
Masyarakat, iya, sekumpulan orang-orang dari berbagai lini yang terhimpun pada sebuah negara, terutama di bangsa Barat ini, beberapa sekte, kelompok hingga masyarakat sipil, percaya kalau hukum saat ini belum mampu menunjang kejayaan bangsa Barat.
Ras Peri telah berubah semenjak Ketua Razael bersumpah memusuhi ras Manusia, dari kejiwaan, pola pikir hingga budaya, menjadi peralihan segala bentuk kehidupan.
“Hei, wakil rakyat siapa yang kalian wakili?!”
“Untuk apa banyak hukum kalau ujungnya untuk melindungi kekuasaan semata!”
“Bubarkan pemerintahan! Mereka memerintah tapi enggan mendengar suara-suara rakyatnya!”
Semua suara-suara rakyat itu adalah dari para pengunjuk rasa, mereka hadir di depan gedung parlemen agar aspirasi mereka dapat digugu, bukan sekadar bahan tontonan.
Khusus di pusat bangsa, di ibu kota, tepatnya pusat kota. Saat ini masyarakat tengah berdemo menyuarakan aspirasinya, 24 jam lebih mereka telah bersuara, di depan gedung parlemen itu para pasukan militer pun bersiaga penuh waspada, menyelia setiap gerak-gerik yang memungkinkan memicu perang.
Unjuk rasa ini dua isu yang diangkat, penolakan hukum kematian bagi tukang fitnah dan kebenaran perang dunia yang sama sekali menyeleweng dari kebenaran, iya, seperti yang sudah-sudah.
Perdana Menteri Fizo tengah berdiri bersama para jenderal, inspektur serta orang-orang terhormat lainnya. Menyelia para pengunjuk rasa yang tak dapat menerima keputusan pemerintah.
Sampai seorang lelaki dari anggota militer datang mendekat, mengabari informasi segar yang didapat.
”Lapor Pak, para pengunjuk rasa mulai terlihat anarkis, beberapa di antara mereka mulai menggunakan kekuatan energi,“ beber anggota militer dengan bernamaskara pada sang pemimpinnya.
Sang pemimpin pasukan huru-hara bukannya memberikan instruksi lagi, akan tetapi malah mendadak meminta solusi pada Perdana Menteri Fizo.
”Pak ... apa sekiranya yang baik dilakukan?“
Pertanyaan itu ditanggapi Perdana Menteri Fizo dengan baik, hingga netranya tertuju pada anggota militer di depannya.
“Apakah di sana terdapat tokoh berpengaruh?” usut Perdana Menteri Fizo berekspektasi.
“Iya Pak, di antara mereka pun terdapat ahli kitab, Ketua Kehormatan serta beberapa tokoh masyarakat,” jawab anggota militer dengan lugas.
Perdana Menteri Fizo mengangguk-angguk, ekspektasinya benar, lalu dengan lantang nan tegas berujar, ”Mereka membawa-bawa tokoh berpengaruh dalam bermasyarakat adalah demi menggiring opini publik, kalau pihak mereka saja didukung orang-orang terhormat, jadi pasti mereka benar dan kita salah ... kebanyakan rakyat itu dungu, baik sektenya mau pun kelompoknya, tujuan mereka berorasi dan membawa tokoh-tokoh berpengaruh hanya satu, yaitu ... agar mereka bisa berkuasa ....“
Beberapa pejabat mengangguk sepaham dengan Perdana Menteri Fizo, sisanya diam tapi dalam hati sependapat.
”Dengar perintah ini!“ seru Perdana Menteri dengan memandang ke depan pada kekosongan.
”... siapkan makam yang banyak, tandai tokoh-tokoh berpengaruh itu, jika mereka menyerang dengan sihir, kita serang dengan sihir lagi, jika mereka menyerang dengan kekuatan kita serang dengan kekuatan, hukum mati mereka yang berusaha mengkhianati bangsa! Karena yang memerangi kebenaran wajib dihukum mati,“ tandasnya.
Jelas mendengar itu membuat seluruh pejabat di tempat ini terperangah kaget mendengar kalimat yang tak disangka-sangka akan keluar dari mulut Perdana Menteri Fizo.
”Mohon maaf, tuan ...,“ kata seorang pria sang pejabat negara.
