
Kembali waktu dalam putaran siklus realitas. Hari-hari berganti bersama minggu ke minggu, lalu berputar lagi dari waktu ke waktu, bulan demi bulan terlewati, hingga tahun dan tahun beralih.
Dalam perjuangannya mencapai Diri Asli, khususnya tugas ketiga menyelamatkan warga dari hawa Iblis, tersisa satu pribadi lagi yang mesti didapatkannya.
Akan tetapi, kendati Nurvati sudah menghabiskan 100 tahun pencarian, di kota Ertia, provinsi Utara ini, dirinya masih selalu mendapatkan hasil nihil.
Semua warga dalam damai, tak ada tanda-tanda individu yang terjerat hawa Iblis.
Ada pun tindakan kriminal, itu berkat ulah ras Siluman dari sebuah koloni dan pastilah Nurvati membantu mengusirnya.
Bersama sang angsa putih Nurvati tengah duduk di salah satu batang pohon nuansa putih, pohon berdaun warna-warni ini tumbuh di pekarangan rumah seorang nenek yang baik hati.
Baru satu jam Nurvati duduk di atas dahan besar tersebut, dirinya rehat sejenak dari pencarian yang cukup melelahkan mental.
Selama memandangi keadaan damai sekitar, Nurvati hanya duduk-duduk santai tak banyak yang dilakukan.
Hingga semenit setelahnya dirinya dikejutkan oleh Marn yang tiba-tiba datang menghampiri Nurvati. Entah bagaimana Marn mengetahui keberadaan Nurvati di tempat ini.
Dirinya terbang ke hadapan Nurvati dengan raut wajah dilema, senyum kecut sekilas mengembang lalu hilang saat dirinya berkata, “Nurvati ... a-aku ... aku datang ingin memberi tahumu kalau aku telah berubah ... tak lagi bermain perempuan ....”
Karena tak begitu penting bagi Nurvati, sehingga dirinya menyahut, “Keintinya saja langsung ....”
Atas alasan itulah, Marn mendadak berubah sikap, menjadi tegap, memasang muka serius, tatapan tajam ke depan, dengan satu kali tarikan napas dirinya berujar, “Aku mau mengajakmu menikah ....”
Ajakan yang sanggup mengubah hidup itu justru ditanggapi oleh Nurvati dengan santai, tak ada senyuman, hanya manggut-manggut, meresapi sejenak kalimat tersebut, kemudian dengan tatapan tajam pada Marn, Nurvati membalas, “Maaf, aku tidak akan menikahi pria mana pun ... kecuali lelaki yang dulu sempat mengubah hidupku ... jadi ... sepertinya aku tak mungkin menikah.”
Cukup menohok ucapan itu dalam pendengaran Marn, dirinya manggut-manggut berusaha menerimanya. Lalu dengan wajah lega dan tatapan santai, bertutur, “Ahh ... ya, itu hal wajar ... ya ... mengingat kita ras Peri ... itu hal wajar ... ya ... aku salut pada kesetiaanmu ... ya ... kita memang harus setia.”
Selepas ucapannya diluapkan, sekonyong-konyongnya dengan tetap tampil ceria Marn malah berpamitan, hendak pergi begitu saja.
“Sampai jumpa lagi wanita jalanan ....” Marn pun terbang dengan melambaikan tangannya pada Nurvati.
Namun sebelum benar-benar pergi seutuhnya, Nurvati sempat melontarkan kalimat tanya, “Heh, pria nyeleneh ... dari mana kau tahu aku ada di sini ...?”
“Hatiku memiliki sensor untuk menemukan wanita cantik idamanku!” balas Marn dengan berteriak dari jauh.
”Hmmmm ... gombal yang membuatku merinding ...,“ gumam Nurvati dengan mengangkat ke dua alis dan agak geli mendengarnya.
”Ngok ... ngok, ngok, ngok.“ sang angsa putih malah bersuara tidak jelas.
Waktu pun berlalu dan Nurvati kembali dalam rehatnya bersama angsa putih. Menikmati suasana perumahan yang terbilang damai.
Akan tetapi, belum tiga menit itu terjadi, dirinya mendadak mendapat petunjuk dari sang Diri Asli. ”Pergilah ke arah Selatan, jangan terbang ... kamu akan menjumpai seorang yang sakit jiwa ... dan temuilah dia.“
Otomatis tanpa berlama-lama lagi Nurvati bergegas pergi. Ditemani angsa putih yang tak bernama, Nurvati berjalan di daratan ke arah Selatan.
Melewati jalanan marmer perumahan, sambil celingak-celinguk mencari kepastian.
Detik yang berputar ikut melingkupi suasana damai ini. Dari inci hingga ke meter, tempat-tempat yang tertangkap dalam penglihatannya masih belum mendapatkan sosok yang dicari.
Nurvati yang tanpa jemu terus dan terus mencari, kadang kala juga meluapkan unek-uneknya pada angsa putih. Kendati terlihat aneh, Nurvati sesekali tetap bicara, seolah angsa putih memahami bahasanya.
”Apa kau tahu ... kau belum bercerita asalmu dari mana dan kenapa terus mengikutiku ...,“ tutur Nurvati pada sang angsa.
Hanya, 'ngok ngok ngok', yang muncul dari tenggorokan sang angsa putih. Entah mengerti atau tidak, tetapi setidaknya sang angsa menimpali.
”Kalau kau punya keluarga bagaimana ... kalau kau punya ....“
Perkataan Nurvati tersendat oleh sebuah kenyataan yang terpampang di hadapannya. Dirinya serta sang angsa putih bahkan hingga berhenti melangkah demi menatap sang pribadi yang nampak mencurigakan.
