Nurvati

Nurvati
Episode 66: Kartu 'As' Jenderal Perang Dibuka.



Tapi dengan gegabah yang baginya gagah, Pangeran Azer memberikan komandonya, ”Serang langsung saja dengan satu atau dua legiun dan seterusnya, bila kita kalah, kirim lagi pasukan yang lain, sisanya akan aku bicarakan dengan para ilmuan ....“


Sempat hening sejenak para Panglima Perang; mereka ragu. Sebelum akhirnya suara lantang pangeran menggerakkan tangan mereka secara refleks.


”... cepat lakukan!“


Gegabah, sangat gegabah, itulah yang bersenandung dalam kepala Perdana Menteri Fizo, yang baginya lebih baik meminta bantuan para penyihir, menutup setiap celah risiko bahaya, namun, sekali lagi, Pangeran Azer telah menetapkan komandonya, dan percuma bila ditentang oleh kata-kata, kecuali oleh musibah.


Untuk sementara, beberapa legiun pasukan dari ras Peri serta ras Etho yang sekarat, kini tengah dalam tahap penyembuhan intensif, sedangkan sisanya, yang sembuh maupun yang memang sudah menunggu, tetap harus dipersiapkan terlebih dahulu.


Perdana Menteri Fizo adalah pria dewasa yang berusia 37.132 tahun, yang mana dia baru menjabat 10 tahun sebagai perdana menteri, dia adalah seorang ayah dari dua anak perempuannya, anaknya kembar dan berusia 15.000 tahunan.


Perdana Menteri Fizo memiliki wajah tirus yang cerah, netra hitam tajam, dengan rambut tebal yang tergerai panjang ke punggung, alisnya hitam nan tebal, hidungnya mancung nan lancip, badan bedegap laksana binaragawan, dengan tubuh yang dibalut seragam Perdana Menteri-nya, yang nampak ketat dibagian lengannya sehingga agak terlihat aneh kalau dilihat sepintas, akan tetapi segala keanehan itu terselamatkan berkat serasinya warna rambut dengan warna seragamnya. Seragam nuansa hitam berlengan panjang, serta celana hijau dari bahan batu safir.


Perdana Menteri Fizo sangat setia pada pangeran, dia bagaikan kakak dari Pangeran Azer, bahkan mereka adalah teman masa kecil, jadi ikatan batin telah terbentuk pada kejiwaan mereka, saling mendukung dan membantu sudah jadi budaya mereka.


Jari telunjuk dari seorang pria sang Panglima Perang menyentuh layar Cermin Pintar, tepat pada satu kartu bergambar sayap putih. Maka suara 'Tning' menjadi tanda yang dari satu kartu itu membentuk lagi enam kartu Sayap Putih yang berderet di layar cermin. Kini jari telunjuknya beralih pada kartu As; Jenderal Perang Barajaya. Maka terkoneksilah dengannya.


Jenderal Perang Barajaya, yang memiliki tinggi 2 meter, berusia 37.150 tahun, Jenderal Perang yang memiliki level ilmu Hikmah 16, yang didik untuk tak boleh memiliki rasa iba pada lawan, yang didik untuk memberikan segala hidupnya untuk negara, yang didik untuk mengorbankan nyawanya demi keluarga, teman dan pasukannya. Sang pemilik sayap dari baja.


Jauh dari alam ras Peri, tepat berada dalam alam ras Maan, di barak legiun satu ras Peri dan ras Etho, pasukan mulai membentuk barisan.


Dan inilah, legiun pertama yang akan dipimpinnya, ditugaskannya untuk memukul mundur legiun Pelangi lawan; dibantai.


Ini adalah alam ras Maan, alam yang didominasi oleh elemen air, hamparan air yang seperti membanjiri pasir di bawahnya, hamparan air yang terlihat sejauh mata memandang, langitnya biru, dan awannya adalah gelembung-gelembung udara, yang kalau pecah akan menjadi hujan. Alam ini memiliki tingkat gravitasi yang cukup tinggi, sehingga untuk mampu terbang ke langit harus memiliki tenaga ekstra.


Di alam ini tak ada pegunungan, 99% didominasi air, kebanyakan jin ras Maan hidup di dalam air atau lautan, wujud mereka seperti manusia, dua tangan serta dua kaki, tetapi mereka memiliki warna kulit pingai nan licin, rambut mereka gimbal, dan mereka memiliki buntut yang besar seperti buntut ikan hiu atau lumba-lumba.


Ras Maan adalah makhluk yang ramah dan pemaaf, mereka mudah berbaur dalam lingkungan masyarakat, satu-satunya jin yang bisa menerima perbedaan, kehidupan mereka damai, bersahaja dan membosankan. Belum pernah ada perang saudara di sini jadi persatuan mereka sangat kuat. Lebih-lebih dalam sejarah mereka, kaisar pertama ras Maan pernah meminum air mata keabadian, itu menjadikan kaisar ras Maan satu-satunya ras yang memiliki kaisar abadi yang menjabat hingga sekarang.


Masalah teknologi di sini tak begitu penting sama saja seperti ras Peri.


