
Kala itu, di siang yang terik, bersama langit biru yang membentang, Nurvati mendeprok sendirian di bawah pohon salju, terlarut dalam lamunan kosongnya. Kepalanya tak bisa menyingkirkan bayang-bayang orang tuanya, ia masih menginginkan kehadiran orang tuanya.
“Nurvati ....”
Itu sebuah panggilan dari seorang anak laki-laki yang Nurvati kenal, sampai-sampai membuyarkan lamunan kosong Nurvati, dan seketika menoleh ke kanan pada asal suara; Falas telah berdiri di sana, masih mengenakan jubah putih kebanggaannya, menatap dengan raut termenung namun penuh iba pada Nurvati.
Nurvati hanya bergeming, menatap Falas dengan datar, tak memancarkan aura ceria, yang terpancar hanya aura kelam.
“Ayo kita pergi jalan-jalan,” ajak Falas yang terdengar sok akrab. Namun berniat untuk menjauhkan Nurvati dari perasaan sengsaranya sendiri.
Kala suara renyah itu diterima pendengaran Nurvati baik-baik, ia memalingkan muka, menundukkan pandangannya, terlalu malas untuk pergi dan tak ada semangat dalam hidup.
“Maaf, aku tidak mau ke mana-mana,” balas Nurvati begitu lesu dan nampak kehilangan gairah hidup.
Falas yang menyadari kemurungan Nurvati, melangkah mendekatinya, memberi jarak satu meteran lalu bertanya, “Apa kau menyesal sudah aku selamatkan?”
Pertanyaan yang terdengar menuntut itu, dicerna Nurvati matang-matang. Tiga detik dilewati dalam hening, dan di detik kelima, Nurvati menatap hampa ke depan, dengan menjawab, “Iya ... aku merasa barsalah sudah hidup.”
Jawaban yang tegas dan yakin itu membuat Falas berkacak pinggang, menatap Nurvati beberapa detik, untuk kembali memindai karakter Nurvati, tentunya Falas ingin mengenal dengan cermat gadis yang ditolongnya ini, guna membuat Nurvati berani untuk hidup.
Ada hal yang tidak diketahui Nurvati dari dalam diri Falas, namun dibiarkan terpendam karena nantinya hal tersebut akan muncul juga kepermukaan hidup.
Belum ada kata-kata yang keluar dari mulut Falas, ia malah melangkah lebih dekat pada Nurvati dan duduk bersila di samping kanan Nurvati. Tapi raut datar masih terpampang di wajah Nurvati.
Bersamaan dengan itu, angin secara mendadak berembus kencang, membuat dedaunan di pohon bergemerisik sampai beberapa helai daun beterbangan, cukup sejuk dan mengubah suasana menjadi lebih rileks.
Dua peri itu sengap dalam kedamaian yang melingkupi tempat ini, cukup mengesankan untuk tidur siang kalau mau.
“Dari berita yang kudengar, perang akan terus berlanjut, sampai ras Peri berhasil menaklukan ras lainnya, dan hukum Peri akan ditegakkan,” ungkap Falas yang entah arah pembicaraannya ke mana tapi diucapkan begitu dinamis.
Lalu bersedekap menyilang tangan dan berujar, “Nah ... saat perang terjadi lagi, sebaiknya kau ikut, lalu bunuh diri di sana, dengan begitu kematianmu memberi kesan bahwa kau ikut berjuang demi kebenaran.”
Sebuah pernyataan aneh yang berhasil menyentuh hati Nurvati, membuatnya kaget hingga terpaku tak tahu harus bicara apa, sungguh di luar ekspektasi Nurvati.
“Intinya sih, bunuh dirilah di mana kau memang telah bersalah,” kata Falas yang kembali membuat Nurvati keheranan.
“Nah ... kalau pun kau takut untuk mati di medan perang ... aku siap membunuhmu,” imbuh Falas yang lagi-lagi bicara di luar dugaan Nurvati. Pikiran bodoh apa yang sekiranya membuat Falas menuntun Nurvati untuk melakukan bunuh diri? Seakan-akan Falas masa bodoh tapi juga tak ingin ada kesia-siaan.
Kalimat tersebut berhasil menggetarkan hati Nurvati, pikirannya menjadi serba salah, membuatnya tertunduk berkontemplasi; mungkin ia akan menerima saran Falas. Namun itu juga menimbulkan tanya, apa mungkin Falas menyesal menyelamatkan Nurvati, atau justru itu hanya guyonan semata? Nurvati malah menjadi kebingungan, tetapi napasnya terasa berat untuk mengalir.
Kini hening terjadi kembali, menenggelamkan segenap perasaan dua peri itu, Nurvati belum bicara, dan Falas menatap tenang ke depan pada rimbunnya hutan. Awan putih bertengger menghias langit biru, perasaan Falas tak berubah, ia tenang bagaikan awan di langit.
Nurvati sudah mengambil keputusan, dengan menatap hampa ke depan ia berkata, “Aku ingin, kau membunuhku.”
