
Waktu berputar dalam realitas kini, seiring pikiran liar Nurvati yang terus mengekangnya seakan dirinya tak pernah berhasil keluar dari keputusasaannya. Harus diakuinya, kalau kenyataan ini menuntut Nurvati untuk sempurna.
Di sana masih duduk di tanah basah, diam dalam renungan terdalam. Entah mengapa ini seperti mimpi, mudah muncul dan mudah lenyap.
Kekecewaan justru mulai mengekangnya saat dingat-ingat kalau Malaikat Abriel malah enggan menunjukkan diri transendennya, dan malah menggiring pikiran liar Nurvati untuk berguru pada Ketua Hamenka.
Entah untuk apa juga dia melihat hari kehancuran. Entahlah Nurvati tidak tahu apa yang mesti dilakukannya, karena untuk saat ini banyak pertanyaan-pertanyaan yang masih belum terjawab.
Kepalan tangannya mengerat seiring dilematiknya. Tak sanggup jika dirinya harus melawan dunia dan untuk apa juga melawan dunia.
Dan setiap momen yang terbentuk menuntun pikiran liarnya pada Ketua Hamenka. Dilema juga jika harus berguru pada pria yang sempat menghalanginya untuk menegakkan keadilan.
Ditambah Nurvati adalah seorang pembunuh, sehingga Ketua Hamenka mungkin lebih senang bila Nurvati dihukum mati ketimbang berguru padanya.
Semua kejadian hari ini benar-benar aneh, membuat Nurvati terjebak oleh dilema dan kebingungan yang hebat.
“Ngok ... ngok ....” Angsa putih itu datang melangkah kesamping kanan Nurvati, entah hendak apa, tetapi dia malah berdiri di sana.
“Haah ... untuk apa aku hidup ... aku yakin, aku sudah menjadi buronan negara ...,” keluh Nurvati dengan tertunduk lesu dan menyerah.
Hingga kepalanya menoleh ke kanan memandang aneh sang angsa, seraya bertanya, “Sejak kapan ada burung angsa di sini?”
Entah burung angsa itu memahami atau tidak bahasa Nurvati, tetapi sang angsa menatap wajah bercahaya Nurvati. Dan agak konyol saat disadari kalau mereka malah saling bersirobok.
“Ngok ....”
Buyar pandangan Nurvati berkat suara itu, selebihnya Nurvati malah terpikirkan oleh kenangan-kenangan bersama Falas. Membuatnya tumungkul terlarut dalam kenangan masa lampau.
Masih cukup pekat bayang-bayang diri elok Falas, seperti senyuman santainya, atau suara renyahnya.
Dirinya yang terjebak dalam perasaan masa lampau, malah lambat laun terhanyut dalam kedamaian yang diiringi waktu berlalu, tenggelam perasaannya pada harapan ingin terobati lukanya yang putus asa, berharap dengan larutnya dalam kenangan itu dirinya sembuh.
Ketika perasaan yang meninggi itu seperti terobati, seolah kenangan serta visual-visual masa lampau menyuguhkan kekuatan, atau membawa hatinya pada titik zenit. Justru disanalah kenyataan menyentak jiwanya, seperti menyirami luka dengan do'a-do'a rohaniah nan jelita, seakan-akan memberikan jawaban dari soal-soal paling sulit. Kesadaran kalau Falas meninggalkannya tak dapat dielakan, kesadaran yang tersandar pada realitas, saat semua orang sama-sama ingin keadilan, kala realitasnya dunia ini pun memacu para pribadi untuk hidup dalam keyakinan dan terbentuk oleh doktrin serta pola pikir, atau seperti panggung kenyataan ini yang selalu saja diisi oleh para pribadi yang bernafsu ingin berkuasa dalam alasan-alasan menegakkan kebenaran.
Dan detik demi detik yang merenggut momen demi momen, mulai menggugah sang jiwa Nurvati seakan mengalihkannya untuk mampu menyembuhkan lukanya sendiri. Karena bagaimana juga, tak ada yang sanggup menyembuhkannya!
Waktu akan terus bekerja dan realitas tak sanggup dielakan, tak ada yang dapat menyembuhkannya kecuali diri pribadinya, keputusasaan yang mengekang dirinya memicu pikirannya benar-benar harus sanggup keluar dari segala masalah konyol di dunia ini.
Dan luka yang ada dalam hatinya berkontraksi dan berontak, atau laksana perasaannya sendiri hendak menghancurkannya, dan itu kini mulai dilawan.
“Aku wanita yang merdeka!”
“Aku wanita yang bebas!”
“Kenapa aku harus mengikuti formalitas keparat dunia ini?”
Realitas memang tak dapat dielakan, seharusnya, iya, semestinya Nurvati sanggup menaklukan dirinya sendiri, bergerak untuk tak diinjak-injak oleh dunia keparat ini.
Tak ada yang mampu menyembuhkannya, justru saat disadari oleh sukma Nurvati, adalah fakta kalau harapan, impian, serta keinginan hanyalah nama lain dari kelemahan dan kelemahan itu hanya akan memicu kekecewaan lalu kekecewaan membangkitkan keputusasaan yang lantas berujung untuk mati atau balas dendam. Pikirnya.