6000 pasukan ras Peri bersayap bulu-bulu berlian telah berbaris sebagaimana mestinya, sebenarnya ras Etho pun bergabung di sini, setengahnya dari pasukan ras Peri; 3000 pasukan adalah ras Etho.


Ras Etho berwujud mirip seperti manusia, dua tangan serta dua kaki, dengan kulit nuansa seputih salju, kulit mereka pun sangat keras, netra mereka sangat bulat, bening seperti kelereng kaca, mereka makhluk yang tak pernah tidur, gigi mereka seperti serabut yang fungsinya menyerap energi —sari pati— makanan, hidup tanpa bernapas, mereka punya bakat alami seperti bunglon yang mampu mengubah warna kulit, rambut mereka kebanyakan bening bahkan mereka yang sampai pada tahap ilmu Hikmah tertinggi, rambut mereka akan bercahaya.


Semua mengenakan pakaian yang sama; seragam bernuansa bening berkilau yang terbuat dari batu berlian. Wajah seluruh pasukan bercahaya, sedangkan dari ras Etho rambut mereka nampak bercaya, memang agak aneh, tetapi demikianlah adanya.


Hanya sang Jenderal Barajaya yang berdiri seorang diri di hadapan 6000 pasukannya, lalu terbang setinggi 100 meter dari permukaan air. Memandang dengan bangga dan kalem pada legiunnya. Wajahnya diliputi cahaya keilmuan.


”DENGARKAN AKU ...,“ seru sang Jenderal Barajaya yang suaranya dipancarkan lagi oleh energi pada gelombang ultrasonik, mirip seperti lumba-lumba.


”Kita adalah legiun pembuka! Kita tak boleh mundur, tak boleh kabur, karena kita adalah contoh untuk legiun selanjutnya, siapa yang kabur, kematian adalah hukumannya!“


”Ingat! Tugas kita adalah membunuh, maka bunuhlah setiap musuh di depanmu! Tak peduli dia mengemis ingin pulang untuk jumpa keluarga, tak peduli dia mengemis ingin dicintai, tak peduli apa pun itu, habisi mereka, karena mati di medan perang adalah kemuliaan!“


”Dengarkan ini! Tak ada kemenangan bagi mereka para pengecut! Mati di medan perang! Atau pulang bawa kemenangan!“ pungkas sang Jenderal Barajaya dengan lantang yang suaranya disalurkan lagi lewat energi gelombang bunyi yang merambat lewat angin.


Tak ada yang bicara, tetapi seluruh pasukan menepuk dada kanan mereka masing-masing sebagai tanda sepaham. Menepuk dengan kompak hingga tiga kali.


Maka berputarlah sang Jenderal menuju arah Tenggara di belakangnya. Dan ketika dia melesat terbang, dia pergi menuju medan tempur, seraya berseru, ”MAJU!“


Serentak seluruh pasukan dalam hasrat serta keyakinan yang mereka perasat, melesat pula, maju mengikuti sang Jenderal, tak ada ketakutan saat ini, persepsi dan pemahaman mereka menggiring kejiwaan pada keinginan untuk maju meraih kemenangan.


Setiap orang pada saat itu merasa bangga dengan hari yang kini mereka jalani, walau tahu, konsekuensi kematian sekarang jauh lebih akrab, mereka meninggalkan segala hidupnya, meninggalkan keluarganya demi sesuatu yang disebut kehormatan, dan dengan angan-angan kehormatan itu mereka bangga untuk pergi jauh dari alam mereka. Kehormatan ada pada kebenaran, dan kebenaran ada pula pada kehormatan, begitulah persepsi mereka.


Tapi sungguh, sungguh disayangkan, dalam perang ini mereka dalam kesalahan yang besar, kesalahan yang belum pernah ada pada umat-umat terdahulu. Kesalahan yang setiap roh tak dapat lepas dari tanggung jawabnya. Sebuah kesalahan yang bahkan tak ada perumpamaannya.


Namun apalah daya, mereka hanyalah para abdi negara, membela dan menjaga tanah air, itu sudah kewajiban bagi mereka, mengikuti penguasa adalah jalan hidup mereka, dan mati dalam kehormatan adalah tujuan hidup mereka.


”Jenderal, apa kita sanggup melawan para penyihir?“ tanya seorang prajurit ras Peri wanita lewat telepati yang memang wakil daripada sang Jenderal Barajaya. Yang bukan lain adalah kapten. Kapten diangkatan militer ras Peri adalah wakil dari Jenderal Perang.


”Bunuh yang mampu dibunuh, tak ada perintah untuk takut!“ balas Jenderal Barajaya lewat telepati.


”Siap!“ sahut peri wanita, kapten regu pertama, yang terbang di barisan pertama. Untuk saat ini memang belum takut, tetapi nanti, belum tentu.


Ras Peri terbang sedangkan ras Etho berlari cepat, mereka akan membuka perang militer Sayap Putih. Perjalanan menuju musuh bisa memakan waktu hingga beberapa hari, syukurnya mereka semua sudah terlatih untuk sanggup tidak makan selama satu tahun. Satu hal yang penting, seribu di antara 6000 pasukan adalah para medis.