Sebuah kalimat putus asa itu begitu yakin digaungkannya, memang tak ada lagi yang dapat diharapkan di dunia ini, kematian sosok yang dicintai, yang selalu ada saat kondisi apapun menciptakan hormon depresi pada diri Nurvati, membentuk sebuah pernyataan logis dalam kepalanya, bahwa mati adalah obatnya. Obat untuk menebus kesalahannya, jalan terbaik untuk mengakhiri penderitaan hidup. Kendati begitu, di wajah mulus Falas, sebuah senyuman penuh makna mengembang dalam damai; semua orang punya hak untuk memilih hidupnya. Jadi Falas hanya bisa melakukan yang terbaik dalam hidupnya.
Maka, konklusi yang didapat dari identifikasi pada Nurvati, hanya menarik satu kesimpulan saja bagi Falas, yaitu, Nurvati adalah anak yang tenggelam dalam penderitaannya, dan anak yang mudah menyerah. Hanya saja, konklusi itu masih bersifat sementara, karena Falas belum mengenal Nurvati secara benar.
“Oke, sebelum kau mati, ayo kita nikmati dulu hidup untuk 100 tahun ini, baru aku membunuhmu dengan tanganku sendiri,” tutur Falas dengan lantang tanpa ragu.
Nurvati sengap, masih fokus memandang ke depan pada kehampaan. Ia masih ragu dengan pernyataan Falas yang sok pasti itu, pernyataan yang entah dia berani melakukannya atau hanya basa-basi semata, sebuah kalimat yang mengandung berazam lain.
“Ayo, kita terbang, aku akan mengajakmu ke suatu tempat di atas awan,” ajak Falas seraya mengulurkan tangan kanannya ke depan.
Iris hijau Nurvati mengerling pada tangan Falas, kembali lagi otaknya dipacu lebih keras untuk mengetahui apakah ucapan Falas sungguh-sungguh atau hanya bualan belaka, dengan terpaksa, Nurvati menimbang-nimbang keputusan apa yang bagusnya diambil.
“Ayo,” pinta Falas untuk bertindak cepat.
Hingga rasa penasaran penuh penyelidikkan menggerakan otak Nurvati pada hasrat menuntut kepastian, “Berjanjilah, kau akan membunuhku.”
Kalimat menuntut itu diucapkannya sungguh-sungguh, sampai iris hijaunya terfokus pada iris biru Falas, menelusuk jiwa Falas menggugat untuk berani berikrar.
Falas tersenyum simpul, melihat netra Nurvati lekat-lekat hingga wajahnya dapat terefleksikan pada mata ular Nurvati, lantas berucap, “Ya, aku janji.”
Tiga penggal kata itu terdengar mantap dan penuh kesungguhan, sampai-sampai mereka bersirobok dalam sengap. Tujuh detik habis terbuang, Nurvati menilik Falas,namun terasa tak ada keraguan yang tersirat dari iris Falas, mau tidak mau Nurvati percaya berdasarkan sebuah janji, sehingga dengan mendekus pasrah, Nurvati pun menyambut tangan kanan Falas, menggenggamnya, membuat senyuman syukur mengembang di wajah Falas.
Ketika Nurvati berdiri, Falas secara impulsif membopong Nurvati, sampai membuat Nurvati agak terkejut.
Untuk kali keduanya, Nurvati dibawa terbang oleh Falas, mereka terbang semakin tinggi menuju awan. Bahkan dalam hal ini, raut muka Nurvati tetap datar, tetapi siapa sangka, percikan kegembiraan muncul dalam hati gundahnya.
Mereka telah terbang setinggi awan-awan di langit, senyuman syukur mengiringi kepakan sayap dari punggung Falas, tak ada yang bicara saat terbang, sampai-sampai lima menit berlalu, mereka pun sampai di tempat tujuan.
Sebuah hamparan awan putih yang luas, namun dihiasi oleh awan-awan berwarna-warni dengan puluhan gelembung yang mencuat dari awan warna-warni ini.
Falas serta Nurvati telah mendarat di atas awan, berdiri memandang lingkungan sekitar, berdiri di sini seperti berdiri di atas kasur kapuk. Tentunya awan langit berbeda dengan awan pada umumnya, perbedaan mendasarnya hanyalah kepadatan awan, yang memang dibentuk oleh ras Peri menggunakan energi uap.
“Apa ini pertama kalinya?” tanya Falas memastikan, dan jika Nurvati pertama kalinya datang, maka Falas berhasil mengejutkan Nurvati.
“Iya,” jawab Nurvati singkat tapi tetap lesu.
Kendati begitu, percikan kegembiraan dalam benak Nurvati semakin meluas, itu berarti Falas berhasil untuk menggiring hati Nurvati guna membentuk semangat hidup, meski tak secepatnya terbentuk, tetapi 'percikan' akan menjadi 'ledakan'.
Falas melangkah beberapa langkah ke depan, berkacak pinggang seraya bertanya penuh antusias, “Jadi bagaimana menurutmu tempat ini?”
Nurvati mengerling menatap sayap warna putih milik Falas.
“Terlihat membosankan,” balas Nurvati blak-blakan.
Falas seketika tertunduk dengan konyol.
“Tapi, tempat yang lumayan untuk ketenangan jiwa,” imbuh Nurvati sedikit menyanjung dan melangkah mendekati awan berwarna hijau.
Untuk perkataannya yang kedua, cukup membuat Falas semringah, setidaknya ada hal yang membuat Nurvati menyukai tempat ini, dan intensitas semangat hidup Nurvati memungkinkan akan terbentuk.