Nurvati

Nurvati
Episode 129: Sebuah Pesan Dalam Kebenaran.



Pertanyaan yang telah diekspektasikan sebelumnya, membuat Zui menegakkan badan dengan bersedekap menyilang, masih dengan pandangan teduh pada Arista hingga mereka saling bersirobok.


“Guru melakukan semua ini ... bukan lain agar kamu dapat memahami ... kalau kamu dan teman-temanmu salah dalam menginterpretasikan guru ... waktu tidak pernah bisa diulang, Arista ...,” ungkap Zui dengan tenang dalam keseriusan penuh.


Terkesan taksa dan ganjil mendengarnya, seakan itu bukanlah jawaban yang benar, bisa dikatakan, Zui lagi-lagi berkelir. Arista membisu tak mengerti dan wajahnya nampak sendu.


Ada momen saat segalanya jadi diam, suasana dalam tempat ini jadi hening, seluruh perasaan mulai berbaur jadi emosi.


Hingga senyap dibuyarkan oleh suara lembut dari Zui. “Arista ... kamu harus kuat, kamu adalah benteng terakhir di antara teman-temanmu, sebagai seorang tenaga medis pasti kamu tahu waktu-waktu krusial ....”


Hanya saja dengan raut muka sendu nan kelesah Arista malah membalas, “Kenapa harus seperti ini? Kenapa harus ....”


Arista menjeda keluhan verbalnya, kepalanya malah tertunduk dengan ke dua telapak tangannya malah menutup wajahnya dari segala kenyataan yang kini dihadapi.


Melihat sikap sendu Arista mendorong empati untuk Zui menghibur atau setidaknya mengalihkan kesedihan itu. “Hei Arista ... kamu tahu, aku ingin sekali menjadikanmu sebagai anak angkat, karena ... aku ingin sekali ada seorang wanita yang antusias dan ceria menjadi penerusku ... menjadi guru itu sulit, jadi ....”


Sayang ucapannya terpotong gegara Arista yang mengangkat kembali wajahnya dengan tangan yang telah tersingkap.


Pasalnya, ada senyuman senang yang malah tersungging di wajah manis Arista dengan mata terpejam dengan aura yang nampak tak lagi sendu.


Perubahan drastis itu jelas menghancurkan ekspektasi Zui diawal yang mengira Arista akan menangis dan kuyu.


“Guru kira kamu akan menangis ...?” sangka Zui.


“Nggak dong ... 'kan ini mimpi ... nangisnya nanti aja kalau udah bangun ...,” balas Arista.


Ungkapan polos itu hanya mendapat respons senyuman simpul dari wajah Zui, masih memandang teduh dengan hati yang tersentuh.


“Lagian ... 'kan udah janji, untuk nggak bakalan nangis ...,” ucap Arista dengan santai lalu tersenyun hingga gigi ratanya kentara.


“... tapi, bagaimana nanti caranya guru mengajariku?” usutnya dengan menatap serius pada Zui.


Itulah berazam Zui hadir di sini. Untuk itulah di sana Zui tersenyum penuh makna, terdiam dalam renung seraya menatap ke atas langit, segala takdir yang dilihatnya benar adanya, segala masa depan indah itu kemungkinan besar segera terealisasi. Sebelum akhirnya Zui buka suara, “Waktu adalah sesuatu yang relatif dan misterius ... ada yang bilang waktu itu ada karena adanya malam dan siang, atau ada juga yang bilang waktu karena adanya evolusi serta kehidupan ....”


Lalu dengan serius kembali menatap Arista, Zui melanjutkan untaian kata-katanya. “Jika di dunia ini tak ada yang abadi, maka sesuatu yang abadi tentulah bukan di dunia ... Arista ... aku akan mengajarimu lewat mimpi ... seperti ini ... aku akan membimbingmu soal segala waktu.”


”Apakah ... yang di depanku sekarang adalah guru? Atau ... sesuatu yang lain yang mengikuti guru? Kata orang tuaku ... seseorang yang sudah mati akan hilang dari dunia, atau masuk nirwana ... jadi mana ada orang yang sudah mati bisa muncul di mimpi ... apakah ini halusinasi?“ selidik Arista.


“Arista ... untuk itulah ... aku datang ... segala doktrin yang dilakukan oleh dunia dan orang tuamu, dilakukan sesuai pengalaman hidup dan daya pikirmu ... saat nanti waktunya tiba ... kamu harus keluar dari doktrin itu ... dan lihat segala kebenaran dengan matamu sendiri ... tetapi ... kamu butuh guru agar tak terjerumus pada jalan yang salah ...,” papar Zui.


