, waktunya hanya sampai malam ini, sehingga segala kebersamaan harus berakhir di sini dan rencananya besok mereka akan kembali bersua di tempat awal pertemuan mereka.
Mereka pergi dan hanya itu yang terjadi. Tak lebih dari itu, karena memang tidak boleh!
Untung bagi Arenda, kelesah dalam kehidupan sempat terbiaskan karena kebersamaan dengan sahabatnya itu.
Hari yang paling berkesan bagi sang wanita keluarga kerajaan itu, dirinya yang dibentuk oleh paksaan serta formalitas hidup, telah jadi bingung karena terasa terombang-ambing oleh pikiran dan perasaannya sendiri. Dibentuk oleh tuntutan yang tak diharapkannya.
Seorang wanita dewasa yang dipecut oleh desakan keluarga kalau politik negara itu lebih penting daripada mimpinya menjadi ketua klan Daun.
Tangis, iya, tangisan sebagai isyarat ketidak-berdayaan melawan tekanan dunia pernah terjadi, tetapi itu adalah hal yang telah lama menimpanya. Sudah terjadi ketika perpisahan dengan sahabatnya itu, sebuah perpisahan yang menghilangkan segala impiannya itu. Perpisahan itulah tanda Arenda menangis tidak berdaya.
Pasalnya, sejak itulah hatinya jadi dingin, tak percaya pada keluarganya, tak lagi saling bertegur sapa pada keluarganya, tak lagi ingin melihat keluarganya, walau keluarganya selalu datang ke istana, hingga mencetuskan rasa ingin melarikan diri dari dunia.
Ingin berontak tapi terkesan salah, atau ingin merealisasikan mimpi tetapi takut dianggap jahat.
Motivasi menjadi sesuatu yang baginya tak pernah ia dapatkan, kecuali semenjak berteman dengan Apan dan hilang motivasinya ketika perpisahan dengan sahabatnya terjadi. Untuk itulah dia diam, karena hanya sanggup terdiam.
Dirinya juga takut bila bercerita pada Apan, lebih-lebih takut juga bicara pada suaminya. Takut kalau menjadi kesan yang buruk.
Arenda tak mengerti perasaan apa yang melandanya, ini pertama kalinya dia kelesah begini.
Tentulah terasa salah, baginya ada yang salah, dirinya menjadi seperti bukan dirinya, hanya sebatas pembentukan keinginan-keinginan luar. Terasa berlebihan memang, namun begitulah realitanya.
Kendati begitu, jika dia menjadi wanita lemah, dia akan ditindas, maka tak ada jalan keluar baginya kalau bukan terlihat kuat dan membiarkan arus kehidupan membentuknya. Meski pun itu menghancurkan mentalnya.
_______________________________________________
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
✅Demi mendukung /menghargai kinerja Author, cukup memberikan Like/Vote poin/koin.
(Bila ada kritik/kesan enggak perlu sungkan untuk menuliskannya dalam kolom komentar. Terima kasih.)