Nurvati

Nurvati
Episode 168: Pahlawan Dalam Tanda Jasa.



Di atas dahan-dahan pepohonan, Nerta serta keempat sahabat setianya tengah menyelia segala tindak tanduk dua siluman kadal dari atas sana.


Hanya mengandalkan dedaunan serta jarak tinggi sebagai media menyembunyikan diri, netra mereka semakin menajam seiring pergerakan dua siluman yang mulai mondar-mandir seolah menanti entitas lain untuk hadir; menanti pemimpin mereka.


Di rerumputan nuansa jingga itu dua siluman berwujud kadal telah menculik seorang bocah perempuan. Dia digeletakan begitu saja di rerumputan bagai baju kotor, terlebih sama sekali tak menampilkan kesan kalau dirinya masih bernyawa; tak sadarkan diri.


Nerta yang berdiri di samping Gorah mulai merasakan adanya dorongan batin untuk mengakhiri segala pengamatan buang-buang waktu ini. Dia tak sabar dan tak dapat lagi menahan beban kesabaran.


Maka 'Woush' terjun Nerta menuju target yang seketika menggagalkan rencana diawal; menyerang saat pemimpin mereka hadir.


“PENYUSUUUP ...!”


Sebuah pekik bergaung dari siluman kadal itu, menandakan telah ketahuannya Nerta hadir di hutan ini, dan situasi yang semula aman, beralih fase menjadi genting. Itu pula yang membuat seluruh teman Nerta keheranan dan panik.


“Ih payah! Kenapa malah nyerang sih ...?!” keluh Arista memandang tindakan Nerta sebagai sesuatu yang gegabah.


“Loh loh ... kenapa ini?!” sambung Darko yang tak menduga adanya perubahan mendadak.


Sementara dentang pedang yang beradu telah bersipongan ngeri di bawah pohon, Nerta berjibaku melayangkan tebasan-tebasan pedang pada seekor siluman itu dan tentu dibalas baik oleh sang siluman.


'Klang' 'Tang' 'Trang' suasana menjadi tegang gegara pertarungan itu.


Seekor siluman lagi buru-buru menggendong bocah buruannya, enggan buruannya malah jatuh ditangan lain, malahan dia berusaha kabur.


Namun rencana busuk siluman itu tak dapat terealisasi, karena telah berdiri Gorah di depannya, menutup setiap celah jalan untuk kabur.


Lebih dari itu, bersama kebingungan sang siluman, 'Buuff' 'Buuff' bola-bola energi dari ke dua tangan Darko telah meluncur cepat menuju ke dua kaki sang siluman, dan sayangnya gagal mengenainya.


Siluman kadal tersebut melompat cukup tinggi ke udara, berjuang menghindari bocah-bocah pengganggu. Selang dua detik berlalu, Quin secara tak dapat diterka oleh sang siluman mendadak muncul dari balik rimbunnya dedaunan pohon.


Quin melesat dengan sebilah pedang menebas pada sang siluman.


'Tsrat' maka tersayat perut sang siluman hingga memuncratkan darah ungu kehitaman, membuatnya lemah terluka, terhunjam menuju rerumputan, tetapi cukup hebat dia mampu mendarat dengan baik-baik saja.


Lalu 'Srep' sebilah pedang milik Gorah tertusuk ngeri dari pinggang kiri sang siluman hingga menembus ke pinggang kanannya.


“KYAAAAAAA ...!”


Erangan kesakitan lahir dari tenggorokannya. Lebih dari itu, 'Cleb' sebilah pedang milik Darko tertusuk ngeri pada ubun-ubun sang siluman. 'Bruk' membuatnya ambruk menanggung mati.


Mereka berhasil melumpuhkan seekor siluman, sekaligus menyelamatkan bocah perempuan itu.


Sementara di lain keadaan, Nerta yang bertarung sendirian cukup keteteran melawan satu lagi siluman kadal. 'Trang' 'Tang' Seluruh kesulitan itu semakin diperparah kala dirinya mendadak tersandung batu, alhasil dia mesti jatuh terduduk, membuka peluang indah bagi sang siluman kadal untuk mengakhiri napas Nerta.


Peluang itu dimanfaatkan baik-baik oleh sang siluman, dia menusukkan pedang menuju perut Nerta, tetapi 'Dhep' meleset dan malah tertancap di antara paha Nerta; tertancap di tanah.


Cukup bergidik ngeri Nerta di sana, matanya berbuntang tak menduga, napasnya sempat tertahan di tenggorokan, pikirannya melambungkan analisa perihal dirinya yang 30 Cm menuju kematian.


Syukurnya adalah Arista berhasil menebas kepala siluman tadi, hingga 'Bruk' menewaskan langsung sang siluman dan menyelamatkan nyawa berharga Nerta. Bonusnya tubuh siluman itu ditancapkan pedang dari Arista.


Karena itulah situasi tegang mereda, keadaan mulai kondusif tetapi malah menanggung kegagalan misi.


“Kamu pikir, apa yang kamu lakukan?!” tanya Arista dengan berkacak pinggang memandang marah pada Nerta, menuntut klarifikasi dari sikap gegabah Nerta.


Nerta membisu, dirinya perlahan bangkit berdiri, raut mukanya hanya datar, tetapi menyiratkan kekesalan. Dia kesal harus kesandung dan mestinya dia sanggup melumpuhkan siluman tadi.


Tidak menggubris tuntutan Arista, Nerta malah berpaling, beranjak pada korban.


