Nurvati

Nurvati
Episode 198: Melepas Rindu Untuk Memasrahkan Kepergian.



Kendati seluruh pendengaran penjaga telah menerima info penting itu. Mereka tak lantas percaya. Tetap saja mereka berusaha membawa Nurvati.


“Ayo pergi dari sini!” sergah pria berjanggut.


Akan tetapi itu semua belum membuat Nurvati menyerah. Dirinya malah berteriak sekencang-kencangnya.


“YANG MULIA RAJA BANGSA SELATAN AKU SUDAH MEMBAWA PANGERAN AWARTA!”


“YANG MULIA RAJA SELATAN AKU MEMBAWA ANAK KALIAN!”


“YANG MULIA AKU MEMBAWA PANGERAN AWARTA!”


Teriakan bergema itu masih tak mendapat respons baik dan Nurvati serta kawan-kawannya tetap digusur untuk pergi. Tak hanya tiga atau empat kali Nurvati berteriak. Dirinya terus berteriak sebisa mungkin.


“YANG MULIA AKU MEMBAWA PANGERAN AWARTA!”


“YANG MULIA AKU MEMBAWA PANGERAN AWARTA!”


“YANG MULIA AKU MEMBAWA PANGERAN AWARTA!”


Hingga entah apa yang terjadi, sang pria urakan yang melihat kegigihan Nurvati malah membuatnya membuang lagi batunya.


Maka 'Fiuw' dengan ilmu elemen anginnya dia menghempaskan seluruh penjaga istana hanya dengan satu putaran angin.


'Bruk' 'Bruk' seluruh penjaga terkapar dalam jarak 20 meteran.


Belum selesai. Pria urakan pun menggunakan udara membuat dirinya, Nurvati dan sang angsa putih hingga meluncur cepat menuju pintu depan istana.


Masuk ke dalam istana melewati para penjaga yang kebingungan dan panik. Bukan itu saja, mereka berhasil lagi meluncur dengan udara masuk pada ruang keluarga nomor 7 istana Awan bangsa Selatan. Menghempaskan para tentara istana membuat kegaduhan dalam istana.


Nyatanya, raja awan serta sang ratu tengah menunggu beberapa rakyatnya yang hendak datang berkunjung dan terpaksa mendapat kunjungan dari para pribadi yang melanggar prosedur.


Ruang keluarga nomor 7 adalah taman bunga, dengan pemandangan langit birunya yang terdapat beberapa planet serta bintang jatuh. Cukup luas dan mewah, bahkan beraroma wangi nan khas.


Empat pelayan sontak terperanjat kaget melihat kedatangan mendadak ini. Lebih dari itu, Nurvati serta pria urakan telah mendarat di rerumputan nuansa ungu dengan tercengang dan senang. Sang angsa sendiri nampak pening, dia berputar-putar tak keruan.


“Ngok ngok ngok ....”


Raja dan ratu jelas seketika memandang kehadiran tamu-tamu itu. Berdiri dengan heran dan cukup marah.


Lima detik kemudian, empat penjaga istana bercahaya tiba-tiba masuk ke dalam taman, mereka mengepung Nurvati dengan tangan yang diliputi energi hijau yang terbidik.


Raja awan yang sama-sama wajahnya diliputi cahaya, hanya mencetuskan satu pertanyaan. “Siapa kalian yang dengan berani dan cukup hebat bisa datang kemari?”


Nurvati yang sudah berdiri tegap dengan berkacak pinggang, menarik napas panjang satu kali dan dengan lantang penuh percaya diri menjawab, “Saya membawa Pangeran Awarta!”


Tak lupa diakhiri oleh namaskara dengan tumungkul penuh hormat dan kesopanan.


Atas alasan itulah, raja awan yang cukup bijak, mulai menerima kehadiran Nurvati dan kawan-kawannya. Semua kerja keras untuk dapat berbincang dengan pemimpin bangsa Selatan terbayar manis.


Jadwal pertemuan dengan masyarakat tetap dilangsungkan, hanya saja, setelah matahari terbenam acara ditutup.


Dan selama itu berlangsung Nurvati serta kawan-kawannya menunggu di taman dengan menikmati setiap pemandangan yang ada.


Hingga akhirnya. Selepas waktu menuntun pada janji. Kala agenda hari ini ditutup. Maka di malam harinya, Nurvati dan kawan-kawannya diundang makan malam bersama raja dan ratu bangsa Selatan.


Pastilah yang bersantap hanya Nurvati dan kawan-kawannya. Sedangkan raja dan ratu menyerap angin, karena demikianlah ilmunya.


Barulah setelah makan malam usai, Nurvati membeberkan fakta penting lainnya. Mulai dari identitasnya hingga kebenaran pria urakan.


Pertama-tama, Nurvati menceritakan Pangeran Awarta yang menolak menikahi Putri Kerisia, lalu bertarung dengan Putri Kerisia, kedua, Pangeran Awarta mengalah dalam pertarungan, ketiga, Pangeran Awarta memasrahkan diri menerima takdir baru dan bonusnya Nurvati membeberkan kalau Pangeran Awarta akan terlihat kembali pada wujud normalnya hanya di tengah malam.


Tentu saja Nurvati mengetahui seluruh perjalanan hidup Pangeran Awarta berkat komunikasi secara roh dengannya. Nurvati bahkan disarankan untuk tidak membeberkan fakta tersebut pada publik, sekaligus tak membicarakan bila Pangeran Awarta berubah wujud. Kecuali hanya pada orang tuanya.


Mendengar hal mengejutkan itu, raja dan ratu bangsa Selatan tentu sangat bersyukur, bila nyatanya putra tunggal mereka masih hidup. Terlebih, kendati mereka telah mengetahui kejahatan Putri Kerisia, mereka tetap akan menganggap ini bukan suatu masalah besar.


