Nurvati

Nurvati
Episode 143: Menyatakan Eksekusi Sebagai Hadiah.



Hawa pun mulai berubah. Dengan terdorong oleh kemurkaan dan kekecewaannya, energi ungu sihir dari ke dua tangan Logia ditembakan pada Putri Kerisia.


'Bouff' 'Bouff' 'Bouff'.


Tapi 'Buaf' 'Buaf' 'Buaf' energi sihir itu sukses Putri Kerisia tangkis hanya dengan satu tangan kanannya.


“KENAPA KAU MEMBUNUH HARO!? PUTRI DUNGU!” tanya Logia keras-keras dengan mencela. Terlebih ke dua tangannya masih dilimbur energi sihirnya dan raut wajahnya benar-benar menampilkan perpaduan kuyu nan marah.


Tak hilang gestur wanita terhormat Putri Kerisia, tatapan lurusnya pun tetap kokoh benderang, lalu menjawab, “Logia ... Haro ingin ini menjadi kebersamaan terakhirnya dengan kita, tadinya ... Haro ingin menunjukkan semua ilmu yang dimilikinya pada kita, mengalahkan Ifret dan mempersembahkan liontin itu untuk kita, hanya agar kita, mengakui dia ... kalau dia bukanlah penghalang tim ....”


“... tetapi ... aku merenggut nyawanya sebelum spekulasi itu jadi kenyataan ...,” lanjutnya dengan menjeda ucapannya.


Lantas netra merah lembayung Putri Kerisia terarah pada wajah kacau Logia, menyorot wajahnya dengan pancaran ilmu Cahaya netranya. Dan kembali berujar, “Aku melenyapkan Haro ... karena ... aku sama sepertimu, Logia ... aku punya impian ... dan kamu tahu ... kalau faktanya impianku adalah ... hanya ingin melihat timku gagal menanggung kematian ....”


”KAU PUTRI GILA!“


”KAU SEORANG YANG GILA!“


”KAU ORANG GILA KERISIA!“


Sentak Logia mendakwa Putri Kerisia yang tak menerima pernyataan Putri Kerisia sebagai aksioma.


”Sadarlah Logia ... faktanya, kau pun sedang berhadapan dengan seorang yang berjuang dalam meraih mimpinya,“ ungkap Putri Kerisia dengan mendepang tangan seakan menunjukkan kebenaran yang tak dapat dielakan.


Logia tertunduk menangis dengan bergigit menahan rasa sakit hatinya kegagalan. Ke dua tangannya bahkan masih diliputi energi ungu sihirnya.


Walau perkataan Putri Kerisia terdengar diskursif, tetapi hati Logia merasa adanya kontradiksi.


Atau momen ini malah menunjukkan visual kenangan bersama keluarganya dulu, ayah ibunya, atau kakak dan adiknya, lalu paman, bibinya, semua suara mereka yang terngiang bagai lantunan do'a dan dukungan telah beregenerasi jadi motivasi ekstrinsik dan kesuksesan yang mestinya dipersembahkan, kini seakan malah menyajikan kekecewaan bagi mereka.


Logia menggeleng-gelengkan kepala dengan tangisan kesedihan, lalu merengek, ”Seharusnya kau tahu ... putri gila ... mestinya kau paham ... kalau lima ratus tahun lagi ke dua orang tuaku akan dihukum mati ... dan ... artinya, mereka tak dapat melihatku mencapai kesuksesanku ....“


Lalu dengan kembali mengangkat wajahnya dengan memampang lagi muka kesedihannya pada Putri Kerisia, Logia melanjutkan pembicaraannya dengan bentakan. ”... ITU ARTINYA AKU TAK DAPAT MENEPATI JANJIKU PADA KELUARGAKU! ITU ARTINYA AKU SUDAH MENGECEWAKAN MEREKA ...!“


”... tidak tidak tidak ...,“ gumamnya dalam pikiran kalut sembari menggelengkan kepala merasa enggan menerima kenyataan.


”KAULAH PENYEBABNYA, PUTRI GILA! KAU MENGECEWAKANKU! KAU MENGHANCURKAN MIMPIKU!“ sentaknya dalam marah yang menggebu-gebu.


Tatapan tegas sang Putri Kerisia telah kembali lurus, namun tak memandang Logia, seraya membalas, ”Sayang sekali, Logia ... kita di sini, punya mimpi, sayang sekali ya, Logia ... kalau faktanya, aku, Haro serta Arkta atau bahkan sang Ifret, pun punya keluarga ... tetapi, seolah-olah keluargamu adalah yang paling harus kami prioritaskan ....“


Namun sekonyong-konyongnya entitas Ifret malah menyela, “Oh ... maaf, aku tidak punya keluarga, aku terlahir dari pohon pisang ....”


