
Bersama kedamaian suasana di perumahan elite ini, dua ras Peri itu berdiri berhadapan menyisakan jarak 7 meteran.
Ketua Hamenka justru sekonyong-konyongnya malah berkata, “Loh ... bapak kira kamu sudah wafat ... eh ternyata masih bernapas ....”
Nurvati yang menyikapi kalimat itu dengan santai, membalas, “Hmmm iya ... mungkin matinya nanti."
”Nah ... sekarang kamu juga sudah punya pendamping hidup ya ...,“ seloroh Ketua Hamenka dengan memandang angsa putih di samping kanan Nurvati.
”Mana ada ... angsa aneh ini hanya angsa biasa yang mengintil tidak jelas ...,“ ralat Nurvati dengan kaki kanannya yang menggeser angsa putih tersebut, menyiratkan kalau tak ada implikasi apapun dengan sang angsa.
Menyela waktu yang ada, lelaki yang sempat membuntuti Nurvati mulai mendarat pula di dekat Nurvati.
Sempat terkejut kala Nurvati mendapati lelaki itu ikut singgah di sini.
”Eh ... kau 'kan lelaki nyeleneh tadi?“ kata Nurvati dengan keheranan.
”Lelaki nyeleneh? Apa yang membuatmu berani melebeliku lelaki nyeleneh?“ heran lelaki bermata hitam itu merasa tersinggung.
”Ahh ... kau dan burung angsa ini tadi sempat saling menatap mesra 'kan?“ ungkap Nurvati dengan menunjuk angsa putih di sampingnya.
Mendengar kalimat itu hingga membuat tenggorok Ketua Hamenka melahirkan kata, 'Eh' karena terkejut.
Sedangkan lelaki nyeleneh itu membela dirinya. “Apa?! Angsamu itu tadi malah menyerangku! Dan tak ada kaitannya dengan menatap mesra!”
“Wah yang benar ... aku melihat tadi kalian nampak akrab ...,” canda Nurvati dengan berkacak pinggang.
”TIDAK MUNGKIN AKU AKRAB DENGAN ANGSA GALAK ITU, JANGAN MENGADA-ADA KAU WANITA JALANAN!“ ujar lelaki itu keras-keras tak terima dengan candaan Nurvati.
”Heh ... kau sebut aku apa tadi?!“ tanya Nurvati merasa tersinggung.
”Kau juga sama saja malah melebeliku pria nyeleneh! Tak ada satu pun wanita yang berani menyebutku pria nyeleneh!“
”Hahahaha ... laki-laki nyeleneh ... seperti itu saja sudah tersinggung ....“
Dan melihat adanya kejadian yang konyol di depannya ini menjadikan Ketua Hamenka melerai. ”Sudah sudah ... jangan sampai candaan kalian malah jadi perang ....“
Lantas Ketua Hamenka menoleh pada lelaki itu dengan berujar, ”Nah Marn ... tumben sekali kau pulang, apa ada masalah lagi dengan aparat hukum? Atau dengan wanita mana lagi yang kamu permainkan ...?“
Maka dengan sikap panik hingga menggeleng-geleng kepala, Marn membela diri. ”Eh ... tidak ayah, tidak ada masalah kok ...!“
Lalu dengan malu dan berbisik dia berkata, ”Jangan bicara begitu di depan wanita ini ....“
”Ohh ... cari mangsa lagi kamu ya ...,“ sindir Ketua Hamenka yang seolah sudah tahu kalau anaknya suka bermain perempuan.
Atas alasan itulah Nurvati menyadari kalau lelaki nyeleneh itu bernama Marn, agak sulit diucapkan secara verbal, sehingga Nurvati yang sadar kalau lelaki itu agak nakal, menyela, ”Wah ... ternyata dia ini anak Ketua Hamenka ...?“
”Iya ... anak pertama yang agak bengal ...,“ jawab Ketua Hamenka membenarkan.
”Tidak, aku tidak bengal ... aku ini sebenarnya laki-laki yang baik ...,“ timpal Marn berapologi dengan tetap menyelipkan ke dua tangan ke saku jubahnya.
Hingga tiba-tiba, dia bernamaskara dengan sedikit menundukkan kepala penuh hormat, memperkenalkan dirinya secara formal pada Nurvati. ”Perkenalkan, namaku Marnka Namus, dipanggil Marn, aku seorang pimpinan organisasi Naratsa di kota Barata ini dan senang bisa bersua dengan nona ....“
Status sosial yang diungkapkannya pastilah mengandung maksud tersendiri, secara tersirat dia kembali lagi berusaha membuat wanita cantik di depannya ini tergoda, berharap Nurvati takluk olehnya.
