
Awan-awan di seberang mereka berubah perlahan, menyatu pada gumpalan awan lainnya, angin berembus kencang terasa hangat dan langit mulai jingga keunguan; hari telah petang. Nurvati dan Falas masih betah duduk di tepi awan, sesekali memandang laut, sesekali menikmati suasana.
Hari itu pun berakhir, cerita-cerita Falas menjadi bayang-bayang angan Nurvati, keseruannya terkesan menempel begitu manis dalam hatinya, padahal itu hanya sebatas cerita, namun mampu membuat Nurvati takjub, seakan-akan seluruh masalah hidup hanyalah bagian drama semata, bak pertunjukan sandiwara teater.
Dalam perjalanan pulang yang damai, Nurvati tetap dibopong oleh Falas, terbang menuju peraduan kebanggaan mereka, tak ada hal yang menarik di perjalanan kecuali kerlip gemintang yang menghiasi langit, malahan tak ada kata-kata yang menemani perjalanan, dan cahaya lampu-lampu rumah menjadi pemandangan sederhana dalam pulang, pulang pada nenek kakek Nurvati. Lalu setelah mengantar Nurvati, Falas pun kembali ke rumah.
Semua waktu kebersamaan di hari itu menjadi awal kedekatan mereka berdua, hingga di hari esok, Falas kembali datang, menjemput Nurvati dan mengajak Nurvati pada tempat yang baru, Nurvati yang penyendiri diajak pada tempat yang sama sekali tak pernah disangkanya. Batu-batu 'bunglon' adalah yang kini ia kunjungi, tempat di mana bebatuan hutan mampu berubah-ubah warna sesuai dengan vibrasi suara yang bergema. Menikmati waktu bersama Falas, meski masih ada kecanggungan pada Nurvati, itu tak membuatnya keki. Ia nikmati setiap detiknya, pemandangan yang menarik mata, udara yang sejuk, tenang, sepi, laksana tempat ibadah yang terlupakan, namun terasa tempat yang idaman bagi seorang penyendiri seperti Nurvati.
Sejak saat itu, kesepian telah menjadi bayangan semu, ada teman yang mengisi sepi, meluangkan waktu dalam keceriaan yang baru, sejak saat itu, Falas setiap harinya membawa Nurvati pada tempat yang baru, tempat-tempat yang di mana sangat cocok untuk menyendiri, setiap harinya, Nurvati akan diajak berpetualang hingga tak pulang beberapa hari, ia mulai terbiasa dengan bepergian. Falas tahu, benar-benar tahu, bahwa Nurvati tak menyukai keramaian, karenanya Nurvati bisa merasakan hebatnya petualangan tanpa adanya sorot netra aneh dari masyarakat. Dan Falas merasa bersyukur bisa menemani hidup Nurvati, sangat-sangat bersyukur.
Keceriaannya mulai terbentuk, semangat hidup mulai meningkat, asa dalam hidup mulai tumbuh kembali, itulah yang dilihat dari persepektif Falas pada Nurvati, yang kini telah 98 tahun mereka berteman, kecanggungan pudar, dan ikatan batin bagi Falas mulai terjalin. Falas sudah memahami Nurvati.
Antusias, pengertian, gairah, ceria, serta kalem, itulah sifat atau fiil yang Nurvati tangkap dari seorang Falas, mengenalnya sampai kakek nenek Nurvati mengenal Falas. Tentunya, Nurvati bersyukur memiliki teman sepertinya, atau berharap memiliki teman seperti Falas. Benar, seperti Falas, karena secara tepat, bagaimana pun kebaikan Falas masih dianggap sebagai 'barang dagang' untuk mendapatkan hati Nurvati; kepercayaan teman pada Falas masih semu, karena baginya, Falas baru hanya mengisi ruang sepi, namun belum merenggut keraguan menjadi keyakinan; yakin kalau Falas bisa dipercaya sebagai teman.