Lalu lagi dan lagi setiap momen itu menunjukkan eksistensi dari kebenaran realitas. Nurvati mulai merasakan titik pencerahan.
Fakta di lapangan telah memecahkan segala doktrin-doktrin dan ajaran-ajaran nyeleneh dari dunia ini, memacu pikiran dan hatinya yang terpusat pada kehidupannya. Harapan, ambisi, cita-cita, keyakinan, hasrat semua alasan-alasan keparat itu, tak pernah habis dan akan terus memicu perang, yang kemudian perang micu kebencian dan kebencian memicu dendam yang lalu berkutat lagi pada permusuhan dan terus pada alasan-alasan keparat itu.
Cinta, atau bahkan apapun alasan-alasan yang memaksa sang jiwa untuk bergerak maju, nyatanya tak pernah menghabiskan alasan-alasan keparat di dunia ini. Berlebihan memang, namun demikianlah fakta yang dilihat Nurvati.
Tak ada gunanya mencapai impian yang melelapkan sukma, tak ada gunanya menggantung harapan pada seseorang yang ujungnya kematian, tak ada gunanya mengikuti kepalsuan formalitas ajaran-ajaran dunia yang ujungnya adalah jual beli nirwana. Karena sesungguhnya segalanya terbentuk oleh keyakinan dan pola pikir. Iya, Nurvati mulai tercerahkan!
Karena ujung-ujungnya akan mati juga, dan Sang Maha Individualistis yang pasti selalu menang.
Waktu tetaplah apatis, kenyataan tetaplah begitu, sehingga tak ada lagi yang layak diratapi. Semua ini mulai berputar untuk jadi kekuatan mental.
Iya, dirinya tercerahkan oleh renungan dan pikirannya sendiri —bukan— sang wanita itu tercerahkan oleh realitas!
“Hidupku sudah berarti ... jadi tak perlu lagi cita-cita ... benar juga ... aku lupa ... yang seharusnya aku capai adalah identitasku ... siapakah aku ... mengapa aku yang bukan ras Peri hidup di alam ini?” gumamnya yang ditujukan pada mendiang orang tuanya dan diri sendiri, atau kalau perlu ditujukan pula pada dunia keparat ini!
Maka kenyataan mulai memacu jiwa sang wanita itu, membangkitkan asa mati surinya, melelehkan hati bekunya, menunjukkan pikiran liarnya, yang secara perlahan jiwanya semakin dewasa, lalu menggugah wajah bercahaya Nurvati menengadah, dihadapkan pada kenyataan yang hendak ia terjang sendiri, seakan harapan kedua itu, ia ciptakan sendiri. Atau dengan kata lain, kehidupan ke dua itu dibentuknya sendiri.
Benar, Nurvati memicu kehidupan dan kesempatan ke dua itu dan tak ada yang membantunya kecuali realitas ini!
Sorot baskara yang cerah telah menyiratkan diri Nurvati yang baru, jiwa dan semangatnya yang baru, terjaga untuk saat ini ternyata menimbulkan manfaatnya.
Bersama waktu yang bersinergi dalam realitas selama ini, wanita berambut panjang; Nurvati. Dirinya meraih titik pencerahan hidup. Selebihnya adalah, cinta yang akan terlupakan dan hanya diri sendiri yang memahami diri sendiri.
Ketika realitas dan kehidupan menggugah Nurvati untuk mengetahui identitas aslinya, dirinya perlahan mulai bangkit dari duduk, berdiri untuk tetap meniti realitas alam ini.
Wanita yang dicambuk oleh realitas dan tercerahkan pula oleh realitas itu, kini terpicu jiwanya untuk menguak identitas dirinya.
Maka tanpa sungkan-sungkan, tak mau banyak membuang waktu, dia membentuk pintu teleportasi dengan energi hijaunya.
Dia harus berguru pada Ketua Hamenka dan sejenak mengesampingkan masalahnya dengan negara atau perseteruannya dengan Hamenka. Atau juga menanyakan kebenaran Malaikat Abriel yang bertandang, takut-takut itu bukanlah Malaikat.
Hanya saja, bersamaan dengan tangan kanan Nurvati yang menggenggam gagang pintu teleportasinya, sang angsa putih malah sekonyong-konyongnya mencatuk kakinya, yang refleks wajah Nurvati memandang angsa itu.
“Heh ... apa ...?” herannya.
Tetapi hanya suara 'ngok' yang bergaung dari tenggorok sang angsa. Seperti menyiratkan kalau angsa itu hendak mengikuti Nurvati.
Dan karena tak keberatan juga Nurvati diikuti oleh angsa aneh itu, maka selepas Nurvati membersihkan badannya dengan ilmu Cahaya-nya. Dia membuka pintu teleportasinya, kemudian pergilah Nurvati bersama angsa putih itu menuju Ketua Hamenka, pergi bersama demi berguru pada Hamenka.