Nurvati

Nurvati
Episode 98: Melipur Lirih Siksa Kenyataan.



Beberapa siluman sempat mereka temui, semuanya telah mereka kalahkan, namun saat menelisik asal muasal siluman tersebut, atau mengidentifikasi kemungkinan implikasi terhadap penculikan anak-anak, hasilnya tetap nihil.


Aura kelam hutan telah menutupi rangkaian jejak markas siluman yang sering berpindah-pindah. Meski pun ada beberapa anak-anak yang langsung dibawa pada alam Siluman, tak sedikit pula ada beberapa anak yang akan disantap beramai-ramai di hutan ini. Maka dari itulah, sebelum banyak anak yang gugur, ke lima anak yang unik bersama Zui terus mencari mereka di sini.


Di bulan ke-9 mereka berada di area lumpur yang hitam dan berbau pering yang semakin kuat menusuk penciuman, area tetap gelap. Mereka terpaksa terbang di atas lumpur serta akar-akar pohon demi menghindari kotornya lumpur.


Untuk masalah mandi atau pun membersihkan diri, cukup berbeda dengan ras manusia, bagi yang memiliki ilmu mereka akan mandi dengan ilmunya dan bagi mereka yang tidak mumpuni, mereka akan mandi dengan air, cahaya atau angin, tergantung ras mereka.


Tak banyak yang dibicarakan selama pencarian, hanya perihal tentang kehidupan ke lima anak sebelum semua ini terjadi.


Darko anak seorang jenderal yang telah ditinggal mati ayahnya, sedangkan ibunya masih hidup dan mengurusi Darko seorang diri.


Gorah anak dari angkatan militer yang kini terpaksa hidup bersama ayahnya, sedangkan ibunya sudah gugur dalam perang.


Quin hidup bersama orang tuanya yang masih hidup. Ayahnya bekerja di institusi penegak hukum sedangkan ibunya sebagai wakil wali kota.


Arista kini tinggal bersama paman bibinya, ke dua orang tuanya telah gugur di medan perang.


Nerta anak yang masih memiliki ke dua orang tuanya, hanya saja ibu serta kakaknya sangat berandalan, kakaknya hobi berkelahi sedangkan ibunya hobi berjudi, kadang juga mereka berkolaborasi demi memenangkan sebuah kompetisi.


Ke lima anak telah memaparkan kehidupan mereka yang lebih dipenuhi kesedihan, terlebih sampai diselingi akan unek-unek mereka yang kurang setuju oleh kompensasi dari negara.


Bukannya apa-apa, kompensasi dari negara diberikan secara nyicil, bukan karena negara tidak memiliki anggaran, bukan juga negara sedang kesulitan, melainkan hanya gegara orang tua mereka tewas tanpa hasil yang diinginkan. Tidak kalah memang, tetapi kesepakatannya adalah orang tua mereka harusnya mampu memberikan lebih pada perang dan siapa pun yang membela kebenaran tak perlu diberi kompensasi, karena ini demi kepentingan bersama.


Entah apa yang diinginkan negara, akan tetapi keluarga yang ditinggalkan cukup jengkel oleh keputusan serta alasan bodoh itu. Sementara kompensasinya berupa makanan serta pil yang harusnya perhari mendapat 10 paket, namun gegara nyicil menjadi lima paket dan entah akan dilunasi atau tidak.


Ini sempat menjadi perkara dalam sidang kemiliteran, hanya saja negara bermain licik, sampai-sampai mereka yang menuntut mereka pula yang salah, jadi tak ada hasil baik dalam perang ini.


Keadilan bagi para pejuang pun terasa omong kosong belaka, dengan iming-iming membela kebenaran tetapi berujung penyesalan, jika keluarga militer tidak sepaham dengan negara, maka hukuman mati adalah hasilnya.


Ke lima anak adalah satu sekolah yang sama di kota, mereka bertemu dan mulai bermain bersama hanya karena paham mereka sama.


Kekecewaan anak-anak dan penderitaan yang mereka alami membuat mereka sepakat untuk ikut berkontribusi dalam perang, selain ingin menjadi pahlawan, mereka pun ingin mengetahui kelicikan apa saja yang dibuat para 'atasan' demi hasrat dan ambisi mereka.