Untuk itulah, di ruang makan mewah ini, mereka rela menunggu hingga waktu tengah malam. Dan iya, saat tengah malam terjadi, Pangeran Awarta kembali pada wujud normalnya.


Bagi Nurvati sendiri Pangeran Awarta cukup tampan, tapi tidak lebih tampan ketimbang Falas, hanya saja, lebih tampan ketimbang Marn.


Di ruang makan nan megah ini, mereka saling berpelukan, melepas rindu dan tersenyum penuh syukur.


Sedangkan Nurvati nampak duduk di awan sambil mengelus-elus tubuh angsa putih yang diribaannya. Lalu tertunduk dan tertidur.


Orang tua Pangeran Awarta tak banyak bicara. Mereka bingung meluapkan segala kerinduannya dengan kalimat singkat.


Hanya saja, Pangeran Awarta sempat memberikan pesan. “Ayahanda dan ibunda ... katakanlah pada saudara-saudara kita ... yaitu masyarakat ... bila aku telah wafat ... dan tolonglah untuk tidak mencariku, hentikanlah sayembara mencariku ... ayahanda dan ibunda pun tidak perlu khawatir tentang penerus selanjutnya ... nanti saatnya tiba, seorang laki-laki dari rakyat biasa akan memimpin bangsa kita ....”


Tak banyak bicara, orang tua Pangeran Awarta hanya mengangguk mengiyakan.


Meski sempat ke dua orang tuanya bertanya, “Apakah wanita itu adalah Sang Penyelamat yang kamu tunggu-tunggu?”


Namun dengan santai dan sekilas memandang Nurvati yang nyenyak dalam tidur, Pangeran Awarta hanya menjawab, “Dia termasuk Sang Penyelamat, tapi, tidak menyadari identitasnya ... saat saya bertemu dengannya, Diri Asli saya memberikan sebuah petunjuk ... kalau Sang Penyelamat yang asli adalah Malaikat Pembimbing ... tapi saya tidak mengetahui tentang klan Malaikat Pembimbing itu dan belum mengetahui kapan datangnya ....”


“Kita mesti mengikuti manusia, kemakmuran itu terjadi bila kita rela mengakui manusia sebagai pusat kehidupan kita ... jadi ... ujungnya ada pada pilihan kita mau mengikuti ras Manusia atau tidak ...,” balas Pangeran Awarta dengan sungguh-sungguh.


Selepasnya, Pangeran Awarta kembali pada wujud pria urakan dan pertemuan mengharukan itu pun ditutup oleh akhir yang cukup manis, tapi menimbulkan beban tersendiri.


Nurvati yang tidur, dibiarkan tetap tertidur. Hingga harus waktu berkutat pada peralihan jam ke jam. Malam yang dingin tergantikan oleh pagi hari yang cerah.


Di pagi harinya. Di sanalah angsa putih mencatuk-catuk kaki Nurvati, menjadikannya tersadar dalam tidur dan melihat sang pria urakan tengah duduk di awan, di depan Nurvati.


Seperti biasanya, pria urakan itu tengah berbincang dengan batunya. “Hari yang cerah ini ... akan membuat bugar pikiran kita ... ya 'kan batuuuuu ....”


Nurvati bahkan buru-buru beranjak dari sana kala melihat raja dan ratu tengah berdiri di samping kanan Nurvati.


“Maaf maaf ... kebiasaan saya suka cepat tidur,” sesal Nurvati hingga membungkuk beberapa kali.


Namun raja Selatan malah mendadak berujar, “Nurvati ... maafkan kami juga ... mesti merepotkanmu karena kelakuan putra kami yang suka seenaknya ....”


Nurvati yang menjadi kikuk kembali berkata, “Iya ... tenang saja ... sepertinya putra Yang Mulia Raja dan ratu akan banyak membantu saya diperjalanan ....”


“Memangnya, kemanakah kamu hendak pergi? Apakah kamu membutuhkan bantuan kami?” tanya ratu awan dengan nada suaranya yang lembut dan wajahnya tetap terhalang cahaya ilmu.


“Ohh ... saya akan melanjutkan pencarian mengenai Dewa Dewi yang dikutuk karena dihukum ... dan terima kasih ... untuk saat ini saya masih mampu berusaha sendiri ...,” tutur Nurvati blak-blakan.


Raja dan ratu bangsa Selatan nampak mengangguk pelan tanpa ada komentar.


Dan pada akhirnya, perjalanan Nurvati demi mencapai Diri Asli-nya kembali berlanjut. Mereka berpamitan di ruang makan itu. Malah raja dan ratu sempat memberikan penawaran bantuan bila Nurvati membutuhkannya.


Para penjaga istana pun hingga mesti mengantar Nurvati dan kawan-kawannya, layaknya tamu terhormat. Mereka diantar kembali ke kota Tyko.


Kembali di lapangan khusus kota, Nurvati, angsa putih serta pria urakan, bersiap lagi untuk terbang pada tujuan selanjutnya.


Tapi setelah dipertimbangkan baik-baik. Nurvati akan mencari Dewa Dewi yang dikutuk di bangsa Selatan ini. Oleh sebab itu, bersama berlalunya waktu dan dengan susah payah mengajak pria urakan untuk terbang, mereka akhirnya mulai meninggalkan lapangan.


_______________________________________________


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


✅Mari mendukung /menghargai kinerja Author, dengan hanya memberikan Like/Vote poin/koin.


(Bila ada kritik/kesan enggak perlu sungkan untuk menuliskannya dalam kolom komentar. Terima kasih.)