Tentulah Nurvati bernamaskara pula dengan memperkenalkan dirinya. ”Namaku Nurlaesa Vati, panggil saja aku Nurvati ....“
Lelaki itu kembali berdiri tegap, memandang Nurvati dengan senyuman simpul menawannya.
Marn memiliki tubuh yang tegap dan tinggi dengan rambut hitam lurus yang agak panjang, kening lebar dengan hidung mancung, wajahnya mulus agak oval, kendati tidak lebih tampan ketimbang Falas, tetapi memiliki lesung pipit memesona kala dirinya tersenyum. Tubuhnya diselimuti jubah nuansa hitam berlengan pendek yang menutupi hingga ke tumit kakinya.
Tapi meski Nurvati kembali kesikap tegapnya, dirinya tetap sama sekali tak menyiratkan ketertarikannya pada Marn.
Hingga suasana yang sempat senyap itu disela oleh sayap kanan Ketua Hamenka yang mendorong Marn dengan berujar, ”Heh ... jangan macam-macam dengan murid ayah yang satu ini ....“
”Iya iya iya ... aku 'kan hanya berkenalan saja ...,“ bela Marn berkelir.
Hanya saja, karena memang Marn punya pekerjaan yang baiknya tidak ditinggalkan, memaksanya untuk saat ini harus bergegas pergi.
Dan dengan melangkah pergi sambil melambaikan tangan kanannya pada Nurvati, Marn pun pamit. ”Dadah wanita jalanan ... aku bekerja dulu ya ....“
Hanya kata 'Eh' yang mencuat dari mulut Nurvati menanggapi kelakar menyindir itu.
Maka Marn pun buru-buru terbang dengan mengepak sayap melanjutkan tugasnya.
”Anak ketua itu, sepertinya mudah bergaul ya?“ sangka Nurvati.
”Iyaaa ... kau bisa menilainya sendiri," balas Ketua Hamenka.
Bersama semilir angin berembus dan suasana senyap, yang hanya terlihat beberapa saja ras Peri yang melintas di depan rumah mewah ini. Dengan serius Ketua Hamenka pun bertanya, “Nah ... Nurvati, apa yang membuatmu datang kemari?”
Pertanyaan itu otomatis membuat segenap pikiran dan hatinya terpusat pada tujuannya, yang langsung diucapkan, “Tadi ... Ketua Hamenka menyebutku sebagai murid ... apa artinya ketua mau mengajariku sebuah ilmu ...?”
Mula-mula Ketua Hamenka mengangguk-angguk mencerna kalimat itu.
“Iya ... kamu memang masih murid saya di akademi kemalaikatan ... hanya saja, apa lagi yang mesti saya ajari padamu?” tanya Ketua Hamenka memastikan.
Pertanyaan itu berhasil membawa alam pikiran Nurvati pada perjumpaannya dengan Malaikat Abriel, memicu kaki Nurvati untuk melangkah lebih dekat pada Ketua Hamenka, dan dengan suara agak berbisik mulut Nurvati mencetuskan sebuah fakta. “Ketua ... aku telah berjumpa dengan Malaikat Abriel dan dia telah menampakkanku sebuah masa depan ....”
Sontak pengakuan itu mengejutkan seluruh diri Ketua Kehormatan Hamenka. “Itu perkara serius Nurvati, kamu jangan main-main ...!”
“Aku tidak main-main, aku bersumpah! Aku berjumpa dengannya! Bahkan aku diberi petunjuk untuk berjumpa dengan ketua!” sanggah Nurvati dengan begitu sungguh-sungguh.
Mendengar dan melihat Nurvati untuk momen ini, sejenak Ketua Hamenka melarutkan diri pada sengap. Dirinya terdiam beberapa detik dengan menilik Nurvati baik-baik.
“Ketua! Petunjuk itu mengarah pada ketua ... dan lagi aku juga ingin tahu ... apakah aku memang termasuk ras Peri atau bukan ...,” tutur Nurvati dengan renungan.
“... setelah hidup selama ini ... aku ingin ...,” ucapan Nurvati belum rampung, sebab telah disela oleh Ketua Hamenka.
“Oke Nurvati ... bapak akan coba menerawangnya ... apakah benar itu dia atau bukan ....”
Nurvati pun sengap dengan tetap fokus pada Ketua Hamenka.
Terlihat kalau kini Ketua Hamenka mulai bersedekap tangan dengan ke dua kakinya yang dirapatkan. Entah hendak melakukan apa, tetapi suasana kini terasa jauh lebih sepi dan senyap. Membiarkan waktu berputar seiring angin yang kembali bertiup kencang. Dan Nurvati menanti di sana sesabar mungkin.
_______________________________________________
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
✅Demi mendukung /menghargai kinerja Author, cukup memberikan Like/Vote poin/koin.
(Bila ada kritik/kesan enggak perlu sungkan untuk menuliskannya dalam kolom komentar. Terima kasih.)