
* * *
Ujian penyihir diselenggarakan demi memilah mana-mana saja individu yang memiliki kredibilitas, kualitas serta tidak individualistis.
Selama para peserta menjalani ujiannya, Guru Gatary hanya duduk selonjoran di karpet emas, kitab sihir adalah objek pelampiasannya dalam menanti murid-muridnya, dia membacanya.
Baru satu tim yang berhasil mendapatkan liontin yang dicari. Dan hanya bernyanyi-nyanyi mereka mengitari api unggun. Dalam penantian ujian ini, mereka yaitu tim 10 melewatinya dengan bersenang-senang.
Di markas itu, hanya kedamaian serta kesenangan yang cukup eksis.
Namun nun jauh di sana, berkilo-kilo meter dari markas, akan diketahui, kalau para peserta masih dalam perjuangan yang berat. Mulai dari yang masih mencari entitas Ifret, hingga yang terpaksa bertarung demi mendapatkan sebuah liontin.
Impian, ambisi dan harapan, kembali jadi alasan mereka barjuang dan bertahan. Dan itu bukan lagi jadi rahasia.
Kendati demikian, seperti apa pun alasannya, atau apa pun tujuannya, akan selalu memiliki alur hidup yang berbeda, akhir yang dramatis atau akhir yang bahagia. Para penyihir, masih dalam realisasi perjuangan.
Saat itu, saat langit kebiruan masih tertutup awan hitam dari gunung berapi, pencarian demi menemukan klan Ifret tak jemu dilangsungkan. Terus dan terus disusuri setiap meternya tempat ini.
Sang putri kerajaan bangsa Barat yang terbang rendah tak sedikit pun mendapat secercah jejak sang Ifret.
Begitu pula Haro yang terbang tak menentu arah. Kadang lupa, kadang harus diingatkan.
Sedangkan Logia dan Arkta, sama saja tak dapat apa-apa. Seolah pencarian mereka hanyalah menghasilkan kesia-siaan.
Telah berminggu-minggu ekspedisi dan pencarian dilakukan, tetapi nihil adalah hasilnya.
Hingga 'Drap' ke dua kaki sang putri bangsa Barat mendarat keras di atas pasir kecokelatan.
Sungguh dirinya tetap berpose selayaknya wanita terhormat; pandangan ke depan, berdiri tegap, ke dua bahu sejajar, tangan kanan diangkat setengah badan hingga menekuk, dengan kepalan tangan isyarat sebagai keteguhan tekad. Tak penting di mana pun itu, tak penting siapa pun orang yang di hadapinya, Putri Kerisia tetap menampakkan entitas wanita bermartabatnya.
Tapi juga bukanlah itu yang terpenting.
Alasan kuat mengapa wanita terhormat itu berdiri di sana dengan menengadahkan wajahnya pada awan adalah, dirinya merasakan adanya entitas lain.
Iya, adanya aura pergerakan dari makhluk lain; kemungkinan besarnya adalah Ifret.
Fase itu bukan sekadar dimanfaatkan untuk mengetahui entitas lain, fase itu pun dilakukannya untuk berkontemplasi.
Kalau selama berlalunya waktu, dirinya telah melewati banyak kejadian di bangsa Barat.
“Ketua ...,” panggil Haro hingga mendarat di samping kanan Putri Kerisia. Membuyarkan renungan dalam sang putri.
“... ada apa?” selidik Haro dengan serius.
Raut muka datar tak berperasaan tetap melukis wajah cantik Putri Kerisia, bahkan dirinya menatap Haro seraya menjawab, “Sang Ifret itu di sini ....”
Sayangnya pengakuan yang sebenarnya bagus itu malah ditanggapi oleh kalimat tanya dari Haro. “Tapi ... memangnya kenapa?”
Putri Kerisia paham kalau Haro kumat lagi, sehingga dengan santai dirinya menjawab, “Pencarian kita artinya membuahkan hasil, tadi 'kan kita sedang mencari sosok klan Ifret.”
Sontak, barulah Haro tersadar akan tujuannya berada di sini. Kalimat tersebut membentuk mata Haro agak berbuntang, dia kaget dan juga senang.
“Ooh ... iya! Di-di mana dia?!” tanya Haro hingga celingak-celinguk mengedarkan segala tatapannya demi mengetahui keberadaan sang Ifret.
“Aku baru tersadar dia bersembunyi di dalam oksigen, sosok ifret yang kita hadapi ini, cukup kuat ... dan licik ...,” beber Putri Kerisia dengan pandangan lurus ke depan pada kehampaan.
“Kalau begitu ... biar aku yang pertama melawannya!” aju Haro dengan ke dua tangan mengepal erat.
“Silakan ... aku akan coba untuk memanggil dua temanmu yang lainnya ...,” ujar Putri Kerisia dengan terbang menjauhi Haro.
