
Berangsur-angsur keadaan membaik, bantuan dari kota-kota lain segera diturunkan, selain musibah ini menjadi topikalitas obrolan di seluruh kota bangsa Barat, tentulah waktu ikut beralalu dalam lingkup yang tak terasa.
Setelah semua situasi dapat ditanggulangi, mentari pagi mulai memecah kelamnya malam, melunturkan pekatnya gulita, setiap semburat oranyenya baskara terkesan merebakan harapan baru telah datang, malam nan mala tersingkir dan sorot cahaya paginya menerangi kota Barata.
Hari baru telah tiba, bukan itu saja, Nurvati serta kelima remaja sudah berkumpul di lapangan kota, bersama langit yang mulai dihiasi pasukan militer berlalu-lalang, mereka berbincang-bincang mengenai sejarah hari ini dan itu pun bersama Sary; ibu Quin.
Mereka juga sempat memuji sayap Nurvati, perihal kecocokannya yang tersemat di punggungnya itu. Atau menyanjung sang angsa putih yang sanggup mengintil hingga ketaraf sukar ini.
Nerta agak sedih, wajahnya begitu sendu, beberapa teman lainnya sampai memberikan motivasi secara verbal. Tetapi itu gagal.
Bahkan Sary yang notabene wanita pintar, mencetuskan lelucon demi meredakan pilunya. Hanya saja, itu juga gagal.
Namun di lain sisi, Nerta yang memang notabene tipikal orang yang inginnya didengar, sekonyong-konyongnya nyeletuk kembali membeberkan unek-uneknya.
“Meski ibuku terbilang kejam ... walau dia suka memukulku ... atau membentakku ... tetapi ... saat melihatnya menangis dan menderita ... aku paham kalau ada beban yang tak dapat aku pahami dan tetap saja ... kehilangan sosok yang melahirkanku berat rasanya ....”
Dengan bergigit menahan beban kehilangan, dengan mata yang berkaca-kaca dan dengan adanya rasa iba pada orang tuanya. Nerta tumungkul. ”Aku ... aku hanya belum pernah berterima kasih pada orang tuaku ... bahkan ... terlalu gengsi untuk mengatakan rasa sayangku pada mereka ....“
Semua hening, di lapangan ini para pribadi membisu. Tenggelam perasaan mereka pada dukacita.
Terlebih Nurvati sangat memahami Nerta, dia dan dirinya memiliki kesamaan. Gengsi untuk mengatakan kasih sayangnya dan setelah kehilangan sosok orang tua, barulah kesadaran betapa pentingnya sosok yang merawat dan yang mencintai pertama kali itu, teramat berharga.
”Tidak apa-apa kawan ... tidak apa-apa, itu tidak penting ...,“ ujar Quin berusaha menenangkan sahabatnya itu.
“Orang tua yang kasar nggak usah dinangisin, mending do'ain biar nggak disiksa di neraka ...,” celetuk Arista dengan polosnya.
“Hus ...jangan begitu ... bagaimana juga ...,” ucapan Sary tersendat.
Sebab telah datang Marn, terbang begitu tergesa-gesa, dirinya bahkan sampai memanggil-manggil Nerta, terlihat panik, tetapi tetap terkendali.
“Nerta!”
“Nerta ....”
Untuk itu, fokus perhatian seketika terarah padanya.
Saat mendarat tepat di hadapan mereka, Marn berdiri memandang Nerta dengan begitu serius dan intens.
“Ibu ... sudah tewas ... bahkan tanpa ucapan selamat tinggal ... aku ... dan aku sudah gagal ...,” keluh Nerta dengan kuyu dan tumungkul menyesal.
Marn sejenak terdiam, kemudian tatapannya beralih pada setiap pribadi, memindai mereka dalam keseriusan. Maka kesimpulan didapat, kalau di sini keadaan sedang berdukacita.
Alih-alih sedih, Marn justru berani berujar, “Sudahlah bocah ... jangan cengeng begitu, orang tua kita itu masa bodoh dengan kita ... dan se ....” Argumen Marn yang terdengar tajam terpotong.
“Aku bukan bocah! Dan aku tidak seperti kakak! Aku tetaplah menyayangi mereka!” sergah Nerta hingga menyalang pada Marn. Jiwanya sebagai seorang anak mulai terpancar dan tetap membela orang tuanya.
Marn menyunggingkan senyuman miring antara meledek dan mengapresiasi adiknya yang walau terkadang mendapat siksaan dari orang tuanya, dia masih mengakui Hamenka serta Ira sebagai orang tua yang disayanginya.
Tak ada kata-kata lagi yang lahir dari mulut Marn.