Untungnya sang korban masih bernapas, hanya saja mesti menanti 30 menitan lagi agar efek racun tidur itu lenyap.


Mereka berunding lagi mengenai kegagalan misi dan gegabahnya tindakan Nerta.


Tidak biasanya Nerta melakukan keputusan tanpa persetujuan teman-temannya. Pribadi seperti Nerta yang selama ini penuh pertimbangan dan selalu bermusyawarah, terkesan patah oleh kenyataan saat ini.


Dirinya mulai menampilkan kesan lain dari yang seperti semestinya.


Untuk itulah Quin yang merasa ada yang tidak beres berani mencetuskan pertanyaan penuh penyelidikan. “Kenapa kau malah berubah, Nerta?”


Bahkan Darko yang sama-sama heran menimpali, “Iya, seminggu kebelakang ini ... kau tampak berbeda ... seperti ... angkuh ....”


Sedangkan sisa teman lainnya hanya mampu memindai Nerta dengan tajam.


Nerta sama sekali tidak menjawab, romannya tetap menampilkan datar, sikapnya malah apatis, dia melenggok begitu saja menuju korban dan tanpa ragu malah mengangkatnya, memagutnya lalu melangkahkan kaki beranjak keluar dari hutan.


“Ayo kita pulang ...,” ajak Nerta dengan santai tanpa menjawab pertanyaan-pertanyaan teman-temannya.


Kalimat serta sikap itu jelas memperkuat spekulasi seluruh anak, kalau Nerta kini memang berbeda.


Kendati demikian, semua anak saling menatap penuh tanya satu sama lain, sebelum akhirnya mulai ikut melangkah menyusul Nerta.


Tetapi tentulah keadaan yang ganjil dan cukup merugikan ini kembali diselidiki teman-temannya. Mengiringi berjalan keluar dari hutan, mereka kembali menyempilkan pertanyaan mengenai perubahan Nerta.


“Aku tidak berubah ... itu hanya anggapan kalian saja,” jawab Nerta dengan santai dan bersikap dingin.


“Tapi 'kan ... kami temanmu ... yang ngerasainnya 'kan kami,” ujar Arista membela spekulasinya dan bersikukuh.


“Iya ... sekarang coba kau pikirkan, misi kita sudah gagal ... dan seenaknya kau mengambil keputusan tanpa berunding,” sambung Darko menguatkan lagi kalau ini bukanlah sebatas spekulasi.


“Kerja sama tim! Bukankah itu yang selalu kau elu-elu 'kan? Atau jangan-jangan kau ingin menafikan idealistismu itu?” cecar Quin demi membuat Nerta mengakui perubahannya.


Masih di dalam hutan menuju kota bersama hari yang telah senja. Seluruh tuntutan agar Nerta berani mengakui perihal perubahannya sama sekali belum terealisasi.


Argumentasi yang muncul dari kerongkongan Nerta lagi dan lagi hanya sebatas berkelir, hingga menampik dakwaan-dakwaan itu.


“Nerta! Ingat ... kita gagal dalam misi! Itu artinya kita gagal mendapat upah!” sergah Darko dengan meradang kesal dan seakan menuntut pertanggung jawaban dari Nerta.


Ritme langkah kaki Nerta tak berubah, pun sikap dinginnya tak padam, terlebih dirinya tak lagi berargumentasi.


Menyadari kalau ini bukan lagi spekulasi, sekonyong-konyongnya Arista maju ke depan sambil mendepang. Menghalangi Nerta, mengadangnya dengan memasang raut wajah berang.


Meski Nerta serta teman-temannya berhenti melangkah, kesan masa bodoh tetap pekat terlihat dari semua gestur tubuh Nerta.


“Minggirlah ... bocah perempuan ini cukup berat,” keluh Nerta dengan mengungkapkan bobot tubuh bocah perempuan yang digendong di pundaknya demi menarik rasa empati Arista agar rela memberi jalan.


“NGGAK ...! SEBELUM KAMU UNGKAPIN DULU ALASANMU BERUBAH!” sentak Arista masih berang dan kali ini menuntut dengan keras.


Suasana dalam hutan entah mengapa seiring waktu berlalu mulai terdengar suara-suara aneh. Seolah di balik pohon-pohon yang menjulang tinggi ini tersembunyi makhluk-makhluk yang hanya muncul saat hari mendekati malam.


Namun selang tiga detik sentakan itu mengisi kenyataan, Nerta dengan penuh percaya diri yang bercampur dengan raut muka tak berperasaannya berani berujar, “Kalian yang berubah! Cobalah renungkan lagi ... kita di sini untuk menjadi seorang pahlawan! Bukan mengejar upah ...! Karena yang kita kejar adalah keselamatan masyarakat! Misi kita menyelamatkan anak-anak! Dan bukan membunuh para siluman ...!”


“... dan ingat, kita adalah pahlawan, bukan penjual jasa!” tandasnya dengan penuh penekanan di setiap kata.


Sesudah terlampiaskan unek-unek itu, secara perlahan ke dua tangan Arista kembali turun, pikiran dan hatinya cukup tersentuh oleh argumentasi yang mengandung fakta, di sana raut mukanya berubah drastis dalam renungan. Bukan itu saja, semua teman-temannya tercenung karena argumen Nerta memang ada benarnya juga; mereka mengharapkan upah.


Tak mau banyak membuang waktu, Nerta berpaling, dia pergi lewat sisi kanan Arista. Berjalan apatis meninggalkan teman-temannya yang kini menanggung beban dilematik.