”Tidak ... yang akan kita ketahui hanyalah kematian kita sendiri dan beberapa hal yang berimplikasi pada kehidupan kita, kita memang bisa melihat hari kiamat ... tapi tidak akan mengetahuinya ...,“ tandas Zui cukup berani mengungkapkan kebenaran pada seorang bocah, tapi itu hanya sedikit.


”Eh? Aku jadi bingung ....“


”Semuanya sudah diatur, sudah disistematis, asal kamu tahu, saat nanti melihat segalanya, kamu akan sadar bahwa sesuatu itu berubah, kehancuran akan terjadi lalu ruang hampa itu akan kembali terbentuk, terus seperti itu berkesinambungan secara evolusi, secara sistematik ... tetapi ... kiamat tidak bisa diterka,“ jelas Zui tanpa takut membuat Arista kebingungan. Karena dirinya yakin suatu saat Arista akan paham dan justru bisa saja Arista lebih baik ketimbang dirinya.


“Kalau begitu ... dunia paralel itu ada? Atau apakah kita memiliki diri yang ada di masa depan?” usut Arista yang termakan imajinasinya sendiri.


“Tidak ada dunia yang begitu ... itu hanya ada pada khayalan saja, tak ada diri yang di masa depan, itu juga hanya daya imajinasi saja ...,” sanggah Zui dengan serius tetap santai.


Namun membisu Arista dalam ketidakmengertian.


“Arista ... kita sudah mutlak adanya ... kita adalah wujud dari perbuatan ... dan perbuatan kita akan teralisasi pada wujud di masa depan, jangan menafikan kenyataan, inilah perpaduan masa lalu dan masa depan yang menjadi masa kini ...,” ralat Zui dengan sungguh-sungguh.


Masih membisu Arista dalam ketidakmengertian.


“Arista ... untuk saat ini guru hanya ingin menyampaikan satu hal penting, persiapkan mentalmu ... pusatkan pikiranmu, jangan banyak berkhayal ke mana-mana, kamu akan mempelajari ilmu yang cukup rumit untuk dijabarkan ... sehingga untuk saat ini, pertanyakanlah terlebih dulu apa posisimu dalam masyarakat,” imbuhnya.


”Tunggu guru ... tapi kata guruku di sekolah, waktu itu hanyalah manipulatif ruang dan materi lalu karena adanya gabungan tersebut maka waktu pun tercipta ... tapi ... kata orang tuaku waktu terbentuk dari mata sang Dewa Mata Tiga ... bahkan temanku berkata waktu adalah hasil dari sinergisme Para Pencipta ... lalu yang benar yang mana?“ heran Arista.


”Pusatkanlah terlebih dulu pada perbuatanmu dan berbuatlah dengan alasan tepat, lalu korbankan segala hasilnya demi masyarakat, tak perlu berpikir ke mana-mana, kesampingkan khayalan pada konsentrasi kejiwaan penuh ... kalau kamu ingin hebat seperti gurumu ini, lakukan apa yang diperintahkan ...,“ tuntut Zui dengan serius bahkan tatapan netranya cukup tajam seperti menggugat Arista agar mau sepakat.


Mulanya Arista diam dalam renungan yang dalam, dia bingung setengah mati, namun mengingat dirinya serta teman-temannya memang ingin menjadi pahlawan dalam masyarakat maka tanpa balasan secara verbal, Arista mengangguk-angguk sepakat.


”Oh iya guru ... sekarang guru tinggal di mana?“ tanya Arista penasaran.


Dengan tersenyum tenang dalam pandangan teduhnya, lantas Zui menjawab, ”Guru berada di Langit ke Dua.“


“Loh ... kenapa tidak masuk nirwana saja, atau menghilang?” heran Arista.


“Saat dewasa nanti kamu akan tahu ...,” balas Zui berkelir.


“Haaaaahh ... kenapa orang dewasa selalu begitu ...,” keluh Arista.


“Sekarang kembalilah pada teman-temanmu, semua korban anak-anak yang diculik sudah diselamatkan ... nanti guru akan hadir kembali ...,” pinta Zui dengan serius.


Arista terdiam memandang intens pada Zui, seiring segalanya memudar, seiring realita mulai kembali meresap pada kejiwaan Arista, semuanya mulai kembali normal.