Nurvati

Nurvati
Episode 69: [Kuning+Hijau=Kuning Lemon] Sang Penyihir.



Hamparan air terbentang sejauh mata memandang, dan ratusan jasad terbujur kakaku di sana, tewas dalam perjuangan meraih kemenangan, hari ini, harapan untuk bisa memberikan contoh kemenangan kemungkinan besar akan pupus.


Jenderal Perang Barajaya bergeming di udara dalam ketinggian 500 meter, satu penyihir di depannya dan satu penyihir lagi di belakangnya, tapi jiwanya sebagai petarung, tak gentar sedikit pun, tak merasa harus takut.


Penyihir memiliki tanda di keningnya, tanda seperti matahari senja dan tanda ini hanya digunakan bila perang tiba. Penyihir lawan memiliki tingkat Langit antara 1-4. Biasanya penyihir dengan tingkat seperti itu masih butuh media perantaraan untuk memanifestasikan sihirnya. Seperti butuh tongkat atau daun dan bahkan beberapa benda unik lainnya.


[Kuning+Hijau\=Kuning Lemon]


Keilmuan warna Hijau berpadu keilmuan warna Kuning, menjadi Kuning Lemon, energi sihir Langit Satu hingga Empat pun terbuka.


Secara umum, kemampuan penyihir Langit Satu mampu menguasai sihir penyegelan dan sihir kesehatan. Langit Dua, mampu menguasai sihir tanaman dan sihir pengubah wujud. Langit Tiga, mampu menguasai sihir ilusi dan sihir pikiran. Langit Empat, mampu menguasai sihir cermin dan sihir suasana.


Perbedaan paling mendasar ilmu Sihir dengan ilmu Hikmah selain daripada pembacaan mantra adalah sihir mampu menyerang lebih agresif ketimbang ilmu Hikmah —sulit ditangkal— kendati sihir hanya memiliki kemampuan yang sedikit, tetapi itu justru mematikan dan di atas lebih hebat ketimbang ilmu Hikmah.


Seluruh prajurit lawan telah berbanjar dalam kesiapan menyerang, mereka nampak masih kuat untuk bertarung, tak ada ketakutan dalam jiwa mereka, karena sudah merasa 'diatas angin'.


Kapten dari wakil Jenderal Barajaya melihat ini adalah sebagai kegagalan. Sudah terpojok.


“Jenderal, kita tak mungkin melawan para penyihir! Mereka sangat kuat!” keluh kapten yang terbang tepat di bawah Jenderal Barajaya dalam ketinggian 495 meter dari air.


Sedangkan 100 pasukan lainnya yang tersisa hanyalah dari ras Peri. Pasukan ras Etho gugur semua.


100 penyihir level Langit 4 dan level Langit 3 ada di sini semua, sisanya sudah gugur. Dan melihat dari perspektif sang Jenderal Barajaya, dia menilik segala kemungkinan yang ada, dia bisa saja melesat dan membunuh penyihir, tetapi itu sangatlah mustahil, mengingat level penyihir di sini cukup tinggi. Jadi kemungkinan besarnya adalah mati.


“Tak ada perintah untuk takut! Kita serang sampai nyawa menghilang!” sentak Jenderal Barajaya dengan kedua tangan yang memunculkan energi hitam lalu terbentuklah panah yang kini dibidik pada penyihir di depannya.


Maka asumsi akan mati di medan perang bukan lagi jadi bayangan, melainkan jadi kenyataan, begitulah pikir sang Kapten yang kini mengeluarkan energi nuansa putih dari kedua tangannya, kemudian terbentuklah sarung tangan Pelontar Bom Energi, sekaligus diarahkannya tepat ke samping kanan dan kirinya; pada penyihir yang terbang.


Lalu 'Siuw' panah api sang Jenderal melesat tepat pada sang Penyihir, lebih dari itu, 'Siuw' 'Siuw' 'Siuw' tak hanya satu anak panah yang dibidas, beberapa anak panah dibidas.


“....” Sang Penyihir merapal mantranya.


Telah diketahui, mantra cermin!


Mantra Cermin; sihir yang mampu membalikan serangan kembali pada penyerangnya.


Maka buru-buru Jenderal Barajaya melesat ke atas sembari memutar tubuh ke belakang dengan membidas lagi beberapa anak panah pada penyihir di belakangnya, 'Siuw' 'Siuw' 'Siuw'.


Ini adalah rencana sang Jenderal, para penyihir itu lebih lamban ketimbang pasukan militer. Dan benar saja, penyihir pertama berhasil menggunakan mantra Cerminnya, seluruh anak panah yang mengenai tubuhnya langsung berpindah menancap pada tubuh Jenderal Barajaya. Lantas Jenderal Barajaya melesat cepat pada sang Penyihir tersebut membiarkan tubuhnya terluka.


'Woush' tangan kanan sang Jenderal menciptakan pedang yang hendak ditebas pada sang penyihir, sang penyihir tak dapat menghindar, tetapi penyihir tersebut masih merapal mantra Cermin, yang artinya, bila dia ditebas, maka sang Jenderal pun akan tewas.


Dan 'Duar' 'Duar' ledakan energi mengisi tepat pada samping kanan dan kiri sang kapten, tetapi dua Penyihir itu tewas lalu terhunjam ke permukaan air. Sang kapten yang bersayap bulu-bulu berlian sangat bersyukur kalau ternyata sangat mudah mengalahkan dua penyihir itu, tak seperti asumsinya diawal.