Tepat di bawah halaman rumah warga yang melayang di ketinggian 3 meteran. Seorang pria bertelanjang dada dengan rambut acak-acakan, tengah berbincang-bincang ria dengan tiga buah batu. Iya, lelaki aneh itu sedang ngobrol-ngobrol santai dengan tiga buah batu dan nampak begitu ceria.
Nurvati tentu beranggapan bila lelaki sakit jiwa itulah sosok yang sedari tadi dicarinya.
Tapi masalahnya adalah, Nurvati tak merasakan adanya hawa Iblis dalam jiwa lelaki itu.
Merasa aneh karenanya, Nurvati serta sang angsa mulai perlahan menghampiri pria urakan itu.
Di bawah tanah halaman rumah, pria urakan nampak semeringah saat melihat adanya seorang wanita menghampirinya. Dia bahkan tepuk tangan dengan gigi yang kentara.
Mulanya Nurvati bergeming di depan lelaki urakan itu, netra hijaunya menatap lelaki itu dari ujung kakinya yang hitam, lalu betisnya yang kecoklatan hingga pada perutnya yang buncit, tubuhnya yang kurus, lalu ke dua tangannya yang tengah mengelus-elus sebuah batu, kemudian pada wajahnya yang dekil, matanya yang sipit nan juling dan berakhir pada rambut biru tuanya yang gondrong dan acak-acakan, seperti duri landak.
Cukup aneh memandang pria sakit jiwa ini yang begitu asyik mengelus bebatuannya. Membuat Nurvati mengulur tangan kanan pada sang pria urakan tersebut dan berani bertanya, ”Hai ... maaf mengganggu ... siapakah nama Anda?“
Niat Nurvati yang hendak bertanya malah ditertawakan oleh lelaki urakan itu.
”GAH-HA-HA-HA-HA ....“
Dengan konyolnya dia malah mengangkat batu di tangannya sejajar pada wajahnya, seraya berkata, ”Kau dan aku adalah batu, ya ... namanya itulah ....“
“Haah ... ini akan jauh lebih sulit ...,” gumam Nurvati dengan raut muka datar dan agak bingung mengapa dirinya tak merasakan adanya hawa Iblis. Terlebih uluran tangannya yang tak berguna kembali diturunkan.
“Ngok ngok ngok ....”
“Batu itu 'kan ... tak mungkin mendengar ...,” keluh Nurvati.
Tapi berkat celetukan Nurvati, pria urakan itu mendadak menatap Nurvati dengan tajam. Terlihat agak marah mendengarnya.
Berkat sikapnya yang cukup menakutkan, Nurvati sontak mencetuskan kalimat klarifikasi. “Eh ... maaf ... maaf ... maklum aku belum mengenal batu-batu Anda ....”
“Ini bukan batu!” kata sang pria urakan.
Jelas karena Nurvati sadar lelaki di depannya sakit, dirinya hanya mengiyakan saja. “Iya ... hehehe ... itu bukan batu.”
“Ini bukan batu!”
“Ini bukan batu!”
“Ini bukan batu!”
Tiga kali kalimat pengukuhan itu digaungkan pria urakan dengan tegas dan menatap tajam Nurvati.
“Ini air!” ucap pria urakan semakin terdengar gila.
Nurvati yang tak dapat berbuat banyak dengan wajah kecutnya kembali lagi hanya mampu mengangguk mengiyakan. “Ehhh ... iya ... iya ... itu air ....”
Maka secara ajaib dan mengejutkan. Sekonyong-konyongnya pria urakan itu menggigit batu tersebut. Tapi bukan itu yang ajaib!
Entah bagaimana, batu yang digigitnya mendadak berubah jadi air dan air jernih itu diminum oleh sang pria urakan.
Berbuntang Nurvati memandangnya, dia keheranan setengah mati. “Loh ... kok ... ba-batunya?”
"Kok jadi air?"
“Nggak ...ini adalah api ...,” beber pria urakan dan tiba-tiba mulutnya yang basah oleh air, mendadak berganti menjadi api yang berkobar.
Terlonjak Nurvati di sana, kaget dan agak panik melihat api membakar wajah pria urakan itu, membuat Nurvati maju melangkah hendak mematikan api tersebut.
Tapi lagi-lagi, keajaiban itu muncul.
Pria urakan secara tiba-tiba melesak ke dalam tanah. Laksana ditelan bulat-bulat oleh tanah dan hilang begitu saja.
Nurvati terperangah menyadari keanehan tersebut. Hingga pikirannya mulai mengambil sebuah konklusi.
“Apa ... jangan-jangan ... lelaki itu ... adalah ....”
Awalnya Nurvati mengira lelaki urakan adalah penyihir, namun mengingat penyihir membutuhkan mantra dan sepengetahuan Nurvati tak ada penyihir yang mampu mengubah batu jadi air lalu air jadi api, sehingga konklusinya merujuk pada sang Dewa Alam, Empat Tangan.
“HA-HA-HA-HA-HA ....”
“Aku adalah batu dan kau adalah batu ...,” ujar sang pria urakan yang entah bagaimana dirinya telah berada di tengah jalan sambil jingkrak-jingkrak memeluk batu.
Nurvati yang memandangnya begitu tajam menganalisa kemungkinan sosok di depannya.
Hingga sang Diri Asli kembali menetapkan petunjuk. “Nurvati ... dengarlah ini baik-baik, temanilah lelaki itu hingga tengah malam ... dan ingatlah ... apapun yang dimintanya, jangan kau turuti dan apapun yang dilakukannya, jangan kau ikuti, satu hal lagi, jangan berbuat apapun ... cukup temani saja dan pantau dia.”
Nurvati yang memahami petunjuk itu, perlahan dengan pasti mulai melangkah menghampiri lelaki urakan. Diikuti oleh sang angsa putih tanpa jemu.