Tetapi, dalam rahasia, jauh di lubuk hati Nurvati, walau waktu yang panjang dikorbankan, kecurigaan Nurvati pada Falas, belum sirna. Falas ingin memanfaatkan Nurvati, itu yang terus membuat beban pikiran selama berteman dengannya, Nurvati tak berniat buruk sangka, ia hanya berhati-hati, kendati nyatanya, tanpa sadar, Nurvati telah berburuk sangka. Bukan itu saja yang melandasi kegundahan Nurvati. Falas enggan mempertemukan Nurvati pada keluarganya. Sebenarnya memang tak masalah bagi Nurvati sendiri, namun lama kelamaan, setiap saat Nurvati ingin datang ke rumah Falas, hadir hanya untuk menemuinya bermain, setiap itu pula, Falas akan mengelak tak memberi tahu alamat rumahnya, ratusan kali Nurvati bertanya, selama ratusan tanya itulah kebenarannya tertutupi dengan kata 'tidak' dari Falas, ada sebuah rahasia besar yang dipendam olehnya, yang mana hal sederhana itu malah menjadi hal yang terkesan rumit.
Tempat agak jauh, sehingga membutuhkan 'pintu teleportasi' untuk memotong waktu, saat seluruh waktu dipakai, dan jarak menuju destinasi terlintasi, dalam 3 jam perjalanan, mereka tiba di hutan bambu. Perlu digaris bawahi, hutan bambu di sini tak sama seperti di alam Manusia, bambu yang disebut hanya karena kesamaan bentuk tetapi berbeda fungsi; bambunya berwarna ungu, fungsinya hanya sebagai penghalang siluman.
Mereka —Nurvati serta Falas— memasuki hutan bambu itu tanpa terbang, dengan alasan agar dapat menemukan tempat 'istimewanya', menurut keterangan Falas, tempatnya hanya dapat dilihat bila jalan kaki. Terdapat dinding gaib di atasnya, memungkinkan siapapun tak dapat menemukannya bila dicari dari ketinggian. Butuh waktu dan perjuangan keras menuju tempat istimewa tersebut, bambu-bambu terlalu berdekatan, menutup ruang jalan, menghalangi pandangan mata, dan membuat tersesat. Rata-rata bambu di sini memiliki tinggi 7 meteran. Tetapi Falas laksana pemandu terampil, tanpa memotong bambu, tanpa merasa rambang, ia mantap menuntun langkah menuju destinasi.
Telah 1 jam penuh waktu digunakan, dan rasa penasaran mulai terlunasi, karena seluruh langkah yang mereka tapaki membuahkan hasil, hasil yang menghilangkan dahaga penasaran Nurvati. Kini mereka menanggung rasa senang dalam batin, menggugah bibir tersenyum simpul, lalu sepasang netra mereka terbius menikmati pemandangan indah dari alam, terpaku di atas tanah, tak terperikan memandang kolam air berwarna pelangi, itu adalah kolam dengan air terjun mini yang menakjubkan.
Kolam yang cukup luas di dalam hutan bambu nan sepi, tersembunyi dari makhluk-makhluk bertangan usil, bunga teratai air mengapung di atas airnya, air terjun mengalir dari lubang bambu, memenuhi kolam tanpa banjir ke permukaan, dan di tengah kolam terdapat batu besar yang berwarna hijau. Warna air kolam nampak berubah-ubah, warnanya terlihat bias dalam beningnya air, kucuran air terjun menimbulkan efek damai dalam telinga.
Falas serta Nurvati maju mendekati kolam, melangkah bersama untuk menikmati lebih dekat lagi, saat kaki terpaku di bibir kolam, sepasang iris mereka menatap intens menuju ke dasar kolam; jernih dalam semunya warna air, dan tak terlalu dalam di dasar kolam, satu meter kedalamannya. Tak ada apa-apa lagi kecuali air semata.
Merasa takjub dengan tempat tersebut, Nurvati mulai buka suara, “Siapa yang membuat tempat ini?”
Falas bersedekap menyilang tangan, seraya penuh percaya diri, ia menjawab, “Aku tidak tahu ... tapi, menurut firasatku, ini dibentuk oleh Dewi Awan.”