Entah itu hanya sebatas seloroh atau memang entitas Ifret itu anak yang dibuang di dekat pohon pisang. Namun yang pasti, untuk beberapa saat suasana terisi oleh senyap yang tetap dalam pandangan getir.


Logia bergigit membisu, dan tangannya masih dilimbur energi ungu sihir.


Hingga netranya mendadak kembali menatap Logia, hingga mereka saling bersirobok. Akan tetapi, kali ini tatapan Putri Kerisia sangat tajam dan menyelidik, lantas bertanyalah ia. “Siapakah yang akan kau pilih ... keluargamu atau keluarga Arkta?”


Pertanyaan yang sangat tak bermanfaat bagi Logia, yang dalam perspektifnya, Putri Kerisia hanya ingin menutupi kejahatannya dengan berkelir.


“DI SINI KAU YANG SALAH! SEKARANG MENGAPA SEAKAN AKU JADI YANG SALAH!”


“HEH PUTRI GILA! KAU SUDAH MEMBUNUH REKANMU SENDIRI, COBA DIPIKIR! KAU YANG SALAH DUNGU!”


Sentakan Logia yang enggan dijebak atau malah diputar balikan kalau malah dirinya yang salah.


Kendati tak ada jawaban dari Logia, tatapan Putri Kerisia masih terkunci memandang santai pada Logia.


“Kalau begitu ... apa yang kamu mau Logia?” tanya Putri Kerisia dengan begitu tenang.


Tentulah dengan lancar dan marah, Logia menjawab, “AKU INGIN MEMBUNUHMU! KAU HARUS DIHUKUM MATI UNTUK INI!”


“... DAN JANGAN COBA UNTUK MELAWAN!”


Kemudian berpaling kembali tatapan Putri Kerisia dari Logia pada kehampaan di depannya, dan tak sedikit pun citra anggun dari sang wanita terhormat sirna darinya.


“Logia ... sebelum kau membunuhku ... apakah kau tidak takut pada kastaku? Aku punya kekuasaan ... dan saat kau menghabisi seorang penguasa tertinggi sepertiku ... kebenaran apa pun yang engkau agungkan ... nyatanya ... gelar dan status sosial selalu punya cara untuk menyelamatkan sang penguasa dari hukum ... yang justru, kaulah yang dapat dihukum ...,” pesan Putri Kerisia dengan memberi peringatan.


Sudah sakit hati Logia di sana, tak kuasa luka dihatinya untuk diredam. Marah dalam jiwanya membuatnya tak lagi takut melihat siapa di depannya, karena dirinya memang membenci Putri Kerisia dan telah benar-benar terluka oleh perbuatan bodoh Putri Kerisia.


Hanya saja mengingat sebelumnya Haro hendak bunuh diri agar teman-temannya tak bergabung dalam kemiliteran, mau tidak mau sebagai pemimpin tim, Putri Kerisia harus mengorbankan jiwanya, agar Haro tidak mati dengan ejekan dari temannya lantaran Haro bunuh diri.


Maka secara pasti dan berani, ke dua tangan Putri Kerisia tergerak lalu mendepang seakan siap menyambut hukuman dari Logia, lebih dari itu, Putri Kerisia pun mempersilakan Logia melakukan eksekusi.


“Silakan bunuh aku, rekanku ...,” ujarnya dengan pancaran netranya yang menyorot wajah kepiluan Logia.


Maka napas pun tertarik kuat-kuat dari hidungnya agar menguatkan tubuhnya, bergigit dengan rahang mengeras karena kebenciannya berkantaran, ke dua tangannya yang diliputi energi ungu menjadikan sebilah pedang yang besar, yang merah, yang harus dipegang oleh ke dua tangannya, tapi tak diliputi oleh energi. Logia benar-benar sangat sudi membunuh Putri Kerisia.


Atau bukan sebatas kebencian!


Logia hanya ingin mereka memahami, kalau impian demi keluarganya tak boleh dilecehkan!


'Wush' Logia lompat dengan pedang yang ditebaskan menuju leher Putri Kerisia yang berdiri tenang di sana dengan mendepang.


Tapi 'Trang' sekonyong-konyongnya pedang besar itu ditahan oleh tongkat emas milik Arkta. Lantaran Arkta telah berdiri sigap melindungi Putri Kerisia dengan tongkat emasnya, menahan pedang besar itu agar tidak mencabut nyawa.


Bukan karena pertemanan, bukan pula karena rasa empatinya pada sang putri bangsa Barat. Alasan mengapa Arkta bisa berdiri di sana adalah, karena tergugah oleh cinta butanya pada Putri Kerisia. Yang pada substansinya, tak mungkin juga Arkta membiarkan dambaan hatinya tewas oleh wanita beringas seperti si Logia itu.