“Tenang saja, pemerintah sudah memberikan yang terbaik demi rakyatnya ... jika kita kasih mereka permen, mereka akan minta pabriknya, jika kita beri pabriknya, mereka akan minta orang-orangnya dan jika mereka sudah mendapatkan semuanya, mereka meminta kita memuja mereka ... siklus kerakusan ini tak akan berakhir ... kecuali dengan hukuman mati ... rakyat ingin kita berpihak pada mereka ... tapi mereka sendiri tak mau diatur ... jadi jelas, itu adalah kebodohan ...,” balas Perdana Menteri Fizo secara diskursif dalam pemahamannya.
Semua terdiam, meresapi pernyataan sang lelaki terhormat itu, meresapinya dalam pikiran liar mereka, yang menimbulkan konklusi kalau pernyataan Perdana Menteri memang ada benarnya. Walau pada dasarnya, tak mungkin juga mereka melawan sang Perdana Menteri, karena bagaimana pun, para pejabat itu pun butuh makan dan terlebih butuh kekuasaan.
Tak lebih bagi para penguasa sendiri pun hanya berusaha melindungi keluarga serta kehormatan mereka, sudah terlanjur mereka dalam kekuasaan dan hanya mampu mengikuti segala yang terbaik menurut pikiran mereka sendiri.
Tetapi di sisi lain, para kelompok masyarakat pun terutama yang berunjuk rasa tentulah ingin menjadikan negara mereka sesuai impian mereka, mulai dari yang hanya ingin dunia penuh kedamaian hingga ingin bangsa Barat ini mengikuti hukum dari kitab Keutamaan.
Ditilik dari hasrat mereka, ditilik dari harapan mereka, tak lebih mereka semuanya pun hanyalah menginginkan kekuasaan yang dengan kekuasaan itu ingin perdamaian. Tetapi demikian, bagi masyarakat yang tetap santai hidup penuh syukur, sesulit apa pun mereka percaya, betul-betul percaya, kelak, kejayaan itu akan datang, hanya perlu bersabar dan terus bekerja.
Dalam kenyataan yang tak mungkin dibantah, para tokoh masyarakat memang nyatanya berada di sini ikut beraspirasi bersama sekte serta golongan mereka masing-masing.
Dinding energi yang meliputi gedung parlemen masih belum mampu ditembus, para pengunjuk rasa kini hanya mampu mengandalkan suara mereka yang sama sekali tak didengar oleh para pejabat negara, mereka berorasi, tetapi jadi omong kosong belaka.
Hingga tiba-tiba beberapa anggota militer datang pada setiap tokoh-tokoh berpengaruh dalam masyarakat, membuat sedikit bersitegang gegara tokoh-tokoh masyarakat itu hendak dibawa oleh para anggota militer.
Di atas jalanan yang terbuat dari marmer itu kerumunan sekte dan organisasi malah rusuh dengan para pasukan militer, ratusan orang malah saling dorong mendorong.
“JANGAN BAWA KETUA KEHORMATAN KAMI!”
“Jangan bawa orang-orang yang dekat dengan malaikat!”
Anggota-anggota mereka membela diri, membuat tarik ulur antara pasukan militer dengan kelompok masyarakat.
“SIAPA YANG MELAWAN KEBENARAN WAJIB MATI!”
Anggota militer pun menggaungkan bait dalam kitab Keutamaan Tiga, dilakukan demi rakyat mau tunduk.
“PENGIKUT IBLIS KALIAN!”
“Atas nama 39 ras Malaikat suci, pemerintahan telah dikutuk!”
Rakyat sudah mulai berani mengutuk bahkan berani membawa ras Malaikat. Tentulah tiada lain mereka hanya ingin didengar dan digugu.
“Tenang-tenang ... biar saya dibawa ... tenang, kebenaran dipihak kita, tenang saudara-saudara ...,” kata seorang laki-laki Ketua Kehormatan berusaha untuk pasrah dibawa pasukan militer, tetapi itu bahkan sambil 'cari muka'.
Dengan kalimat-kalimat pembelaan perbuatan mereka yang seakan-akan memojokan pemerintahan, para tokoh masyarakat mulai dibawa oleh pasukan militer, dibawa lewat pintu teleportasi, namun entah dibawa ke mana, yang jelas sepertinya hari ini adalah hari terakhir mereka bersenang-senang.
Sedangkan rakyat lainnya tetap berorasi, berkoar-koar mengatasnamakan kebenaran, mereka tetap berjuang agar membuat pemahaman mereka digugu.
Walau setidaknya kerusuhan mulai mereda, hanya saja secara sembunyi-sembunyi, orang-orang yang melontarkan kalimat-kalimat kebencian telah ditandai untuk segera dieksekusi.