Haro terbang dengan tangan yang diliputi energi nuansa hijau dan menyelia oleh netra berpancar cahayanya ke segala arah.
Inilah waktunya di mana Haro akan menunjukkan semua ilmunya pada teman-temannya. Dirinya akan habis-habisan dalam pertarungan terakhirnya ini.
Dan waktu mulai memacu adrenalinnya semakin meningkat.
Untuk itulah energi nuansa hijaunya di tembakan ke setiap penjuru.
'Bouff' 'Bouff' 'Bouff'.
Lalu sensitivitas segenap panca indranya ditingkatkan.
“HYAAAAAAAT ...!”
Lantas 'BOOMM' gelombang energi nuansa hijau terbentuk, meniup angin ke segala penjuru, memukul setiap materi di dekatnya.
Dan seketika 'Whir' api kemerahan telah berkobar di atas pasir.
Itulah tempat di mana sang Ifret berada. Yang membuat Haro langsung menyelia api itu lekat-lekat.
“Persembunyianku telah dikuak ... Guahahaha ...,” tutur suara pria dewasa tanpa wujud.
Di sana api itu mulai membesar, tinggi membumbung mulai membentuk entitas kemerahan dengan lingkaran api di sekitar pasir.
Segala pencarian pun pada akhirnya terbayarkan dan waktu yang habis terlunasi. Netra ungu Haro tak lepas menyelia sesosok entitas itu.
Telah berdiri sesosok entitas bertubuh besar dan tingginya 4 meter, kulit yang merah tanpa pori-pori, bertelanjang dada, berjanggut putih dengan kepala yang dipenuhi tanduk-tanduk kecil seperti duri dan berwarna putih, irisnya nuansa hitam legam, tak memiliki alis dan giginya hitam runcing, terlebih ujung kupingnya runcing karena bercula.
Seorang jin dari klan Ifret telah menampakan dirinya di sini.
Wajahnya yang nampak sangar, dihiasi seringai sebagai menyambut realitas saat ini. Lalu dia berujar, “Manakah orang itu ... sang wanita yang pandai menemukanku ...?”
“Menyerahlah ... dan berikan liontin penyihir padaku!” desak Haro dengan pedangnya yang dijulurkan tepat di leher entitas Ifret itu.
Tapi yang terjadi bukan ketakutan yang terpampang, seringai meremehkan mengembang semakin lebar di wajah entitas Ifret itu.
Dan 'Whup' entitas Ifret itu menghilang. Dia hilang dari pandangan mata ungu Haro. Hingga dirinya mesti dikejutkan oleh suara entitas itu dari belakang.
“Jangan berharap, aku menyerah semudah aku mengelabuimu ....”
Namun anehnya kala Haro memutar badan ke belakang, hanya kekosongan yang didapatinya. Entitas Ifret itu mampu menghilang, atau berpindah tempat sekedipan mata.
Hingga Haro kembali dikejutkan oleh suara entitas Ifret itu yang berasal dari belakang.
“Seharusnya, kau tak perlu mengancamku ... seharusnya kau langsung menusukku ....”
Maka 'Wush' Haro memutar tubuh ke belakang, tetapi lagi-lagi yang didapatinya hanyalah kekosongan. Entitas Ifret itu berhasil menghilang lagi.
Kembali lagi sang entitas bersuara tepat di belakang Haro.
“Jangan ....”
Lalu 'Wush' Haro memutar lagi tubuhnya ke belakang sebelum kalimat dari sang entitas Ifret itu rampung. Tetapi dirinya dikagetkan lagi oleh suara sang Ifret.
“... sampai aku ....”
'Wush' Haro kembali berputar ke belakang sebelum entitas Ifret itu merampungkan kalimatnya.
“... yang malah ....”
'Wush' Haro kembali memutar badan dan mendapati lagi kekosongan.
“... mempermalukanmu ....”
Akan hal itulah, 'Swoosh' Haro berputar badan secara 360 derajat dengan pedangnya yang ditebaskan. Berusaha mengenai entitas Ifret itu, walau nyatanya, tetap gagal.
“SEPERTI INILAH KEHEBATAN ...!” teriak sang entitas Ifret secara tiba-tiba dari atas kepala Haro dengan tangan kanan yang melemparkan sinar kemerahan.
'DHUUUAAAAARRRRR'.
Ledakan api mengguncang tanah, mengagetkan dalam realitas, membuat tanah berdebam, kepul serta panas. Hingga ruang di sekitar dipenuhi oleh gelombang api.
Ilmu sang entitas Ifret mulai dipamerkan dan menciptakan ketegangan yang kentara.
_______________________________________________
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
✅Demi mendukung /menghargai kinerja Author, cukup memberikan Like/Vote poin/koin.
(Bila ada kritik/kesan enggak perlu sungkan untuk menuliskannya dalam kolom komentar. Terima kasih.)