“Kami harus masuk ke dalam kegelapan itu, untuk mengetahui kegelapan lalu mengenal kegelapan, hingga saat waktunya tiba ... kami akan beritakan apa saja kegelapan yang menutup mata semua orang, kami pasti dibenci bahkan kami pasti akan dibunuh ... karena dalam memberi tahukan kegelapan itu, rahasia negara pun pasti akan tersebar ... yang kami takutkan justru bukanlah hukuman mati, yang paling kami takutkan adalah pemimpin dan rakyat yang tidak bersalah justru terjerumus ke dalam kesalahan yang mereka sendiri tidak melakukannya.” Ungkapan Quin.


“Kami memang anak-anak ... dan karena itulah kami memanfaatkan wujud kami sebagai anak-anak ....” Penegasan dari Nerta.


“Kami tidak ingin dunia mengenal kami, tapi kami hanya ingin memperkenalkan dunia pada semua orang.” Perkataan Darko.


“Kami punya paham, kalau sisi gelap itu tak dihilangkan dalam negara, secara otomatis kegelapan itu akan menggrogoti negara, dan secara perlahan negara itu teracuni.” Ucapan Gorah.


“Yang mempersatukan kami sebenarnya bukanlah sekolah yang sama, atau orang tua yang berperan penting pada negara, bahkan yang mempersatukan kami bukan pula karena kami sepaham .... justru yang mempersatukan kami adalah ... tujuan.” Pungkasan dari Arista.


“Kalian hanyalah anak-anak ... memangnya tahu apa kalian soal bernegara?” Sindiran Zui yang telah berpengalaman dalam menjalani pahit manisnya kehidupan.


“Syukurlah kalau kakak berpendapat begitu ... itu artinya ... kami berhasil memanfaatkan wujud kami sebagai anak-anak ... sehingga ... kakak lupa ... kalau kami tidak akan bisa ditebak.” Balasan menohok dari Nerta.


Zui hanya percaya bahwa omong kosong besar anak-anak ini telah dipengaruhi oleh dongeng-dongeng orang tuanya dan lagi Zui juga meyakini kalau orang tua mereka mendoktrin mereka untuk seperti demikian.


”Penderitaan dan rasa sakit ... membuat seorang anak kecil sepertiku tahu ... kalau penindasan pada orang yang paling dicintai hanya akan menimbulkan kebencian ....“ Pernyataan Quin yang seakan-akan menegaskan bahwa pemahamannya bukan dari orang tuanya yang justru pemahaman itu muncul dari pengalaman pribadinya.


“Kami punya rencana dan impian yang cukup bodoh bila didengar, bahkan kami bisa disebut gila ... karena titik akhir dari perjuangan ini semua adalah ... menghancurkan piramida sosial ... tak ada lagi raja dan ratu, tak ada lagi militer dan tak ada lagi kasta atas atau bawah ... tetapi ... siapa yang paling banyak berbuat baik dia yang dijadikan panutan.” Pembeberan Arista.


Namun tak ada tanggapan berarti lagi dari Zui, toh tak ada gunanya juga mendengar ocehan anak-anak kecil, mendengar ucapan manis anak-anak ini justru terkesan seperti kaum utopis yang selalu ingin dipuja.


Sungguh mual dan memuakan, Zui paham betul akan ucapan-ucapan manis para kaum utopis yang justru mereka pada akhirnya dikendalikan pula oleh kegelapan, impian yang awalnya indah yang melambungkan setiap angan-angan yang hanya menjadi bualan semata, iya, Zui paham sekali masalah ini.


Tentu saja Zui tak begitu tertarik dengan perkataan anak-anak itu, mereka hanyalah anak kecil yang sering mendengar dongeng-dongeng, yang kalau kata ibunya di bawah pohon ada hantu, mereka pasti akan langsung percaya. Sedangkan Zui telah ditempa oleh kenyataan hidup, fakta-fakta di lapangan lebih menunjukkan kalau impian indah bisa hancur dalam sekejap mata hanya karena kematian atau pun tragedi.


Sehingga pencarian Zui tetap pada rencananya, rencana yang mustahil ke lima anak kecil ini ketahui, yang mana rencana itu tak akan dipupuskan hanya gegara omong kosong ke lima bocah yang belum cukup pengalaman.


Karena bagaimana pun pengalaman selalu mampu menjawab apa yang tak bisa dijawab oleh kata-kata, begitu pikir Zui.


---------------------------------------------------------------------------


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


✅Untuk mendukung /menghargai kinerja Author, cukup memberikan Like/Vote poin/koin.


(Bila ada kritik/kesan tak perlu sungkan untuk menuliskannya dalam kolom komentar.)