Tapi tunggu!


Sinar kuning lemon telah meliputi ke dua kakinya.


“Sial!” umpat sang kapten. Dirinya sadar kalau telah terkena sihir Ilusi.


Lebih dari itu! Secara tak terduga telah terhunjam Jenderal Barajaya dan seorang penyihir ke permukaan air. Mereka berdua tewas.


“JENDERAAAAAAL ...!” teriak sang kapten sebagai ekspresi dari keterkejutannya.


Kedua tangan sang Kapten mengepal erat, dia tak berdaya, dia telah terkena sihir. Bahkan dirinya dikejutkan oleh dua penyihir yang tadi diserangnya kini telah berdiri di depannya, memegang tongkat emas dengan ujung berbentuk matahari. Dua penyihir itu masih sehat walafiat. Sekaligus tongkat itu mulai memancarkan sinar kuning lemon yang siap ditembakkan pada sang kapten. Kesimpulan pun terbentuk; Sayap Putih legiun satu telah kalah.


Tapi bukan itu yang dipikirkan sang kapten, dalam kesiapannya untuk mati, ingatan akan sang Jenderal masih melekat manis di angan-angannya. Ingatan kala dirinya dipercaya oleh Jenderal Barajaya untuk menjadi wakilnya. Ketika banyak kaum pria agak tak setuju, namun sang Jenderal Barajaya menjadi pria pertama yang mendukungnya, yang memberinya kesempatan.


Karena yang spesial dari legiun satu ini adalah satu-satunya kapten wanita adalah dirinya. Dia tak mungkin melupakan kepercayaan Jenderal Barajaya.


“Aku percaya padamu, tak penting kau seorang wanita atau bukan, pikirkanlah agar kau mati terhormat, itu cukup!”


Maka, kenangan itu serentak membangkitkan jiwanya, membangkitkan ambisinya untuk mampu menghabisi lawannya, menyingkap keputusasaannya yang tadi sempat menyeruak. Dia tak mungkin mati bila tak membawa kemenangan.


“TIDAK ADA PERINTAH UNTUK TAKUT!” sentak sang kapten meluapkan antusiasnya yang kembali memiliki asa.


Maka dengan terpaksa sang kapten menggunakan ilmu Pengenal Diri. Ini akan menjadi akhir perjalanannya.


Mula-mula, semua seolah waktu terhenti, hening, senyap dan bercahaya, lantas berkonsideranslah sang Kapten pada sang Diri Asli, “Izinkanlah ... aku manunggal kepada rahmat-Mu ....”


Dalam alam ke-Ilahi-an sang Diri Asli kapten muncul; 7 sayap yang setiap sayap menembus langit-langit 'alam semesta', yang tak mampu digambarkan secara utuh, namun bila secara tegas, bila segala hijab di alam ini disingkap tentulah kecemerlangan-Nya mampu membinasakan segala yang ada.


“Perang ini, tidak diridai-Nya ... apakah engkau rela jatuh dalam alam Neraka?” sabda sang Diri Asli yang terdengar dalam hati sang Kapten.


“Akan kuterima!” balas sang Kapten dengan yakin nan mantap.


Ketika dua penyihir menembakkan sinar sihir kuning lemonnya tepat pada sang kapten. Secara ajaib, seluruh sinar kuning lemon itu dilahap oleh sang Kapten, lalu 'BOOMM' gelombang udara yang begitu dahsyat menghempaskan semua penyihir di sekitar sang Kapten, gelombang angin yang menjangkau 1000 meter darinya.


Sontak, seluruh pasukan terperangah melihat kejadian tak terduga itu. Sang Jenderal Kiyogu dari ras Barqo pun hingga harus mundur beberapa langkah ke belakang bareng dengan beberapa pasukannya.


Satu hal yang penting, seluruh pasukan ras Barqo serta ras Maan menggunakan seragam perang yang sama; zirah dari baja. Dan pasukan militer ras Barqo serta ras Maan memiliki cahaya ilmu Hikmah, netra yang bersinar terang adalah pancaran ilmu Hikmah pada pasukan militer dari ras Maan dan dua tanduk nuansa putih cerah adalah pancaran ilmu Hikmah pada ras Barqo.


“Sialan! Dia orang yang dirahmati!” seru Jenderal Kiyogu dengan menengadahkan wajahnya memandang kapten lawan.


“Apa maksud Anda jenderal?” tanya seorang pria anggota militer ras Maan yang berdiri di samping kanan Jenderal Kiyogu.


“Dia menggunakan rahmat sang Diri Asli!” balas Jenderal Kiyogu dengan lantang.


”Eh? Anda bisa melihatnya?“ heran anggota militer.


”Bisa, karena aku pun bisa,“ balas Jenderal Kiyogu.


Sang anggota militer hanya mengangguk, dia paham kalau seseorang di medan perang ini, khususnya perang dunia ke-18, bila menggunakan rahmat sang Diri Asli pastilah neraka Jahanam adalah tempatnya.


Namun demikian, kalau bukan karena balas budi pada sang Jenderal Barajaya, sang Kapten pastilah tidak mau. Terlihat bodoh, bahkan gegabah, namun, rasa terima kasih yang begitu dalam pada sang Jenderal menutupi segala gegabahnya. Maka jelas, laknat di dunia hingga akhirat akan tercurah kepadanya.