Hingga selepas tiga detik suasana terisi kesunyian, tepat kala Marn menoleh pada Nurvati. Keadaan sempat menjadi sedikit aneh. Cukup aneh, karena entah sejak kapan, di sana Nurvati malah tengah tumungkul dalam lelapnya tidur.
Seluruh remaja bahkan agak kaget oleh kejadian tersebut. Tak biasanya ras Peri tertidur dalam kondisi krusial begini.
“Wah wah ... masih sempat-sempatnya kau tertidur ... Nurvati ...,” sindir Marn dengan berkacak pinggang tak menyangka.
Maka sang angsa putih mendadak mencatuk-catuk kaki kiri Nurvati, berusaha membangunkannya.
Hingga disertai suara 'ngok' dari sang angsa, Nurvati pun terhenyak, tersadar kembali untuk menghadapi siklus hidup di sekitarnya.
“Eh ... iya, ada apa?” tanya Nurvati begitu santai dan tampak tak ada masalah.
“Loh ... kakak itu tidur di saat begini! Dan itu aneh ...,” komplain Arista dengan bersedekap menyilang tangan.
“Hehehe ... maaf, entah kenapa memang kakak jadi ngantukan ...,” bela Nurvati dengan menertawai sikapnya sendiri dan menggaruk bahu kanannya.
"Haah ... makanya jangan jadi wanita jalanan ...," canda Marn dengan santai hingga menyelipkan kedua tangan ke saku luar jubahnya.
"Tak ada hubungannya dengan wanita jalanan, heh! Dasar pria nyeleneh!" balas Nurvati dengan lantang.
Membuat semua anak malah memasang raut muka heran, berasumsi seakan dua pribadi di depan mereka memang punya masalah tersendiri.
Nerta bahkan memandang Arista penuh arti. Sikapnya yang selalu ceria dan luwes kembali lagi menggugah hati Nerta, kalau dirinya tak akan pernah kesepian. Bahkan seluruh wajah semeringah teman-temannya seakan mengukuhkan hidupnya, bahwa memang dirinya memiliki arti penting di sini.
Maka bersama keceriaan tersebut, Nurvati, sang angsa putih serta kelima remaja terbang bersama mengikuti Marn menuju tempat makan.
Sedangkan Sary hanya sanggup melambaikan tangannya pada anaknya, terutama kelima remaja. Melihat kepergian mereka dan sayangnya tak bisa ikut, karena memang memiliki kewajiban yang tak etis bila ditinggalkan.
Dan semua, peristiwa itu yang sesungguhnya menjadi sejarah, mulai berlalu dalam napas lega, namun bukan akhir yang bahagia. Semua kehidupan itu lagi-lagi hanya membawa pada permulaan yang baru.
Seperti Nurvati yang semakin akrab dengan kelima remaja, atau rakyat yang mesti memulai lagi hidup bersama kenangan pahit, hingga mereka-mereka yang terkekang putus asa dan mereka yang apatis, mau tidak mau tetap berpacu bersama waktu menghadapi hidup.
Rumah-rumah yang rusak, diperbaiki. Bangunan yang kotor, dibersihkan. Mereka yang menanggung beban yatim piatu, diasuh oleh panti asuhan atau pada kerabat dekat. Informasi-informasi kembali dikumpulkan. Kota Barata dibangun lagi.
Dilakukan semua itu demi kehidupan yang lebih baik. Tentu saja setiap pribadi enggan hidup dalam kesia-siaan, semuanya menuliskan cerita hidupnya dan meninggalkannya sebagai suatu bentuk sejarah.
Iya, kerusakan dan serangan para siluman yang menyuguhkan kematian, membentuk arti yang baru lagi bagi setiap jiwa. Kalau mereka memiliki arti yang memicu aksi untuk menimbulkan reaksi.
Arti tentang pentingnya kehidupan. Meski sebagian rakyat tak begitu peduli perihal hidup yang memang siklusnya demikian, tetapi fakta kalau tak ada satu pun pribadi normal yang ingin hidup dalam rasa sakit, itu sudah seperti hukum.
Untuk itulah, mereka bertahan hidup. Tidak menyakiti dan sebisa mungkin menghindari setiap rasa sakit.
Selebihnya adalah, tetap bergerak maju bersama waktu demi sebuah prinsip, ideologi atau pun kepercayaan. Namun bagi mereka yang larut dalam keputusasaan, tentulah menanti waktu mempersembahkan kematian menjadi harapan terindah bagi mereka.
_______________________________________________
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
✅Demi mendukung /menghargai kinerja Author, cukup memberikan Like/Vote poin/koin.
(Bila ada kritik/kesan enggak perlu sungkan untuk menuliskannya dalam kolom komentar. Terima kasih.)